
Setelah selesai makan malam, keempat anak mudah itu kembali ke ruang tengah dan mengobrol kecil. Sampai jam pun menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Ca, gue harus balik kayaknya. Udah malem tar bonyok kecarian pula." Pamit Inne bangun dari duduknya.
Caca memasang wajah tak rela. Namun ia juga tak mungkin menahan Inne karena malam semakin larut. "Ya udah deh ok. Thanks udah nemenin gue seharian hari ini."
Inne mengangguk yang diiringi senyuman manis.
"Gue juga harus pulang," Timpal Randy seraya melirik arloji di lengannya. Spontan Caca menoleh ke arahnya.
"Ran, sekalian lo anter Inne balik ya? Kasian dia kalau naik motor, udah malem" Pinta Caca yang berhasil membuat Inne kaget.
"Dih, gak perlu, Ca. Gue bisa pulang sendiri. Lagian gue udah biasa pulang malem." Sanggah Inne yang sebenarnya tak setuju.
"Gimana pun lo cewek, Ne. Masalah motor besok lo bisa ambil. Udah, biar Randy yang anter lo balik ya?" Bujuk Caca.
Inne menatap Randy yang terlihat ogah-ogahan. Lalu ditatapnya Caca lagi. "Gak perlu, gue balik sendiri aja. Jangan repotin orang lain."
Caca melihat ke arah Randy. "Ren, boleh kan Inne numpang sama elo? Rumah kalian searah soalnya."
Randy menghela napas kasar. "Boleh, demi lo, Ca."
Kiano mendengus kecil mendengarnya.
Caca tersenyum senang. "Makasih, Ran. Jangan diapa-apain temen gue."
Randy tersenyum mengejek ke arah Inne. "Lo gak takut gue yang diapa-apain sama dia, Ca?"
Mata Inne membola saat mendengar itu. "Dih, siapa juga yang mau apa-apain elo? Gak selera gue."
Randy mendengus sebal dan tak berniat menanggapinya.
Beberapa saat kemudian, Caca pun mengantar mereka sampai depan pintu. "Hati-hati ya, Ran, Ne? Jangan berantem di jalan."
Inne berdecak sebal. "Gue balik sendiri aja deh, Ca." Rengeknya menatap Caca penuh harap.
"Gak, ini udah malem. Tar gue kepikiran kalau elo pulang sendiri. Udah sana balik."
__ADS_1
Inne memasang tatapan memelas. Namun Caca masih kekeh dengan pendiriannya. Alhasil Inne pun pasrah dan mengekori Randy di belakang. Caca yang melihat itu tersenyum geli. Entah kenapa ia merasa mereka sangat serasi.
"Mereka cocok ya." Ujar Kiano yang berhasil menyadarkan Caca jika masih ada satu anak manusia menyebalkan di sana. Caca berbalik, lalu ditatapnya Kiano malas.
"Ngapain lo masih di sini? Mending sana lo juga pulang. Besok kerja kan?"
Kiano mengangguk. "Kamu masuk duluan, nanti aku pulang. Good night, Sayang."
"No, gue lagi gak mau debat. Udah sana balik. Gue ngantuk, mau bobok cantik." Caca pun langsung masuk tanpa melihat ke arah Kiano lagi karena dirinya memang sangat mengantuk. Sedangkan Kiano hanya tersenyum seraya menatap pintu apartemen Caca. Setelahnya ia pun beranjak pergi dari sana.
Di basement, Inne menahan langkahnya. "Ck, gue pulang sendiri aja." Katanya yang berhasil menahan langkah Randy. Pemuda itu pun berbalik. Ditatapnya Inne dengan wajah datar.
"Pulang sama gue, gue gak mau Caca nanya dan elo gak ada sama gue nantinya."
"Lo tinggal bilang aja gue udah sampe rumah, susah banget sih." Sinis Inne.
Randy menatap gadis itu tak senang. "Bisa gak sih lo nurut? Gue gak mikirin elo, tapi yang gue pikirin itu Caca."
Inne meledek ucapan Randy dengan menggerakkan bibirnya tanpa suara. Randy yang melihat itu pun menatapnya tajam.
"Masuk." Titahnya seraya membukakan Inne pintu.
"Masuk, Inne. Atau gue bilang ke Caca lo gak mau gue anter."
"Ish, iya gue masuk. Resek lo. Gue sambit baru rasa." Dengan kesal Inne pun akhirnya masuk ke dalam mobil. Lalu dengan kasar pula Randy menutupnya.
"Gila lo ya? Kalau tangan gue kejepit, lo mau tanggung jawab?" Sarkas Inne tak terima diperlakukan seperti itu. Namun Randy seolah acuh dan duduk di bangku kemudi tanpa mengindahkan keberadaan Inne.
"Benci sih benci, gak kasar juga kali. Gue juga cewek." Omelnya sembari memasang seat belt.
"Berisik." Protes Kiano yang kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Inne memilih diam sambil menatap jalanan lurus.
Dan selama perjalanan pulang itu pula keduanya sama-sama membisu. Beberapa kali Inne tampak menguap karena merasa bosan sendiri. Sampai akhirnya Randy menoleh sekilas lalu membuka pembicaraan.
"Tolong bujuk Mama supaya gak lanjutin perjodohan kita. Itu gak masuk akal, Ne." Pintanya dengan wajah sebal.
"Gue juga gak mau kali, Ran. Nyokap lo yang maksa terus, sampe kepala gue pusing. Kenapa harus gue sih?" Kesal Inne dengan
__ADS_1
Randy dan Inne memang sudah dijodohkan oleh orang tua mereka sedari dalam kandungan karena Mama Inne dan Randy merupakan sahabat baik. Yang kebetulan hamil secara bersamaan. Karena itu mereka pernah berucap akan menjodohkan anak-anak mereka jika sudah dewasa.
Sampai sekarang keduanya masih bersikukuh untuk melanjutkan perjodohan itu. Dan dari sana lah Randy dan Inne bermusuhan karena sama-sama menolak perjodohan itu. Baik Inne maupun Randy menentang keputusan itu, tetapi orang tua mereka masih berusaha mempersatukan keduanya dengan segala cara.
"Sampai kapan pun cuma Caca yang gue cinta. Dia cinta pertama gue. Selamanya bakal terus gitu. Jadi jangan berharap gue bisa nerima elo."
Mendengar itu Inne pun langsung melek dan menoleh ke arah Randy. "Caca?"
"Hm. Gue cinta sama dia dari masa sekolah dulu. Saat yang lain bully gue, cuma dia satu-satunya cewek yang mau berteman sama gue."
Inne tersenyum miring. "Tapi yang gue lihat Caca gak cinta sama lo, Ran. Kasian banget lo, cinta bertepuk sebelah tangan." Cibirnya.
Randy menoleh sekilas yang dibarengi decihan sebal. "Suatu saat dia pasti balas perasaan gue."
Inne terkekeh kecil. "Gini-gini gue cewek kali, Ran. Gak segampang itu dia bisa nerima orang lain. Gue bisa lihat kalau Caca masih cinta sama Kiano. Ditambah dia lagi hamil darah daging cowok yang dia suka. Menurut lo kapan bisa dapatin hati dia hem? Mimpi lo."
Randy terdiam seolah perkataan Inne berhasil menampar hatinya.
Inne mendesah pelan lalu menyandarkan kepalanya di jendela dan kembali memejamkan mata. "Hukum alam." Ucapnya kemudian. Lagi-lagi Randy menoleh sekilas tanpa memberi tanggapan. Dan tidak lama terdengar suara dengkuran gadis itu. Spontan Randy menoleh lagi. Lalu mendengus sebal ketika melihat cara Inne tidur, kepala sedikit menengadah dengan mulut terbuka. Sama sekali tak mencerminkan seorang gadis elegan.
"Dasar cewek jadi-jadian." Ledeknya yang kemudian fokus mengemudi.
Setibanya di kediaman sederhana Inne, Randy berdecak sebal karena mobil Mamanya ada di sana. Alhasil Kiano memadkidk
"Ne." Panggilnya. Namun gadis itu masih melukis impian.
"Inne!" Alhasil Randy memanggilnya dengan kencang. Sontak gadis itu terperanjat kaget sampai keningnya mencium kaca. Beruntung ia masih setengah sadar jadi tak terlalu sakit atau pun merasa malu.
"Ah? Kenapa? Udah sampe ya?" Tanyanya sambil melihat ke luar. Lalu dengan setengah sadar gadis itu turun.
Randy yang melihat itu cuma bisa menggeleng lalu ikut turun. Tidak lama kedua orang tua mereka pun keluar. Seketika wajah Rosa, Mamanya Randy langsung sumringah saat melihat keduanya bersama.
Inne mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu ditatapnya Rosa lekat. "Tante, kok ada sini?" Kagetnya.
Randy mendatangi keduanya lalu menyalami mereka. Rosa pun beralih mematap Inne.
"Iya, kita udah mutusin kalau kalian nikah bulan depan."
__ADS_1
"Apa?" Pekik Inne dan Randy bersamaan.