
Inne mengelus perut Caca gemas. "Kayaknya perut lo makin gede aja, Ca. Jadi pengen."
Caca tertawa mendengarnya. "Nikah dulu kali, Ne. Ya kali lo bunting tanpa suami."
Inne terkekeh lucu. "Cariin napa cowok ganteng, tajir end baik hati buat gue. Tapi yang siap nikah." Guraunya.
Caca pun ikut terkekeh lucu. "Kuliah dulu kali yang bener, tar kalau lo udah jadi dokter. Pasti banyak tuh cowok yang antri. Tapi ubah penampilan lo, jangah kayak lakik gini. Yang ada cowok gak tahu lo itu cewek."
Inne tertawa renyah. "Udah nyaman gini, Ca."
Caca mendengus kecil. "Mau sampai kapan, Inneke? Lo itu cantik banget lho kalau dandan dan tampil kayak cewek sewajarnya. Serius."
Lagi-lagi Inne tertawa. "Bisa aja lo. Tapi gue udah nyaman banget gini, gimana dong?"
Caca tersenyum. "Kayaknya lo harus nemu cowok yang lo suka dulu deh baru berubah."
"Masak sih?"
"Iya. Percaya sama gue."
Inne tertawa lagi. "Masalahnya belum ada cowok yang gue suka beneran. Yah, ada sih satu dua tapi itu pun cuma tertarik lihat aja."
Caca terkekeh lucu. "Gue harap lo cepet-cepet nemu orangnya."
"Mudah-mudahan." Sahut Inne tersenyum lebar.
"Oh iya, lo mau minum apa? Biar gue minta Bibik buatin." Tawar Caca.
"Ck, kagak usah repot Caca. Gue ke sini bukan mau minta minum, cuma mau jenguk elo."
Caca tertawa kecil. "Gak bisa dong, lo itu tamu spesial. Tar, gue minta bibik buatin dulu."
Caca bangkit dari duduknya.
"Gak usah repot, Ca."
"Gak repot kok, orang Bibik yang buatin."
"Bener juga ya?" Lalu keduanya pun terkekeh lucu sebelum Caca pergi ke dapur.
Sekarang keduanya sudah pindah ke kamar Caca, saling bertukar cerita dan bercanda tawa di sana. Kehadiran Inne membuat Caca merasa terhibur. Dan mereka sampai lupa waktu sangking asiknya mengobrol dan bercanda ria. Tak terasa waktu sudah sore.
"Ne, lo makan malam di sini aja ya? Temenin gue." Pinta Caca memasang wajah penuh harap.
Inne tersenyum. "Boleh deh, kapan lagi kan kita gini?"
Mendengar itu Caca tersenyum senang lalu berhambur memeluk Inne. "Yey, makasih Inneke."
"Sama2, Sayangkuh." Inne membalas pelukan Caca. "Perut lo ganjel, Ca."
Caca terkekeh lucu mendengarnya. Lalu setelah itu keduanya pun beranjak ke luar. Namun baru saja keluar, mereka dikejutkan dengan kemunculan Bik Nur yang tiba-tiba.
"Bik, ada apa?" Tanya Caca penasaran.
Bibik menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Itu, Non. Di luar tadi ada cowok-cowok ganteng. Den Kiano sama temennya. Terus Bibik suruh masuk aja dan sekarang mereka ada di ruang tamu."
Caca dan Inne pun saling menatap. Sebelum bergegas pergi untuk melihat. Sedangkan Inne membuntutinya di belakang karena penasaran.
Caca terkejut saat melihat Kiano sedang beradu tatap dengan Randy di sana.
"Kalian?" Seru Caca.
"Elo!" Kali ini Inne pun ikut berseru seraya menunjuk ke arah Randy. Sontak Caca dan Kiano pun melihat keduanya bergantian.
__ADS_1
Randy mendengus sebal. "Kenapa lo bisa ada di sini cewek jadi-jadian?" Semburnya seraya bangun dari duduknya.
"Lo yang ngapain di sini, ngikutin gue ya?" Balas Inne dengan sorot mata menajam.
Caca dan Kiano pun semakin dibuat bingung. Kiano bangkit dari duduknya lalu mendekati Caca. "Jadi dia cewek, Ca?"
Caca menoleh. "Kan gue udah bilang cewek." Kesal Caca. Sontak Kiano pun tersenyum lega.
Randy menatap Caca lekat. "Ca, lo kenal cewek jadi-jadian ini?"
Caca menoleh lalu mengerutkan kening. "Siapa yang lo katain cewek jadi-jadian hah? Dia ini temen baik gue di kampus."
Inne mengangguk seraya melipat kedua tangannya di dada.
Randy menatap Inne lalu mendengus sebal. "Sial banget hidup gue ketemu elo di sini."
"Sama, gue juga sial karena ketemu elo di sini." Balas Inne.
"Tunggu dulu, kalian saling kenal?" Taya Caca menatap keduanya bergantian.
"Enggak." Sahut keduanya kompak. Dan itu membuat Caca semakin bingung.
"Kompak banget. Jadi kalian beneran gak saling kenal nih?" Caca tersenyum geli.
"Enggak." Jawab Randy dan Inne kompak lagi.
Kiano yang melihat itu tersenyum penuh arti. "Gue rasa kalian jodoh."
"Dih, mit-amit deh." Sahut Inne mendengus sebal.
Randy tertawa hambar. "Selera gue juga bukan elo kali, dasar cewek jadi-jadian."
Inne menggeram kesal. "Sekali lagi lo katain gue cewek jadi-jadian, gue hajar lo. Lo kira gue gak berani hajar lo di depan mereka hem?" Ancamnya.
Caca dan Kiano pun terlihat bungkam, menonton perdebatan keduanya begitu serius.
"Sini lo kalau berani?" Balas Inne mendekati Randy.
"Sayang gue bukan banci yang kasar sama cewek." Sahut Randy tersenyum remeh, yang kemudian mengalihkan pandangan pada Caca.
"Cemen lo." Sembur Inne mendorong dada Randy sampai terduduk lagi di sofa. Sontak Randy menatap Inne penuh permusuhan.
"Jangan sampe gue kasar beneran sama cewek." Ancam pemuda itu mulai tersulut emosi. Tentu saja Inne juga tak mudah goyah. Keduanya pun saling beradu tatap seolah tak ingin ada yang mengalah.
"Udah cukup!" Sentak Caca. "Ran, Ne. Udah cukup jangan berantem lagi." Caca menarik Inne mundur. "Kalian ini kenapa sih?"
Baik Inne maupun Randy sama sekali tak berniat menjawab. Keduanya tampak acuh dan saling membuang wajah.
Alhasil Caca pun mengajak Inne duduk dan menenangkannya sambil sesekali melihat ke arah Randy.
Sedangkan Kiano terlihat bahagia sendiri lalu duduk di posisi semula. "Gue rasa, dia emang jodoh lo, Ran. Jadi kita gak perlu bersaing lagi. Lo punya cewek jadi-jadian ini dan gue punya Caca. Adil kan?" Celetuknya yang berhasil mencuri atenis semua orang.
"Jangan mulai lagi, No." Kesal Caca.
"Aku cuma ngasih saran aja, Sayang."
Mendengar panggilan itu, sontak Randy dan Caca pun bebarengan menatap Kiano tajam.
"No." Geram Caca. Kiano tersenyum geli.
Tidak lama Bik Nur datang membawakan mereka minuman dan cemilan.
"Makasih, Bik." Ucap Caca dan Kiano kompak. Dan si Bibik pun cuma mengangguk dan tersenyum sebelum kembali ke belakang.
__ADS_1
Caca mengalihkan perhatian pada Inne dan Randy.
"Gimana ceritanya kalian bisa saling kenal? Atmosfer kalian juga gak biasa." Tanyanya penuh selidik. Namun lagi-lagi Inne dan Randy bungkam dan malah saling menatap penuh kebencian.
Caca menghela napas kasar. "Ok lupakan itu." Ditatapnya Kiano dan Randy bergantian. "Terus kalian mau ngapain ke sini?"
Randy menegakkan tubuhnya lalu menjawab lebih dulu. "Gue cuma pengen tahu kondisi lo, Ca. Makanya gue ke sini, sorry lah kalau kedatangan gue ganggu kesenangan elo."
Caca menghela napas panjang. "Gue baik, Ran. Seperti yang lo lihat."
Randy tersenyum manis. "Gue seneng bisa lihat lo lagi."
Inne dan Kiano mendengus bersamaan mendengar itu.
Caca melihat kedua pemuda itu bergantian. "Ya udah, berhubung kalian di sini. Kalian makan malam di sini aja ya?"
Mendengar tawaran itu wajah Kiano dan Randy langsung sumringah.
"Boleh, Sayang." Sahut Kiano yang dibalas tatapan malas oleh Caca.
"Mending lo bantu Bibik masak, Kiano." Perintah Caca.
"Lah, kok aku sih?"
"Kalian berdua. Kita yang cewek tinggal makan. Udah sana ke dapur." Putus Caca.
Spontan kedua pemuda itu saling melepar pandangan, lalu sama-sama mendengus dan memalingkan wajah. Caca yang melihat itu cuma bisa tersenyum geli.
****
Caca dan Inne saling melempar pandangan saat melihat Kiano dan Randy begitu kompak memasak di dapur. Keduanya terlihat menggemaskan karena memakai apron yang agak kekecilan di tubuh besar mereka.
"Nah gitu dong, kompak." Ujar Caca yang berhasil menarik atensi keduanya.
Kiano mendekati Caca, lalu berinisiatif menarik kursi dan mempersilakan Caca duduk.
"Thank you." Ucap Caca yang kemudian duduk di sana. Menatap berbagai hidangan yang ada di atas meja. Sedangkan Inne ikut duduk di sebelah Caca.
"Kalian masak buat berempat apa sekampung?" Heran Caca.
"Iya, Non. Bibik juga udah bilang tadi, tapi Den Kiano sama den ganteng gak denger. Katanya Non Caca harus banyak makan." Celetuk Bik Nur. "Malah Bibik cuma nonton dari tadi. Mereka berdua yang masak."
Caca menatap keduanya bergantian. "Gak gini juga kali, No, Ran. Terus siapa yang mau abisin?"
"Cowok-cowok gak ngotak sih." Timpal Inne melirik Randy sinis.
Kiano menyentil kepala Inne. "Lo tinggal makan aja gak usah ikut protes. Lagian kita masak buat Caca, bukan buat elo."
"Brengsek lo." Umpat Inne seraya mengelus kepalanya yang lumayan sakit karena sentilan Kiano.
"No, jangan kasar dong sama cewek." Protes Caca tak senang dengan sikap Kiano pada Inne.
"Dia gak pantes dibilang cewek, Ca. Gak ada cewek-ceweknya." Sahut Kiano.
"No." Caca memperingati. Kiano tersenyum lalu mengacak rambut Caca sebelum kembali ke pantry untuk membantu Bik Nur beberes.
Randy tak ingin melepaskan kesempatan itu. Buru-buru ia melepas apron, lalu duduk di sisi lain Caca. Sontak Kiano yang melihat itu pun protes. "Itu tempat gue, geser." Pintanya seraya mencuci tangan lalu melepas apron. Namun Randy seolah tuli dan tak peduli soal Kiano.
"Duduk di mana aja, No. Di lantai juga boleh," celetuk Caca.
"Tega kamu ca sama aku?" Kiano memasang wajah memelas.
"Gak usah lebay." Caca melirik Kiano sinis. Randy yang melihat itu tersenyum puas. Sedangkan Kiano menatap Randy penuh permusuhan. Hanya Inne yang terlihat santai sambil menyantap tempe goreng. Dan Bik Nur yang melihat interaksi lucu mereka pun cuma bisa menggelengkan kepala.
__ADS_1