Once We Get Divorce

Once We Get Divorce
Chapter 37


__ADS_3

Agra berterima kasih pada waiter dan kedua satpam yang sudah membantunya memberikan Anya pelajaran.


Pemuda itu awalnya hanya ingin makan siang di sana, tetapi tidak sengaja melihat pedebatan mereka. Alhasil ia pun menyimak semuanya dan memutuskan untuk membantu Kiano memberikan pelajaran pada gadis itu. Soal sesuatu yang ia bisikkan pada Anya tadi hanyalah ancaman kecil untuk wanita itu. Agra mengancam akan menyebarkan video absurd wanita itu jika saja menolak. Padahal Agra sama sekali tak punya video itu, tetapi wanita itu begitu mudah terperdaya olehnya.


Sedangkan di perjalanan, Caca maupun Kiano sejak tadi tak ada yang membuka suara. Caca terus memilin jemarinya karena merasa tak nyaman dengan situasi ini. Ia tahu Kiano pasti sangat marah padanya setelah tahu kebenarannya.


Kiano menepikan mobilnya di bahu jalan secara mendadak, sontak Caca kaget dan langsung menoleh ke arahnya.


Kiano terlihat mengeratkan rahangnya dengan kedua tangan mencengkram erat setir mobil. Lalu menoleh, menatap Caca tajam. "Kenapa kamu lakuin itu, Ca?"


Caca terkejut mendengar pertanyaan yang Kiano layangkan barusan. "Lo gak percaya sama gue, No? Gue lakuin itu...."


Belum selesai Caca bicara Kiano langsung menarik tengkuk dan mencium bibirnya lembut. Seketika tubuh Caca membeku.


Kiano menjauhkan bibirnya lalu menyatukan kening mereka. "Kenapa kamu lakuin itu, Ca?"


"No...."


"Kenapa pertaruhin masa depan kamu demi aku, Ca?"


Caca terkesiap, lalu memberanikan diri menatap netra kelam Kiano.


"Kenapa hem? Kenapa kamu gak biarin aku dijebak Anya? Masa depan kamu harus jadi taruhannya, Ca." Kiano kembali menyapu lembut bibir Caca. Caca meremat kaos Kiano dan membalas ciuman itu dan memejamkan matanya. Cukup lama keduanya saling berpagutan.


Kiano menyudahinya karena sama-sama kehabisan oksigen. Napas keduanya memburu. Kiano menangkup wajah Caca dengan lembut, perlahan Caca membuka matanya. Lalu pandangan mereka pun kembali beradu.


"Lo marah?" Tanya Caca dengan ragu.


Kiano mengangguk. "Aku marah karena kamu lakuin hal bodoh itu, Ca. Kamu pertaruhin masa depan sendiri cuma buat cowok brengsek kayak aku."


Caca menundukkan pandangan, ingin sekali ia berteriak pada lelaki itu soal alasannya melakukan semua itu. Sayangnya Caca tak seberani itu.

__ADS_1


"Ca." Panggil Kiano, Caca pun kembali mengangkat pandangannya. Napas keduanya saling beradu. "Kamu harus tahu alasan kenapa aku selalu bersikap dingin sama kamu selama ini. Aku gak mau khilaf dan kejadian malam itu terjadi. Bohong kalau aku gak tertarik sama kamu."


Jantung Caca bertalu-talu saat mendengar pengungkapan Kiano barusan.


"Satu tahun, Ca. Satu tahun bukan waktu yang singkat. Kita hidup seatap selama satahun, bohong kalau aku gak punya perasaan tertarik sama kamu walau itu bukan rasa cinta. Aku lelaki normal, Ca. Sewaktu-waktu aku punya perasaan yang menggebu buat nyentuh kamu. Tapi aku tahu itu gak mungkin, aku gak bisa rusak masa depan kamu tanpa adanya cinta di antara kita. Karena itu aku terus bersikap acuh sama kamu. Aku takut gak bisa ngontrol diri."


Caca mulai menitikkan air mata sambil meremat kuat kaos Kiano. "Saat itu gue istri lo, No. Lo bisa sentuh gue. Pelan-pelan lo juga bisa ngasih cinta itu buat gue."


Kiano menggeleng. "Aku gak bisa ngasih harapan palsu Ca, karena itu aku selalu mikirin masa depan kamu dengan cara menghindar. Tapi kejadian malam itu, aku benar-benar marah sama kamu karena kamu gak nolak aku dan malah nerima gitu aja. Kenapa gak jelasin semuanya dari dulu kalau semua itu niat jelek Anya hm?"


"Karena lo cinta sama dia, lo gak akan percaya, No" Kesal Caca memukul dada Kiano pelan.


Kiano memeluk Caca erat. "Aku pasti percaya, Ca. Tapi kamu malah diam pas aku tuduh. Kenapa, Ca?"


"Lo gak akan percaya sama gue, Kiano. Karena di mata lo cuma ada Anya." Kesal Caca semakin tersedu.


Kiano mengecup kening Caca lembut. "Maafin aku, Ca. Terlalu percaya sama dia itu kesalahan terbesarku." Ucapnya yang kemudian beralih mengecup bibir lembut Caca.


"Harusnya dari dulu aku cari kebenarannya. Tapi aku dibutakan sama cinta. Aku pikir itu murni perbuatan kamu yang sengaja lakuin itu semata-mata buat jebak aku. Aku juga marah karena selama ini aku coba menahan diri buat gak sentuh kamu, tapi justru kamu sendiri yang nyerahkan diri. Maaf karena udah berburuk sangka sama kamu."


Kiano menggeleng. "Enggak, Ca. Aku gak pernah mikir kayak gitu. Kayak yang aku bilang, aku cuma mikirin masa depan kamu. Aku tahu pernikahan kita udah gak sehat dari awal."


"Elo yang bikin pernikahan kita gak sehat, Kiano. Kalau lo mikirin masa depan gue, kenapa lo cerein gue hah? Lo biarin gue jadi janda diumur gue yang masih muda." Bentak Caca memukul punggung Kiano sangking kesalnya. "Kita udah ngelewatin malam bareng tapi elo masih tetep lepasin gue. Bahkan kata-kata nyelekit elo masih gue inget. Lo gak ngakuin kalau lo pernah nyentuh gue itu hal yang paling nyakitin banget."


"Aku tahu, Ca. Aku cowok paling brengsek karena lari dari tanggung jawab."


"Kalau lo tahu, kenapa tetep lakuin itu hah? Brengsek lo, No."


"Maafin aku, Ca. Aku bener-bener bingung dan merasa bersalah sama kamu saat itu. Karena kamu juga gak nolak buat cerai, aku pikir kamu pengen lepas dari aku. Aku mau marah, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Aku terlalu malu buat ungkapin semuanya, kalau saat itu aku gak sepenuhnya rela lepasin kamu setelah apa yang terjadi. Kamu tahu alasan kenapa aku gak ngaku kita pernah tidur di persidangan? Itu karena aku pengen kamu yang ngaku dan perceraian kita batal saat itu, Ca. Tapi kamu malah diem aja. Aku juga sempat kecewa soal itu. Tapi apa boleh buat karena aku pikir kamu memang gak pernah mau hidup sama aku. Aku sadar akan sikap aku yang terlalu kejam, Ca. Aku juga terlalu cemen jadi laki-laki. Maafin aku, Ca."


Caca menangis tersedu. "Lo emang brengsek, Kiano. Bahkan lo biarin gue lewatin semuanya sendirian, lo kira itu gampang hah? Lo enak-enakan pacaran di luar sana, sedangkan gue harus menderita sendirian. Terus tiba-tiba lo datang dan lagi-lagi nuduh gue macem-macem. Brengsek lo, No."

__ADS_1


Kiano mengeratkan dekapanya. "Maafin aku, Ca. Maaf. Tolong kasih kesempatan buat aku perbaiki semuanya ya?"


Caca mendorong Kiano sekuat tenaga. "Gak segampang itu, lo kira gampang apa mulihin hati gue yang terlanjur sakit? Lo selalu nyalahin gue. Lo juga mandang gue sebelah mata. Apa itu rasa peduli lo hah?" Semburnya seraya menyeka jejak air matanya.


"Ca." Kiano menatap Caca penuh harap.


"Sejauh mana hubungan lo sama Anya hah? Kalau lo peduli soal hidup dan masa depan gue, lo pasti tinggalin dia setelah kejadian itu. Tapi lo malah milih dia. Gue gak bisa percaya kata-kata manis lo, No. Terlalu sulit gue terima." Caca memukul dada Kiano dengan kedua tangannya. "Lo udah pernah tidur sama dia kan? Karena itu lo gak bisa lepasin dia. Seberapa sering lo tidur sama dia hah?"


Kiano memegangi kedua tangan Caca dengan lembut. "Sebatas pacaran biasa, Ca. Aku sama dia gak pernah lakuin hal sejauh itu selain ciuman. Aku juga gak mutusin dia karena dia cinta pertamaku."


Caca mendengus sebal. "Enak banget hidup lo, mentang-mentang dia cinta pertama lo. Lo gak rela lepasin dia sedangkan elo rela ninggalin istri lo yang udah pernah lo sentuh. Gue yang terlalu bodoh karena serahin semuanya sama elo. Ciuman bahkan kesucian gue, tapi elo dengan enaknya ninggalin gue cuma karena dia cinta pertama elo, bahkan lo ciuman sama dia hah?"


"Wajar Ca, karena waktu itu aku sama dia pacaran."


Caca menarik tangannya dengan kasar. "Wajar lo bilang? Dulu itu lo punya istri, No. Gue istri lo." Kekesalannya hampir mencapai ubun-ubun. Bahkan dadanya naik turun karena emosi.


Kiano tersenyum. "Kamu cemburu kan, Ca?"


Seketika Caca terkesiap karena baru sadar dengan ucapannya yang menunjukkan jika dirinya memang sedang cemburu. Kiano meraih tangan Caca, lalu menggenggamnya lembut. "Sebenarnya apa alasan kamu gak nolak malam itu hm? Kamu punya perasaan kan sejak awal sama aku? Karena itu kamu gak nolak perjodohan itu?"


Buru-buru Caca menarik tangannya lalu membenarkan posisi duduknya lurus ke depan.


"Ca." Kiano menunggu jawaban.


"Gue mau pulang." Sahut Caca berusaha mengalihkan pembicaraan.


Kiano menghela napas berat. "Jawab dulu pertanyaanku, Ca. Alasan kamu gak nolak malam itu kenapa? Kamu juga yang pesan kamar malam itu, padahal kamu bisa aja biarin aku di sana."


"Terus gue biarin Anya nyentuh suami gue gitu?" Sahut Caca spontan. Alhasil ia pun kaget sendiri ketika sadar akan jawabannya barusan.


Kiano tersenyum penuh arti. "Jadi bener dari dulu kamu udah suka sama aku, Ca?"

__ADS_1


"Gue mau pulang, No." Kesal Caca karena tak ingin Kiano tahu soal perasaannya. Ia memalingkan wajah dan menggigit ujung bibirnya karena gugup.


Alhasil Kiano pun kembali melajukan mobilnya sambil senyum-senyum sendiri. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka sampai keduanya tiba di basement apartemen.


__ADS_2