Once We Get Divorce

Once We Get Divorce
Chapter 46


__ADS_3

Sepanjang malam Kiano tak dapat tidur karena memikirkan hari esok, di mana Caca akan dibawa pergi oleh keluarganya. Namun, detik berikutnya pemuda itu bangun dari posisi tidur dan duduk di tepi ranjang.


Ia tampak berpikir keras, sambil sesekali menyugar rambut. "Aku gak bisa biarin Caca pergi, aku bisa kehilangan kesempatan ke dua."


Gumamnya terdengar frustrasi, tetapi masih berpikir keras untuk menemukan ide agar besok Caca tak bisa di bawa pergi oleh keluarganya.


Setelah lama berpikir, Kiano bangkit dari duduknya lalu bergegas keluar dari sana. Sedangkan di tempat lain, hal yang sama pun terjadi pada Caca. Sejak tadi ia tak kunjung terpejam, dan terlihat mencari posisi nyaman dalam tidurnya.


"Kamu juga pasti gak rela kan kalau kita pisah dari Papa?" Bisiknya seraya mengelus perut dengan lembut. Dan tanpa sadar ia mulai terisak. Dadanya juga terasa sesak.


Diwaktu bersamaan, pintu kamar Caca pun terbuka. Mendengar itu buru-buru Caca menyeka air mata lalu pura-pura tidur, beruntung posisinya saat ini membelakangi pintu.


Caca bisa merasakan kasurnya bergoyang, menandakan orang itu duduk di tepian ranjang. Tepat di sisinya. Dan tak lama tangan halus milik orang itu pun mengusap kepalanya lembut.


"Ca, Mama tahu kamu belum tidur kan?"


Mendengar suara halus sang Mama, Caca pun membuka mata. Lalu perlahan bangun dari posisinya dibantu oleh Mama Tias. Hingga pandangan keduanya pun bertemu satu sama lain.


"Mama tau ini berat, Sayang." Dielusnya pipi mulus Caca dengan lembut. "Tapi keputusan Opa juga gak bisa Mama bantah."


Caca menunduk lalu kembali menangis. "Tapi Caca gak mau pergi, Ma."


Tias menarik napas panjang. "Mama tahu, Sayang. Tapi...."


"Caca mau lari aja." Sanggah Caca mengangkat pandangannya. Sontak saja Tias kaget mendengarnya. "Caca yakin Kiano mau bawa Caca lari sekarang. Caca gak bisa jauh dari Kiano, Ma."


"Itu bukan solusi terbaik, Ca."


"Tapi cuma cara ini satu-satunya yang Caca punya, supaya besok Caca gak jadi pergi Mama. Caca yakin Mama sama Papa juga gak bakal bisa ngelawan Opa sama Oma kan? Kalian itu terlalu nurut." Kesal Caca.


"Ca." Mama Tias memperingati.


"Caca gak mau pergi, Ma." Tangisan Caca pun semakin menjadi. Melihat itu Tias menariknya dalam dekapan.


"Jangan nangis, Sayang. Nanti perutnya sakit lagi."


"Caca gak mau pergi, Mama." Isak tangisnya pun terdengar begitu memilukan. Dan itu teramat menyayat hati Tias. Dielusnya rambut Caca penuh sayang.


"Ya udah besok Mama coba ngomong sama Opa kamu, kalau kamu gak bisa pergi."


Mendengar itu tangisan Caca pun perlahan redam, kemudian ia menarik diri dari dekapan Mamanya. Dengan mata dan hidung yang memerah, Caca kembali bicara. "Mama janji?"


Mama Tias mengangguk yakin, lalu disingkirkannya anak rambut yang menghalangi wajah Caca. "Mama akan usahakan kamu gak jadi pergi besok, jangan nangis lagi ya? Hati Mama sakit."


Caca mengangguk yang diiringi senyuman bahagia. "Makasih, Ma."


"Ya udah kamu istirahat ya?"


Caca mengangguk kecil. "Mama tidur di sini aja ya? Caca mau dipeluk."


Tias tersenyum geli. "Iya, Sayang. Ya udah ayo tidur."


Caca mengangguk seraya menarik diri dari dekapan sang Mama, lalu disapunya jejak air mata di pipi dengan lembut. Setelah itu keduanya pun berbaring dalam keadaan saling berpelukan.


Pagi harinya, Tias mendatangi kamar orang tuanya. Di mana mereka terlihat sibuk merapikan barang-barang penting.


"Pa, Tias mau ngomong." Ibu dari Caca itu pun duduk di tepi ranjang, di sebelah Ibunya yang sibuk sendiri.


Abirama menoleh sekilas sebelum menyahut. "Apa? Mau bilang Caca gak mau pergi? Papa gak akan terpengaruh. Caca akan tetap ikut dengan kami. Kamu sama Ferry gak bisa jaga anak. Dari dulu Papa gak setuju dengan perjodohan konyol itu tapi kalian maksa kehendak. Akhirnya Caca yang menderita, harus hamil diusianya yang masih belia. Papa juga bisa lebih keras kepala dari kalian."


Tias mendesah kecil. "Tapi Pa...."


"Papa tetap dengan keputusan Papa, Tias." Tegas Abirama berhasil membuat Tias kalah telak.

__ADS_1


Alhasil, kepergian Caca pun benar-benar tak bisa dihindari lagi. Dan dengan berat hati Caca pun harus meninggalkan kota kelahirannya.


***


Suara riuh bandara memecah keheningan gendang telinga Caca saat mereka tiba di sana. Membuat keresahan di hati Caca semakin terasa. Rasa ingin lari dari kenyataan begitu menggebu, tetapi tak ada kesempatan untuknya melakukan itu karena sang Kakek terus mengawasinya.


Caca tampak gelisah dan terus melihat sekeliling, berharap seseorang menahan dan membawanya lari dari sana. Namun semua itu hanya angannya saja karena sampai detik itu Kiano tak menunjukkan batang hidungnya. Tentu saja rasa kecewa perlahan menjalar dihatinya.


Lo bener-bener rela gue pergi, No? Katanya lo mau perjuangin gue? Batin Caca penuh kecewa.


Mama Tias yang melihat raut kecewa di wajah putrinya pun ikut sedih. Didekatinya Caca lalu mendekapnya erat sambil berbisik. "Gak papa, kalau emang kalian berjodoh. Pasti bersatu meski kalian pisah sekali pun."


Caca membalas dekapan Mamanya dengan lembut. "Caca gak mau pergi, Ma. Gimana sama kuliah Caca di sini?" Rengeknya. Dari lubuk hati yang terdalam Caca masih berharap Kiano datang dan menggagalkan keberangkatannya. Namun sampai detik ini lelaki itu tak terlihat sama sekali.


"Mama sama Papa bisa urus itu, Sayang. Anggap aja kamu liburan di sana. Lagian, kalau memang kalian berjodoh. Kalian pasti bersatu kok, percaya sama Mama ya?"


Caca mengangguk kecil meski hatinya masih tak terima akan hal itu.


Setelah melakukan Check-in, mereka pun langsung masuk ke longue karena memang mengambil kelas bisnis. Demi kenyamanan Caca tentunya.


"Ayo." Ajak Abirama bangkit dari duduknya seraya menatap Caca yang ogah-ogahan untuk masuk.


Mama Tias mengelus punggung Caca lembut. "Gak papa, Sayang." Bisiknya kemudian. Caca pun cuma bisa mengangguk pasrah. Lalu memeluk kedua orang tuanya secara bergantian sebelum pergi.


Dengan langkah berat Caca pun mengikuti jejak nenek dan kakeknya. Sebelum itu, ia sempat melihat ke belakang. Masih berharap Kiano menghentikannya. Namun lagi-lagi itu hanya angannya saja karena Kiano tidak ada di sana. Dan mungkin tak akan pernah datang.


Apa sih yang lo harapin, Ca? Dia cuma kasian sama lo karena hamil. Caca berusaha meyakinkan hatinya.


Setengah jam lamanya mereka berada di longue, sampai pada akhirnya masuk ke dalam pesawat.


"Kenapa Papa kamu beli tiketnya pisah sih?" Oma mengomel saat tahu tempat duduk Caca berbeda dengannya. Di mana Caca terpisah sendiri, duduk di deretan belakang Oma dan Opanya.


"Ck, ya gak papa toh dia masih satu pesawat sama kita." Sahut Abirama seraya menatap Caca yang sedari diam membisu.


Tidak lama perhatiannya pun teralihkan ketika seseorang duduk di sebelahnya. Seorang laki-laki berpakaian kasual dengan wajah setengah tertutup makser dan topi menjadi pusat perhatiannya. Aroma parfum yang cukup khas memenuhi indera penciuman Caca. Ditatapnya orang itu lamat-lamat. Dan merasa jika siluet tubuh lelaki itu sangat mirip dengan Kiano. Namun detik berikutnya Caca tersadar dan langsung memalingkan wajah ke arah jendela karena orang itu menoleh ke arahnya.


Gue mikir apa sih? Bisa-bisanya berpikir dia Kiano. Brengsek, bahkan dia gak hubungin gue sama sekali. Kenapa gue harus percaya sama dia sih?


Caca terlihat mendesah kecil. Dan tak menyadari jika lelaki disebelahnya itu membuka maskernya lalu berbisik.


"Nungguin ya?"


Sontak saja Caca menoleh, dan seketika matanya membulat sempurna sangking kagetnya.


"Kia...." belum selesai Caca bicara, lelaki itu langsung membekap mulut Caca lalu menggelengkan kepala. Buru-buru ia memasang maskernya lagi karena takut Opa dan Oma melihat ke belakang.


"Jangan berisik." Bisik Kiano yang langsung dijawab anggukkan oleh Caca yang masih kebingungan sendiri.


Dan tidak lama Opa pun bangun dari duduknya lalu melihat ke belakang. Memastikan cucunya aman. Cepat-cepat keduanya duduk santai seolah tak saling kenal.


"Aman kan, Ca?" Tanya Opa menatap Caca. Caca pun tersenyum yang diiringi anggukan kecil. Kemudian Opa pun melihat ke arah Kiano.


Kiano yang melihat itu sedikit menundukkan kepalanya seolah memberikan salam hormat. Opa pun tersenyum ke arahnya sebelum kembali duduk.


Caca menoleh ke samping, lalu tersenyum bahagia. Kiano mencondongkan tubuhnya ke arah Caca, lalu mengusap rambut Caca lembut.


"Aku gak pernah bohong bakal nikahin kamu lagi, Ca." Bisiknya. "Aku pastikan kita balik ke Jakarta udah jadi suami istri lagi. Kenekatanku kali ini mudah-mudahan bisa yakinin hati kamu, Ca."


Caca menatap Kiano semakin dalam, lalu detik berikutnya ia mengangguk kecil. Kiano kembali mengusap kepala Caca.


"Kita harus pura-pura gak kenal." Bisik Kiano lagi. "Kalau enggak, kemungkinan besar akan terjadi kehebohan di pesawat ini." Imbuhnya seraya melirik ke bangku depan.


Caca tersenyum geli dan kembali mengangguk kecil. Dibukanya masker Kiano, lalu tanpa aba-aba sebuah kecupan lembut ia daratkan di bibir pemuda itu sangking senangnya.

__ADS_1


Tentu saja Kiano merasa senang karena tak pernah menyangka Caca akan berinisiatif menciumnya.


"Sabar, akan ada saatnya kamu bebas cium aku, Ca."


Caca mendengus sebal, tentu saja hal itu mencuri atensi nenek dan kakeknya. Alhasil Kiano kembali memasang maskernya lalu pura-pura bermain gawai seolah tak terjadi apa-apa.


"Kenapa, Ca?" Tanya Oma. Caca pun menggeleng cepat-cepat.


"Duduk sama Oma aja ya?" Tawar Oma dengan wajah cemas.


"Gak papa, Oma. Caca udah nyaman di sini." Sahut Caca penuh keyakinan. Tentu saja Kiano tersenyum geli dibalik maskernya.


"Salah Papa kamu, kenapa gak biarin kita duduk berdua?" Omel Oma lagi terlihat dongkol.


"Ck, udah jangan ngomel terus. Lagian Caca juga masih bisa kita awasi." Abirama coba menenangkan istrinya meski wanita itu terus mengomel tiada henti.


Dan seketika Caca pun tersadar sesuatu, ditatapnya Kiano penuh curiga. Ia yakin semua ini tak lain ulah mantan suaminya itu. Tidak lama sebuah pesan pun masuk. Caca mengeluarkan ponsel dari tasnya. Lalu melihat sang Mama lah yang mengirim pesan.


Mama cuma bisa bantu sampai sini sayang. Selanjutnya kalian berjuang sama-sama ya? Mama sama Papa bakal nyusul kalau kalian udah dapat restu.


Melihat isi pesan itu Caca tersenyum haru. Karena tak menyangka orang tuanya memberikan kesempatan untuk dirinya dan Kiano bersama. Caca tidak tahu saja jika malam tadi Kiano memohon seperti orang gila pada Tias dan Ferry. Ditatapnya kembali Kiano yang tengah asik bermain gawai, entah apa yang sedang lelaki itu kerjakan yang jelas Caca senang karena bisa bersama dengannya.


Beberapa menit kemudian pesawat pun mulai take off.


Selama kurang lebih dua jam lamanya penerbangan, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi pun berhasil mendarat mulus di Ngurah Rai international airport.


Caca bernapas lega saat mereka keluar dari dalam pesawat. Aroma di dalam pesawat benar-benar membuatnya pusing. Selama penerbangan itu pula beberapa kali Caca mual meski tak benar-benar muntah.


"Kamu gak papa kan?" Tanya Oma seraya merengkuh pundak Caca.


"Pusing dikit, Oma." Sahut Caca sembari memijat pangkal hidungnya.


"Abis ini kita duduk dulu ya? Kamu sih dari pagi gak makan, Oma udah suruh makan kamunya susah." Seperti biasa Oma kembali mengomel.


"Dari pada Caca muntah beneran di pesawat, Oma." Balas Caca apa adanya.


Di belakang mereka, Abirama jalan beriringan dengan Kiano. Tentu saja lelaki tua itu tak menyadarinya.


"Kakek mau liburan juga?" Tanya Kiano iseng dan sedikit mengubah suaranya.


Abirama menoleh, dan sedikit kaget saat melihat Kiano. "Lho, kamu yang tadi duduk di sebelah cucu saya kan?" Tanyanya penuh semangat.


Kiano mengangguk. "Iya, Kek. Kebetulan saya mau liburan."


Abirama tersenyum. "Sendirian?" Tanyanya yang dijawab anggukan oleh Kiano.


"Kakek ke sini liburan atau...."


"Ini kampung halaman saya." Sanggah Abirama.


"Wah, kebetulan sekali. Kakek pasti tau resort terbaik di sini. Boleh saya minta rekomendasinya? Dari tadi saya coba cari lewat online tapi belum dapat yang pas. Ini kali pertama saya ke sini." Alibinya.


Kiano sengaja bicara seperti itu karena memang masuk dalam rencananya. Abirama memang memiliki beberapa resort terbaik di Bali, dan Kiano akan mengambil kesempatan itu.


Tentu saja Abirama merasa heran sekaligus senang. Seketika jiwa pembisnisnya pun keluar. Sesuai harapan Kiano.


"Kebetulan saya punya beberapa resort terbaik. Mungkin kamu tertarik?" Tawar Abirama penuh semangat.


"Oh ya? Boleh dicoba sepertinya."


Abirama tersenyum bangga. "Saya akan hubungi anak buah, untuk siapkan tempat terbaik buat kamu gimana? Kamu tinggal bilang mau tempat yang seperti apa?"


Dan pada akhirnya kedua lelaki berbeda usia itu mendadak akrab karena Kiano berhasil mencairkan suasana hati Abirama.

__ADS_1


Mendengar canda tawa keduanya, Caca sempat menoleh ke belakang. Dan merasa heran saat melihat keduanya yang begitu akrab.


__ADS_2