Once We Get Divorce

Once We Get Divorce
Chapter 42


__ADS_3

Kiano melangkah gontai menuju apartemennya. Hari pertama bekerja benar-benar menguras tenaganya. Bahkan penampilannya terlihat berantakan, rambut acak-acakan, lengan kemeja yang sudah tersingkap sampai siku, juga dua kancing kemeja yang sudah terbuka.


Belum sempat Kiano membuka pintu apartemen, suara Caca memanggil namanya pun menggelegar dipendengarannya.


"Kiano!"


Refleks Kiano berbalik, ditatapnya Caca yang tengah berjalan ke arahnya dengan langkah lebar. Lalu tapa aba-aba menarik Kiano menjauh dari sana. Sontak tubuh Kiano terhuyung karena tarikannya.


Caca melepaskan tangan Kiano dengan kasar, lalu ditatapnya pemuda itu penuh intimidasi. "Lo mabok?"


Dengan mata sayunya Kiano menggeleng kecil. Caca maju selangkah, lalu mengendus badan Kiano untuk memastikan pemuda itu tak mabuk. Dan ia sama sekali tak mencium bau alkohol. Ditatapnya lagi pemuda itu dengan tatapan tajam.


"Mau ngapain lo ke apartemen orang, Kiano?" Geramnya.


Kiano menoleh ke arah pintu apartemennya, lalu kembali menatap Caca. Belum sempat Kiano menjawab, Caca kembali menarik tangannya dan membawanya masuk ke apartemen.


Inne yang awalnya ingin menyusul Caca karena tak kunjung kembali pun kaget saat melihat Caca masuk bersama Kiano. Ditatapnya penampilan Kiano dari ujung kaki sampai kepala.


Ni anak kenpa acak-acakan gini? Mereka abis gelut? Batin Inne.


"Jangan diem aja, No? Kenapa lo mau masuk ke apartemen orang? Padahal lo sepenuhnya sadar. Lo punya hubungan apa sama pemiliknya hm? Dari dulu gue tahu pemilik apart itu cewek single." Sembur Caca terselip nada cemburu di sana.


Kiano menghela napas. "Kamu salah paham, Ca. Itu...."


"Salah paham lo bilang? Jelas-jelas gue liat sendiri lo mau buka pintu apartemen depan. Punya hubungan apa lo sama dia hah?" Sergah Caca yang berhasil membuat Kiano terdiam.


Sedangkan Inne terlihat santai, menonton keduanya dari sofa sambil nyemil ciki. Seolah sedang menonton drama Korea.


"Jawab gue, Kiano. Kenapa lo diem?" Sembur Caca lagi.


"Gimana mau aku mau jawab, Ca? Kamu motong omongan terus. Izinin aku ngomong ya?" Sahut Kiano dengan suara lembutnya. Ia benar-benar lelah.


Caca mendengus sebal. "Apa yang mau lo jelasin? Lo mau bilang kalau itu pacar baru lo?"


Kiano menyugar rambutnya dengan kasar. "Itu apartemen aku, Ca. Aku sengaja beli supaya bisa deket sama kamu. Puas kan?"


Seketika Caca terdiam mendengarnya. "A__apartemen lo?" Tanyanya gugup.


"Hm." Kiano mengangguk. "Gue minta Daddy buat beli apart itu, supaya gue bisa deket sama elo, Ca. Pemilik lamanya udah pindah."


Caca berdeham kecil. "Buat apa lo lakuin itu?" Ketusnya seraya memalingkan wajah yang sudah merah padam karena malu.

__ADS_1


Kiano tersenyum kecil. "Kamu cemburu ya, Ca? Kamu takut aku deket sama cewek lain kan?"


"Dih, kegeeran lo. Siapa juga yang cemburu?" Sahut Caca berusaha menutupi kegugupannya. Sedangkan Inne berusaha menahan tawanya saat melihat tingkah menggemaskan Caca yang tengah cemburu buta.


Kiano membawa Caca dalam dekapan, membuat bumil itu terhenyak dan membeku seketika. Bahkan Inne juga ikut kaget saat melihat itu. Buru-buru ia memalingkan wajahnya.


Njir, ngapain mereka tuh? Masak mau mesum di depan gue? Batin Inne mulai overthinking sambil sesekali mengintip ke arah mereka.


Sadar akan kehadiran Inne, Caca pun langsung menjauhkan diri dari Kiano. "Ihhh jangan peluk-peluk gue, sana lo pergi. Lo bau keringat, No." Usirnya tanpa sungkan. Untuk masalah bau, Kiano sama sekali tidak bau justru masih wangi. Itu hanya alibi Caca saja.


"Tadi kamu yang narik aku, Ca. Sekarang aku malah diusir." Protes Kiano dengan tatatapan sayunya. "Gak nawarin minum dulu gitu?"


"Gak ada. Udah sana pergi." Caca pun mendorong Kiano keluar. Lalu tanpa menunggu lagi langsung menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.


Sontak Inne tergelak melihatnya. "Lucu lo, Ca. Cemburu lo gak beralasan."


Caca menatap Inne lalu mendengus sebal. Kemudian menghampiri gadis itu dan ikut duduk di sofa.


Inne menatapnya masih dengan sisa tawanya. "Lo beneran bucin akut. Sampe segitunya lo takut Kiano diambil orang. Tapi lo masih sok-sokan nolak. Udah lah mending kalian rujuk deh." Cibirnya.


Caca mendengus sebal. "Gue masih harus mastiin dia bener-bener cinta ama gue atau sekadar rasa bersalah doang."


Caca menyebik seraya menyandarkan punggungnya di kepala sofa. "Gak segampang itu gue bisa terima dia lagi, Ne. Gue akui, perasaan gue sama di masih sama kayak dulu. Tapi gue gak bisa asal nerima dia. Bisa aja dia cuma lagi nyari pelampiasan karena baru diselingkuhin pacarnya. Gue masih takut buat jalin hubungan serius lagi. Apa lagi dengan orang yang sama."


Inne mengangguk paham. "Terus lo mau pembuktian gimana hem?"


Caca tampak berpikir. "Gue gak tahu sih. Tapi gue pengen liat sejauh mana dia memerjuangkan gue."


"Jadi karena itu lo sok jual mahal?"


Caca mengangguk. "Kata orang, kalau cowok bener-bener menginginkan kita. Gimana caranya pun dia bakal perjuangin, sekali pun gak dapat restu."


Inne mengangguk juga. "Keren lo, Ca. Semuda itu pengalaman lo soal hubungan udah jauh banget. Ketinggalan jauh gue mah."


Caca tersenyum. "Bisa aja lo. Terus gimana sama masalah elo hm?"


Inne menarik napas panjang. "Gue matiin hp. Biar aja mereka nyariin. Biar ngerasa kalau gue ini frustrasi."


Caca menatap Inne penuh iba. "Sorry ya gue gak bisa ngasih solusi." Lirihnya.


"Ish, lo nampung gue aja udah makasih banget, Ca." Digenggamnya tangan Caca erat. "Malah gue yang merasa ngerepotin elo. Kita baru deket tapi udah bikin lo susah."

__ADS_1


Caca tersenyum sembari mengelus punggung tangan Inne. "Gue seneng bisa dapat temen, Ne. Selama ini gak ada yang bener-bener mau temenan sama gue. Kecuali Gladis sama elo, tapi Gladis udah mau nikah."


Inne mengembuskan napas kasar. "Kalau gitu gue janji bakal jadi sahabat terbaik elo mulai sekarang."


Caca mengangguk senang. "Thank you."


"Welcome, bestie." Balas Inne. Lalu keduanya pun tertawa barsama.


***


"Ca, lo gak papa kan?" Tanya Inne saat melihat Caca baru keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dipagi harinya.


Caca menggeleng. "Gue udah biasa gini, tiap pagi mual. Beberapa hari udah ilang, tapi ini baru muncul lagi. Lemes gue, Ne."


Dengan sigap Inne membantu caca duduk dan bersandar di kepala ranjang. "Terus gimana sama kuliah pagi lo?"


"Gue tetap pergi ke kampus, tar juga lemesnya ilang." Jawab Caca seraya memejamkan matanya.


"Ck, lo pucet banget, Caca." Inne menatap Caca cemas.


"Gue gak papa, udah biasa gini. Ini mah gak ada apa-apanya, Ne. Biasanya gue muntah-muntah sampe gak bisa jalan. Bisa sejam gue duduk di kamar mandi sangking lemasnya." Keluh Caca sembari mengelus perutnya.


"Susah juga ternyata hamil. Kenapa harus cewek sih yang nanggung semuanya? Sedangkan cowok anteng-anteng aja, padahal buatnya sama-sama." Omel Inne yang berhasil membuat Caca melek. Lalu tersenyum geli.


"Kalau kata Mama gue, itu nikmat yang cuma bisa perempuan rasakan, Ne. Lagian gue nikmatin prosesnya kok, karena ini bakal jadi pengalaman terindah dalam hidup gue." Caca menatap dan mengelus perutnya sambil tersenyum lrmbut. "Gue gak sabar lihat dia lahir. Kira-kira mirip gue apa Kiano ya?"


Inne menatap Caca lekat. "Ca, gue tanya sesuatu boleh?" Tanyanya serius.


Caca membalas tatapan Inne. "Tanya aja. Ne."


"Kenapa lo bisa sampe hamil, Ca? Maksud gue kok bisa kalian tidur bareng? Padahal Kiano sebelumnya juga gak tertarik sama elo. Sorry kalau gue lancang."


Mendengar pertanyaan itu Caca terdiam beberapa saat, sebelu menjawab pertanyaan Inne. "One night stand.


Inne terhenyak. "Ine night stand?" Caca mengangguk kecil. Kemudian mengalirlah cerita dari bibir ranumnya. Sedangkan Inne teihat fokus mendengarkan cerita Caca.


Sampai terdengar suara ketukan pintu dari luar. Spontan Caca berhenti bercerita.


"Biar gue yang buka." Inne bangkit dari duduknya lalu bergegas membukakan pintu. Namun matanya langsung membola saat melihat orangnya.


"Elo!"

__ADS_1


__ADS_2