Once We Get Divorce

Once We Get Divorce
Chapter 45


__ADS_3

"Nggak ada masalah serius sama kehamilannya kok. Hal ini lumrah terjadi buat kehamilan yang memasuki trimester 2. Karena rahim semakin membesar, jadi si otot ligamen dan sekitarnya tertekan, makanya ngalami kram perut. Wajar juga karena ini kehamilan pertama buat Mbaknya." Jelas sang dokter setelah memeriksa kondisi Caca. Dan itu berhasil membuat Kiano bernapas lega.


"Syukurlah." Kiano mengelus kepala Caca yang masih terbaring di brakar. Terlihat jelas kecemasan di wajahnya. Caca yang melihat itu dibuat bingung. Sebenarnya yang Kiano cemaskan itu dirinya atau hanya anak dalam perutnya?


"Istrinya bisa langsung dibawa pulang kok, Mas. Tapi harus banyak istirahat ya? Dan jangan sampai stres. Itu berperngaruh banget buat bumil." Nasihat dokter tersebut.


Kiano menoleh lalu mengangguk paham. "Baik, dok. Terima kasih banyak."


"Sama-sama." Setelah itu dokter itu pun berpamitan.


Kiano duduk di tepi brankar, lalu mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening Caca. Seketika darah Caca berdesir, dan tanpa sadar menutup mata saat bibir lembut Kiano menyapu keningnya.


Perlahan Caca membuka mata, dan pandangan keduanya pun bertemu satu sama lain.


"Ca, kita nikah secepatnya ya?" Ajak Kiano dengan tatapan penuh harap.


Caca tidak menyahut.


"Setidaknya pas kayak gini aku ada di dekat kamu, Ca. Kalau misalnya tadi aku udah berangkat kerja gimana hm?" Disingkirkannya anak rambut yang menghalangi pipi Caca.


Caca menatap mata Kiano begitu dalam. "Lo takut anak ini kenapa-napa kan?"


Kiano berdecak kecil. "Aku mikirin kamu, Ca. Lagian anak kita pasti baik-baik aja kalau kamunya juga sehat. Kita nikah secepatnya ya?" Bujuknya.


Caca mendorong dada Kiano agar sedikit menjauh. Lalu memalingkan wajahnya. "Gue gak mau."


"Ca." Kiano menatap Caca penuh harap. "Izinin aku buat jaga kamu ya?"


Caca sama sekali tak menanggapinya. Dan itu membuat Kiano bingung.


"Kamu butuh pembuktian kalau kali ini aku serius, Ca?" Tanya Kiano yang berhasil menarik perhatian Caca. "Aku pasti buktiin keseriusanku, Ca. Aku gak main-main."


"Segampang itu lo berpaling hati, No? Dulu lo cinta banget sama Anya? Bisa semudah itu lo pengen sama gue? Gue gak bisa cerna semua itu, No." Ujar Caca menatap Kiano tak percaya.


Kiano menatapnya begitu dalam seraya meraih tangan Caca. "Mungkin sejak awal aku emang udah tertarik sama kamu, Ca. Cuma aku gak sadar soal itu. Percaya sama aku, Ca. Aku gak akan sia-siain kamu lagi." Dikecupnya tangan Caca lembut.


Lagi-lagi Caca memilih diam.


"Ca, kasih aku kesempatan kedua ya? Aku janji bakal berusaha jadi suami baik dan bertanggung jawab buat kamu dan anak kita." Mohon Kiano lagi. Namun Caca masih diam karena hatinya belum yakin akan keseriusan Kiano.


"Ca." Tuntut Kiano karena butuh jawaban pasti dari mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Gue pengen pulang, No. Lo juga harus berangkat kerja."


Terlihat kekecewaan diwajah Kiano. Namun detik berikutnya ia mengangguk diiringi senyuman menawan.


Setelah berpamitan pada dokter, Kiano pun langsung membawa Caca pulang.


Sesampainya di apartemen, Caca menahan langkahnya saat melihat pintu apartemen sedikit terbuka. Spontan Kiano pun ikut menahan langkahnya seraya menatap Caca bingung.


"Ada apa?"


Namun Caca tak menjawab justru bergegas masuk ke apartemennya. Yang disusul oleh Kiano.


Sedetik kemudian keduanya langsung mamatung saat melihat empat orang yang kini sudah duduk di ruang tamu. Yang tak lain Tias, Ferry dan sepasang suami istri lansia. Yang merupakan orang tua dari Tias.


"Oma, Opa?" Pekik Caca detik berikutnya. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari dan berhambur dalam dekapan Omanya.


"Oma... Caca kangen." Rengeknya mulai menangis.


Oma membalas pelukan Caca seraya mengusap punggung cucu tersayangnya itu. "Oma juga kangen, Sayang." Dikecupnya pucuk kepala Caca lembut.


Opa bangkit lalu mendatangi Kiano yang masih mematung. "Apa kata dokter?"


Bukan hanya Kiano, kedua orang tua Caca juga kaget. Beruntung Caca tak melihatnya karena anak itu masih sibuk melepaskan kerinduannya pada sang Oma yang sudah lama menetap di Bali.!Karena sang Kakek ingin menghabiskan waktu di tanah kelahiran mendiang Ibunya.


Namun, keduanya memutuskan untuk ikut ke Jakarta setelah mendengar soal kehamilan Caca. Karena sejak awal mereka belum tahu, hanya tahu soal perceraian Caca dan Kiano.


Dulu, saat tahu soal perceraian mereka, keduanya sempat murka karena sejak awal tak memberi restu atas pernikahan Caca yang terlalu dini. Menyalahkan semua itu pada kedua orang tua Caca yang sudah merusak masa depan cucunya. Bahkan karena kemarahan itu keduanya sempat memutus kontak. Kemarin, Tias dan Ferry mendatangi kediaman mereka dan memberi tahu soal kehamilan Caca. Keduanya kembali murka dan memaki orang tua Caca. Bahkan memutuskan untuk ikut pulang.


"Saya tanya, gimana kondisi cicit saya?" Tegas Abirama menatap Kiano penuh kebencian.


Kiano kembali menegakkan tubuhnya lalu dengan sopan menjawab. "Kondisinya baik-baik aja, Opa."


"Jangan panggil saya Opa, saya bukan Opa kamu. Mulai sekarang kamu tidak perlu temui Caca lagi, dia akan kami rawat dengan baik." Sarkas Abirama dengan suara lantangnya.


Sontak Caca yang mendengar itu langsung menarik diri dari dekapan sang Oma.


"Tetap di sini." Oma membawa Caca duduk di sisinya. Mendekap Caca erat. Seketika Caca mulai paham kondisinya. Jika hubungannya dan Kiano tak akan mudah untuk berlanjut. Caca menggigit bibirnya, ia tahu betul bagaimana dulu Oma dan Opanya itu menolak keras perjodohan itu.


Kiano terlihat menundukan pandangannya. Bahkan Ferry maupun Tias tak mampu bicara sekarang.


Abirama menatap Kiano tajam. "Kamu pikir cucu saya barang mainan? Seenaknya kamu buang, lalu sekarang kamu ambil lagi karena berubah pikiran?"

__ADS_1


Kiano mengangkat pandangan, lalu menggeleng kecil.


"Mulai hari ini, saya mengharamkan kamu menginjakkan kaki di sini lagi, Kiano."


"Opa." Lirih Caca dengan tatapan berkaca-kaca. Ia tahu betul ucapan Kakeknya itu tak main-main.


Abimana menoleh ke arah Caca dengan sorot tajam. Membuat bumil itu kaget dan refleks menunduk.


Abimana kembali menatap Kiano. "Keluar." Usirnya masih dengan nada pelan,


Namun Kiano masih bergeming, menatap Caca, Tias dan Ferry bergantian. Namun ketiganya tak berani bersuara.


"Keluar!" Bentak Abirama yang berhasil membuat semuanya kaget.


Tak ingin membuat suasana semakin keruh, Kiano pun memilih pergi meski langkahnya terasa berat. Sebelum itu ia sempat bertemu tatap dengan Caca.


Buru-buru Abirama mendorong Kiano keluar dari apartemen. Setelah itu menutup pintu.


Caca menatap sang Papa lekat, tetapi Ferry menggeleng seolah tak bisa membantunya kali ini.


"Papa kamu akan urus surat cuti, kamu ikut dengan Opa dan Oma ke Bali."


"Pa." Protes Tias.


"Caca gak mau, Opa. Caca masih mau kuliah." Mohon Caca penuh harap.


"Tidak ada penolakan. Ini keputusan paling baik. Jika kamu di sini terus, kamu pasti akan termakan rayuannya lagi, Caca." Tegas Abirama seolah tak bisa dibantah.


"Oma, Mama, Papa." Caca meminta bantuan yang lain.


"Ikuti saja perkataan Opamu, Ca." Sahut Oma. Seketika Caca pun menangis histeris dalam dekapan Mamanya. Ia benar-benar tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Benarkah ia tak ditakdirkan dengan Kiano?


"Jangan menangisi lelaki brengsek itu, Caca. Masih banyak laki-laki yang lebih bertanggung jawab." Kata Abrirama menatap Caca tajam.


"Pa." Tias menatap Papanya itu penuh harap. "Caca baru aja pulang dari rumah sakit, jangan dibuat stress lagi."


Abirama menghela napas kasar. "Besok kita berangkat. Di sana kamu bisa membebaskan diri. Keputusan Opa sudah bulat." Putusnya tak menerima protesan.


Caca pun hanya bisa menangis dalam dekapan sang Mama. "Caca gak mau, Ma."


Tias mengecup pucuk kepala Caca lalu berbisik. "Ikut aja dulu untuk sementara waktu, Ca. Sampai amarah Opa reda. Kamu juga bisa lihat nanti gimana perjuangan Kiano. Kita liat sejauh mana dia berjuang." Caca mengeratkan pelukannya dan semakin terisak.

__ADS_1


__ADS_2