
"Ca." Kiano menoleh, ditatapnya Caca yang masih berdiam diri. Lalu meraih tangan Caca dan menggenggamnya erat.
"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi." Pancingnya lagi sambil menyunggingkan senyuman jahil.
"Sebaiknya lo pulang, No. Gue mau istirahat." Caca menarik tangannya dan hendak membuka pintu mobil. Sayangnya masih terkunci. Alhasil ia berbalik dan menatap Kiano tajam. "Buka, No."
Kiano tersenyum. "Aku gak akan buka sebelum kamu jawab, Caca."
Caca mendelik. "Lo gak ada hak buat tahu jawaban gue, Kiano. Buka pintunya atau gue teriak sekarang?" Kecamnya.
Alih-alih takut, Kiano justru tersenyum geli. "Teriak aja, Ca. Paling kita dinikahin nanti."
Caca menggeram kesal. "Kiano!"
"Sssttt. Jangan marah-marah, tar baby kita kaget lagi." Ujar Kiano seraya mengelus perut Caca. Sontak Caca pun semakin kesal dibuatnya.
"Kaget ya, Sayang? Bilangin sama Mamanya, jangan marah-marah terus. Nanti cantiknya nambah." Dikecupnya perut Caca dengan mesra. Seketika tubuh Caca pun menegang.
Kiano menegakkan tubuhnya, menatap Caca yang masih mematung.
"Ca." Panggilnya. Sontak Caca terperanjat kaget.
"Hah? Ya?" Kagetnya. Kiano terkekeh lucu melihat ekpresi kaget Caca barusan.
"Kamu gemesin, Ca." Dicubitnya pipi Caca karena gemas.
"Kiano sakit!" Teriak Caca seraya mengelus pipinya yang terasa sakit dan panas karena ulah pemuda itu.
Kiano mengerutkan kening. "Kok aku kayak pernah dengar kata-kata itu ya? Tapi di mana?" Tanyanya tampak berpikir. "Ssstt, di mana ya? Kebayang tapi samar-samar."
Seketika pipi Caca semakin memanas karena tiba-tiba mengingat kejadian malam itu. Semuanya terekam jelas di memorinya.
Melihat wajah merona Caca, Kiano tersenyum geli. "Keliatan makin cantik kalau pipinya merah gini." Katanya seraya mengelus pipi Caca.
Cepat-cepat Caca menampiknya. "Jangan sembarangan nyentuh gue, Kiano." Protes Caca memasang wajah kesal.
"Habis kamu gemesin banget Caca. Pengen nyubit terus." Goda Kiano.
Caca mendengus sebal. "Gemes sih gemes, tapi gak nyubit beneran juga kali." Protesnya.
Kiano tertawa puas karena berhasil membuat Caca kesal. "Ya udah, yuk turun." Ajaknya kemudian. Lalu keduanya pun turun dari mobil. Dan Caca masih merengut karena kesalnya belum juga hilang.
"Eh, lo mau ngapain ikut turun?" Kaget Caca baru sadar.
Alih-alih menjawab, Kiano justru menggendong Caca secara tiba-tiba. Refleks wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Kiano dan memekik kaget. "Kiano! Turunin gue."
"Enggak. Kamu masih sakit, Ca."
"Kiano, gue gak sakit lagi. Turunin." Geram Caca seraya melihat sekeliling. Beruntung tidak ada orang di basement saat ini. Jika tidak Caca pasti malu.
Seolah tuli, Kiano pun terus menggendong Caca sampai ke apartemen meski wanita itu terus protes dan meminta diturunkan.
"Buka pintunya, Sayang." Pinta Kiano meminta Caca menekan password apartemen.
"Jangan panggil gue sayang, geli gue dengernya." Sinis Caca seraya menekan tombol angka. Setelah terbuka Kiano pun segera membawa Caca masuk. Lalu mendudukkannya di sofa. Setelahnya ia pun ikut menjatuhkan diri di sebelah Caca.
__ADS_1
"Ah, lumayan berat juga kamu." Katanya seraya menatap Caca yang masih merengut.
"Yang nyuruh lo gendong gue siapa?" Ketus Caca. Kiano tersenyum lagi. Sampai tiba-tiba ponsel Caca pun berdering.
Caca mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Lalu melihat siapa yang menghubunginya, seketika senyumannya mengembang karena ternyata Inneke yang menghubunginya. Kiano sempat mengintip tetapi Caca langsung bangkit dan menerima panggilan.
"Halo." Sapanya dengan wajah ceria. Kiano mengerutkan kening saat melihat itu.
"Caca! Lo di mana hah? Lo baik-baik aja kan? Kenapa gak keliatan dikampus? Gue nyariin elo tahu." Sembur Inne yang berhasil membuat Caca tersenyum lebar.
"Gue gak papa kok. Tadi gue abis periksa ke dokter. Jadi hari ini libur sehari."
"Ya ampun, syukur kalau lo baik-baik aja. Gue kepikiran tahu gak."
Caca tertawa kecil, dan itu membuat Kiano semakin penasaran. "Siapa, Ca?"
Sontak Caca langsung memelototinya dan meminta Kiano diam.
"Ca, kok ada suara cowok? Lo di mana sekarang?" Tanya Inne penasaran.
Caca menatap Kiano penuh ancaman. "Enggak, itu bokap gue."
Kiano terperangah mendengarnya.
Bokap? Dia bilang aku bokapnya? Siapa sih yang nelpon dia sampe harus bohong segala? Batin Kiano mendadak dongkol.
"Oh, gue pikir lo sendiri. Padahal gue pengen main ke apartemen lo. Tapi kalau ada bonyok lo gak jadi deh."
"Eh? Main aja gak papa, bokap gue bentar lagi pulang kok. Tadi cuma anter gue ke rs doang." Sahut Caca seraya melirik Kiano sekilas. Pemuda itu tampak sebal karena Caca terus berbohong soal dirinya.
"Boleh dong, apa yang enggak buat lo." Sahut Caca, spontan Kiano berdeham mendengarnya.
"Ya udah, gue otw ya? Lo mau gue beliin apa?"
"Gak perlu. Hati-hati ya di jalan, kalau udah sampe kabarin."
"Oke."
"Ya udah, gue tutup dulu ya?"
"Oke Caca sayang, see you."
"See you too, Sayang." Caca memutus panggilan lalu tersenyum.
Kiano terkejut mendengar panggilan Caca untuk si penelepon barusan. Ia bangkit dan mendekati Caca.
"Siapa Ca? Kenapa kamu panggil dia sayang?"
Caca menatap Kiano malas. "Bukan urusan lo, Kiano. Mending lo balik sekarang ya? Temen gue mau datang."
"Aku gak mau pulang."
"Ihh, mau ngapain lo di sini terus? Udah sana pokoknya pulang. Temen gue mau sampe." Caca mendorong Kiano ke arah pintu dengan sekuat tenaga.
"Ca." Kiano menahan tubuhnya ketika hampir sampai di depan pintu.
__ADS_1
"Pulang, No." Kesal Caca berusaha mendorong lelaki itu agar keluar dari apartemennya.
Kiano berbalik. "Kamu jawab dulu siapa baru aku balik."
"Kiano! Jangan bikin gue naik darah!" Geram Caca masih berusaha mendorong pemuda itu. Sayang Kiano sama sekali tak goyah.
Caca menghela napas kasar lalu ditatapnya Kiano tajam. "Mau lo apa sih?"
"Aku cuma mau tahu dia siapa? Cewek atau cowok?"
Caca mendengus sebal. "Bukan urusan lo, pergi No." Usirnya semakin kesal.
"Aku gak akan pergi sebelum kamu bilang." Sahut Kiano begitu teguh dengan pendiriannya.
"Cewek, puas lo!" Bentaknya.
Kiano memicingkan matanya. "Gue gak percaya."
Caca menggeram tertahan. "Kalau lo gak percaya ya udah, sana pergi. Temen gue udah mau sampe. Akhh perut gue."
Caca menyentuh perutnya yang kembali kram. Kiano terkejut dan langsung memapah Caca untuk duduk. "Makanya jangan marah-marah terus, Ca."
"Lo yang bikin gue naik darah, Kiano." Kesal Caca seraya menyandarkan punggungnya di sofa. "Pergi gue bilang."
"Lo kesakitan, Ca."
"Kalau lo masih di sini gue tambah sakit, Kiano. Please, pergi dari sini." Lirih Caca menatap Kiano penuh harap.
Alhasil Kiano pun mengalah. "Oke, aku pergi. Tapi kalau ada apa-apa langsung hubungin aku."
Caca tidak menyahut dan terus mengelus perutnya. Kiano menatap Caca lekat sebelum benar-benar pergi dari sana.
Caca bernapas lega karena berhasil mengusir Kiano. Lalu ia pun mengirim pesan pada Inne, memberi tahu nomor apartemennya.
Di luar sana, Kiano terus mondar-mandir di depan apartemennya sendiri seraya mengawasi apartemen Caca. Menunggu siapa gerangan yang datang. Entah kenapa ia gelisah sendiri? Takut yang menemui Caca itu laki-laki.
Beberapa saat kemudian, Inne pun muncul dan terlihat mencari apartemen Caca. Kiano terkejut ketika melihatnya.
Dia lagi?
Kiano hendak mendatanginya, tetapi pintu apartemen Caca keburu terbuka. Alhasil Kiano pun mengurungkan niatnya dan langsung masuk ke apartemennya.
Caca yang tak sengaja melihat Kiano masuk ke apartemen di depanya pun mengerutkan kening.
Kiano? Gak, gue salah lihat kayaknya. Gak mungkin kan Kiano tinggal di sana? Setahu gue yang tinggal di sana cewek. Batin Caca.
Inne mengikuti arah pandangan Caca. "Ada apa, Ca?" Sontak Caca pun kaget.
"Eh? Enggak kok, yuk masuk." Tanpa ragu Caca menarik Inne masuk. Meski pikirannya masih tertuju pada sosok yang sangat mirip dengan Kiano.
Tapi baju sama perawakannya kok bisa kebetulan mirip banget ya? Pikir Caca lagi.
"Ca!" Teriak Inne yang berhasil membuat Caca kaget. Ditatapnya Inne yang sudah duduk di sofa. "Lo kenapa sih? Dari tadi gue panggilin malah bengong di situ? Mau sampe kapan lo berdiri di situ?"
Caca tersenyum kikuk lalu bergegas menyusul Inne duduk di sofa.
__ADS_1