
Caca yang sedari tadi melihat ke arah pintu juga ikut kaget saat melihat keberadaan Randy dan Bik Nur di sana. Sayangnya ia sangat lemas jadi tak bisa mendatangi mereka.
"Ngapain lo di sini?" Sembur Inne menatap Randy tajam. Tanpa menjawab Randy langsung menarik Inne dan membawanya pergi dari sana. Caca yang melihat itu menatap kepergian mereka bingung.
"Bik, ada apa sih?" Tanya Caca dengan suara lembutnya.
Bik Nur pun masuk ke kamar, lalu mendatangi Caca. "Itu, Non. Tadi si aden ganteng tiba-tiba datang terus nyariin Non Inne."
Kening Caca mengernyit. "Kenapa ya Randy nyari Inne, Bik?"
Bik Nur menggeleng, lalu ditatapnya Caca lamat-lamat. "Non sakit?"
Caca menggeleng yang diiringi senyuman.
"Masih mual ya?" Tanya Bibik lagi. Kali ini Caca mengangguk. "Mau bibik buatin wedang gak?"
Caca tampak berpikir. "Boleh deh, Bik."
Bik Nur mengangguk. "Ya udah Non tunggu sebentar ya?" Caca mengangguk lagi lalu Bik Nur pun beranjak dari sana dan tak lupa menutup pintu. Caca kembali memejamkan mata karena kepalanya terasa pening.
Di luar sana, Randy terus menarik Inne yang berusaha melepaskan diri.
"Stop, Ran? Gue gak mau balik." Sarkas Inne menghentak tangannya dengan kasar saat Randy hendak membawanya masuk ke dalam lift. Spontan langkah Randy tertahan dan langsung berbalik, ditatapnya Inne tajam.
"Nyokap gue masuk rumah sakit, dia kaget pas denger lo ilang." Ungkap Randy yang berhasil membuat Inne kaget. "Lo harus minta maaf karena udah bikin semua orang khawatir."
Inne tersenyum getir. "Gue yang harus minta maaf? Ini semua karena nyokap lo, Ran. Dia yang terus maksain kehendaknya. Bisa aja dia pura-pura sakit sekarang." Sarkas Inne.
"Lo lupa? Nyokap lo juga terlibat. Nyokap gue punya asma, dia kaget pas denger kabar lo gak pulang. Dia gak pura-pura." Kesal Randy tak terima hanya orang tuanya yang disalahkan.
Inne memutar bola matanya malas. "Nyokap lo kan yang sakit? Itu urusan elo lah. Ngapain bawa-bawa gue. Lagian apa yang gue lakuin sekarang ini salah satu bentuk penolakan. Biar mereka paham kalau gue gak mau nikah sama elo." Katanya seraya mejunjuk dada Randy.
Randy mengeratkan rahangnya. "Bukan gini caranya, Inne."
"Terus gimana? Gue harus diem kayak elo gituh? Capek gue, Ran." Inne mengacak rambutnya karena frustrasi. "Gue masih pengen bebas, ngejar cita-cita. Keliling dunia, masih banyak impian gue."
Randy terdiam dengan tatapan tak beralih dari gadis itu.
"Gue gak mau nikah muda, itu gak ada dalam rencana hidup gue." Imbuh gadis itu mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian ditatanya Randy lekat. "Please, bujuk nyokap lo buat stop perjodohan ini. Gue juga bakal bujuk nyokap buat percaya kalau suatu saat gue pasti dapat jodoh terbaik walau gak harus cepet."
__ADS_1
Randy masih berdiam diri di posisinya. Dan itu membuat Inne semakin frustrasi.
"Jangan diem aja, Ran. Lo harus setuju. Gue tahu lo juga gak akan mau nikah sama gue kan? Bujuk Nyokap lo ya? Supaya jangan hasut nyokap gue terus." Lirih Inne tanpa sadar meraih tangan Randy dengan tatapan penuh harap.
Randy menarik tangannya dengan kasar. "Kita ngomong itu nanti, sekarang ikut gue ke rumah sakit. Nyokap gue gak akan puas sebelum lihat elo langsung."
Inne menggeleng. "Gue gak akan nunjukin diri di depan mereka sebelum denger perjodohan ini dibatalin."
Randy menyugar rambutnya dengan kasar. "Bisa gak jangan keras kepala, ini bukan waktu tepat buat debat."
Randy hendak meraih tangan Inne, sayangnya gadis itu langsung menghindar.
"Udah gue bilang kan, gue gak mau." Kesal Inne yang langsung meninggalkan Randy. Namun dengan langkah lebar Randy mengejar dan meraih tangannya. Spontan Inne berbalik.
"Gue cuma mita waktu lo sebentar, Ne. Nyokap gue terus keinget elo." Kata Randy menatap Inne penuh harap. "Lo cukup datang bentar, abis itu lo boleh pergi."
"Gue gak mau." Sahut Inne penuh penekanan, setelah itu ia pun kembali ke apartemen Caca. Menekan bel tanpa menoleh lagi ke arah Randy yang masih mematung. Lalu pintu pun terbuka dan Inne segera masuk.
Randy menghela napas kasar. Tidak lama Kiano keluar dari apartemennya dan sudah rapi dengan pakaian kantor. Kedua pemuda itu saling bersitatap dan terlihat keterkejutan di mata keduanya.
Kiano melangkah pasti mendatangi Randy.
Randy tersenyum miring. "Ketemu calon istri, kenapa?"
Mendengar itu kemarahan Kiano pun muncul. Dengan kasar ia menarik kerah baju Randy dan mencengkramnya erat.
"Udah gue bilang jauhin Caca."
Randy tersenyum miring seraya mendorong Kiano kasar. "Lo siapanya Caca emang hm? Cum mantan kan?" Cibirnya menekan kata mantan. Sontak Kiano semakin murka dan ingin sekali menghajar pemuda itu. Beruntung ia masih bisa menahannya. Kedua tangannya terkepal erat.
"Gue gak bakal cari ribut karena masih pagi. Gue bisa buktiin kalau Caca bakal jadi milik gue selamanya." Setelah mengatakan itu Kiano pun hendak pergi, tetapi langkahnya harus tertahan saat tiba-tiba Bik Nur memanggilnya.
"Den Kiano!"
Refleks Kiano dan Randy pun berbalik. Dilihatnya Bik Nur yang berjalan cepat ke arah mereka dengan wajah pias.
"Ada apa, Bik?" Tanya Randy ikut panik.
"Anu... itu... Non Caca." Gugup Bik Nur.
__ADS_1
Mendengar soal Caca, Kiano langsung lari ke apartemen mantan istrinya itu, disusul oleh Randy dan Bik Nur.
Terlihat Inne tengah berusaha memapah Caca keluar dari kamar. Caca terus meringis dengan wajah pucatnya. Tanpa banyak berpikir Kiano langsung menggendong dan membawanya pergi.
"Kenapa sama Caca?" Randy menahan tangan Inne yang hendak menyusul Kiano dan Caca.
Inne menatap Randy seraya menarik tangannya. "Bukan saatnya buat nanya, Ran." Setelah mengatakan itu ia langsung menyusul mereka. Mengabaikan Randy yang masih terdiam.
Beberapa saat lalu...
Caca mengerutkan kening saat melihat wajah merengut Inne. Gadis itu duduk di depan Caca.
"Kenapa tadi si Randy? Ada hubungan apa kalian hem?" Tanya Caca penuh selidik.
Inne menghela napas kasar. "Dia cowok yang mau dijodohin sama gue, Ca."
"Hah?" Kaget Caca bahkan perutnya kram sangking syoknya.
"Ca, lo gak papa kan?" Panik Inne karena Caca meringis kesakitan.
Caca menggigit bibirnya karena perut bawahnya benar-benar sakit. "Perut gue kram, mungkin kaget."
Inne memasang wajah penuh rasa bersalah. "Maafin gue, Ca. Abis tadi lo tanya. Apa perlu ke rumah sakit?"
Caca menggeleng pelan, lalu coba menarik dan membuang napas dengan teratur. Namun sakitnya masih juga kentara.
"Maafin gue, Ca." Lirih Inne sembari mengelus perut buncit Caca.
"Gak papa, salah gue karena nanya tadi." Ditatapnya Inne lamat-lamat. "Jadi gue orang yang elo maksud hm? Yang Randy cinta?"
Inne kaget mendengarnya. "Lo tahu?"
Caca menarik napas panjang, lalu membuangnya kasar. "Randy pernah ngakuin perasaannya sama gue."
Inne sama sekali tidak kaget lagi. "Hm, terus lo jawab apa? Lo gak ngasih dia harapan kan? Sedangkan elo masih cinta sama Kiano."
"Gue udah nolak dia. Gak mungkin gue kasih harapan buat anak orang akkhhh." Caca meringis karena perutnya semakin kram. Sontak Inne tambah panik.
"Ca, ke rumah sakit aja yuk." Inne langsung bangkit dari duduknya lalu membantu Caca turun dan memapahnya keluar.
__ADS_1