Pahami Aku

Pahami Aku
Abi


__ADS_3

Ursila duduk di salah satu bangku kafe sambil sesekali menengok jam tangannya dengan tatapan kesal.


"Maaf La, telat. Habis kuliah tadi sebenarnya langsung jalan ke sini. Tapi kejebak macet", kata bunga dengan wajah memelas.


"Macet apa macet ?", ketus Ursila.


"Ya Tuhan, beneran, tadi kejebak macet", jawab Bunga.


"Maaf ya La", kata Bunga dengan wajah memelas


"Iya iya deh, mana tega juga aku marah lama lama sama kamu", jawab Ursila


Bunga adalah teman dekat Ursila. Dia adalah gadis cantik, ramah dan supel. Saking cantiknya Bunga, bahkan banyak laki laki yang mendekati Ursila hanya untuk minta di comblangin sama Bunga. Bunga adalah anak dari salah satu pengusaha ternama di kota. Walau begitu dia bukanlah gadis yang sombong.


"Eh tadi aku pesan makanan seperti biasa. Tuh cepat makan, entar dingin", suruh Ursila sambil menunjuk ke arah makanan yang sudah dipesannya.


"Ih tau aja deh aku sukanya ini", kata Bunga dengan menunjukkan wajah riangnya.


"Cepat ya makannya, soalnya aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Ada urusan genting", suruh Bunga.


"Urusan apa? Kok serius banget", tanya Bunga.


"Sudah makan sana, entar aku kasih tau", jawab Ursila

__ADS_1


Setelah selesai membayar makanan. Mereka langsung masuk ke mobil milik Bunga.


"Emang mau di ajak kemana ?" tanya Bunga.


"Ke toko bunga", jawab Ursila dengan senyum yang terlukis indah di wajahnya.


"Buat siapa ? Pacar ? Hah mana mungkin, jomblo dari lahir gini, mana mungkin punya pacar", kata Bunga dengan memasang muka yang membuat Ursila kesal.


"Kalau bicara suka benar ya," kata Ursila sambil menepuk tangan Bunga.


"Aduh apa nih? Sakit tau", kata Bunga sambil menahan sakitnya.


"Kamu juga sih", kata Ursila.


"Tuh mulai kan pertanyaannya. Huh.. udah jangan bahas itu. Lagi pula aku beli bunga bukan buat pacar. Itu buat Umi sama Abi. kan hari ini ulang tahun pernikahan mereka", jawab Ursila.


"Hah jadi hari ini, ya sudah yuk cepetan beli", ajak Bunga.


Di toko bunga mereka membeli buket mawar merah ditambah dengan kartu ucapan yang ditulis langsung oleh Ursila. Perjalanan pun dilanjutkan ke rumah Ursila menggunakan mobil Bunga. Tiba-tiba handphone Ursila berdering.


"Ya ada pa Mi ?" tanya Ursila.


Sambil terisak umi mengatakan kepada Ursila, "Nak kamu cepat ke rumah sakit. Abi kena serangan jantung".

__ADS_1


Bak disambar petir. Tangan Ursila bergetar mendengar apa yang baru dikatakan umi.


Bunga pun langsung putar setir menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Ursila langsung mencari keberadaan umi. Di dapatinya umi duduk termenung di salah satu kursi di depan ruang UGD.


"Umi, bagaimana Abi ? Abi baik baik aja kan ?", tanya Ursila dengan tangan masih memegang buket bunga yang baru dibelinya.


"Nak, Ursila tau kan, segala sesuatu yang Allah beri adalah yang terbaik bagi kita", jawab Umi.


"Ada apa sih Mi ? Ursila gak paham", tanya Ursila.


"Umi tahu Ursila sayang sama abi, tapi Allah jauh lebih sayang dengan abi", jawab Umi.


"Maksud Umi ?", tanya Ursila dengan air mata yang tak dapat dibendung.


"Abi kamu meninggal Nak, abi sudah tenang, Ursila yang tabah ya", jawab Umi


Buket bunga yang dipegang Ursila lantas jatuh.


"Apa? Tidak mungkin", tangis pun pecah.


dan ini adalah hari terberat bagi Ursila dan Umi.

__ADS_1


__ADS_2