
Setelah Haura melahirkan sepasang anak kembarnya yang bernama Ali dan Alya, Harun dan Ursila pun sepakat untuk memilih tinggal di rumah umi. Walau awalnya mama Heni keberatan namun ia juga paham bahwa umi Ningsih sangat kesepian di rumah.
Waktu seakan berjalan sangat cepat, tak terasa Aisy sudah berumur 5 tahun. Tumbuh menjadi gadis kecil yang menggemaskan, kamana-mana selalu menggunakan hijab. Mewarisi wajah manis seperti Ursila dan mata yang agak sipit dari Harun.
"Anak abi mana ya? Habis makan tadi langsung kabur aja", Harun mencari keberadaan anaknya yang sedang bersembunyi.
"Ba ! Dapat abi kan, sini Aisy", Harun meletakkan Aisy di pangkuannya.
"Abi, Aisy sayang sekali sama Abi", ucap Aisy
Ursila yang baru keluar dari dapur "Kalau sama umi?"
"Gak, kan abi sudah disayang umi, umi sayang sama Aisy jadinya Aisy sayang sama abi", ucap Aisy dengan kepolosannya.
Ursila tertawa mendengar kalimat anaknya. "Ini anak kok bisa jawab seperti itu", batin Ursila
"Kata siapa abi cuma sayang sama umi? Abi juga saaaayang sekali dengan Aisy", ucap Harun mencium kedua pipi Aisy.
"Bi. Kepangin dong rambut aku", pinta Aisy manja.
"Abi gak bisa sayang",
"Huh payah, belajar dong sama umi", balas Aisy
"Sudah sini kepang rambutnya sama umi aja ya", Ursila mengangkat badan Aisy beralih ke pangkuannya.
"Umi kemana sayang?", tanya Harun kepada Ursila.
"Ke rumah tetangga, malam ini ada hajatan katanya jadi umi bantu bantu masak di sana", jawab Ursila.
"Aisy pengen gak ketemu sama tante Aira dan Om Gaza?", tanya Harun.
"Mau Bi..", teriak Aisy.
Sejauh ini Aisy belum pernah melihat langsung Aira dan Gaza semenjak kunjungan terakhir dari mereka ketika Aisy masih berumur 3 minggu. Aisy mengenal Aira dan Gaza hanya lewat video call. Jika sudah berbicara dengan Aira maka panggilan bisa berlangsung sangat lama. Karena ternyata Aisy ini punya sifat sama-sama bawel seperti Aira.
__ADS_1
"Jadi Abi rencanya mau mengajak Aisy dan umi ke Turki untuk menemui Paman Gaza dan Tante Aira", ucap Harun memegang tangan Aisy dan Ursila.
"Yang benar Mas?", tanya Ursila karena tidak percaya.
"Iya. Bulan depan kita akan berangkat ke Turki. Aku sudah atur semuanya", jawab Harun memandang ke mata Ursila yang seperti berkaca-kaca karena bahagia.
Ursila dan Aisy sangat mendengarnya.
"Yeaaah Aisy akan ketemu sama tante Aira" ucap Ursila bahagia menggerak-gerakkan tangan Aisy.
***********
Bandar Udara International Soetta
"Kalian hati hati ya di sana", ucap umi sambil memasangkan jaket ke badan Aisy.
"Titip salam ya Mas sama Mas Gaza dan Mbak Aira", ucap Haura.
"Mbak Aisy, jangan lupa oleh oleh ya", ucap Ali.
"Kami berangkat ya, Asaalamualaikum", salam Harun.
Ursila, Aisy dan Harun melangkah perlahan menjauhi anggota keluarga yang telah mengantar, sembari melambaikan tangan.
Aisy sangat antusias dalam perjalanan ini, dan dia begitu senang melihat pemandangan dari balik jendela. Ini adalah perjalanan paling jauh yang pernah mereka lakukan bersama. Biasanya mereka hanya pergi ke Yogya itupun paling sering 4 kali dalam setahun.
Di dalam pesawat pun Aisy tidak henti hentinya bicara dari mulai membicarakan tentang penampilan fisik Gaza dan Aira, bertanya tentang bagaimana tempat yang akan mereka kunjungi, dan masih banyak lagi. Terkadang Ursila dan Harun bingung darimana jatuhnya kebiasaan banyak omong anaknya ini. Karena kalau dilihat-lihat Ursila dan Harun sama-sama orang yang jarang berbicara banyak.
Karena merasa lelah, akhirnya Aisy merasa lelah dan tertidur pulas. Namun ketika pesawat mendarat entah kenapa dia bangun sendiri, seperti ada alarm sendiri kalau sudah sampai.
Sementara di bandara Aira dan Gaza menunggu kedatangan Ursila sekeluarga.
"Ursila...", sapa Aira dari kejauhan dengan melambaikan tangan.
Melihat Aira yang melambaikan tangan, Ursila, Harun dan Aisy melangkah mendekati.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum", salam Harun
"Wa'alaikumussalam Mas", jawab Gaza dan Aira bersamaan
"Eh ini si cantik Aisy ya, hai Sayang ..... ", Aira membungkukkan badannya seraya melambaikan tangan dengan ramah
"Tante Aira....", Aisy yang semula memegang erat tangan Ursila, kini melaju memeluk Aira.
"Uh sweet banget, umi nya aja jarang dipeluk gitu", ucap Ursila.
"Aduh udah besar ya si Aisy, tambah cantik aja kaya tante Aira", ucap Aira sambil mencium pipi Aisy.
"Bagaimana tadi penerbangannya Mas?", tanya Gaza
"Alhamdulillah lancar Dek", jawab Harun
"Yuk ke rumah kami, supaya bisa istirahat, kalian pasti capek habis perjalanan panjang", ajak Gaza membawakan beberapa barang bawaan Harun sekeluarga.
Sebelum keluar dari bandara, ada sepasang mata yang memandang ke arah Ursila dengan tatapan untuk meyakinkan diri, mulai mendekat dan menyapa.
"Hai Ursila kan? Aku gak salah orang kan?"
"Bunga, Alhamdulillah ketemu di sini, lagi ngapain?", tanya Ursila
Aira menerawang memorinya tentang nama Bunga, setelah mengingat-ingat barulah dia sadar bahwa dia adalah Bunga, perempuan yang sempat berpacaran dengan Gaza.
"Betul kata Ursila dulu, bahwa Bunga punya wajah yang sangat cantik", batin Aira kagum akan kecantikan wajah Bunga.
"Iya La, aku habis ajak suami dan anakku ini jalan-jalan di Turki, dan hari ini kami harus pulang. Kenalin nih anakku, namanya Ameera, kamu belum sempat ketemu kan?", ucap Bunga yang terlihat sibuk menggendong Ameera.
"Iya, terakhir ketemu kan, pas kamu nikah 2 tahun yang lalu, ya ampun cantik sekali Ameera, tuh lihat Aisy si dedek cantik banget ya..", ucap Ursila membelai lembut pada pipi Ameera yang tertidur pulas di pangkuan Bunga.
"Sebentar, Mas Gaza kan?", tanya Bunga karena tidak percaya.
"Iya Bunga", balas Gaza sambil tersenyum, "oh ya kenalin nih istriku Aira", tambahnya
__ADS_1
Aira pun hanya tersenyum dan menyodorkan tangan kepada Bunga. Ada secuil rasa cemburu, tapi hal itu segera ditepis, karena antara Bunga dan Gaza sudah tidak ada apa-apa lagi, dan mereka juga sama-sama sudah memiliki kehidupan masing-masing.