
Ursila merasa dirinya beruntung karena tidak mengalami masa muntah-muntah yang parah seperti teman-temannya. Selama dia hamil hanya 3 kali dia merasakan badan sangat lelah ketika bangun tidur karena muntah-muntah. Selebihnya dia malah terlihat seperti perempuan yang sedang tidak hamil.
Ursila dan Harun masih mampu bersikap santai. Tapi beda dengan mama Heni. Hampir semua pergerakan Ursila dibatasi. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, ya wajarlah namanya juga cucu pertama dan sangat dinanti-nanti.
Ketika usia kandungan masuk bulan ketujuh. Ursila mendadak tengah malam membangunkan Harun. Dia ingin sekali makan bubur ayam buatan umi.
"Sayang... ini jam 2. Besok pagi yaa...janji.. lagipula umi pasti lagi tidur"
"Maunya sekarang Mas...", Ursila merengek seperti anak kecil.
"Baiklah.. aku telpon dulu umi", balas Harun menenangkan Ursila.
"ngidam tuh gini ya... permintaan sih wajar, waktunya itu..", gumam Harun dalam hati.
Harun pun menelpon umi. Awalnya tidak diangkat juga, sampai panggilan yang ketiga baru diangkat.
"Alhamdulillah, Mi ini Ursila lagi ingin makan bubur ayam buatan umi, bisa tidak buatkan bubur ayam sekarang juga nanti saya ambil?", tanya Harun memohon, sedangkan umi yang mendengar itu malah tertawa.
"Hahaha.... Baiklah baiklah... nanti umi hubungin lagi kalau sudah jadi ya...", jawab umi dari balik telpon
Setelah beberapa saat, benar saja umi menghubungi lagi menyampaikan bahwa bubur sudah siap.
"Aku tinggal ya, aku mau ambil bubur di rumah umi", kata Harun.
"Gak boleh...", ucap Ursila dengan singkat.
__ADS_1
"terus...????", batin Harun
"Suruh yang lain aja ambil, aku gak mau kamu pergi", kata Ursila dengan tingkah manja.
Mendengar itu, Harun tidak punya pilihan selain minta tolong kepada Fadlan.
"Subuh seperti ini? nanti pagi ajalah", jawab Fadlan dan hendak menutup pintu kembali namun malah dihalangi Harun.
"Tolonglah, namanya juga ngidam, gak mau kan punya ponakan yang ....",
"ya ya paham, ambil kunci dulu nih", Fadlan masih berusaha membuka matanya yang sangat berat, dia pergi tanpa pamit kepada Haura. Tidak tega rasanya membangunkan Haura yang tidurnya terlihat sangat nyenyak.
Di tempat berbeda umi masih saja tertawa geli membayangkan bagaimana repotnya Harun.
Tok Tok Tok
"Waalaikumussalam, Eh Nak Fadlan, umi kira Harun", ucap umi.
"Kakak ipar tidak memperbolehkan suaminya mengambil, alhasil saya yang ngambil", balas Fadlan sambil masih mengucek matanya karena masih ngantuk.
"hahaha.... ada ada saja Ursila ini, ya sudah ini buburnya", menyodorkan sebuah wadah makanan yang berisi bubur ayam.
*********
Ursila lahap sekali memakan bubur yang sudah dibuatkan oleh umi. Sedang Harun dan Fadlan hanya dapat melihat dengan bingung.
__ADS_1
"Kakak ipar apakah kau benar-benar lapar..." tanya Fadlan dalam hati.
"Semoga tidak ada permintaan yang lebih ngeri lagi", batin Harun
"Sudah kenyang Sayang?"
"Alhamdulillah kenyang, enak banget, ya sudah aku tidur lagi. Makasih ya Lan sudah mau mengambilkan ke rumah umi", ucap Ursila lalu beranjak meninggalkan Harun dan Fadlan.
"Makasih ya Bro..", ucap Harun menepuk pundak Fadlan.
"Besok besok jangan libatkan aku lagi ya...", ancam Fadlan lalu meninggalkan Harun sendirian.
Keesokannya, sepulang kerja Ursila menceritakan kejadian itu kepada Haura.
"Astaga kasiannya suamiku, tapi sumpah Mbak ini benar benar lucu, haha...", kata Haura, dan sepertinya tawa nya itu sulit dihentikan karena dia memikirkan raut wajah Fadlan yang pasti sangat sebal sebab ikut direpotkan dengan ngidamnya Ursila.
"Kok diketawain?", tanya Ursila.
"Maaf Mbak.. Sebenarnya aku menertawakan bagaimana ya wajah Mas Fadlan saat dimintai tolong oleh Mas Harun", jawab Haura dan tertawa kembali.
"Waduh suami sendiri malah diketawain", ucap Fadlan dari belakang Haura.
"Eh Kamu sudah pulang?", tanya Haura yang langsung mengambil tas suaminya.
"Kamu tuh keasikan menertawakan kemalangan nasibku malam tadi, sampai tidak dengar suara kedatangan mobilku", jawab Fadlan sambil mencubit pipi Haura.
__ADS_1
"Ah sakit... ya maaf", sambil mengelus pipi yang habis dicubit.