Pahami Aku

Pahami Aku
Cemburu


__ADS_3

Kalau pasangan lain akan melakukan perjalanan bulan madu setelah pernikahan. Namun hal ini tidak berlaku pada Harun dan Urmila. Seminggu setelah pernikahan mereka langsung sepakat untuk kembali bekerja.


Setiap pagi dan sore mereka berangkat dan pulang bersama, walau berbeda kantor namun masih satu arah. Dan dalam satu minggu mereka tidak jarang pergi ke rumah umi.


Berhubung malam ini adalah malam Minggu, Ursila dan Harun memutuskan untuk jalan jalan dan makan malam bersama di luar. Maklumlah mereka tidak pernah pacaran, jadi pacarannya sesudah nikah.


Mereka memutuskan makan malam romantis di sebuah restoran, restoran yang terlihat cukup mewah dengan interior bergaya klasik.


"Bayarnya sebesar ini Mas?", tanya Ursila dengan mata melotot.


"Iya, ada yang salah?", Harun balik bertanya


"Mahal sekali Mas", jawab Ursila yang sedari tadi melihat total harga makanan yang harus mereka bayar.


"Biarlah, sesekali Sayang", jawab Harun menenangkan.


Ursila hanya membalas dengan senyum. Karena percuma juga dia mengomel, kan suaminya juga yang bayar.


Ketika di depan restoran menuju ke tempat parkir, ada seorang wanita yang mendekat menepuk pundak Harun.


"Hai Harun", sapa seorang perempuan kepada Harun dsambunh adegan cipika-cipiki (cium pipi kiri, cium pipi kanan).


Ursila memandang terkejut dengan yang ada di hadapannya. Perempuan ini terlihat sangat cantik, kulitnya putih, dan penampilannya itu aduhai seksi sekali.


"Ini siapa sih? Kok main nyosor saja sama suami orang. Hay aku di sini, aku istrinya," gumam Ursila dalam hati.


"Uhuk.. Uhuk..", Ursila sengaja pura pura batuk.

__ADS_1


"Kenalkan ini Ursila, dia istriku", kata Harun memperkenalkan.


Lalu Ursila menyodorkan tangan dan wanita itu juga menyodorkan tangannya "Tania", balasnya singkat dengan menunjukkan wajah kesal.


"Dia istrimu Run? Wah seleramu turun drastis ya, gak nyangka aku", kata Tania menatap Ursila dengan tatapan merendahkan.


"What? Dia siapa sih? Kok kurang ajar sekali", gumam Ursila


Daripada terjadi perang dunia ke 3, "Kami pulang ya, duluan ya Tania", kata Harun sambil merangkul Ursila dan membawa pergi menuju parkiran mobil.


Harun berniat membukakan pintu mobil untuk Ursila. "Aku bisa sendiri", kata Ursila.


Harun tidak mau ambil perkara. Dia hanya diam lalu lanjut masuk ke mobil dan segera meninggalkan tempat tersebut.


Selama perjalanan Harun merasa ada hawa cemburu dan marah dari istrinya. Perlahan Harun meraih tangan istrinya lalu diciumnya, berharap mampu meredam kemarahan istrinya.


"Hanya teman semasa kuliah Sayang. Kamu jangan peduli dengan dia ya", jawab Harun menenangkan sambil salah satu tangan mengusap kepala istrinya, sementara tangan satunya masih sibuk pada setir mobil.


Ursila hanya diam saja, dia masih berusaha meredam amarah dan kecemburuannya. Sementara Harun hanya tersenyum kecil melihat istrinya cemburu karena Tania.


Sesampainya di garasi mobil, Harun bergegas turun dan membukakan pintu untuk Ursila. Ursila baru turun dari mobil, tiba-tiba Mas Harun menarik tubuh Ursila dan memeluknya dengan erat. Awalnya Ursila terkejut, namun pelukan ini setidaknya meredamkan kecemburuan di dada Ursila. Dan kini berganti dengan degup jantung yang lumayan kuat, tak sadar ada airmata yang jatuh dari pelupuk matanya.


"Tuhan, apakah aku jatuh cinta lagi? Jatuh cinta pada suamiku", kata Ursila di dalam hati.


Ursila pun membalas pelukan itu. Ini adalah malam terakhir sebelum besok Harun harus pergi untuk mengurus bisnis di luar kota selama satu bulan lamanya.


*********

__ADS_1


Jam makan siang.


" Kakak ipar, kenapa Kau cemberut seperti itu?", goda Fadlan terhadap Urmila.


"Bagaimana mukanya tidak kusut, baru sebulan menikah, eh harus ditinggal selama sebulan lamanya", jawab Aira spontan.


"Fadlan, Tania itu siapa sih?", pertanyaan Ursila membuat Fadlan terkejut.


"Tania itu mantan pacarnya Harun semasa kuliah. Lumayan lama mereka pacaran. Dan aku juga tidak tahu apa alasan dibalik putusnya mereka", kata Fadlan perlahan menjelaskan.


"Tuh kan Mas Harun bohong", kata Ursila dengan muka merah karena menahan marah.


Aira bergegas menenangkan. Sementara Fadlan meneguk salivanya. "Aduh aku salah bicara", gumam Fadlan dalam hati.


Setelah makan siang yang mendebarkan itu.


Fadlan pun menceritakannya kepada Harun. Fadlan heran bukannya respon khawatir yang didapat dari Harun, malah gelak tawa yang didengarnya dari balik telpon.


"Kau masih bisa tertawa Run? Aku melihat wajah kakak ipar memerah seperti kepiting rebus itu benar-benar membuatku takut", tanya Fadlan keheranan.


"Biarkan sajalah", jawab Harun dengan entengnya


"Aku tidak salah dengar?", respon Fadlan karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya


"Bukannya aku jahat tapi jujur saja aku menikmati kecemburuannya padaku. Nanti pulang dari sini aku sendiri yang akan menenangkannya. Kamu diam sajalah", kata Harun menjelaskan.


Setelah menutup ponselnya, Harun tertawa kecil membayangkan wajah Ursila yang memerah karena cemburu.

__ADS_1


__ADS_2