
beberapa hari Haura mengurung diri di kamar. Ursila paham betul apa yang sedang dialami adik iparnya. Karena dia juga pernah mengalaminya.
"Mas, sore sepulang kerja kamu tidak sibukkan?", tanya Haura kepada Fadlan dari balik telpon
"Tidak ada apa-apa. Kenapa Dek?", tanya Fadlan kembali
"Kita janjian ya di restoran dekat kantormu ya, tepatnya yang disebelah SPBU. Ada yang ingin ku bicarakan", pinta Haura.
"Baiklah", balas Fadlan.
apakah ini berkaitan dengan lamaran tempo hari, batin Fadlan
Sore harinya merekapun bertemu di temoat yang sudah mereka bicarakan.
"Sudah lama Ra?", tanya Fadlan sambil meraih bangku untuk duduk diseberang Haura.
"baru aja Mas, kamu pesan makan atau minum dulu", suruh Haura sambil menyodorkan buku menu.
Namun mereka berdua sama-sama hanya memesan minum.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?", tanya Fadlan
"Mengenai lamaranmu itu, aku sudah berfikir, dan aku menerimanya Mas", kata Haura.
Fadlan terkejut dan bahagia mendengar itu. "Kamu tadi pakai apa ke sini?", tanya Fadlan.
__ADS_1
"Taxi. kenapa Mas ?", tanya Haura kebingungan.
"Biar aku yang antar sekalian aku mau hari ini juga berbicara dengan orang tuamu", kata Fadlan.
"secepat itu?", tanya Haura terkejut mendengar perkataan Fadlan.
Setelah mereka selesai, karena berhubung sudah sampai waktu salat maghrib. Mereka memilih salat maghrib dulu di salah satu masjid lalu pergi ke rumah orang tua Haura.
"Assalamualaikum", Salam dari Haura
"Wa'alaikumussalam, kenapa baru saja pulang?", tanya tante Heni yang baru membukakan pintu
"Ma, ini ada Mas Fadlan, mama dan ayah bisa kan duduk dulu ada yang mau dibicarakan oleh Mas Fadlan", pinta Haura kepada orang tuanya.
Ursila dan Harun yang mengetahui maksud dari kedatangan Fadlan. Mereka pun ikut duduk di sebelah Haura.
"Haura adalah janda, kamu tahu itu. Apakah kamu menerimanya?", tanya ayah.
Fadlan membalas dengan anggukan.
"Aku serahkan jawaban kepada Haura. Bagaimana anakku?", tanya ayah sambil menatap ke arah Haura
Singkat cerita
Sampailah di hari pernikahan. Haura terlihat sangat cantik. Terlihat kebahagiaan dari mereka Haura dan Fadlan. Harun lega akhirnya ada laki-laki yang bisa mencintai dan menerima Haura dengan tulus.
__ADS_1
Beberapa hari setelah pernikahan, Haura dan Fadlan berangkat untuk berbulan madu di Singapura.
******
Di ruang keluarga Harun dan Ursila sangat asyik berbicara sambil menonton TV.
"Sayang kok pucat gitu wajahmu? ", tanya Harun melihat keadaan istrinya.
"Sepertinya karena kelelahan saja karena sibuk mengurus pernikahan Haura", jawab Ursila untuk menenangkan Harun.
"Baiklah.. Sayang sebenarnya ada yang ingin ku katakan, aku lupa memberi tahumu bahwa 3 hari lagi aku harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis", kata Harun.
"Memangnya berapa lama?", tanya Ursil dengan nada kesal
"2 bulan", kata Harun.
"Kenapa baru bilang sekarang sih..", kata Ursila lalu segera pergi ke kamar.
tok tok tok "Sayang.....", suara Harun dari balik pintu lalu melangkah masuk dan duduk di sebelah Ursila.
"Memangnya kenapa? biasanya juga tidak apa apa aku tinggal ke luar kota", tanya Harun sambil memegang tangan Ursila.
"Mas kita belum setahun menikah tapi kamu sering sekali pergi, apalagi ini aku harus sendirian. Haura sama Fadlan pergi ke Singapura, besok mama dan ayah akan pergi ke Yogya", kata Ursila sambil menangis.
"Ajak umi nginap di sini ya.. biar kamu tidak kebosanan sendirian di rumah...", saran Harun untuk menenangkan Ursila.
__ADS_1
Ursila yang mendengar itu langsung berbaring membelakangi Harun.
"Aduh... ngambek lagi. Kamu itu lucu kalau ngambek...", batin Harun, sambil mengelus rambut Ursila