
"Wah sarapan yang enak nih, kalian para perempuan di rumah ini memang sangat hebat dalam hal masakan", puji Fadlan.
"Bisa aja kamu Lan", jawab mama.
"Kalian semua malam ini tidak agenda kan?", tanya Ursila.
"Memangnya kenapa?", tanya Haura penasaran.
"Malam ini kami mengundang semuanya untuk makan malam di restoran langganan kita", jawab Harun sembari memakan sarapannya.
"Kan kita gak pernah makan di luar, sekalian juga kami kan memperingati hari jadi pernikahan kami. Umi juga sudah diundang", kata Ursila menambahkan penjelasan.
"Hah sudah setahun ya. Mama aja sampai lupa gini ya... Jadi kamu mau hadiah apa Nak?", tanya mama.
"Kalian semua tidak boleh memberikan hadiah untuk kami, justru Ursila dan Mas Harun sudah menyiapkan hadiah untuk semuanya", jawab Ursila sambil tersenyum
********
Pada malam harinya, seusai salat Maghrib semuanya siap siap untuk makan malam yang telah dijanjikan.
"Sayang kamu sudah siapkan semuanya?", tanya Ursila
"Sekretarisku sudah di sana untuk menyiapkannya semuanya. Kamu tenang saja..", jawab Harun
__ADS_1
"Kalau membayangkan wajah mereka, pasti seru... ", kata Ursila dengan mengukir senyum tipis
Harun membalik badan istrinya dan bersimpuh lalu mencium perut Ursila, "Mereka pasti akan senang sayang... Terimakasih ya sayang....".
Tok.. Tok.. Tok.. "Kalian sudah siap?", tanya mama dari balik pintu.
"Sebentar lagi...", jawab Harun setelah membuka pintu
"Mama dan ayah tunggu di bawah. Haura dan Fadlan sudah berangkat untuk jemput umi", kata mama.
Di restoran, suasana makan malam ini terasa sangat hangat, dan semua juga larut dalam kebahagiaan. Baru kali ini mereka berkumpul bersama di luar rumah seperti ini.
"Karena makan sudah selesai, sekarang jangan beranjak dulu, kalian lihat di bawah kursi ada goodie bag, silahkan diambil. itu adalah hadiah dari kami untuk kalian", kata Harun
"isinya apa nih?", tanya umi yang mulai membuka goodie bag
"Eits jangan di buka dulu. Semuanya boleh membuka kalau sudah hitungan ketiga. Satu... Dua... Tiga..." Ursila dan Harun menghitung bersama sama.
Isi dari goodie bag tersebut adalah sebuah baju bayi.
"Apa ini?", tanya ayah yang baru mengeluarkan baju bayi dari goodie bag dan mengangkatnya.
"Sebentar... Sebentar... Apakah kakak ipar sedang.....", Fadlan membuat lingkaran di udara di depan perutnya memperagakan perut yang buncit karena hamil.
__ADS_1
"Benarkah? Mbak Ursila sedang hamil?", tanya Haura dengan mata melotot.
Semua mata pun tertuju kepada Harun dan Ursila. Harun hanya membalas dengan isyarat tangannya menyentuh ke perut Ursila sambil mengengguk perlahan menghadap semuanya.
Umi langsung memeluk anaknya. Dan mama Heni juga tidak dapat menahan air mata bahagianya. Tentu saja, karena sudah lama menanti kehadiran seorang cucu dan akhirnya Allah menganugerahkannya juga.
Selamat ya Bro. Eh kakak ipar maksudnya. Doain ya semoga nyusul", kata Fadlan sambil memegang perut Haura.
"Kalian kemarin ke dokter kan? bagaimana kata dokter?", tanya Harun menatap kepada Fadlan dan Haura.
"Iya kemarin ke dokter. katanya sih kondisi kami baik baik saja, jadi cukup bersabar aja sama banyak banyak doa semoga lekas diberi", jawab Haura.
"Iya Mbak doain semoga cepat juga ya hamil, biar nanti seumuran sama anak Mbak", kata Ursila lalu tertawa kecil karena membayangkan lucunya jika anaknya bermain di taman rumah dengan anak Haura.
"Sudah usia berapa kandunganmu?", tanya mama.
"Sudah masuk minggu ke sepuluh Ma...", jawab Ursila.
"Ooh masih sangat rentan pokoknya kamu harus hati hati..... (bla... bla.. blaa.... ternyata mama Heni memberi kuliah umum, hehe....)
"iya Mamaaaa....", jawab Harun memutus kalimat mama. "kalau tidak seperti ini, pasti sampai restoran tutup ya tidak selesai ceramahnya", batin Harun
Melihat kejadian itu Haura dan Fadlan malah tertawa kecil.
__ADS_1