
Selama di Turki Harun sekeluarga menginap di rumah Gaza dan Aira, sebuah rumah yang cukup besar, dominan warna putih dan terdapat unsur klasik timur tengah, tanaman di teras membuat rumah terasa lebih asri.
Di rumah ini Aira dan Gaza hanya tinggal berdua, setelah lima tahun pernikahan mereka masih belum dikaruniai anak, hal ini selalu menjadi beban di hati Aira. Makanya melihat kedatangan Aisy setidaknya mengobati hatinya tentang keinginannya merasakan kehadiran anak di rumah ini.
"Aduh kasiannya terlelap gitu tidurnya", ucap Aira sambil sesekali menusuk pipi Aisy.
"Iya dia sangat lelah, dia ini suka banget lo Ra kalau video call sama kamu, makanya tadi pas di bandara aku gak kaget kalau dia langsung meluk kamu", ucap Ursila sambil menyelimuti anaknya.
"Makanan sudah siap.. Yuk kita makan siang bersama", ajak Gaza setelah membuka pintu kamar.
Di meja makan telah terhidang Kuzu Tandir yaitu makanan khas Turki yang merupakan daging domba yang dipanggang seluruhnya dan disajikan dengan nasi. Makanan ini untuk beberapa bumbu sudah mengalami perubahan dari Aira karena menyesuaikan lidah Indonesia.
"Wah enak Ra", puji Harun.
"Sejak kapan kamu hebat masak Ra?", tanya Ursila dengan maksud mengejek.
"ih kamu La", wajah cemberut, "Dulu pas awal awal tinggal di sini sumpah aku gak bisa menerapkan hidup seperti di Jakarta yang kalau mau makan dikit-dikit beli. Makanan di sini banyak yang gak sesuai sama lidahku, jadi daripada aku mati kelaparan ya perlahan aku belajar masak", tambah Aira.
"Dulu tuh aku harus banyak sabar, dia kalau masak ada yang keasinan lah, kurang garam lah, ada juga yang rasanya aneh. Tapi perlahan makanannya uuuh...", kata Gaza mengacungkan dua jempolnya
"Kalau boleh tau, kalian berapa lama di sini?", tanya Gaza
"5 hari", jawab Harun singkat.
"Kok bentar banget, diperpanjang lagi ya", Aira dengan wajah memelas.
"Gak bisa Ra. Seminggu lagi kan ada acara 10 tahun meninggalnya abi, nanti deh kalau ada rezeki lagi insya Allah ke sini lagi", kata Ursila sambil menyantap makanannya.
***********
Selama beberapa hari Harun, Ursila dan Aisy diajak jalan-jalan ke berbagai tempat di Istanbul, seperti Hagia Sophia, Blue Mosque, dan masih banyak lagi. Dan sore ini jalan-jalannya di tutup dengan istirahat di sebuah kafe yang terletak di Jembatan Gallata. Jembatan ini unik, karena memiliki 2 tingkat, dan di lantai bawah jembatan terdapat deretan kafe dan restoran yang menawarkan atmosfer khas dan pemandangan indah tengah laut.
Mereka asyik sekali menikmati sandwich ikan, simit dan misir. Sembari bercanda dan menikmati matahari terbenam.
__ADS_1
"Allahu Akbar, benar ya kata orang sunset di Istanbul itu sangat indah, makasih ya Gaza Aira sudah bawa ke sini", ucap Ursila yang menatap takjub pada langit merah.
Tiba-tiba Aisy menarik tangan Ursila untuk lebih ke tepi jembatan. "Kami ke sana dulu ya Ra", ucap Ursila lalu melangkah mengikuti kehendak Aisy, Harun pun mengikuti langkah istri dan anaknya.
Aira hanya membalas dengan anggukan perlahan dan sedikit mengukir senyum. Kini tinggal Gaza dan Aira yang duduk berhadapan dengan hanya terpisah meja.
"Lihat mereka, asyik ya punya keluarga kecil seperti itu", ucap Aira menatap Ursila sekeluarga yang berjarak 5 meter darinya.
Gaza paham betul kalimat yang dimaksud oleh Aira, tapi dia masih pura-pura cuek. Karena bingung harus membalas apa.
"Sayang....", panggil Aira kepada Gaza
"Ada apa Ratuku?", tanya Gaza.
"Kok omonganku tadi tidak ditanggapin?", tanya Aira sebal.
Gaza mulai menggaruk garuk kepalanya.
Perlahan Aira meraih kedua tangan Gaza yang sedari tadi ada di atas meja, diusapnya punggung kedua tangan itu "Aku kan seminggu terakhir ini sering merasa gak enak badan, setelah aku periksa pakai testpack dan aku kemarin juga periksa ke dokter, dan ternyata...."
"Aku positif. Aku positif hamil. Kamu akan jadi ayah Mas", ucap Aira dengan kegirangan.
"Hah yang benar? Kamu gak bohong kan?", tanya Gaza
"Memangnya ada wajah pendusta ya dimuka ku ini?", Aira balik bertanya.
Sementara Ursila dan Harun beserta anaknya menikmati keindahan tengah laut dengan pemandangan langit kemerahan.
Ursila menatap wajah Harun dengan penuh kebahagiaan. Banyak hal yang telah mereka alami bersama. Banyak pula pelajaran yang dia dapat. Bersama Harun, Ursila sadar bahwa selaku manusia sering menuntut untuk orang memahami diri kita, tapi itu tidak akan terjadi kalau tanpa adanya komunikasi. Jangan sering meminta pasangan dengan kalimat "Pahami Aku", tapi yang benar adalah mari pahamilah pasangan satu sama lain.
"Mas Gaza, Ursila sini", teriak Gaza dengan tangan memberi isyarat untuk mendekat.
Mereka bertiga segera mendekat.
__ADS_1
"Ada apa Dek?", tanya Harun penasaran
"Ada kabar baik untuk kalian semua", ucap Gaza
"Kabar baik apa sih?", tanya Ursila penasaran
"Aku hamil, Aisy akan punya adik", jawab Aira kegirangan sambil mengusap pipi Aisy.
Ursila mendekat lalu memeluk sahabatnya. Ursila tahu betul bagaimana kegundahan hati yang dialami Aira selama 5 tahun ini.
"5 tahun ditunggu-tunggu akhirnya datang juga", ucap Ursila mengelus perut Aira.
Aira pun tak kuasa menahan air matanya.
"Kok Ratuku malah cengeng gini sih", ucap Gaza menggoda Aira.
"ih ini nangis bahagia tau", balas Aira dengan nada manja.
"iya deh, maaf..", Gaza pun meraih badan Aira dan memeluknya.
"Kamu siap siap ya Gaza kalau nanti istrimu ngidam yang aneh aneh. Kaya istriku kemaren waktu hamil Aisy", ucap Harun dengan diiringi tawa.
"Kamu ingat jangan merepotkan ayah ya nanti", kata Gaza membungkuk dan mengelus perut Aira.
Merekapun tertawa bersama mendengar kalimat Gaza.
PENGUMUMAN
Zuya minta maaf jika dalam cerita ini ternyata ada kalimat yang kurang berkenan. Maaf juga tidak bisa up setiap hari, maklumi keterbatasan author 🙏. Ini adalah karya pertama saya, jadi masih perlu masukan saran dari semuanya. ^_^
Alhamdulillah cerita "Pahami Aku" sudah sampai di bagian akhir.
Terimakasih untuk semua yang sudah baca, like + comment, semoga karyaku ini memberi manfaat dan kesan bagi kalian.
__ADS_1
Selamat datang bulan Ramadhan, Selamat berpuasa ya bagi yang menjalankan. Jaga selalu kesehatan kalian, semoga pandemi global ini segera berlalu, Aaamiiiin...
Salam pagi, dan semangat pagi dari Zuya