
Kiara sedang di ruang kerjanya sendirian, dan terlihat dirinya sedang mengotak- atik laptop yang ada depannya, tetapi tidak ada satupun tulisan atau yang lainnya sedang dia kerjakan.
Dirinya Hanya melamun memikirkan ucapan serta permintaan Jasmine kepadanya untuk menikah dengan Dewa.
Linda tiba-tiba megetuk pintu dan membuyarkan lamunan Kiara.
" Siapa?" Tanya Kiara
" Saya mbak....". Jawab Linda.
" Ada apa Lin...? " Tanya Kiara lagi.
" Mbak...pak Dewa ada di depan, dia bilang mau ketemu sama mbak Kiara... Saya suruh masuk aja atau gimana mbak?" Jawab Linda.
"Hemmm... biar saya aja yang ke sana temuin dia, oh ya Lin... makasih ya..kamu boleh kembali kerja lagi" Sahut Kiara.
" Iya Mbak..." Jawab Linda.
Kiara kemudian keluar dari ruang kerjanya untuk bertemu dengan Dewa.
Dewa sedang duduk santai di ruang tunggu butik Ara Fashion, ketika Kiara datang.
" Ada apa ya?" Tanya Kiara.
" Ra... aku mau ngomong empat mata sama kamu.." Jawab Dewa.
" Maaf tapi aku lagi sibuk, jadi aku nggak bisa." Tolak Kiara.
" Please, ini penting banget Ra... masalah ini cuma kamu yang bisa selesaikan." Pinta Dewa lagi.
" Sebenarnya kamu mau ngomong apa? di sini aja kan bisa... waktu Aku nggak banyak jadi ngomong aja sekarang." Tanya Kiara ketus.
" Ra.... di sini banyak orang.. nggak enak ngomongnya... kamu ikut aku sebentar aja! kita ngomongnya dia luar aja ya... please!" Mohon Dewa lagi.
Kiara menghela nafas kasar, dan kemudian keluar mendahului Dewa, dan Dewa kemudian dengan sigap mengusul Kiara dari belakang.
Mereka telah sampai di sebuah cafe yang saat itu tidak begitu ramai pengunjungnya.
Di sana Dewa mulai mengutarakan kedatangannya menemui Kiara.
" Sebelumnya aku minta maaf sama kamu Ra... karena Permintaanku ini akan membuat kamu marah nantinya." Ucap Dewa memulai percakapan.
" To the point aja Dewa... kamu mau ngomong apa.. nggak usah berbelit-belit segala.." Pinta Kiara.
" Jasmine di diagnosa mengalami kelainan jantung Ra.... dan kapan aja kondisinya akan semakin memburuk kalau Jasmine dalam keadaan stress dan cemas." Jelas Dewa yang sontak membuat Kiara kaget.
" Terus Jasmine sekarang di mana? dia nggak apa-apa kan? Apa yang bisa aku bantu buat dia? " Tanya Kiara.
" Dia sekarang lagi istriharat di rumah karena dokter bilang bisa rawat jalan, jadi aku putusin buat rawat jalan aja." Jawab Dewa.
" Terus... maksud kamu tadi hanya Aku yang bisa selesaikan masalah... masalah apa?" Tanya Kiara lagi.
" Jasmine pernah minta kamu buat jadi ibunya kan?.... dan dia setiap hari selalu memaksaku untuk membujuk kamu agar kamu mau menjadi ibunya." Jawab Dewa.
Mendengar penjelasan dari Dewa, Kiara kemudian terdiam seribu bahasa.
" Ra... aku tahu ini nggak mudah untuk kita berdua... tetapi Jasmine sangat berarti untukku... Andai aku bisa menggantikan posisinya sekarang... pasti akan aku lakukan Ra.... Aku nggak tahu harus berbuat apa? Dia begitu menyayangi kamu ... dia nyaman dekat denganmu Ra.. Dia selalu menangis ingin punya ibu Seperti kamu... " Jelas dewa lagi sambil menitikkan air mata.
Kiara begitu sangat heran, karena Dewa itu sangat terkenal menjaga image di depan perempuan, tetapi karena untuk kebahagiaan anaknya, dirinya rela memohon- mohon di hadapan seorang wanita.
" Aku...... aku nggak tahu harus jawab apa....
aku bingung..." Jawab Kiara.
" Aku nggak akan paksa kamu Ra... karena aku nggak ada hak untuk memaksakan kehendak aku sama orang lain." Terang Dewa lagi.
Kemudian Dewa berniat mengantarkan Kiara kembali ke kantornya, Tetapi Kiara malah meminta untuk Membawanya ke rumah Dewa untuk menemui Jasmine.
Kiara Sangat menyayangi Jasmine seperti halnya anak kandungnya Sendiri.
Dirinya begitu mengkhawatirkan keadaan Jasmine saat ini.
Mobil Dewa telah Sampai di depan runahnya.
Kiara kemudian terlihat bergegas untuk menemui Jasmine yang lagi terbaring sakit di kamarnya.
" Hai..... sayang.. kamu kenapa?" sapa Kiara.
" Tante cantik... ehhh... salah, Mama... Jasmine kangen sama mama.." Jawab Jasmine dengan suara yang sedikit agak parau.
" Bidadari mama..... harus tetap semangat ya ..biar cepet sembuh.." Pinta Kiara.
" Ya ma.... Jasmine pasti cepet sembuh kalau mama selalu temenin Jasmine di sini." jawab Jasmine.
Melihat tingkah manja Jasmine kepadanya, Kiara hanya tersenyum.
Kiara terlihat sedang menyuapi Jasmine makan dan juga membacakan beberapa dongeng penghantar tidur untuk Jasmine.
Dewa yang melihat pemandangan yang indah itu, hanya bisa menitikkan air mata kebahagiaan.
...***...
Kiara hanya bisa melamun di atas ranjang tidurnya. Hati dan pikirannya beradu pendapat.
Dirinya kini sedang dalam dilema yang besar,
dan hanya dirinyalah yang bisa memutuskan semuanya. kebahagian Jasmine akan dipertaruhkan di sini.
Dalam kebimbangan yang melanda hatinya, dirinya bermimpi sedang berada di pinggir pantai bersama Vita dan juga Disty, kejadian itu bagaikan nyata adanya.
Di dalam mimpi tersebut, mereka bermain di pantai bersama seperti halnya yang sering di lakukannya ketika masa-masa SMA dulu.
Kiara terbangun dengan Peluh yang sudah membanjiri wajah serta tubuhnya.
__ADS_1
Kiara kemudian terlihat sangat bersedih, mengingat persahabatan mereka bertiga dulu.
Mereka saling menguatkan satu sama lain, bahkan mereka tidak segan untuk mengorbankan kebahagiaan demi sahabat.
Kiara menceritakan mimpi tersebut kepada sang mama, dan Kiara juga meminta bantuan kepada mamanya untuk mencari solusi tentang masalahnya dengan Dewa.
" Sayang.... tidak ada salahnya kamu memberikan Kesempatan untuk Dewa..." Pinta Nadia.
" Tapi ma..... aku tidak bisa menghianati Almarhum Mas Arman.. aku juga udah janji untuk setia padanya.." Jawab Kiara.
"Mama tahu kamu sangat mencintai Arman sayang... tetapi kamu juga harus memikirkan masa depanmu... Arman pasti juga akan senang apabila kamu bisa mendapatkan penggantinya kelak... yang bisa menjaga dan menyayangi kamu sayang.." Jelas sang mama.
Kiara semakin bingung harus berbuat apa.
Dirinya sangat mencintai suaminya, tetapi omongan mamanya memang benar adanya,
Jasmine juga sangat membutuhkannya.
" Oh Tuhan.... kenapa aku harus dalam posisi ini.... aku bingung apa yang harus aku perbuat...?". Gumam Kiara.
Pagi itu, sebelum Kiara ke butiknya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sudah menumpuk, akibat dirinya lumayan sering absen untuk beberapa keperluan.
Dirinya mengunjungi Jasmine terlebih dulu sebelum pergi ke kantornya.
Karena Dewa sedang tidak di rumah saat itu, Kiara kemudian menemui Dewa ke Kantornya.
" Maaf mbak... apa saya bisa bertemu dengan pak Dewa..? Pinta Kiara kepada receptionis .
" Sebentar ya mbak .. Kalau boleh saya tahu Mbaknya namanya siapa?" Tanya receptionis tersebut.
" Kiara... dan saya harus bertemu dengan pak Dewa karena ada sedikit urusan." Jawab Kiara.
Receptionis itu kemudian menghubungi Dewa, dan tidak lama kemudian dia menyuruh Kiara untuk ke ruangan Dewa langsung.
Dengan langkah gemetar dan hati yang tidak karuan, Kiara memberanikan dirinya untuk membuat keputusan yang menyangkut masa depan dirinya, dan juga menyangkut nyawa Jasmine.
" Hai.... Ra.. silahkan duduk!" Sapa Dewa.
"Aku.... mau bicara soal masalah Jasmine ." Pinta Kiara.
" Terus.... apa keputusan kamu Ra..? " Tanya Dewa.
" Emmm.... Aku bersedia menjadi ibu sambung buat Jasmine, tapi ada beberapa syarat yang mesti kamu penuhi." Jawab Kiara yang sukses membuat Dewa kegirangan.
" Apa syaratnya Ra...? Kamu katakan aja apapun itu... pasti aku kabulkan dan aku terima dengan senang hati." Tanya Dewa lagi.
"Aku bersedia menjadi istri kamu... Tapi itu tidak lebih untuk membuat Jasmine bahagia, dan sisanya....kamu bisa baca surat perjanjian ini..." Terang Kiara.
Dewa kemudian membaca dengan teliti surat perjanjian yang telah dibuat oleh Kiara.
Surat itu berisi tentang aturan dalam masa pernikahan yang harus Dewa setujui untuk bisa menikahi Kiara.
Dewa sedikit kaget dengan isi surat perjanjian itu, tetapi dirinya tidak ada pilihan lain, mau atau tidak mau dirinya harus menyetujui isi surat perjanjian tersebut.
Tidak boleh ada hubungan kontak fisik selama pernikahan(berciuman ,berpelukan. ataupun hubungan intim)
2.Kontak fisik yang di perbolehkan hanya bersifat sewajarnya seperti :memegang tangan dan hal wajar lainnya.
Pernikahan ini bisa berakhir , kalau kesehatan Jasmine sudah dinyatakan pulih oleh dokter.
4.Berpura-pura mesra di depan umum atau keluarga agar mereka tidak curiga.
Tidak boleh melarang pasangan untuk memiliki hubungan dekat dengan orang lain dengan syarat tidak di ketahui oleh keluarga besar.
6.Tidak melarang pasangan untuk mencari kesenangan di luar, dan juga memberi kebebasan untuk melakukan apapun yang ingin di lakukan pasangan.
7.Tidak ada harta gono-gini apabila sewaktu-waktu terjadi perceraian.
Itulah isi perjanjian pernikahan yang di buat Kiara untuk Dewa.
Sejujurnya Dewa begitu keberatan dengan beberapa syarat tersebut, tetapi dirinya hanya mementingkan perasaan Jasmine, kalau anaknya bahagia pasti itu akan dilakukannya.
Kemudian perjanjian itu di lengkapi dengan materai dan di tandatangi oleh mereka berdua.
Setelah urusan surat perjanjian itu sudah selesai, Kiara kemudian pamit kepada Dewa.
Keluarga Dewa dan keluarga Kiara bertemu untuk menentukan tanggal pernikahan mereka.
Semua persiapan pernikahan sudah matang, tinggal menunggu hari ijab qabulnya saja.
Hari itu Kiara terlihat sangat cantik menggunakan busana kebaya putih dengan rok span bernuansa batik tradisional.
Acara ijab Qabul berlangsung dengan lancar dan kini Kiara dan Dewa resmi menjadi pasangan suami istri.
Kiara memang meminta acara pernikahannya dengan Dewa di adakan secara sederhana, dengan mengundang kerabat dan teman dekat mereka saja.
...***...
Malam itu adalah malam pertama Dewa dan Kiara dalam satu kamar yang sama, dan tempat tidur yang sama pula.
Seharusnya mereka bahagia telah menjadi sepasang suami istri sekarang, tetapi tidak berlaku untuk Kiara dan Dewa yang hanya menikah, karena demi kebahagiaan Jasmine saja.
Dewa terlihat tidur di sebuah sofa yang berada di kamarnya itu, sedangkan Kiara tidur di ranjang mereka.
__ADS_1
Sebenarnya Dewa ingin sekali memadu cinta layaknya pasangan suami istri, tetapi dia sudah berjanji untuk memenuhi syarat yang di ajukan Kiara.
Dewa sangat menghargai Kiara, karena bagaimanapun dia tidak bisa memaksakan keinginannya kepada Kiara yang sudah merelakan dirinya menikahi Dewa demi kebahagiaan Jasmine semata.
Winda sangat menyayangi Kiara seperti anaknya sendiri, karena Winda menaruh harapan penuh kepada Kiara untuk bisa membuat Dewa dan Jasmine bahagia.
Semua keluarga tidak tahu menahu tentang perjanjian yang telah di sepakati oleh Mereka berdua, dan mereka semua telah tertipu oleh sikap manis yang Kiara perlihatkan kepada Dewa.
Sebagai mertua yang baik, Winda berinisiatif untuk memberi hadiah kepada pengantin baru yang akan menjalani nahkoda kehidupan baru pula.
" Sayang Mami udah siapkan tiket untuk pergi berbulan madu ke paris minggu depan". Ungkap Winda.
" Nggak usah repot-repot Mi.... kami honeymoonnya di rumah aja... ya kan sayang? Pinta Kiara yang di iyakan Dewa.
" Beda dong sayang.... kalau ke sana kan kalian bisa lebih nyaman... sekalian jalan-jalan juga.." Jelas Winda.
" Tapi Mi.... Dewa sama Kiara masih harus ngurus beberapa kerjaan Mi... kapan-kapan aja lah honeymoon ke sana ya Mi... " Pinta Dewa.
" Nggak.... pokoknya Kalian harus pergi! titik.... nggak ada alasan apapun.... " Jawab Winda lagi.
" Ya udah Mi.... nanti kita pasti pergi kesana...
makasih sebelumnya udah repot-repot siapin itu semua buat Kami..." Ucap Kiara.
Mendengar sang menantu bersedia untuk pergi, Winda terlihat sangat bahagia.
Satu minggu telah berlalu, Kiara dan Dewa sudah bersiap-siap akan terbang ke Paris.
Jasmine ikut sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan di bawa Mama dan papanya untuk pergi berbulan madu.
Dia terlihat sangat antusias, dan berharap kepergian orang tuanya itu bisa memberinya teman baru seorang adik untuknya.
Kiara dan Dewa telah sampai di Paris, kemudian mereka juga menginap di salah satu hotel termewah dan terkenal di negara itu.
Bulan madu yang harusnya menjadi sebuah keromantisan pasangan suami istri terlihat hanya biasa-biasa saja, karena Dewa dan Kiara tidak seperti pasangan yang lainnya.
Di kamar hotel yang mewah itu, Kiara terlihat melamun dan nampak matanya sembab seperti sedang menangis.
Dewa hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri karena penasaran, di dalam hatinya hanya dapat menerka-nerka saja.
" Sebetulnya apa yang buat kamu sedih Ra... padahal kita sebenarnya lagi berbulan madu.."
Gumamnya dalam hati.
Kiara menyeka air matanya setelah melihat kedatangan Dewa, dan berpura-pura seolah dirinya tidak sedang menangis.
" Apa kamu mau makan sesuatu?" Tanya Dewa.
"Nggak ... aku masih kenyang.. ". Jawab Kiara singkat.
" Ya udah... kalau kamu belum mau makan, tapi nanti kalau udah lapar.. kamu bilang aja sama aku... nanti biar aku yang pesan makanannya." Pinta Dewa.
Kiara hanya menjawab dengan sebuah anggukan saja.
Satu minggu di Paris hanya di habiskan Kiara dan Dewa dengan berada di hotel saja.
Sejujurnya Dewa ingin sekali mengajak istrinya untuk berjalan-jalan keliling kota Paris, tetapi Kiara yang terlihat tidak senang dengan honeymoon kali ini, membuat Dewa mengurungkan niatnya tersebut.
...***...
Akhirnya mereka telah sampai di rumah dengan selamat, dan mereka berdua terlihat memborong oleh-oleh untuk Keluarga tercinta.
" Makasih ya Sayang oleh-olehnya.... Oh ya... gimana bulan madunya menyenangkan nggak?" Tanya Widia penasaran.
" I... ya Mi..sangat menyenangkan, Iyakan Sayang?..." Jawab Dewa yang kemudian bertanya balik kepada Kiara.
Kiara menjawab dengan sebuah senyuman saja.
Kiara tiba-tiba jatuh terkulai di kamarnya, ketika akan bersiap-siap untuk ke butiknya.
Dewa yang melihat istrinya tiba-tiba pingsan, seketika itu juga langsung mengangkat Kiara ke ranjangnya.
Dokter telah memeriksa keadaan Kiara, dan dia berpesan agar Kiara tidak terlalu capek dan strees.
Dengan telaten Dewa merawat Kiara yang saat ini kondisinya sangat lemah.
" Ayo makan dulu ya... " Pinta Dewa yang berusaha menyuapi istrinya itu.
" Nggak usah.... aku bisa makan sendiri kok.." Jawab Kiara.
" Buka mulutnya... tinggal buka mulut terus kunyah aja kok susah... Gerutu Dewa.
Tidak mau memperpanjang pembicaraan, Kiara kemudian terlihat menurut saja kepada Dewa.
Kiara mulai merasa ada kekaguman kepada Suaminya, yang dengan sabar telah merawatnya ketika dia sedang sakit.
Dewa begitu telaten dalam mengurus Kiara yang sedang tidak enak badan itu, tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai presiden direktur di kantornya.
" Aku bisa makan sendiri... kamu pergi ke kantor aja sana... nanti kamu telat." Pinta Kiara.
Tetapi Dewa tidak menggubris kata-kata Kiara sedikitpun, dan malah asyik menyuapi Kiara sampai bubur yang di bawanya itu habis di lahap Kiara.
" Apa ini ..... kenapa kamu begitu baik sama aku... yang selama ini belum bisa jadi istri yang baik buat kamu..." Gumam Kiara di hatinya.
" Kamu kenapa .... kok nangis... aku.... salah ya..? maafin aku Ra... kalau aku dengan sengaja ataupun nggak sengaja buat kamu sedih..." Ucap Dewa yang khawatir melihat istrinya itu tiba-tiba menangis.
Kiara hanya menjawab dengan gelengan kepala.
" Kamu kenapa..? Kamu nggak bahagia ya Ra apa kamu tersiksa dengan pernikahan ini?" Tanya Dewa lagi.
" Aku nggak papa... ya udah sana kamu berangkat ke kantor aja.." Jawab Kiara.
" Kalau ada apa-apa.. kamu cepet telfon aku ya...!" Pinta Dewa yang di jawab Kiara dengan anggukan saja.
Dewa kemudian pergi ke kantornya, karena ada rapat dengan beberapa kliennya.
__ADS_1