Pelabuhan Terakhirku

Pelabuhan Terakhirku
Penolakan pahit untuk Kedua kalinya


__ADS_3

Kiara begitu sangat terkejut, sehingga dirinya tidak bisa berkata apa-apa.


Tetapi dia mulai mengumpulkan keberanian untuk menjawab pernyataan cinta Dewa.


Kiara sebenarnya juga menyukai Dewa semenjak dahulu, akan tetapi dia tidak berani untuk berlenggang sebagai pacar apalagi istri dari Keluarga besar Wijaya.


Kiara menyadari siapa dirinya, dia merasa tidak pantas bersanding dengan Dewa.


" Aku.... minta Maaf sebelumnya, sebenarnya Aku nggak pernah punya perasaan lebih dari sekedar teman sama kamu.. aku sudah mencintai orang lain..mungkin ini sakit tapi aku berkata jujur." jawaban Kiara sukses membuat Dewa lunglai tak berdaya.


"Dewa... kamu orang kaya dan punya kedudukan pasti tidak begitu sulit buat kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku." cetus Kiara lagi.


Dewa berangsur berdiri dari hadapan Kiara dan dia sedikit menyunggingkan senyuman yang sangat sulit untuk diartikan.


Apakah itu senyuman kekecewaan atau kebencian atau mungkin kepura- puraan.


"Hemm... kamu benar Kiara, Pantang buatku untuk mengimis cinta seorang gadis, apalagi dia tidak pernah mencintaiku" jawaban Dewa membuat hati Kiara sedih bercampur rasa bersalah, karena telah membohongi perasaannya sendiri, dengan berkata bahwa dia tidak mencintai Dewa.


Sejujurnya Kiara sangat menyayangi Dewa tetapi dia tidak egois dan tidak ingin membuat dirinya menjadi bullyan orang- orang, apalagi kalau sampai ibunya ikut dibawa- bawa dalam masalahnya dengan keluarga Wijaya.


" Ayo kuantar pulang, bagaimanapun aku yang mengajakmu kesini" pinta Dewa yang membuat Kiara semakin terlihat sedih karena, setelah kejadian malam ini, dia pastikan Dewa tidak akan mencintainya lagi, bahkan mungkin sudah membencinnya sekarang.


Tidak ada jawaban berarti dari Kiara, hanya saja sebuah anggukan yang mengartikan dia setuju untuk pulang bersama dengan Dewa.


...***...


Setelah kejadian malam itu, Dewa mulai menjaga jarak dengan Kiara.


Dia hanya bersikap biasa saja dengan Kiara, layaknya atasan dengan bawahannya.


Dan semenjak kejadian itu pula, Dewa sudah tidak terlihat mengunjungi rumah Kiara.


Nadia juga sempat menanyakan perihal Dewa kepada Kiara, tetapi Kiara hanya menjawab kalau Dewa mungkin terlalu sibuk mengurus pekerjaannya di kantor.


Kiara terlihat begitu lelah, setelah jam kantor berakhir, dia kemudian berjalan dengan malas keluar kantor dan menunggu taksi online yang dipesannya.


Di depan halte, dia menunggu jemputan taksi online yang di pesannya.


Tiba-tiba ada mobil mercedes benz berwarna kuning mendadak berhenti pas di depan Kiara.


Kiara yang terheran mulai melihat mobil tersebut dengan detail, dan terlihat seorang perempuan cantik yang sudah tidak asing bagi Kiara turun dari dalam mobil mewah itu.


" Kiara..... Ya ampun aku nggak nyangka bisa ketemu kamu disini....Ra..aku kangen banget sama kamu." Teriak perempuan cantik itu, yang tak lain adalah Vita, sahabat Kiara semasa SMA dulu.


"Iya Vit aku pangling sampai lo... kamu makin terlihat cantik dan dewasa..."Puji Kiara, yang di sambut dengan pelukan oleh Vita.


"kamu ngapain sendirian di depan halte sih?" tanya Vita lagi.


"Oh... aku lagi nunggu taksi online yang aku pesan Vit, cuman nggak tahu ni lama banget nggak muncul-muncul, biasa sih cepat... mungkin macet kali..." jawab Kiara.


" Ya udah kamu cancel aja .. aku anterin aja Ra ..gimana? " cetus Vita.


"Hemm ... gimana ya ... kasian sih kalau di cancel." jawab Kiara.


"Nggak papa sesekali aja kok... ini dah sore banget lo Ra.. nanti keburu magrib.


udah buruan naik mobil aku aja!"


ajak Vita lagi.


" Hemm ya udah deh...Ayo Vit." Kiara memutuskan ikut dengan Vita.


Didalam mobil itu, terlihat dua wanita cantik sedang mengobrol dengan antusias.


Mereka saling menceritakan pengalaman hidup masing- masing, dan Vita memberi tahu Kiara kalau dirinya di jodohkan dengan anak dari teman papa Vita.


Mendengar penuturan Vita, Kiara hanya tersenyum mengejek Vita, yang masih di jodoh-jodohkan di Zaman milenial seperti sekarang ini.


Saking asyiknya mereka mengobrol, sampai-sampai tidak sadar, kalau mereka sudah sampai di depan rumah Kiara.


"Thanks ya Vit.. mau mampir dulu nggak?... Tawar Kiara yang di sambut gelengan oleh Vita.


"kapan-kapan aja ya Ra...kita cerita-cerita lagi!" jawab Vita.


"Ya udah hati-hati ya Vita.. jangan ngebut- ngebut...!" pinta Kiara.


Kemudian mobil Vita melesat meninggalkan rumah Kiara.


Hari demi hari di lalui Kiara dengan begitu monoton, yaitu pergi kerja dan pulang kerja.


Begitu rutinitas sehari-hari yang Kiara kerjakan.


Terlihat kebosanan yang melanda jiwa seorang Kiara, kemudian Kiara memutuskan untuk menonton film di bioskop sepulang dari kantor hari ini.

__ADS_1


Kiara terlihat keren dan masih tetap cantik dengan busana yang terlihat chic and sassy malam ini.



Wajah cantiknya memang sangat paripurna, sehingga tidak heran kalau seorang Dewa begitu menggilai dan mengagumi kecantikan Kiara.


Kiara terlihat sangat menikmati weekend kali ini, dengan menghibur dirinya melalui sebuah film action romance kesukaannya.


Setelah selesai menonton Kiara mampir dulu ke Mall untuk mencuci mata.


Dan benar saja, Kiara terlihat memborong beberapa baju dan aksesoris lainnya, tidak lupa pula dengan tas branded dan juga sepatu tentunya.


Kiara memang jarang sekali memanjakan dirinya dengan membeli barang-barang mewah, walaupun dirinya sekarang menjadi salah satu karyawan di kantor elite yang mempunyai gaji yang tinggi.


Untuk sesekali dirinya masih mentolerir dirinya untuk membeli beberapa barang branded, tetapi tidak untuk setiap bulan dia bisa melakukan itu.


Kiara lebih sering mendonasikan Uang hasil kerjanya untuk kegiatan sosial dan juga amal. terlihat beberapa panti asuhan menjadi tempat Kiara untuk menyisihkan uang yang didapatkan dari bekerja selama ini, dan tentunya sisanya dia tabung untuk berjaga-jaga kalau ada hal yang mendesak.


Boleh dikatakan, kalau kehidupannya yang sekarang jauh lebih baik dari pada sebelumnya.


...***...


Pagi itu, Kiara terlihat begitu anggun dengan balutan busana yang dia rancang sendiri.


dengan semangat , Kiara memulai harinya hari ini.


Pagi ini sudah ada jadwal meeting dengan beberapa karyawan yang lainnya, dan Kiara sudah terlihat mempersiapkan beberapa berkas untuk digunakan meeting pagi ini.


Setelah meeting selesai,semua karyawan terlihat sibuk dengan kerjaannya masing-masing.


Ditengah kesibukannya menyelesaikan desain-desain yang dibuatnya, terdengar suara telfon berdering.


Kiara kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan mulai berjalan menuju ruangan PresDir.


Disana Terlihat Dewa sudah menunggunya.


Kiara berjalan dengan gugup dan sesekali menghela nafas untuk mengurangi kegugupannya.


"Kiara... ini untuk kamu.." Dewa menyodorkan sebuah undangan untuk Kiara.


Kiara terlihat masih bingung dengan apa yang baru terjadi, dan tidak mengerti dengan sikap Dewa yang tiba-tiba memanggilnya hanya karena sebuah undangan, dan bukan karena pekerjaan.


"Kamu boleh kembali!" perintah Dewa.


Kiara terlihat menggernyitkan alis sebelah, dia begitu tidak mengerti dengan kelakuan Dewa yang hanya memanggilnya karena sepucuk undangan saja.


Belom sempat dia membaca nama yang tertera dalam undangan tersebut, Pak Cipto sudah memanggilnya, karena ada urusan mendadak.


Sepulang dari kantor Kiara terlihat sudah selesai membersihkan dirinya dari peluh yang dia keluarkan hari ini.


Aroma harum sudah tercium dari tubuh Kiara. Sudah saatnya dirinya dan sang mama menyantap hidangan makan malam yang sudah sedari tadi di siapkan sang mama tercinta.


Setelah selesai makan malam, Kiara berniat untuk menyelesaikan kerjaan yang masih belum terselesaikan hari ini, tetapi Kiara mengurungkan niatnya untuk membuka laptopnya, karena melihat ada beberapa pesan masuk di handphonenya.


Kiara membuka pesan tersebut, dan itu pesan dari sahabatnya Vita yang mengundangnya untuk acara pertunangannya besok lusa.


Sepulang dari kerja Kiara terlihat buru- buru pulang untuk bersiap- siap pergi ke acara sakral sahabat baiknya itu.


Kiara terlihat seksi dengan balutan dress putih one shoulder yang dia kenakan dengan make up yang sedikit lebih tajam kali ini.



Kiara sudah berada di depan gedung mewah, dimana akan di gelar acara pertunangan Vita tersebut.


Kiara mulai memasuki gedung itu, dan disana dia berjumpa dengan beberapa alumni SMA seangkatannya.


Tetapi Kiara tidak melihat Disty hadir di acara penting sahabatnya itu.


Kiara, Disty dan Vita adalah teman dekat ketika itu.


Kiara terlihat celingukan melihat kesana kemari mencari sesosok sahabatnya itu.


" Vita mana sih... kok dari tadi nggak keliatan." gumam Kiara sendiri.


Tidak berselang lama, telihat Vita menggandeng seorang pria di sampingnya, dan mulai berjalan menuju tempat dimana akan di langsungkan pertukaran cincin tunangan.


Mata Kiara terlihat membelalak setengah melotot melihat pria yang digandeng sahabatnya itu.


Bagaimana Kiara tidak terkejut, pria yang menjadi tunangan sahabatnya itu tidak lain adalah Dewa Argantara Wijaya.


Pemilik perusahaaan dimana dia bekerja, dan juga seseorang yang ada dihati Kiara sampai saat ini.


Perlahan butiran bening meleleh dari pelupuk mata Kiara, dirinya saat ini begitu terguncang.

__ADS_1


Kiara tidak menyangka bahwa Dewa akan menjadi pendamping hidup sahabat baiknya sendiri.


Kiara mulai menepi dan berjalan mencari keberadaan toilet, dan disana Kiara menangis sejadi- jadinya.


Dia begitu menyesali apa yang susah terjadi hari ini, karena secara tidak langsung dirinya sendirilah yang membuat Dewa harus melepaskannya, dan memilih orang lain sebagai pasangan hidupnya.


Dengan wajah sendu Kiara mencoba mengumpulkan segenap tenaga yang masih tersisa untuk memberanikan diri memberikan ucapan selamat kepada Vita dan juga Dewa.


" Hai... Ara.. Makasih ya udah datang" Teriak Vita yang di sambut pelukan oleh Kiara.


" Iya sama- sama... semoga kalian langgeng sampai ke pelaminan ya Vit." jawab Kiara.


setelah itu Kiara menjabat tangan Dewa, kemudian memberi ucapan selamat untuk Dewa juga.


Kiara seakan ingin mati hari itu juga, akan tetapi ini adalah keputusannya sendiri yang harus dia terima dengan lapang dada.


Setelah acara selesai, Kiara terlihat berpamit untuk pulang kepada Vita dan Dewa.


Kiara masih sangat terpukul dengan kejadian hari ini. Kiara bahkan terlihat sering melamun dan nafsu makanya terlihat menurun juga.


Melihat perubahan putrinya, Nadia begitu sangat khawatir.


" Sayang... akhir- akhir ini mama perhatikan, kok kamu sering ngelamun dan juga tu... makan nggak pernah habis.." cercah Nadia yang sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya, mengenai hal yang sudah terjadi dengan putrinya itu.


" Ara nggak papa kok ma.. mama nggak perlu khawatir.. ini aku nggak nafsu makan karena lagi pms aja" Elak kiara.


"masak sih lagi pms juga bisa bikin bengong juga" tanya Nadia lagi.


"Hemm ... nggak lah ma.. Kiara lagi mikirin kerjaan aja ni banyak banget soalnya" Elak Kiara lagi.


" Ya udah.. kamu kalau seandainya ada masalah cerita aja sama mama sayang.. mama ini kan orangtua kamu." sahut Nadia lagi. Kiara hanya menjawab dengan anggukan saja.


Hari demi hari Kiara lalui dengan menyimpan kesedihan yang tidak orang lain bisa ketahui, termasuk mamanya sendiri.


Terlintas di benaknya untuk berhenti saja dari kantor dimana dia bekerja, akan tetapi dia tidak mau membuat sang mama bertambah khawatir dengannya.


Tiga bulan sudah berlalu, semenjak diadakannya pertunangan Dewa dengan Vita. Kini tiba saatnya Dewa dan vita menikah.


Undangan sudah Kiara terima, akan tetapi Kiara tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk menghadiri acara pernikahan Dewa dengan Vita.


Muncul ide untuk pergi cuti liburan saja.


Kiara berharap dengan pergi berlibur bisa sedikit membuat hatinya terhibur.


Kiara mengirim pesan singkat untuk Vita yang berisikan bahwa dirinya cuti untuk berlibur dengan sang mama ke Bali, dan meminta maaf kepada Vita, karena tidak dapat menghadiri pernikahan sabahatnya itu.


Awalnya Vita marah dengan keputusan Kiara untuk berlibur di hari dirinya akan menikah,' tetapi dia tidak bisa memaksakan kehendak untuk membatalkan liburan Kiara.


Kiara sudah berada di Bali sendiri, karena Nadia tiba- tiba ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditunda.


Di tengah kegalauan hatinya Kiara melukis beberapa desain baju untuk pernikahannya kelak.


Tidak disadari air mata sudah membasahi pipi mulusnya.


Mengingat akan apa yang telah terjadi antara hubungannya dengan Dewa dan juga Vita yang akan semakin rumit ke depannya.


Kiara menginap di Bali selama satu minggu. Dia mencoba menghibur diri sebisanya.



Terlihat kiara sedang tersenyum pura- pura untuk membuat sang mama senang, lewat video call Kiara menceritakan kesan liburannya selama di Bali dengan sang mama.


Sudah waktunya Kiara kembali ke rumah tercinta, setelah satu minggu menghabiskan waktu di Bali.


Kiara terlihat membelikan beberapa cindera mata khas Bali untuk sang mama, dan Nadia terlihat sangat menyukainya.


Setelah satu tahun berlalu, Kiara memutuskan untuk resign dari perusahaan milik Keluarga Wijaya tersebut.


Kiara tidak bisa menahan rasa sakit yang harus dia sembunyikan setiap melihat Dewa terlihat bermesraan dengan Vita di kantor.


walaupun Vita tidak mengetahui Kalau Kiara bekerja di kantor milik suaminya itu.


Kiara mengajukan resign dengan alasan ingin membuka usaha mandiri, dan Kantor menerima surat pengajuan resignnya.


Setelah memutuskan berhenti dari perusahaan keluarga Wijaya, Kiara mengganti nomor telfon dan juga memblokir akses medsosnya, kemudian menggantinya dengan yang baru.


Kiara sengaja melakukan itu semua untuk tidak berhubungan lagi dengan keluarga Wijaya untuk selama- lamanya.


Kiara ingin memulai babak kehidupan yang baru dan akan mencoba membuang seluruh ingantan yang mengingatkannya kepada Dewa.


Walaupun itu tidak akan mudah baginya, tetapi Kiara sudah bertekad untuk melupakan cintanya kepada Dewa, dan mencoba membuka hatinya untuk pria lain.


...***...

__ADS_1


Visualisasi wajah Vitalia Anindya Rasti Wijaya.



__ADS_2