
Setelah baju yang Dewa pesan telah selesai dibuat, Kiara kemudian berencana untuk mengantarkan sendiri ke kediaman Keluarga Wijaya.
Kiara telah bersiap-siapa untuk pergi, dan dirinya juga tidak lupa untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk Jasmine nantinya.
Kiara menyetir sendiri, dan sengaja dia tidak ingin supir pribadinya mengantarkan dia ke rumah Keluarga Wijaya.
Mobil Kiara telah terparkir di halaman rumah Keluarga Wijaya, dan kemudian Kiara memasuki rumah mewah berlantai 4 tersebut.
" Maaf mbak... mbaknya mau bertemu siapa?" Tanya salah seorang penjaga yang menjaga pintu depan rumah Keluarga Wijaya tersebut.
" Begini pak... saya mau bertemu dengan Pak Dewa beserta istri dan anaknya... " Jawab Kiara.
penjaga yang sedikit heran dengan pertanyaan Kiara, kembali bertanya lagi.
"Maaf mbak... tapi Tuan muda tidak punya istri lagi mbak... maksud mbak, istri tuan muda yang mana ya?" Tanya penjaga itu kembali.
" Nyoya Vita maksud saya pak... apa dia ada di rumah?" Tanya Kiara lagi.
Mendengar ada sedikit keributan di depan rumahnya, Dewa berinisiatif keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Belum sempat penjaga itu menjawab Dewa sudah datang.
" Ada apa ini ... saya dengar ada keributan di sini?" Tanya Dewa kepada Penjaganya.
" Maaf Tuan muda... ini mbaknya mau bertemu dengan Mendiang Nyonya muda."
Jelas penjaga itu.
Mendengar kata mendiang dari mulut penjaga rumah Dewa, Kiara melolot dan tak bisa berkata apa-apa.
" Oh.... ya udah biar saya yang ngomong sama dia!" Pinta Dewa.
kemudia Penjaga itu pergi meninggalkan Dewa dan Kiara.
" Ra.... Sebetulnya Aku udah lama mau bercerita soal Vita, tapi aku nggak punya nomor kamu lagi." Jelas Dewa.
" Jadi.... maksud kamu Vita ... udah..? " Tanya Kiara yang di potong oleh Dewa.
" Vita udah meninggal Ra .. dia meninggal setelah 8 bulan koma di rumah sakit setelah melahirkan Jasmine." Jelas Dewa yang membuat Kiara langsung terlihat syok dan matanya berkaca-kaca.
" Ya... Allah Vita.. maafin aku Vit karena aku nggak ada di saat-saat terakhir kamu.. " Ucap Kiara dalam hatinya.
" Apa aku boleh bertemu Jasmine?" Tanya Kiara terlihat mencoba tegar setelah mengetahui bahwa Sahabatnya telah lama meninggal.
" Tentu.." Jawab Dewa.
Kemudian Kiara masuk bersama dengan Dewa untuk menemui Jasmine.
" Tante Cantik..... " Teriak Jasmine yang kegirangan melihat Kiara datang.
" Hai.... sayang.." Jawab Kiara yang langsung memeluk Jasmine sambil menangis.
"Tante cantik kenapa? kok nangis..?
Papa apain Tante Kiara pa?" Tanya Jasmine panik.
" Tante nggak papa kok sayang...". Jawab Kiara.
" Tante nggak di apa-apain sama papa aku kan?" Tanya Jasmine memastikan Kiara baik-baik saja atau tidak.
" Papa nggak apa-apain tante cantik kok...
coba tanya tante cantik kalau nggak percaya." Sela Dewa.
" Iya Sayang.... papa nggak apa-apain tante kok.. tante hanya sedih lama nggak ketemu Jasmine." Alasan Kiara.
Mendengar itu, Jasmine kemudian memeluk Kiara lagi.
" Tante cantik jangan sedih lagi ya... kan sekarang Jasmine udah di sini sama tante. "
Hibur Jasmine yang mencoba membuat Kiara tidak menangis lagi.
Kiara terlihat begitu bahagia, dan dirinya tak segan-segan bertingkah seperti layaknya anak kecil yang sedang bermain bersama teman sebayanya.
Melihat penampakan yang begitu indah, Winda, ibunda Dewa kemudian terlihat menghampiri Anaknya yang sedang memperhatikan Kiara dan Jasmine yang sedang bermain bersama.
"Emmm.... Mami perhatikan Kamu dari tadi antusias sekali melihat Jasmine dan juga Desainer Cantik itu bermain." Tanya Sang mama yang membuyarkan angan-angan Dewa seketika itu juga.
" Ehhh.. Mami.. itu.. Aku.. cuma.." Jawab Dewa yang telihat salah tingkah mendengar pertanyaan dari Winda.
" Mami tahu ni... Kamu pasti suka sama Kiara kan? " Skak mat Winda kepada Dewa.
" Mami apa sih... nggak .. aku cuma.. itu kok..
apa ya....? kagum aja sama dia yang terlihat begitu keibuan." Dewa coba ngeles sama Winda.
" Ah... Mami tahu betul siapa anak Mami..
yang paling susah di kenalin sama perempuan, apalagi di suruh jatuh cinta.." Jawab Winda.
" Sebetulnya.... Dewa udah lama mau cerita ini sama Mami.. cuma belum pas aja waktunya."
Seloroh Dewa yang sukses membuat Winda penasaran.
__ADS_1
" Cerita sekarang sayang.... Mami janji akan simpan rahasia apapun yang mesti di rahasiakan... oke! ayo buruan cerita sama Mami."Pinta Winda.
"Sebelum mami jodohkan Aku sama Vita... Dewa udah Suka sama seorang wanita.. Mi.
dia adalah teman Dewa sewaktu SMA dulu." Dewa mulai bercerita.
" Terus..." Tanya Winda lagi.
" Wanita itu adalah.... Kiara Mi... tapi Kiara menolak Dewa dengan alasan yang tak jelas, dan malah menikah sama orang lain." Jelas Dewa lagi.
Dan itu yang membuat kamu mau menerima Vita Sayang... ?" Tanya Winda.
"Iya Mi.... Dewa mau buktiin Sama Kiara, kalau Dewa bisa hidup bahagia tanpa dia." Dewa lanjut bercerita.
" Tapi kamu gagal kan?.... karena kamu tidak bisa membohongi perasaan kamu sendiri sayang... kalau kamu masih mencintainya sampai sekarang kan? " Tanya Winda yang membuat Dewa melongo.
Dewa tidak menyangka bahwa Winda bisa mengetahui isi hatinya.
Dewa hanya menunduk malu di hadapan Sang mama.
" Sayang... kalau kamu memang masih mencintainya.. kejar cinta kamu sayang.. jangan biarkan dia meninggalkanmu untuk kesekian kalinya." Winda mencoba memberi semangat kepada sang putra.
" Tapi itu nggak mungkin Mi....
karena Kiara sudah bersuami sekarang." Jawab Dewa.
Melihat keputus asa-an terlihat di wajah anaknya itu, Winda mencoba memberikan motivasi kepada Dewa.
" Sayang... Kalau dia adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untukmu, dia akan kembali kepadamu sayang... kamu jangan pernah berputus asa." Jelas Winda yang di sambut pelukan sang anak tercinta.
Tidak terasa hari sudah mulai sore, Kiara kemudian pamit pulang karena dirinya harus kembali ke kantornya untuk memastikan kalau butik aman-aman saja.
Waktu terus bergulir, Kiara sudah kembali seperti sedia kala. keputus asa-an yang pernah dialaminya kini mulai bisa di lepaskan dari ingatannya.
Kini dirinya lebih fokus untuk meniti karirnya dan juga membahagiakan mamanya.
Akan tetapi ingatan indah dan kenangan bersama Almarhum suaminya tidak akan bisa dia lupakan sedikitpun.
Hari itu Winda berkunjung ke butik sendirian, tidak di temani Jasmine.
Winda terlihat sangat antusias mengobrol dengan Kiara.
" Maaf nak... apa kamu bahagia dengan pernikahanamu bersama suami kamu?" Tanya Winda tiba-tiba di sela-sela obrolannya dengan Kiara.
" Sangat bahagia bu... saya sangat mencintai suami saya begitupun dia..." Jawab Kiara.
"Syukurlah ...kalau begitu, Apa Saya bisa bertemu dengan suami kamu itu nak..?
saya penasaran Sama suami kamu, pasti dia sangat tampan dan baik hati seperti kamu." Ucap Winda.
" Alangkah senangnya Mas Arman bisa mengenal ibu... tapi itu semua nggak mungkin bu..." Jelas Kiara.
" Kenapa nggak mungkin nak..? " Tanya Winda penasaran.
" Karena Suami saya telah meninggal 5 tahun yang lalu akibat kecelakaan pesawat bu..." Jawab Kiara sambil menangis sejadi-jadinya.
Mendengar jawaban dari Kiara, Winda sontak ikut menangis juga.
Winda sudah menganggap Kiara seperti anaknya sendiri, karena mereka menjadi dekat lantaran Kiara sering ke rumahnya untuk bermain dengan Jasmine.
" Kamu harus kuat ya sayang... kamu pasti akan menemukan kebahagiaan yang akan membuatmu berhenti menangis suatu hari nanti." Hibur Winda kepada Kiara.
...***...
Kiara semakin akrab dengan Jasmine dan juga Winda.
Hingga muncul ide Winda untuk menyatukan Dewa dengan Kiara dalam hubungan pernikahan.
Sore itu Winda terlihat sudah rapi, dia menyuruh salah satu sopir pribadinya untuk mengantarkan dia ke rumah Kiara.
Winda ingin menjumpai Ibunya Kiara untuk membicarakan Keinginannya untuk menjodohkan Dewa dengan Kiara.
Sesampainya di rumah Kiara, Winda kemudian meyuruh sopirnya menunggu di dalam mobil.
Winda masuk seorang diri ke rumah Kiara, dan di sana dia bertemu dengan ibunya Kiara.
Nadia dan Winda kemudian Mengobrol panjang lebar mengenai kehidupan pribadi mereka masing-masing.
Winda mengutarakan keinginannya untuk menjodohkan Anaknya dengan Kiara, dan Nadia pun setuju kalau Kiara menikah dengan Dewa.
Akan tetapi Nadia harus membicarakan ini semua dengan Kiara, karena bagaimana
pun Kiara harus tahu soal perjodohan itu.
Nadia tidak mau memaksa Kiara untuk menikah lagi, bila Kiara memang belum siap.
Winda kemudian berpamitan kepada Nadia, dan berjanji akan saling mengunjungi nantinya.
Nadia mencoba berbicara tentang niat dirinya dan Winda untuk menjodohkan Kiara dengan Dewa secara perlahan kepada Kiara.
Mendengar semua yang mamanya katakan, Kiara malah terlihat sedih dan meminta Nadia untuk tidak membahas pernikahan atau sejenisnya kepada Kiara.
Melihat tanggapan negatif yang di tunjukkan Kiara, Nadia kemudian tidak mencoba melanjutkan pembicaraannya mengenai rencana perjodohan itu.
__ADS_1
Nadia sebenarnya ingin sekali melihat putri semata wayangnya bisa memiliki pendamping hidup, yang akan menjaga Kiara nantinya, Tetapi Nadia juga tidak mau egois dan tidak memikirkan perasaan Kiara.
Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, Tetapi belum terlihat Kiara bersiap untuk pergi ke butiknya.
Nadia yang heran melihat anaknya yang tidak seperti biasanya, kemudian bertanya kepada Kiara.
" Sayang... kamu nggak pergi ke butik ya...?. Tanya Nadia.
" Enggak ma... Kiara mau pergi ke acara pernikahan teman nanti siang.." Jawab Kiara.
" Oh... kiarain ada apa... tumben kamu nggak ke butik soalnya." Jelas Nadia.
" Iya ma .... dia undangnya mendadak gitu..jadi aku nggak mau telat, harus siap-siap dulu... ya udah ma, Kiara pamit ya...mau Pergi ke salon dulu... udah lama nggak nyalon ma..." Ungkap Kiara.
Melihat usaha putrinya melupakan kejadian yang merenggut kebahagiaannya selama 5 tahun terakhir itu telah menuai hasil yang positif, Nadia hanya bisa tersenyum lega.
Hari demi hari di lalui Kiara dengan kebahagian yang mulai dirasakannya kembali setelah, dirinya bertemu dengan anak mendiang sahabatnya itu.
Jasmine semakin dekat dan lengket dengan Kiara, mereka layaknya seorang anak dengan ibu kandungnya.
Suatu ketika di sekolah Jasmine mengadakan pentas seni yang mengharuskan dirinya menampilkan pertujukan puisi yang bertema ibu di atas panggung.
Jasmine terlihat sangat sedih, karena yang diketahui adalah, Vita sang mama tercinta telah berpulang di sisi Allah.
Mengetahui tentang Itu, Kiara mencoba memberikan dukungan kepada Jasmine, dan berjanji akan selalu ada untuk Jasmine ketika dirinya sedang sedih.
Senyuman kembali terukir di wajah cantik seorang jasmine, dan Kiara juga sangat lega melihat Jasmine kembali bersemangat mengikuti ajang pentas seni itu.
Semua orang menitikkan air mata, ketika Jasmine membaca puisi yang berisi tentang seorang ibu yang tangguh dalam merawat anaknya.
Dewa , Winda dan juga Kiara juga tidak bisa menyembunyikan air mata mereka tatkala Jasmine dengan indahnya melantunkan bait demi bait puisi tersebut.
Rasa kagum dan bangga terhadap putrinya, dirasakan oleh Dewa.
Kiara memberi sebuah hadiah kepada Jasmine karena Jasmine mendapat juara pertama lomba mambaca puisi, dan Jasmine begitu senang mendapat hadiah dari Kiara.
Setelah mereka menyaksikan perlombaan baca puisi di sekolah Jasmine, mereka memutuskan untuk berpiknik bersama ke sebuah taman rekreasi di ibukota.
Jasmine mencoba mengutarakan keinginan yang paling di inginkannya kepada Kiara di depan Semua orang yang waktu itu sedang menikmati pemandangan danau yang indah di taman ibukota.
" Tante Kiara... apa aku boleh panggil Tante dengan sebutan Mama?" Pinta Jasmine tiba-tiba kepada Kiara, yang membuat Dewa langsung menyemburkan minuman yang sedang di minumnya.
" Boleh dong sayang..." Jawab Kiara.
Jasmine terlihat sangat senang mendengar jawaban Kiara.
Kemudian Jasmine bertanya lagi kepada Kiara.
"Mama.... apa mama mau menjadi istri dari papa Dewa...ma? " Tanya Jasmine lagi.
Mendengar permintaan Jasmine yang begitu tidak masuk akal, kemudian Dewa mencoba menasehati Jasmine.
" Sayang... kamu nggak boleh ngomong gitu sama tante Kiara.. itu tidak sopan sayang". Jelas Dewa kepada anaknya.
Jasmine langsung terlihat bersedih setelah Papanya berbicara seperti itu.
Kiara yang mendengar semua itu, hanya bisa terpaku dan melamun tidak karuan lagi.
" Maaf ya Ra... kamu nggak usah ambil hati tentang pertanyaan Jasmine tadi." Ucap Dewa yang bermaksud meluruskan permasalahan, agar tidak menjadi kesalahpahaman diantara mereka berdua.
" Iya..nggak papa kok." Jawab Kiara.
Winda hanya terdiam mendengar semuanya.
Dirinya kemudian menghampiri Kiara.
"Alangkah bahagianya saya Kiara ... kalau kamu seandainya bisa mengabulkan permintaan Jasmine tadi.." Sela Winda tiba-tiba.
" Mi....udah deh.. jangan di besar-besarkan masalah ini... permintaan Jasmine dan Mami itu nggak masuk akal.." Jawab Dewa.
" Nggak masuk akal gimana sayang...
Kiara itu sudah berstatus Janda dan begitu juga kamu sayang... jadi apa salahnya kalau kalian menikah? " Jelas Winda yang membuat Dewa melongo.
" Maksud mami ... apa? Kiara itu punya suami Mi.. jangan aneh-aneh kalau bicara Mi..? " Pinta Dewa.
" Kalau kamu nggak percaya sama Mami.. kamu tanya sama Kiara sendiri.."Jelas Winda.
" Ra.... apa betul yang di bilang sama Mami aku... kamu... udah pisah sama suami kamu?" Tanya Dewa.
Mendengar pertanyaan Dewa, Kiara tidak menjawab, tetapi hanya menangis.
Dewa tidak butuh jawaban Kiara, karena tangisan Kiara sudah menjadi jawabannya.
Dewa kemudian mengantarkan Kiara pulang ke rumahnya.
Di dalam mobil mereka tidak berbicara sedikitpun, karena Dewa menghargai Kiara yang sedang tidak dalam suasana hati yang baik sekarang ini, memutuskan untuk diam dan tidak bertanya apa-apa dengan Kiara.
Sudah beberapa hari ini Kiara terlihat sangat murung dan terlihat sangat tertekan.
Nadia mencoba untuk membuat putrinya itu kembali tersenyum lagi.
Dengan segala upaya yang ada, Nadia berusaha untuk menghadirkan senyuman yang selama sepekan ini tidak terlihat di wajah anak kesayangannya itu.
__ADS_1
Melihat beberapa kekonyolan sang ibu,Kiara akhirnya kembali melebarkan senyumannya.
Nadia begitu senang bukan kepalang melihat sang putri tercinta bisa mengukir senyuman indah di wajah cantiknya.