Pelabuhan Terakhirku

Pelabuhan Terakhirku
Babak kehidupan baru


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk menjauhi segala yang menyangkut tentang keluarga Wijaya, Kiara kini mulai menata kehidupan barunya.


Terlihat Sedang sibuk dengan desain- desain gambar yang telah selesai dibuatnya.


Setelah berhenti dari perusahaan tempat dia bekerja dulu, Kiara sedang memulai merintis usaha butik dan fashion sendiri.


Bermodalkan pengalaman yang pernah didapatkannya dari bekerja di perusahaan Wijaya, Kiara memulai bisnisnya dengan percaya diri dan tekad yang kuat.


Dia ingin membanggakan sang mama dengan pencapainnya nanti.


Kiara terlihat sangat sibuk, karena semua harus dia susun sendiri.


Mulai dari mencari lokasi, terus desain butiknya dan juga menyeleksi pekerja yang akan membantunya nanti.


Belum lagi Kiara harus mendesain beberapa baju dan juga mencari kolega yang akan bekerja sama dengan perusahaannya nanti.


Mungkin Kiara hanya akan mampu mendirikan perusahaan yang kecil dan biasa- biasa saja, akan tetapi semangat Kiara tidak pernah surut.


Dia percaya bahwa usaha tidak pernah membohongi hasil.


Disisi lainnya Dewa terlihat sedang menikmati pernikahannya dengan Vita.


meskipun belum bisa melupakan Kiara seratus persen, akan tetapi kehadiran Vita mampu mengobati kekecewaan akibat penolakan dari Kiara. Setelah satu tahun menikah, mereka memutuskan untuk berbulan madu untuk kesekian kalinya.


sebagai usaha mengenang satu tahun anniversary pernikahan mereka.


Kini mereka sedang meniknati keindahan ikonik negara India yaitu Taj mahal.



Terlihat mereka begitu menikmati perjalanan second honeymoon mereka.


Mereka di persatukan lewat perjodohan kedua orang tua mereka, yang kedua- duanya merupakan konglongmerat terpandang di kota ini.


Dewa sebenarnya pernah menolak perjodohan tersebut, tetapi karena dirinya yang kalut pada saat di tolak mentah- mentah untuk kedua kalinya oleh Kiara, membuat dirinya kembali menyetujui perjodohannya dengan gadis pilihan orangtuanya itu.



Vita dan juga Dewa menikmati honeymoon mereka. Dengan berkeliling Negara india itu.


Terlihat keduanya sangat bahagia dan serasi sekali.


Dewa memberi kejutan demi kejutan untuk istri tercintanya.


Bahkan Vita di beri kejutan dengan makan malam romantis lengkap dengan kue ulang tahun pernikahan.


Vita sangat bahagia menerima kejutan dari sang suami.



Dua minggu di habiskan Vita dengan Dewa. untuk mempererat hubungan pernikahan mereka.


Walaupun belum tampak tanda- tanda kehamilan dari Vita, tidak serta merta mempengaruhi Dewa untuk tidak menyayangi dan memberi perhatian yang lebih terhadap Vita.


Lain hal dengan Kiara yang kini malah terlihat menikmati kesendiriannya.


karena saking sibuknya dengan usaha yang digelutinya sekarang, sampai dia lupa untuk mencari pendamping hidupnya kelak.


Nadia mulai risau dan tidak tenang memikirkan putri semata wayangnya tersebut.


Nadia ingin sekali melihat Kiara menikah dan memberinya cucu-cucu yang lucu dan menggemaskan untuknya, akan tetapi Kiara masih tidak bergeming dari posisinya sekarang, yaitu sedang menjomblo, alias tidak punya pacar.


Nadia mulai memikirkan cara supaya Kiara mau segara menikah.


Tercetus ide dari dalam otak Nadia untuk memperkenalkan anak laki-laki dari sahabat koleganya.


Terlihat Nadia yang sangat antusias membicarakan rencana pertemuan antara Kiara dan juga anak sahabatnya itu, sehingga dia melupakan sesuatu yang sangat penting, yaitu persetujuan dari putri semata wayangnya itu.


Tanpa berpikir panjang Nadia mengatur dimana Kiara dan juga pemuda itu bertemu nanti, Kiara yang tidak tahu menahu soal perjodohannya terlihat biasa saja.


Nadia meminta Kiara menemui seseorang di Cafe Rose Marry tepat pukul 19.00 WIB, dan Kiara yang berpikir akan bertemu klien, tanpa pikir panjang menyetujui keinginan Nadia tanpa bertanya secara detail kepada sang mama.


Dengan dandanan yang natural dan busana yang sopan Kiara menuju cafe Rose Marry lebih awal, karena dia tahu pasti kemacetan lalu lintas akan memperlambatnya sampai di cafe itu.



Waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB, dan itu menandakan dirinya terlambat 15 menit dari jadwal yang semula ditentukan.


Kiara bergegas memasuki cafe dan mencari ciri-ciri orang yang akan bertemu dengannya.


Kiara terlihat celingukan ke kanan dan ke kiri mencari orang yang akan ditemuinya.


Di sudut Cafe terlihat sudah duduk seorang pemuda yang sangat tampan dan terlihat sangat berwibawa. Dengan setelan baju yang membuatnya semakin terlihat keren.


Pemuda tampan itupun melihat ke arah Kiara yang sedang berdiri di pintu utama


cafe Rose marry. Dengan kepercayaan diri yang maksimal Kiara mulai melangkahkan kakinya menuju dimana seorang pemuda yang mempunyai wajah bak Arjuna telah menunggunya itu.


" Selamat malam... perkenalkan saya Kiara." sapa Kiara memulai percakapan dengan pemuda itu.


"Selamat malam ... saya Arman." sahutnya.


"Oh ya silahkan duduk Kiara.. mau pesan minum atau makan ...."tawar Arman yang kemudian dipotong oleh Kiara.


"Emm... minum aja! Orange juice ". Sela Kiara.


Kemudian Arman memanggil pelayan, untuk memesan makanan dan minuman.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, apakah kamu orang yang mau bekerja sama dengan perusahaan kue mama saya?" ucap Kiara memecah kecanggungan mereka berdua.


"Perusahaan kue... apa maksud gadis ini..." gumam Arman di dalam hatinya sambil terlihat dia melamun.


"Maaf pak Arman, apa pak Arman mendengarkan saya?"


pak......"tanya Kiara yang sedikit kesal karena pertanyaannya tidak digubris Arman.


" Oh .... ya maaf, bukan... itu maksud saya..


saya adalah..." jawab Arman yang terlihat gelagapan.


Belum selesai Arman berbicara, kemudian terdengar ada panggilan telfon dari hp Kiara.


Kiara mengangkat telfon tersebut dan itu dari mamanya.


" Halo... ma ada apa? Kiara lagi sibuk ni ..


ketemu sama klien mama itu lo ma..." cerosos Kiara.


"Klien..... klien apa maksud kamu sayang..?" tanya Nadia yang terheran dengan perkataan putrinya itu.


" Ih... mama ni jangan bercanda deh.. itu yang mama suruh ketemu aku di cafe Rose marry..."jawab Kiara.


Tidak menjawab pertanyaan anaknya, Nadia malah tertawa terbahak-bahak.


" Mama ni apaan sih... orang lagi serius malah bercanda... " Gerutu Kiara.


" Oh... itu... kamu ni ada-ada saja sayang..sejak kapan mama menyuruh klien mama ketemuan sama kamu.. itu bukan klien mama sayang..." jawab Nadia.


"Terus...... ini orang siapa dong ma.. mama ni udah bikin malu Ara tahu nggak... mana tadi Ara udah ngomong soal kue lagi..."Protes Kiara.


"Kamu sih... bukan tanya dulu sama mama mau ketemuan sama siapa... malah main pergi aja nggak tanya sama mama." jawab Nadia yang mulai menyadari bahwa Kiara telah salah paham dan mengira Arman adalah kliennya.


" Itu Arman sayang Anaknya tante Sofia, temen mama yang pernah main ke rumah kita waktu jaman kamu masih SD Ra...ingat nggak?" Nadia mulai menjelaskan pada Kiara.


"Emmm .. tante sofia... oh yang anaknya jatuh dari teras rumah karna manjat- manjat pot bunga mama kan?" Tanya Kiara yang mulai mengingat kejadian konyol yang di lakukan Arman saat mereka masih kecil dulu.


"Oh... ternyata kamu masih ingat ya sayang...padahal itu udah lama lo.." jawab Nadia.


"Ya udah ma kalau gitu nanti Ara lanjutin di rumah aja.. ini nggak enak lama-lama ngobrol di telfon sama mama.. Kasian Arman bengong nungguin Ara selesai,hehhehe...." Kiara tertawa geli mengingat kenakalan Arman ketika masih kecil dulu.


"iya sayang...bye hati- hati ya..." Kemudian Nadia mematikan telfonnya.


"Maaf ya Arman.... udah buat nunggu." Kiara merasa tidak enak telah membuat Arman menunggunya.


"Nggak papa kok.. tadi itu yang telfon tante Nadia ya... " tanya Arman penasaran.


"Emm... iya tadi mama telfon." jawab Kiara singkat.


Mereka mulai menyantap hidangan yang telah di pesan sedari tadi, dan mereka juga sesekali mengobrol ringan.


Di dalam mobil, terlihat Arman sesekali mencuri pandang ke arah Kiara.


Dari gelagatnya, Arman sudah mulai tertarik dengan Kiara.


Tidak ada alasan bagi dirinya untuk menolak di jodohkan dengan wanita secantik Kiara.


"Mau mampir atau... " tanya Kiara kepada Arman, setelah mobil Arman berhenti di depan rumahnya.


"Kapan-kapan aja ya bilang tante Nadia, Aku pulang dulu... ". jawab Arman yang sudah mulai memakai bahasa yang lebih santai ketika berbicara dengan Kiara.


" Iya... makasih udah di anterin.. hati-hati ya... bye.. " kemudian Kiara masuk ke rumahnya.


Kiara belum mengetahui tentang rencana perjodohannya dengan Arman yang di rencanakan sang mama.


...***...


Kiara terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya, bahkan dirinya selalu terlambat makan. Nadia begitu mencemaskan keadaan putrinya yang akhir-akhir ini sering mengeluh sakit di bagian perutnya.


Kiara adalah orang yang sangat menekuni sebuah pekerjaan dengan sepenuh hatinya,


sampai- sampai dia melalaikan kesehatannya sendiri.


Akibat dari pola makan yang kurang teratur membuat Kiara harus di larikan ke rumah sakit, karena penyakit asam lambungnya sudah sangat kronis.


Kiara terbujur di tempat tidur setelah mendapat penanganan medis.


Nadia hanya bisa menangis melihat Kiara yang terbaring lemas di atas tempat tidur di rumah sakit cahaya medika.


Doa demi doa Nadia ucapkan dengan perasaan yang sedih bercampur khawatir.


Tidak sedetikpun Nadia lewatkan, dia selalu setia disamping putrinya yang kini terbaring di rumah sakit.


Terdengar suara ketukan dari luar pintu di mana Kiara dirawat.


"Tok.... tok.... tokk"


" Selamat Siang tante Nadia" sapa Arman.


" Eh... Arman.. sini nak..." jawab Nadia seraya meminta Arman mendekat.


" Tante ... bagaimana keaadaan Kiara.. apa dia baik-baik saja tante..?" Tanya Arman lagi.


"Iya Arman. . kondisinya sudah membaik sekarang, cuma Kiara harus di beri obat penenang agar bisa beristirahat dengan maksimal, agar proses penyembuahannya berjalan dengan baik." Jelas Nadia.


Setelah lebih kurang 1 jam di dalam, Arman pamit pulang kepada Nadia.

__ADS_1


Setelah pulih, Kiara diizinkan pulang oleh Dokter yang menanganinya.


Kiara terlihat masih sedikit pucat setelah keluar dari rumah sakit, tetapi tidak melunturkan kecantikan seorang Kiara.


Kiara mulai beraktivitas seperti biasa, hanya saja dia mengurangi porsi waktu kerjanya saja.


Arman pun terlihat sering mengunjungi Kiara dan Nadia di rumah mereka.


Boleh di katakan setiap hari Arman berkunjung ke sana.


Kiara pun terlihat semakin akrab dengan Arman. Terlihat kekompakan keduanya.


Melihat itu, Nadia semakin senang dan berharap Kiara dapat segera menikah dengan Arman.


Tetapi perasaan Kiara sendiri tidak pernah ada yang mengetahuinya.


Apakah Kiara mencintai Arman atau hanya menganggap Arman hanya sebagai sahabat saja.


Ketika Kiara sedang tidak sibuk dengan pekerjaannya, Nadia mencoba berbicara mengenai rencana perjodohan yang dia dan Sofia inginkan.


Nadia mencoba meyakinkan Kiara, agar mau menerima Arman sebagai suaminya nanti.


"Sayang.... ini untuk kebaikan kamu nak...


mama ini udah semakin tua ... mama pengen lihat kamu menikah dan memberi cucu buat mama sayang..." Pinta Nadia dengan wajah yang sendu.


"Bukan Kiara nggak suka sama Arman ma...


jujur .. dia adalah pemuda yang baik dan sopan, hanya saja Aku tidak menyukainya lebih dari seorang sahabat ma... "


jawab Kiara.


" Ara.... mama itu tahu kamu mencintai Dewa... tapi kamu sendiri yang menolaknya dan kamu lebih memilih merelakan Dewa untuk sahabat kamu Vita..."


"Mama nggak marah nak kamu menikmati kesendirianmu .... tapi sampai kapan sayang... sampai kapan?" Tanya Nadia sambil menangis, karena sudah tidak tahan dengan sikap anaknya itu.


" Kamu harus menikah Ara... dan mama sudah putuskan kamu akan segera bertunangan dengan Arman... tidak ada tapi- tapian lagi!" pinta Nadia lagi.


" Oke... ma... Kiara akan menuruti semua yang mama mau..." jawab Kiara sambil berlalu meninggalkan sang mama.


Kiara terlihat sangat terpukul dengan keputusan sang mama yang memaksanya untuk menikah dengan orang yang tidak dicintainya.


Kiara meninggalkan tempat kerjanya dan menuju tempat favoritnya, ketika sedang dalam suasana hati yang gundah.


Taman yang terletak tidak jauh dari rumahnya menjadi salah satu tempat favoritnya ketika hatinya sedang bersedih ataupun sedang marah.


Di rumahnya Nadia terlihat begitu sedih bercampur marah.Dia merasa sedih, karena bagaimanapun dia sudah memaksakan Kiara untuk menikah dengan orang yang tidak di sukainya, tetapi dia juga merasa sangat marah, karena Kiara yang tidak mau mengertikan dirinya yang begitu mengkhawatirkan keadaan putrinya itu.


Nadia berharap Kiara mau menerima perjodohan ini dengan kerelaan hati yang terdalam, tetapi kenyataannya Kiara malah menolak mentah- mentah, dan membuat Nadia harus bersikap seolah dia adalah seorang ibu yang memiliki sifat diktator.


Tanggal pertunangan Kiara dan Arman telah di tetapkan, akan tetapi Kiara masih saja merasa ada keraguan yang begitu besar yang bersarang mengganggu hatinya.


" Ya Allah.... Kalau memang Arman jodoh yang engkau kirimkan maka mantapkan lah hati ini ya Allah..." pinta Kiara dalam doanya.


Selesai mengerjakan sholat Kiara kemudian bersiap- siap, karena Arman akan segara datang untuk menjemput Kiara, dan mengajak Kiara untuk pergi memesan cincin pertunangan dan juga fitting baju yang akan di gunakan saat pesta pertunangan mereka di laksanakan nanti.


Mobil mewah Arman sudah terparkir, dan Kiara sudah bersiap- siap di teras depan rumahnya.


" Kamu mau pergi ke butik mana? terus nanti untuk cincinnya, kamu yang pilih ya ..." pinta Arman kepada Kiara.


Tetapi bukannya di jawab Kiara malah terlihat sedang melamun, dan tidak menghiraukan. Arman sama sekali.


Melihat tingkah Kiara, Arman merasa sangat cemas. Arman takut Kiara menerima perjodohan ini karena terpaksa. Terlintas di benaknya untuk bertanya tentang perasaan Kiara kepadanya.


" Ara.... apa kamu mendengarkan aku?" tanya Arman yang seketika itu membuyarkan lamunannya.


Kiara terlihat sangat malu karena Arman mengetahui dirinya sedang dalam keadaan yang kurang fokus.


"Maaf Arman tadi kepalaku sedikit pusing... mungkin efek obat lambung yang aku minum"


Kiara mencoba berkelit dari Arman.


" Kamu nggak papa kan? Atau kita pulang aja cari cincin sama bajunya besok aja gimana?"


tanya Arman yang khawatir kepada Kiara.


" Enggak papa kok... kita lanjutin aja... aku nggak apa-apa kok.. cuma sedikit pusing aja."


jawab Kiara.


"Kamu yakin... mau cari cincin dan bajunya sekarang?" tanya Arman lagi.


" Iya.... tanggung, kita udah jalan jauh- jauh sampai sini." jawab Kiara.


Arman kemudian melajukan Mobilnya dengan kecepatan sedang, karena jalan tidak begitu padat malam itu.


Mobil mereka berhenti di sebuah pusat pembelanjaan termegah di ibu kota, kemudian mereka memasuki gedung berlantai kurang lebih 8 itu.


" Sayang.... nanti kamu yang pilih ya ... "


Panggilan sayang yang di lontarkan Arman sukses membuat Kiara kaget dan salah tingkah.


" Ohhh.... i.. ya."jawab Kiara singkat.


Mereka mengelilingi Mall tersebut dan akhirnya mereka menemukan toko perhiasan yang mereka cari.


Mereka memilih cincin yang terbuat dari emas putih dan bermatakan berlian yang sangat indah.

__ADS_1


Setelah dirasa cocok dengan pilihan itu, kemudian mereka menuju butik yang terkenal di mall tersebut, dan di sana mereka memilih dan mengukur baju yang akan di pakai dalam acara pertunangan mereka nanti.


__ADS_2