Pelabuhan Terakhirku

Pelabuhan Terakhirku
Pertemuan pertama setelah 8 tahun


__ADS_3

Setelah kelulusan, baik Kiara ataupun Dewa tidak pernah saling bertemu,karena Dewa melanjutkan kuliah di universitas Colombia USA sedangkan Kiara lebih memilih mengikuti kursus menjahit dan fashion.


karena keterbatasan biaya Kiara harus mengubur cita-cita untuk kuliah di oxford university.


sebenarnya Kiara sudah di terima di sana,tetapi karena biaya hidup di sana sangat mahal, dan Kampus tersebut hanya memberikan beasiswa saja, maka Kiara melepas kesempatan beasiswanya dan memilih kursus.


menurut Kiara mengikuti kursus sangat tepat untuknya, karena hanya mengeluarkan sedikit biaya daripada dia harus pergi kuliah ke luar negeri.


semenjak orangtua Kiara berpisah, Kiara membantu ibunya berjualan kue dan roti.


Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,mereka rela bekerja siang dan malam, agar bisa merubah nasib mereka menjadi lebih baik.


Ditengah kesibukannya berjualan aneka kue dan roti, Kiara menyempatkan diri untuk mengikuti kursus menjahit,dia selalu berpikir bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini, kalau kita berusaha untuk menjadi yang lebih baik dan juga selalu berpikir positif.


Karena kegigihan yang di tekuninya selama bertahun- tahun, kini Nadia sudah memiliki toko kue dan roti sendiri, Walaupun tokonya hanya toko yang sederhana.


Kiara tidak pernah menyesali hidupnya, walaupun dia harus hidup susah.


Mengingat selama 8 tahun, Nadia dan juga Kiara membangun usaha toko kue dan rotinya itu sendiri, sehingga seperti sekarang ini.


Walaupun hanya toko yang sederhana, tetapi soal cita rasa tidak kalah dengan toko roti ternama. Sudah menjadi visi tersendiri untuk seorang Nadia, membangun kepercayaan pelanggan-pelanggannya, maka dari itu soal rasa selalu menjadi nomor satu untuknya.


Tidak heran jika orang-orang dari kalangan menengah sampai kalangan atas sangat tergila-gila dengan kue dan roti buatan Nadia.


Sebelum memutuskan untuk berjualan kue dan roti 8 tahun yang silam, Nadia dulunya hanya bekerja di sebuah pabrik roti kecil di ibu kota ini,hingga dia bisa merambah menjadi pengusaha kue dan juga roti seperti sekarang ini.


...***...


Hari ini Kiara ada jadwal interview di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fashion.


perusahaan itu adalah perusahaan yang bernaung di salah satu perusahaan Keluarga Wijaya, yang nota bennya adalah orang yang termasuk golongan terkaya di Asia tenggara ini.


Terlihat pagi ini Kiara sudah terlihat sangat elegan dengan busana dan riasan yang Ia kenakan. Dengan hati yang setengah gugup, dia mulai melangkahkan kakinya memasuki gedung yang terlihat sangat tinggi itu.


Sudah berpuluhan orang terlihat berkumpul di ruangan tunggu saat ini, untuk menunggu giliran wawancara interview.


Kiara terlihat semakin gugup, ketika namanya di panggil untuk giliran wawancara interview.


kurang lebih sudah 15 menit Kiara di dalam, dan kemudian dia terlihat menyunggingkan sebuah senyum manisnya ketika sudah keluar dari ruangan tersebut.


Dan benar saja, dirinya di terima bekerja sebagai salah satu Desainer di perusahaan tersebut.


"Ma...... aku di terima bekerja di perusahaan yang selama ini aku inginkan ma..." teriak Kiara setengah berlari menghampiri ibunya yang sedang memonitoring para karyawan yang bertugas di dapur.


"Alhamdulillah ya sayang.... mama bangga sama kamu" sahut sang mama yang terlihat berkaca-kaca sambil memeluk putri semata wayangnya itu.


"kamu harus berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan tempat kamu bekerja ya sayang..."pinta Nadia


"Insya Allah ma... Ara akan mendedikasikan seluruh kemampuan yang Aku punya untuk perusahaaan " jawab Kiara.


Nadia kemudian menggandeng tangan putrinya keluar dari dapur menuju ruangan khusus yang digunakan sehari- hari untuk bekerja olehnya.


Disana Kiara terlihat bercerita panjang lebar kepada mamanya tentang pengalaman pertamanya interview di sebuah perusahaan elite dan ternama di ibu kota.


...***...


Pagi hari yang terlihat cerah, Hembusan angin yang terasa nyaman tatkala mengenai kulit putih Kiara Zahwa Advani, meninggalkan kesejukan yang masih terasa di tubuhnya.


"Selamat pagi pak... " ucap Kiara kepada manager Desainernya


"Pagi... emmm kamu karyawan baru?" tanya pak Cipto kepada Kiara


"Iya pak .... saya karyawan baru di sini." jawab Kiara


"Ayo ikut saya... "ajak pak cipto dan diikuti Kiara dari belakang


"Ini ruangan kamu,emm... siapa namanya?" tanya pak cipto seraya menunjukkan ruangan yang nantinya digunakan Kiara untuk bekerja.


"Saya Kiara pak" jawab Kiara lantang.


"Oke Kiara selamat bergabung di perusahaan kami dan semoga kamu betah." Kemudian pak Cipto meniggalkan ruangan Kiara.


Kiara masih terlihat senyum-senyum seorang diri, sambil melihat keluar dari dalam kaca ruangannya itu.


"Seperti mimpi.... Ya Ampun... aku masih nggak percaya." teriak Kiara.


Beruntung tidak terdengar sampai di luar, karena ruangan Kiara kedap udara.


Kiara terlihat sangat sibuk dengan beberapa gambar yang dia pegang, sambil sesekali berkomat- kamit sendiri.


Ditengah kesibukannya kemudian telfon berbunyi. Setelah menerima telfon tersebut, Kiara terlihat menyusun gambar-gambar yang baru saja dia buat dan bergegas keluar ruangan.


"tok tok tok... "bunyi ketukan pintu.


"Masuk..." terdengar suara dari dalam, kemudian Kiara membukan pintu yang berlabelkan Presiden direktur utama.


"Selamat Siang pak.... ini berkas- berkas Desain yang bapak minta." ucap Kiara sambil menundukkan kepalanya.


kemudian seorang pria tampan yang tadinya terlihat sibuk dengan komputernya itu, seketika mengangkat wajahnya menatap Kiara.


" Emm... oke! kamu bisa letakkan dia atas meja saya." jawab Pria itu.


Kemudia Kiara berjalan perlahan menuju meja orang nomor satu di perusahaan itu.


Dia sedikit mendongakkan wajahnya.


Betapa terkejutnya Kiara, sehingga matanya membelalak lebar dan mulutnya sedikit menganga, setelah melihat pria dihadapannya tersebut.


"De...... wa." gumam Kiara di hatinya.


Dewapun tidak kalah terkejut melihat sesosok perempuan cantik di hadapannya kini.


Tanpa berpikir panjang Dewa kemudian beranjak dari kursi kebesarannya dan melangkah mendekati Kiara.


Menyadari dirinya dalam bahaya, Kiara perlahan berjalan mundur sambil menundukkan kepalanya.


Tetapi Dewa terus berjalan mendekati Kiara.


"Apa kabar Kiara Zahwa Advani...."celetuk Dewa yang sukses membuat Kiara tersentak dari kegugupannya.


"Ya Ampun... aku harus gimana ini...kenapa harus dia sih..."Gumam Kiara dalam hatinya.


Dengan begitu jelas Dewa melafalkan nama perempuan yang telah berhasil meruntuhkan hatinya itu.


"Maaf .... pak, saya mohon undur diri..." ucap Kiara di tengah kegugupan yang dialaminya sekarang.

__ADS_1


Dengan cepat Kiara membalikkan badan dan berusaha kabur dari manusia di hadapannya itu, tetapi Dewa mengambil langkah seribu lebih cepat dari Kiara.


Tangan Kiara di tarik dan digenggam Dewa dengan keras, sehingga Kiara tidak dapat lari.


"Kenapa harus buru-buru.. nona manis..?" ejek Dewa yang melihat Kiara panik dan ketakutan.


" Aku nggak Akan memakanmu, tenang saja!" bisik Dewa lagi.


Kiara semakin ketakutan dia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Dewa.


"Ma...af pak, saya harus pergi.. masih ada banyak pekerjaan yang ha.... harus saya selesaikan." jawab Kiara terbata-bata.


Melihat kepanikan yang terpancar dari wajah Kiara, Dewa semakin senang.


Karena merasa dirinya sudah aman, segera Kiara meraih gagang pintu dan dengan sigap dia berjalan setengah berlari meninggalkan ruangan.


Irama jantungnya masih sangat terdengar, sambil sesekali dia menyeka keringat yang mulai bercucuran layaknya air hujan yang turun, Kiara merasakan guncangan yang sangat hebat.


Perasaan sedih dan senang bercampur menjadi satu, Dia begitu senang bisa berjumpa kembali dengan pria yang pernah meyisipkan kenangan tersendiri di masa lalunya. Tetapi ada perasaan sedih yang Kiara rasakan, Karena harus berjumpa lagi dengan Dewa, kalau bisa memilih pasti Kiara tidak mau bertemu dengan orang yang sudah membuatnya tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain.


Kenyataan sebenarnya adalah, Kiara juga menyimpan perasaan terhadap Dewa, tetapi dia sadar siapa dirinya.


Dewa adalah satu-satunya pewaris tunggal kerajaan bisnis sang Ayah, Yaitu Pak Wijaya.


sedangkan dia hanyalah anak broken home yang berkehidupan pas- pasan.


Ibarat bumi dengan langit yang mustahil untuk bersatu, Karena kehidupan mereka sangatlah bertolak belakang.


"Ya Allah... kenapa aku harus jumpa sama dia lagi, dan lebih nggak masuk akal, kenapa aku bisa bekerja di sini"..


"Bodoh... bodoh... kamu Ara... kenapa nggak bisa sadar sih.. kalau perusahaan ini termasuk milik papanya Dewa..." umpat Kiara sendiri kepada dirinya yang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa dirinya sendiri yang masuk ke dalam kandang harimau.


"Kalau aku ngajukan resign... pasti harus bayar uang sisa kontrak..terus...... Ya ampun. kok bisa sebodoh ini sih aku..." Kiara semakin geram dengan dirinya sendiri.


Terlihat Kiara yang mondar-mandir sambil sesekali memegang keningnya dan terlihat mulutnya juga berkomat- kamit. Dia terus mengumpat dirinya sendiri.


Di dalam ruangannya, Dewa sedang senyum-senyum sendiri, mengingat ekspresi Kiara yang terlihat sangat ketakutan dengannya, mencetuskan sebuah ide brilian didalam otaknya.


Dewa sedang menyusun siasat untuk membuat Kiara semakin kelimpungan. Apalagi setiap harinya, Kiara akan bertemu dengannya.


Senyum kemenangan terlihat jelas terpampang di wajah tampan seorang Dewa.


"Kiara.... tunggu tanggal mainnya." gumam Dewa. Sengaja dirinya membiarkan Kiara lolos kali ini, untuk hari-hari berikutnya belum tentu Kiara dapat menghindar dari Dewa, karena bagaimanapun Dewa adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja.


...***...


"Ma... Kiara pulang. " Belum ada sahutan dari sang mama Kiara melanjutkan pembicaraannya tadi." Ma ... hari ini kiara capek banget .. Kiara langsung bersih- bersih.. terus istirahat ya ma..." pinta Kiara yang disambut anggukan dari sang mama.


"Kok Kiara nggak mau cerita, bagaimana kesan hari pertamanya masuk kerja ya...?" Nadia bertanya kepada dirinya sendiri.


Kiara biasanya selalu berbagi cerita dengan Nadia tentang apapun, termasuk kejadian-kejadian lucu yang menggelitik hati Nadia.


"Mungkin.... memang dia capek." gumamnya lagi dan Nadia mulai membereskan toko kuenya, karena hari sudah semakin larut.


Pagi itu Kiara terlihat sangat cantik dan memukau.Dengan setelan baju yang dia kenakan dan tidak lupa sedikit polesan make up natural yang selalu menjadi andalanya, Kiara mulai memasuki Kantor dimana dia bekerja.


"Semangat Kiara... kamu pasti bisa." Dengan sedikit senyuman penghibur dirinya sendiri, Kiara mencoba untuk tetap tenang dan terus berjalan memasuki gedung mewah yang mempunyai 10 lantai tersebut.


Tiba di depan lift karyawan yang selalu menjadi alat berguna dan memudahkan para pekerja untuk melakukan aktivitas selama di kantor. Pintu lift terlihat sudah terbuka dan sudah ada beberapa orang di dalamnya.


Melihat Dewa ada dia antara para Karyawan, membuat Kiara terkejut. " ya Allah... kok dia bisa satu lift dengan karyawan sih.. dan sialnya lagi kenapa aku bisa satu lift dengannya... Mati... mati kamu Ra.."gumam Kiara di hati.


Terlihat Dewa sangat tampan dan seksi mengenakan setelan jas semi formal yang dipadu padankan dengan kaos putih yang membuatnya terlihat macho.



Dengan aksesoris jam mahal ditangannya, semakin membuat kesan seksi terpampang nyata melekat dalam dirinya.


Semua karyawan sudah memasuki ruangan masing-masing yang berada di lantai 7 dan 8.


Tersisa hanyalah Dewa dengan Kiara, karena mereka berada di lantai yang sama, yaitu lantai 10.


Jantung Kiara seakan sudah terlepas dari tempatnya,Dia mulai mencari cara supaya Dewa tidak bertindak macam-macam.


kemudian Kiara menekan tombol angka 8 setelah lift tertutup. Melihat Kiara yang sudah mulai panik, Dewa berpikir keras untuk mengerjai Kiara.


Terdengar Dewa sedang berdehem


" Hemmm.. mimpi apa aku semalam ya? kok bisa bersama bidadari secantik ini". suara Dewa sontak membuat kiara mati kutu.


"Tapi sayang... bidadarinya diam aja, atau jangan-jangan dia tuli mungkin.." tuturnya lagi.


Kiara masih saja diam dan terlihat raut muka yang kesal diwajahnya.


"Kok bisa sih aku satu kantor sama orang setengah gila ini " umpat Kiara dalam hati


"Ini lagi liftnya..kenapa nggak mau ke buka sih.. padahal aku udah tekan angka 8 biar dia kebuka lagi"


Melihat ekspresi Kiara yang cemberut dengan muka yang di tekuk membuat Dewa semakin ingin bermain-main dengan Kiara.


Tiba- tiba terdengar suara" Tepppp... grekkk."


lift yang digunakan Kiara dan Dewa tiba-tiba macet dan lampunya mati.


Sontak Kiara kaget dan berteriak..." Ahhh...aduh.. kenapa ini.. kok liftnya mati?"


"Aku takut banget sama Gelap dan sempit...


ya Allah tolong Aku.." teriak Kiara.


Melihat Kiara panik, lantas Dewa berusaha mendekat dan menenangkan Kiara.


" Kiara... tenang kamu jangan takut..aku di sini sama kamu." Kemudian Dewa menarik tangan kiara, di genggamnya kuat tangan Kiara dan di peluknya tubuh ideal Kiara.


"Udah ya kamu jangan panik .... tenang! aku nggak akan ninggalin kamu sendiri di sini." Dewa mencoba menenangkan Kiara kembali.


Sudah hampir 20 menit mereka berdua terjebak di dalam lift tersebut, dan Kiara sudah terlihat lemas dan nafasnya sedikit tersengal-sengal karena efek ketakutan yang dialaminya.


Beruntung lift kemudian nyala kembali dan terbuka.


Tetapi Kiara sudah tidak sadarkan diri lagi.


melihat Kiara pingsan, kemudian Dewa segera mengangkat tubuh mungil Kiara dan membawanya ke ruangan miliknya.


Hampir setengah jam Kiara pingsan,dan mulai terlihat Kiara yang mencoba membuka matanya dengan perlahan.

__ADS_1


" Ra.... kamu baik- baik aja kan? apa aku perlu panggil dokter .. atau... ?" Dewa begitu mengkhawatirkan keadaan Kiara.


" Emmm... aku nggak apa-apa .. aku harus kembali ke ruangan dan bekerja." jawab Kiara yang sukses membuat Dewa marah.


"Apa?... kamu ini masih terlihat pucat dan baru juga sadar, masih mau kerja dalam keadaan kamu yang seperti ini.. Ha....?" Amuk Dewa dengan Kiara yang terlihat berlagak menguatkan dirinya untuk bekerja.


"Aku akan antar kamu pulang dan kamu harus cuti untuk istirahat selama beberapa hari".


perintah Dewa.


"Tapi aku kan nggak apa-apa... aku masih bisa kerja kok."protes Kiara.


"Enggak... kamu itu mau melawan perintah bosmu ..? aku bilang harus cuti untuk istirahat titik nggak pake tapi." bantah Dewa lagi.


Karena sudah ada kata- kata bos, Kiara lebih memilih mengalah,daripada nanti malah jadi panjang kali lebar.


...***...


Dewa menelfon supir pribadinya dan menyuruh pak Karno untuk menyiapkan mobil untuk mengantar Kiara.


" Ayo jalan... bisa jalan sendiri kan? atau apa perlu aku menggendong kamu?" ucap Dewa yang membuat wajah kiara merah karena malu. Bagaimana tidak malu, Dewa mengucapkannya di depan pak Cipto managernya dan pak Karno supir pribadi Dewa. " Saya bisa jalan sendiri pak..." jawab Kiara yang tidak ingin membuat semua orang terheran-heran dengan perlakuan Dewa terhadapnya.


Kiara berjalan dengan pelan dan sedikit memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing.


Dewa membukan pintu mobil dan meminta kunci mobilnya kepada pak Karno.


pak Karno sedikit heran, karena tidak biasanya majikannya itu membawa perempuan apalagi satu mobil dengannya.


Dewa selalu meminta pak Karno mengantarkan gadis-gadis yang dulu pernah di kenalkan mama Dewa kepadanya.


" Tumben .. tuan muda mau mengantar perempuan, biasanya juga saya yang disuruh.. emm.. apa jangan-jangan tuan suka kali ya sama gadis itu?... "gumam pak Karno.


"Tapi Alhamdulillah lah berarti ada kemajuan pesat..." gumam pak Karno lagi seraya senyum-senyum sendiri.


Pak Karno paham betul siapa Dewa, karena dia adalah supir kepercayaan keluarga Wijaya yang sudah mengabdi bertahun-tahun lamanya.


Majikannya selalu terlihat cuek dan jutek dengan para gadis yang pernah di jodohkan mama Dewa dengannya, bahkan Dewa selalu mencari cara supaya gadis-gadis itu tidak menyukainya.


Mobil mewah Dewa telah sampai di depan rumah Kiara.


Dewa membuka pintu mobil dan setengah berlari dia juga membuka pintu untuk Kiara.


terus Dewa sedikit memegang dan menggandeng Kiara yang masih terlihat sempoyongan.


" Selamat siang Tante... Maaf sebelumnya saya mau bilang kalau ada sedikit insiden di kantor,dan saya sudah menyuruh Kiara cuti beberapa hari untuk istirahat, setelah Kiara sembuh dia boleh bekerja lagi". sapa Dewa yang sontak membuat Nadia kaget.


" Ya Allah... Ara, kamu kenapa nak?..


dan ini siapa?" jawab Nadia yang sedikit kaget melihat Kiara terlihat pucat dan lemas.


"saya Dewa tante... apa tante sudah lupa.. saya dulu teman sekolah Kiara, dan pernah mengantar Kiara pulang karena Kiara terjatuh dan kakinya terkilir." sahut Dewa.


"Oh... nak Dewa...tante pangling lo.. kamu sudah terlihat dewasa dan makin ganteng." jawab Nadia yang seakan lupa keadaan putrinya yang terlihat masih lemah itu.


" Ma.... kok malah ngobrol sma dia sih.."protes Kiara dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.


" Oh... mama sampai lupa sama anak mama...saking asyik ngobrol sama cowok ganteng" jawab sang mama yang membuat Kiara semakin kesal.


"Dewa .... mau minum apa? "tanya Nadia lagi


" Nggak usah repot- repot tante... Dewa juga mau balik ke kantor masih ada kerjaan yang mesti Dewa selesaikan... Nanti kapan-kapan Dewa main ke sini... bolehkan tante?" sahut Dewa.


" Boleh dong .. kapan aja kamu mau kesini pintu rumah tante terbuka selalu..." jawab Nadia seraya tersenyum kepada Dewa.


"Kacang-kacang.... kacang sekilo berapa sih?" umpat Kiara yang semakin kesal karena mamanya lebih terlihat perduli sama Dewa daripada dengannya.


"Ih.... Ara, kamu nggak boleh gitu ah.. mama kan lagi ngomong sama Dewa... kamu yang sopan dong..kamu istirahat ke kamar sana!" sahut Nadia yang disambut dengan kesal oleh Kiara.


Kiara kemudian berjalan menuju ke kamar dengan muka cemberut sambil sesekali mengomel-ngomel sendiri.


Kemuadian Dewa juga pamit dengan Nadia, karena harus segera kembali ke kantor.


Kiara sudah dua hari tidak ke kantor, dan Dewa pun merasakan kerinduan yang begitu mendalam, memang terdengar sangat berlebihan, tetapi semenjak dirinya bertemu untuk pertama kali dengan Kiara setelah 8 tahun berpisah, membuat dirinya tidak ingin melepaskan Kiara seperti dahulu.


Perasaan takut kehilangan selalu menghantuinya mengingat kebodohan dirinya yang melepaskan Kiara begitu saja dahulu, tanpa memperjuangkan cintanya kepada Kiara. Dewa berniat melupakan cintanya kepada Kiara, tetapi dirinya telah gagal.


Hari-harinya terasa begitu membosankan bagi Dewa. Sampai pada hari dirinya bertemu lagi dengan gadis pujaan hatinya itu. Hari-hari yang membosankan berubah menjadi kesenangan untuknya.


Benih- benih cinta yang dahulu dia lenyapkan mulai tumbuh dan bersemi kembali.


"cepat berpakaian yang rapi.... aku akan menjemputmu." itulah bunyi SMS Dewa kepada Kiara.


Kiara membulatkan matanya setelah membaca SMS tersebut.


Dirinya begitu bingung harus membalas apa, tetapi pasti Dewa memaksa kalau Kiara tidak mau menuruti kemauannya.


Kiara memutuskan mengiyakan ajakan Dewa, dia menganggap ini adalah kali pertama dan terakhir untuknya, setelah itu dia bertekat untuk tidak lagi mau berurusan dengan Dewa lagi.


Kiara terlihat begitu cantik sore ini, dia menggunakan dress warna merah muda selutut dengan high heels yang netral, tidak lupa dia membubuhkan riasan yang membuat dirinya terlihat sangat innocent dan cetar, dengan rambut yang dibiarkan teruai.



Ini adalah jalan-jalan sore atau boleh dibilang kencan pertamanya dengan seorang laki-laki.


Mobil mercedes Benz milik Dewa telah parkir di depan rumah Kiara dan Kiara buru-buru keluar dan menghampiri Dewa.


Dari kejauhan Dewa begitu terpana melihat Kiara. Kecantikan bak miss universe sukses membuat Dewa terhipnotis, sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa Kiara telah masuk ke dalam mobilnya.


"Dewa.. Ayo jalan katanya mau pergi?" teriakan Kiara menyadarkan dirinya dari lamunannya.


Mobil berwarna putih itu melesat di jalan raya yang sedikit lengang sore itu. Di dalam itu terlihat Dewa yang sesekali melirik ke arah Kiara, dan ketika Kiara melirik ke arahnya, dia berpura- pura melihat ke depan.



Dewa memilih memakai kaos panjang yang bergaya casual, dipadukan dengan celana jens dan sepatu sneaker.


Dewa mengajak Kiara berkeliling ibu kota dan terakhir dia mengajak Kiara ke taman kota.


Disana dirinya banyak bercerita dengan Kiara, dan Kiara terlihat hanya menjadi pendengar setia.


Dan sampailah dimana dia mencoba mengutarakan perasaannya untuk yang kesekian kalinya kepada Kiara.


Dewa tidak mau kehilangan kesempatan untuk menakhlukkan bidadari cantik yang kini bersamanya itu. Tanpa berpikir panjang dan bertele-tele, Dewa membuka kotak berisi cincin berlian yang sangat indah dan kemudian mengutarakan niatnya untuk melamar Kiara, menjadikan Kiara wanita satu- satunya dalam hidup Dewa.


Dewa berharap Kiara bisa menjadi pendamping hidupnya selamanya, hingga maut memisahkan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2