
Sambil termenung Dewa memandangi sebuah album foto yang berisi foto-foto istrinya Vita, Dewa merasakan kerinduan yang teramat sangat terhadap mendiang istrinya itu. Walaupun sudah setahun lebih Vita telah meninggalkan Dewa, tetapi perasaan Dewa kepada Vita tetap sama.
Tidak terasa air mata Dewa sudah mengalir tanpa dia sadari kapan jatuhnya.
Kemudian Jasmine menghampirinya karena dia merasa tidak bisa tidur, sebelum papanya membacakan cerita untuknya.
Walaupun Jasmine belum bisa membaca, tetapi dia sangat menyukai buku bacaan yang berisi tentang Dongeng penghantar tidur.
" Pa.... Jasmine nggak bisa tidur... " Rengek Jasmine.
Melihat anaknya datang, Dewa kemudian menutup album foto yang sedari tadi di lihatnya, dan menyeka air mata yang sudah membasahi pipinya itu segera.
" Emmm... kenapa ni anak papa nggak bisa tidur?... pasti mau di bacain dongeng dulu ya ..sama papa? " Tanya Dewa yang terlihat begitu gemas dengan putri kecilnya itu.
Jasmine hanya menjawab dengan sebuah anggukan, tanda dia memang ingin dibacakan dongeng oleh Dewa.
Dengan penuh kasih sayang, Dewa membacakan dongeng penghantar tidur untuk Jasmine, dan tidak butuh waktu yang lama, jasmine mulai tertidur pulas.
Melihat putri kecilnya sudah tidur, kemudian Dewa keluar dari kamar Jasmine.
Perasaan Dewa saat ini sedang berkecamuk, bagaimana dia bisa merasa tenang, kalau dirinya belum bisa mewujudkan keinginan terakhir mendiang Istrinya itu.
Tetapi Dewa juga tidak mungkin bisa melaksanakan wasiat dari Vita, karena itu mustahil untuknya.
Dewa semakin gelisah dengan hal itu, Sampai-sampai dirinya selalu dihantui perasaan bersalah, karena belum juga memenuhi wasiat dari sang istri.
...***...
Sudah 3 tahun kematian Vita, tetapi Dewa tetap saja belum bisa memenuhi wasiat sang istri.
Kemudian dia tengah kegundahan hatinya dirinya memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang ustadz, perihal tentang wasiat mendiang istrinya itu.
Dewa menceritakan semua masalah yang selama 3 tahun ini menjadi beban dalam hidupnya.
Ustadz itupun menyarankan agar Dewa memberi makan kepada anak-anak yatim selama 3 bulan, untuk mengganti wasiat istrinya itu, karena tidak mungkin bagi Dewa menikahi Kiara yang telah bersuami.
Dewa begitu lega, karena beban yang selama ini dia simpan, akhirnya bisa terlepas juga.
Hari demi hari Dewa lalui dengan kegembiraan, karena walaupun dirinya adalah ayah tunggal, tetapi Jasmine tidak kurang kasih sayang sedikitpun.
Disisi lain Hubungan Kiara dan Arman kian merumit, setelah Kiara mengalami keguguran setelah dirinya dinyatakan hamil 2 bulan oleh dokter.
Karena itu, hubungan dirinya dengan sang suami kian memburuk. Setelah dirinya dinyatakan bahwa mengalami kesulitan untuk mengandung karena adanya masalah dengan rahimnya.
Kiara masih punya peluang untuk hamil lagi, tetapi itu sangatlah kecil. Rahim Kiara dinyatakan lemah dan walaupun dia hamil, akan sulit baginya mempertahankan kehamilannya itu.
Arman terlihat sering menghabiskan waktu di luar rumah, karena tugasnya sebagai pemilik salah satu perusahaan ternama di ibukota.
Arman sebenarnya tidak pernah memasalahkan anak, ada ataupun tidaknya seorang anak, Arman masih tetap mencintai Kiara dengan sepenuh hatinya.
Tetapi tidak untuk Kiara, karena merasa dirinya tidak bisa membuat Arman bahagia, Kiara terlihat sangat frustasi dengan apa yang telah menimpa dirinya itu, Kiara malah sengaja membuat hubungannya dengan Arman terasa jauh.
Kiara berharap Arman akan mau berpoligami untuk sekedar mendapatkan anak, karena Arman adalah anak satu- satunya sofia dan Wisnu orang yang cukup terpandang di kota ini.
Kiara merasa dirinya jauh dari kata sempurna, maka dari itu Kiara berusaha membujuk Arman supaya mau menikahi perempuan lain agar biasa mendapatkan anak untuk meneruskan garis keturunan dari keluarga Arman.
...***...
Arman terlihat sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi, kemudian Kiara mendekati Arman.
" Sayang... aku mau bicara sama kamu."
Kiara memulai pembicaraan.
"Kamu mau ngomong apa sayang.." Tanya Arman.
" Aku pengen kamu menikah lagi!" Jawab Kiara.
" Sayang... aku kan udah pernah bilang sama kamu kalau aku nggak akan menikah lebih dari satu kali.. oke!" Jelas Arman kepada Kiara.
" Tapi aku mau kamu nikah lagi Sayang!" Paksa Kiara lagi.
" Kiara sayang..... aku nggak bakal nikah lagi, dan simpan saja ide gilamu itu!" Jawab Arman lagi.
__ADS_1
" Aku kasian sama mami dan papi kamu sayang. . terlihat kesedihan di mata mereka, karena mereka belum bisa punya cucu.... dan aku nggak bisa mewujudkan keinginan mereka." Kiara mulai frustasi dengan sikap Arman.
"Pokoknya aku nggak akan tidak lagi... ada tidak adanya Seorang anak .. aku bakal setia sama kamu sampai kapanpun... bila perlu sampai kematian menjemputku Kiara.." Tegas Arman sekali lagi.
Melihat kekukuhan sang suami dalam menjaga perasaan hatinya, Kiara merasa sangat tersanjung, akan tetapi kesedihan juga dirasakannya, karena dirinya tidak akan bisa memberi seorang cucu untuk kedua orang tua Arman.
Perasaan sedih bercampur haru Kiara rasakan, karena dirinya tahu kalau sang suami sangat mencintainya.
Disisi lain Kiara ingin membuat orang tua Arman bahagia dan disisi lain juga,
dirinya merasa sedih bila Arman sampai menikah lagi.
Kiara terlihat lebih kurus dari sebelumnya, karena dirinya hampir tidak menyentuh nasi sama sekali, karena terlalu stress dengan tekanan kehidupan yang kini dia jalani.
Arman sangat mencintai istrinya, karena itulah dirinya tidak menggubris permintaan Kiara yang diangganya terlalu bodoh itu.
Dengan telaten Arman selalu mengingatkan Kiara untuk tidak terlalu memikirkan tentang anak, dan lebih menyuruh Kiara untuk menjaga kesehatannya saja.
...***...
Hari itu Arman mendapat kabar bahwa anak perusahaan miliknya yang berada di Singapura mengalami masalah yang cukup serius, dan mengharuskan dirinya terjun langsung untuk menangani masalah tersebut, agar tidak semakin kacau nantinya.
Arman tampak sedang bersiap-siap akan pergi ke Singapura untuk urusan bisnis, dan Kiara pun sebelumnya telah mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa oleh suaminya ke sana.
" Sayang hati-hati ya .... semoga urusan di sana lancar dan kamu juga cepat pulang ya! ". Pinta Kiara
" Iya sayang makasih udah selalu ada buat aku, dan satu hal yang harus kamu tahu... Aku sangat mencintaimu Kiara...". Sahut Arman.
Kiara kemudian menghantarkan suami tercintanya sampai ke depan rumah, dan Kiara mencium punggung tangan suaminya itu.
Armanpun tak kalah romantis, Dia memeluk sang istri dan kemudian mencium keningnya.
Mobil yang di tumpangi Arman melesat ke bandara, karena dirinya Harus lekas sampai di sana, agar tidak tertinggal pesawat.
Sudah satu minggu Arman berada di Singapura dan Hari ini Arman akan pulang untuk bertemu dengan istri tercinta.
Terlihat Arman membawa banyak oleh-oleh dari negara Singa tersebut untuk istrinya.
Kiara berencana akan menjemput Arman di bandara karena Pesawat yang Arman tumpangi akan sampai pada pukul 15.00 WIB.
Kiara kemudian bergegas pergi ke bandara untuk menjadi orang pertama yang akan menjumpai suaminya itu.
...***...
Sudah setengah jam Pesawat Arman terlambat tiba di bandara, Kiara terlihat sangat panik dan gelisah.
Kiara masih setia menunggu Arman, hingga dirinya rela berjam-jam berdiri di gate kedatangan di bandara.
Sudah lama menunggu, tetapi Arman tidak kunjung hadir.
kegelisahan nampak bersarang di benaknya.
dirinya terlihat modar-mandir menunggu Arman datang.
Kiara melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, tetapi Arman belum terlihat juga.
Kemudian Kiara menjumpai stasion pusat informasi di bandara, dan bertanya perihal keterlambatan pesawat yang di tumpangi sang suami.
Terlihat orang sedang berlalu lalang dalam kepanikan masing-masing, Kiara begitu heran karena tidak biasanya semua petugas bandara sesibuk itu.
"Mbak... permisi saya mau tanya pesawat jurusan Singapura kenapa belom tiba ya mbak...?Tanya Kiara kepada salah seorang staf Airport information.
" Mbak maaf sebelumnya,Pesawat dari Singapura yang seharusnya tiba pukul 15.00 WIB, tidak terlihat di radar.... dan sudah di konfirmasi bahwa pesawat itu mengalami kecelakaan dan semua tim penyelamat sedang menuju ke TKP mbak..." Jawab seorang salah satu staf tersebut.
Seperti gemuruh yang menyambar hati Kiara, dan tidak menyisakan apapun lagi.
Kiara terhuyung dan jatuh pingsan seketika itu juga.
kemudian dirinya dibawa ke pusat pelayanan medis yang ada di bandara, dan di sana dirinya mendapat penanganan.
Setelah kurang lebih 30 menit di dalam, Kiara mulai sadar dan seketika itupun Kiara menangis sejadi-jadinya.
Dia belum percaya dengan apa yang sudah terjadi dengan suaminya itu.
Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa, Kiara beranjak dari bandara untuk pulang ke rumahnya.
Kiara berteriak histeris setelah sampai di kediaman sang mama, Nadia yang melihat Kiara tiba-tiba menangis kemudian bertanya dengan sang anak.
" Sayang... kamu kenapa nak..? Tanya Nadia kepada anaknya.
__ADS_1
" Mas Arman ma....... " Jawab Kiara dengan suara isakan tangis yang semakin menjadi- jadi.
" Sayang... kamu tenang dulu ya.. bilang sama mama, apa yang terjadi sama suami kamu nak?" Tanya Nadia lagi.
" Mas ....Arman kecelakaan ma... pesawatnya jatuh dan belum di temukan jenazahnya ma..."
Jawab Kiara yang terlihat sangat terpukul dengan peristiwa yang merenggut nyawa suaminya, Arman.
Nadia berusaha membuat anaknya tegar, dan dirinya selalu berada disisi Kiara, tanpa meninggalkan Kiara sedetikpun.
Kiara dan Nadia mendapat kabar bahwa sebagian korban pesawat naas itu telah berhasil di evakuasi.
Kiara ditemani Nadia kemudian bergegas menuju rumah sakit, untuk memastikan apakah Arman ada di antara korban yang telah di temukan tersebut.
Kiara terlihat sedang berada di kamar jenazah korban pesawat yang jatuh itu, dirinya mengamati satu persatu jenazah yang berada di kamar jenazah itu.
Dirinya berhenti dan mengenali cincin yang di kenakan salah seorang jenazah yang berada di depannya itu, dan benar saja itu adalah jenazahnya Arman.
Akibat terbakarnya badan pesawat tersebut, membuat identitas para korban sulit untuk di identifikasi.
" Mas Arman..... "Teriak kiara, yang kemudian terlihat kembali pingsan tidak sadarkan diri lagi.
Melihat hal yang sangat mengerikan telah menimpa menantunya, Nadia tidak bisa menahan tangisnya.
Tangis Nadia pecah beriringan dengan Kiara yang tidak sadarkan diri selama satu jam lebih, dirinya kemudian di larikan di UGD untuk mendapat perawatan.
Nadia tidak sedetikpun meninggalkan sang anak yang kini telah berjuang dari keterpurukannya.
...***...
Setelah dipastikan bahwa jenazah tersebut adalah jenazahnya Arman, Pihak rumah sakit kemudian mempersiapkan Jenazahnya untuk di pulangkan dan kemudian di makamkan.
Suara isak tangis terdengar dimana- mana, semua yang menyaksikan proses pemakaman Mendiang Arman terlihat sedih dan tidak percaya bahwa Arman sudah tiada.
Kiara menangis sejadi- jadianya, dan memeluk pusara sang suami yang masih basah itu.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu, merasa sangat iba dengan musibah yang telah menimpa Kiara beserta keluarga besarnya Arman.
Orang tua Arman yang tak kalah terpukul seperti halnya yang di rasakan Oleh Kiara, terlihat menguatkan sang menantu, untuk mencoba mengikhlaskan kepergian anaknya, Arman.
" Nak.... kamu harus ikhlas sayang... Arman sudah tenang di sisinya, Doakan dia selalu nak... agar Arman bisa tenang menghadap Allah SWT." Ucap Sofia ibunda Arman.
Kiara semakin tak bisa membendung tangisnya, dan dia terlihat memeluk mertuanya itu.
Suasana haru biru menyelimuti acara pemakaman Arman, dan semua pelayat terlihat sudah meninggalkan tempat pemakaman itu, satu persatu mereka telah pulang, dan hanya menyisakan Kiara beserta keluarga besar Arman saja.
...***...
Sebagian dari jiwanya telah pergi bersama dengan kematian Suaminya, Arman.
Kiara terlihat menatap nanar ke atas langit-langit kamarnya yang hanya di terangi oleh pantulan cahaya lampu dari luar rumahnya, yang masuk ke kamarnya melalui celah-celah ventilasi.
Sudah hampir sepekan semenjak kepergian Arman, Kiara belum menyentuh makanan sedikitpun. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan seperti tidak terusus.
Wajah cantik Kiara yang biasanya dihiasi senyuman yang membuat hati terasa damai ketika senyuman itu tersungging manis di wajahnya, kini hanya bak wajah sesosok mayat hidup yang terlihat sangat pucat dan memprihatinkan.
Nadia sangat sedih melihat anak semata wayang itu seperti tidak terlihat hidup lagi.
Raga Kiara jelas masih berada di sampingnya, tetapi jiwa Kiara entah dimana keberadaannya.
Seolah telah kehilangan separuh dari dirinya, Kiara yang sekarang ini lebih terlihat seperti Zombie.
Tidak ingin melihat anaknya terus seperti itu, Nadia berinisiatif mengajak Kiara untuk tinggal di Bandung, tempat tinggal Eyang dan Opa Kiara dulu sebelum mereka meninggal.
Rumah mereka masih di rawat oleh asisten rumah tangga dan tukang kebun, yang memang di pekerjakan oleh Nadia, untuk menjaga rumah peninggalan orangtuanya itu.
Sengaja dia tidak menjual rumah tersebut, karena rumah itu memiliki banyak kenangan untuk Nadia dan juga Kiara.
Awalnya Kiara sempat menolak ajakan sang mama, tetapi akhirnya dia setuju untuk pergi ke rumah mereka yang ada di Bandung.
Nadia berharap suasana di sana dapat membuat Kiara kembali ceria seperti sebelumnya.
Karena Nadia sangat tahu seberapa berharganya rumah itu bagi Kiara dan juga dirinya.
Nadia berencana untuk tinggal di Bandung lebih lama dari biasanya, Biasanya dia dan Kiara pergi ke sana hanya untuk berlibur saja, dan mereka biasanya tinggal di sana hanya beberapa hari saja.
Kalau Seandainya tinggal di Bandung bisa membuat Kiara menjadi lebih tenang, maka Nadia tidak segan untuk menetap di sana dalam jangka waktu yang cukup lama.
Nadia tidak khawatir tentang usahanya yang apabila dia tinggalkan, akan mengalami kebangkrutan, karena baginya kebahagiaan Kiara itu lebih penting dari apapun.
__ADS_1