
Keesokan harinya, Azam terbangun lebih dulu. Dia memandang istrinya dengan penuh kasih. Rasanya begitu berbunga-bunga ketika melihat Stella dari jarak sedekat ini.
Itu masih pukul 03.00 dini hari, sebelum turun dari ranjangnya lelaki itu menyempatkan diri mencium kening sang istri yang masih tertidur.
Dia segera mandi wajib dan menyiapkan air hangat untuk Stella.
“Sayang, ayo bangun. Sudah mau memasuki waktu subuh, mandi dulu hm” Azam membangunkan istrinya pelan.
“Eungh” Stella meleng*h, merasa tidur nyenyaknya terusik, dia membuka matanya.
Indah. Satu kata yang mampu menggambarkan pemandangan di hadapannya sekarang. Azam dengan wajahnya yang berseri, tersenyum sembari membangunkan dirinya.
“Tidak ada sesuatu yang lebih indah untuk dinikmati kecuali menatap wajah istri dari jarak sedekat ini” Sahut Azam, membuyarkan lamunan Stella.
“Mandi dulu, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu” Ucap Azam.
“Loh, mas Azam sudah mandi?” Tanya Stella, matanya terbelalak sempurna saat menyadari bahwa suaminya sudah rapi dengan setelan baju koko-nya.
“Sudah” Jawab Azam singkat, masih belum melunturkan senyum manis itu dari wajahnya.
Tatapan matanya pada Stella terlihat begitu teduh dan syahdu. Mungkin tatapan itu akan menjdi candu bagi Stella hingga nanti nanti dan nanti.
“Mas, maafkan aku. Harusnya aku yang menyiapkan ini untukmu” Ucap Stella, merasa bersalah karena merasa dirinya kurang baik mengurus suaminya.
Azam mengelus surai hitam Stella, “Tidak apa sayang. Kau pasti lelah kan? Lagipula ini hanya hal yang sederhana hm” ucapnya.
“Terimakasih, mas” Sahut Stella.
Azam mengangguk, “Ya sudah, segera mandi lalu sholat subuh jama’ah. Aku menunggumu”
Stella pergi untuk membersihkan tubuhnya.
Selepas sholat subuh bersama, sekarang Stella akan fokus memperbaiki hafalan Juz 30-nya dibantu oleh Azam. Lalu menyiapkan setelan untuk sang suami dan berakhir di dapur menyiapkan sarapan.
Tapi, ini adalah hari Minggu. Kemarin, di hari Sabtu dihabiskan Azam dengan bekerja dan berakhir menghabiskan malam indah dengan istrinya. Hari ini dia ingin menghabiskan waktu dengan istrinya saja.
Stella dan Azam memang sudah sepakat, untuk sarapan tidak perlu yang berat-berat. Biasanya hanya nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang, kadang juga bubur ayam atau bubur kacang hijau, bisa juga omelet, sandwich atau jika ada waktu Stella akan memasak sesuatu yang istimewa, seperti soto, nasi pecel, atau udang asam manis. Intinya, Stella menyaipkan sarapan untuk Azam dengan berbagai menu yang berbeda setiap harinya, agar lelaki itu tidak bosan makan dirumah.
__ADS_1
Begitulah setiap pagi keluarga kecil mereka dibentuk dengan harmonis setiap hari, tidak banyak drama dan yang terpenting saling membantu dan melengkapi.
“Masak apa hari ini, sayang?” Tanya Azam pada istrinya, dia baru saja turun dari kamar utama, baju koko-nya sudah berganti menjadi setelan santai. Kaos putih polos dan celan pendek berwarna cream. Terlihat sangat tampan di mata Stella. Pasalnya, Azam selalu menggunakan pakaian yang semi formal. Kadang menggunakan kemeja panjang atau kaos panjang selanjutnya hanya sarung sebagai bawahannya, menunjukkan karisma anak pondoknya.
“Orak-arik bunga kol dan bakso, mas” Jawab Stella.
Wanita itu dengan sigap membantu Azam menyiapkan sarapannya, mengambilkan nasi misalnya, “Segini cukup?” tanya Stella, menunjukkan satu centong nasi yang sudah berada di piring.
Azam mengangguk, “Cukup” jawabnya.
Lelaki itu menyantap masakan istrinya dengan lahap, tidak buruk karena istrinya selalu mau belajar hal-hal baru jadi, semakin hari kreativitas Stella dalam memasak, semakin meningkat.
“Ah, andaikan aku selalu bisa pulang untuk makan siang di rumah. Apa kau keberatan? Sepertinya aku lebih suka masakanmu daripada masakan yang disediakan di kantor” Sahut Azam setelah menghabiskan sarapannya hingga tandas, tidak tersisa satu nasi pun di piringnya.
Stella terenyuh dengan ucapan Azam. Jelas-jelas makan siang yang disediakan di perusahaan Azam bukanlah sembarang catering, Azam sendiri yang memilih menunya bahkan memperhitungkan keseimbangan gizi di dalamnya.
Tapi, apa kali ini? Lelaki itu meminta untuk menyantap makanan miliknya saja? Pikiran Stella melanglang buana, ada satu sisi dirinya yang merasa begitu bahagia.
“Aku dengan senang hati akan membuatkan makan siang untukmu jika kau mau. Tapi, bukankah makan siang yang disediakan kantor cukup lezat mas?” Jawab Stella diakhiri dengan pertanyaannya.
“Iya tapi, tidak selezat jika masakan itu dibuat dengan cinta” Jawab Azam.
“Kalau begitu, mulai besok aku akan pulang untuk makan siang dan kembali untuk bekerja” Lanjut Azam.
“Aku akan mengirimnya untukmu mas. Kadang, kesibukan membuatmu bahkan tidak bisa menikmati makan siang. Aku pun selalu ada waktu untuk pergi ke kantor jika kau mengizinkannya” Ucap Stella lembut.
Tidak ada lagi Stella yang angkuh, wanita itu kini sudah menjadi wanita idaman lelaki muslim. Meski masa lalunya kelam, wanita itu berhasil membuktikan kepada dunia, bahwa itu bukanlah penghalang seseorang untu berubah, istiqamah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
“Boleh saja asal diantar dengan supir keluarga di pondok pesantren. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke kantor sendirian” Ucap Azam.
Ya itu dia, Stella mana mungkin meminta supir keluarga di pondok datang hanya untuk memgantarkannya pergi ke kantor Azam?
“Emm mas? Itu akan merepotkan beliau. Bagaimana jika menggunakan kendaraan umum saja? Ojek atau taxi misalnya?” Jawab Stella, sedang bernegoisasi dengan sang suami.
“Boleh asal supirnya perempuan. Aku tidak mengizinkan jika itu laki-laki. Aku terlalu menyayangimu” Ucap Azam, mulai menunjukkan sikap protektifnya kepada sang istri.
Stella pun hanya diam sambil tersenyum, “Ternyata begini rasanya begitu dilindungi dan disayangi” gumamnya pelan.
__ADS_1
“Ya sudah, aku mau membereskan ini dulu. Kita lanjutkan nanti perihal itu” Ucap Stella, dia berdiri membersihkan piring lalu membawanya ke tempat cuci piring.
Azam dengan sigap membantu istrinya, bahkan sampai membantu Stella menyapu dan membersihkan rumah.
Tepat pukul 08.30, pekerjaan rumah selesai. Lebih cepat daripada ketika Stella mengerjakannya sendirian.
“Mas, kenapa tidak istirahat saja hm?” Tanya Stella. Mereka sedang berada di ruang tengah, duduk bersantai sambil melihat televisi yang sedang menayangkan sebuah series kartun kesukaan anak-anak.
“Ini aku sudah beristirahat, dengan istriku” Jawab Azam santai.
Lelaki itu dengan tenangnya tidur di pangkuan istrinya sambil memainkan ujung tali gamis yang kenakan Stella, persis seperti anak kecil.
“Maksudnya ketika aku bersih-bersih rumah tadi, kenapa tidak bersantai saja hm? Kan itu sudah menjadi tugasku sebagai ibu rumah tangga, mas” Sahut Stella.
Mendengar hal itu, Azam segera duduk dan menatap Stella hangat.
“Selain dari bertanggung jawab menafkahimu, aku juga memiliki peran ganda untuk membantumu dalam urusan rumah. Itu dianjurkan dalam Islam sayang, mungkin itu juga salah satu caraku menyayangimu.
Ada suatu masa dulu, dari hadist Ashwad yang bertanya kepada Siti Aisyah perihal kebiasaan Rasulullah SAW jika sedang bersama keluarganya. Beliau bertanya, ‘Apa yang Rasulullah SAW lakukan ketika sedang bersama dengan keluarganya?’ saat itu Aisyah menjawab, ‘beliau biasa membantu pekerjaan di rumah. Jika telah tiba waktu sholat, beliau berdiri dan segera berangkat sholat’.
Intinya begini sayang, suami yang membantu pekerjaan istrinya adalah suatu akhlak mulia, salah satu contoh meneladani Rasulullah SAW”
Seperti biasa, Azam menjelaskan hal itu kepada sang istri dengan bahasa yang mudah dimengerti, sekaligus dengan contohnya.
“Jadi, tidak perlu merasa ‘oh ini tugasku sepenuhnya’ karena aku pasti akan membantumu jika memang aku bisa melakukannya tapi, juga tidak boleh meremehkan tugas-tugas utamamu sebagai seorang istri” Ucap Azam.
Stella mengangguk paham.
Azam dengan jahilnya mendekati sang istri, hingga wanita itu terpojok di sandaran sofa.
“Seperti melayani suamimu. Itu juga tidak boleh ditolak jika kau sedang tidak berhalangan” Sahut Azam dengan suaranya yang dalam.
“M-Maaass” Gumam Stella, dia tau kemana arah pembicaraan Azam.
Lelaki itu menaik turunkan alisnya, menggoda Stella dengan senyum maut dan juga tatapannya yang begitu intens.
“Ada apa sayang?” Jawab Azam, suaranya terdengar serak, menahan gair*hnya yang mulai naik.
__ADS_1
“Ini masih pagi loh” Ucap Stella, mengingatkan suaminya.
“Maaf sayang tapi, aku tidak bisa menunggu sampai nanti malam” Sahut Azam lalu menci*m bibir manis istrinya.