
Pagi ini, lagi-lagi di meja makan sudah tersedia makanan untuk sarapan. Tidak masalah bagi Stella, karena itu cukup membantu pekerjaannya, apalagi di usia kandungan yang sudah memasuki trisemester kedua.
Tapi, ada satu hal yang membuat Stella kurang nyaman. Yaitu, ketika melihat di area belakang bajunya juga baju milik Azam sudah dijemur sempurna bercampur dengan baju milik Viona. Masalahnya buka itu tapi, siapa yang mencuci sedangkan kemarin Stella dan Azam sama sekali tidak menyentuh cuciannya.
“Kau yang mencuci pakaian itu?” Tanya Stella pada Viona.
Viona hanya tersenyum sambil mengangguk, “Tadi pagi selepas sholat tahajud, aku cuci baju sendiri tapi, melihat di keranjang baju kotor juga ternyata banyak. Aku jelas kasian dengan dirimu dan suamimu, ini juga seharusnya menjadi tanggung jawabku sebagai asisten rumah tangga” ucapnya, memberi alasan yang lagi-lagi masuk akal.
“Boleh saja, asal tidak dengan pakaian dalamnya begitu. Aku tidak nyaman jika ada orang lain yang menyentuh barang-barang yang menempel pada suamiku. Terlebih, kau seharusnya tidak memiliki hak untuk melihatnya apalagi mencucinya. Ada baiknya tidak perlu sampai sejauh ini. Lakukan saja tugas-tugas yang sudah kita sepakati di awal” Ucap Stella, tentu dengan tutur katanya yang baik.
Saat itu Stella lagi-lagi mencoba untuk sabar dan mengerti situasi. Salahnya juga tidak mau Viona di ungsikan oleh Azam.
“Hmm, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukaimu” Jawab Viona lalu melenggang pergi.
“Apa sudah aku bilang?” Gumam Azam, lelaki itu langsung beranjak, “makanlah. Aku akan sarapan di kantor, cukup kemarin aku menyantap makanannya, pastikan nanti siang atau nanti malam kau yang memasak untukku” lanjutnya lalu pergi diikuti dengan wajah sendu Stella.
“Hati-hati di jalan mas” Ucap Stella, seperti biasa kalimat itu selalu terucap untuk suaminya ketika pamit untuk bepergian.
“Baik-baik di rumah, hubungi aku jika ada apa-apa” Jawab Azam, mengecup puncak kepala Stella.
Meskipun suasana di meja makan tadi sedikit kurang hangat, tidak membuat keduanya berubah satu sama lain.
“Iya mas”
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” Pamit Azam sembari mengelus perut istrinya yang mulai membesar.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Sahut Stella.
Setelah kepergian Azam, Stella masuk ke rumahnya, kembali ke meja makan tapi, ternyata sudah dibereskan oleh Viona.
“Oh, Stella. Aku kira kalian tidak suka dengan masakan yang aku buat jadi, aku membereskannya” Ucap Viona dengan wajah tanpa dosa.
__ADS_1
Padahal, tadi Stella sudah mengambil nasi beserta lauk pauknya, hanya saja dirinya sedang mengantar Azam ke depan.
“Kemarin, aku minta maaf. Aku diminta suamimu untuk membuatkan kopi karena kau tidak kunjung datang padanya” Ucap Viona membuka percakapan.
“Suamiku tidak pernah melakukan hal seperti itu, Viona. Aku percaya dengannya” Sahut Stella dengan senyumannya yang mengembang sempurna.
“Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu” Ucap Stella, wanita itu pergi ke dapur untuk mengambil beberapa buah juga membuat susu hamil untuk dirinya sendiri lalu kembali ke kamarnya.
Tidak banyak percakapan di antara Stella juga Viona hari itu, hingga akhirnya sore hari menyapa. Rupanya Stella ketiduran setelah sholat dzuhur, dia tidak memasak apapun, lupa dengan suaminya karena sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.
Wanita itu turun membawa gelas dan juga sisa buah-buahannya tadi. Dia melihat masakan baru disana.
“Viona?” Panggil Stella.
Dengan segera Viona datang, ternyata wanita itu sedang mengambil jemuran di belakang rumah.
“Ada apa, Stella?” Tanya Viona setelah sampai di depan Stella.
“Oh itu tadi suamimu pulang tapi, tidak mendapati makan siang di meja jadi, aku memasak untuknya, mau membangunkanmu juga kasihan” Ucap Viona.
“Cemburu terhadap pasangan itu merupakan hal yang wajar bukan, Viona?” Tanya Stella.
Viona pun mengangguk sebaai jawaban.
“Imam Al-Ghazali mengutip sejumlah hadist untuk bersikap wajar dan proposional dalam cemburu terhadap pasangan, ‘Proporsional dalam cemburu yaitu tidak abai terhadap prinsip-prinsip yang dikhawatirkan terjadi kerusakan dan tidak berlebihan dalam berburuk sangka, berlebihan mencari kesalahan dan mengintai rahasia-rahasianya. Rasulullah SAW melarang kita untuk menyidik rahasia pasangan’. Begitu yang tertulis dalam hadist riwayat Thabarani. Jadi, apa menurutmu aku terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki cemburu sehingga kau sanggup menggantikanku dalam melayani mas Azam?” Ucap Stella, tenang. Pembawaan wanita itu, sama sekali tidak menggebu-gebu.
“Aku kira kau sudah terbiasa dan percaya terhadap diriku” Sahut Viona, “kalau begitu maafkan aku” lanjutnya.
Stella melihat jam, menunjukkan pukul 16.00, dimana itu adalah jam sang suami pulang. Dengan segera Stella pergi ke kemarnya untuk membersihkan diri, tanpa menggubris ucapan Viona.
Setelah bersih-bersih, dia berdandan seadanya lalu turun untuk menyambut sang suami. Tapi, kenyataan yang ia lihat justru tidaklah senang untuk ia lihat.
__ADS_1
Ia melihat Viona berdiri di depan pintu ketika Azam masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum” Ucap Azam.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab Viona, wanita itu hendak menyalami Azam tapi, jelas itu di tolak mentah-mentah oleh Azam.
“Dimana Stella?” Tanya Azam dingin.
“Stella tadi sedang tidur, dia menyuruhku untuk menyambut kepulanganmu, bahkan juga mengambil jemuranmu dan Stella yang berisi barang-barang rahasia kalian itu” Jawab Viona.
Stella bisa melihat sendiri bagaimana kebohongan itu meluncur dengan lancar dari bibir seseorang yang sudah ia anggap sebagai teman baiknya.
Dengan segera, Stella turun tanpa mempedulikan apapun. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun rasanya.
“Sesungguhnya pangkal dari dosa adalah kebohongan” Ucap Stella sembari berjalan mendekati mereka.
Sontak, Viona langsung menolehkan kepalanya, “Loh, aku kira kau tidur” ucapnya seperti tanpa dosa.
“Rasulullah SAW tidak mentolerir suatu kebohongan kecuali dalam tiga perkara satu, untuk kebaikan. Dua, dalam keadaan peran dan tiga, suami membohongi istri serta istri membohongi suami demi menyenangkan pasangannya. Jadi, masuk di kategori mana kebohonganmu bisa aku tolerir, Viona?” Tanya Stella.
Saat itu, Viona hanya diam sedangkan Azam malah asik melihat bagaimana istrinya meluapkan emosinya pada Viona.
“Dalam hadist radiyallahu anhu menjelaskan perihal tanda-tanda orang munafik yang dimaksud adalah perihal dusta, baik dengan perkataannya maupun perbuatannya. Tanda pertama yaitu dusta dalam perkataannya, tanda kedua dusta dalam amanahnya dan tanda ketiga adalah dusta dalam janjinya. Bukankah kau merasa jika kau sudah melakukan ketiganya sekarang” Tanya Stella.
Lagi-lagi Viona hanya diam, entah tidak mau atau memang tidak mampu untuk menjawab perkataan dari Stella.
“Berikutnya, Imam Bukhari juga mengatakan perihal ancaman yang akan di dapat seorang pendusta saat di akhirat nanti, yaitu mulutnya akan disobek sampai ke telinga, karena mulutnya itu lah yang menjadi lahan dari kemaksiatan” Lanjut Stella.
Tidak berniat menggurui, hanya saja wanita itu ingin Viona sadar atas apa yang ia lakukan.
“Bukankah kau yang menyuruhku untuk melakukan pekerjaan rumah, bahkan sampai melayani suamimu?” Ucap Viona, bahkan wajahnya saat itu terlihat sangat tidak berdosa, seolah apa yang ia katakan adalah benar adanya.
__ADS_1