Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Pondok Lailatul Qadar


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian itu, Stella mendapat kabar bahwa Viona sudah tiba di kota asalnya dan bekerja menjadi salah satu staff di sebuah café.


Itu cukup membuat Stella senang, karena tandanya Viona masih mendengarkan ucapannya tempo hari.


Hari ini, rencananya Stella dan Azam akan berkunjung ke pondok pesantren. Sudah rindu dengan suasana pondok setelah beberapa bulan tidak kesana karena kesibukan yang melanda perusahaan Azam.


“Mas, kenapa nama pondoknya adalah pondok lailatul qadar?” Tanya Stella ketika masih berada di perjalanan menuju pondok.


“Itu karena pondok itu dibuka pada awal malam lailatul qadar jadi, dibukanya ketika sudah memasuki bulan ramadhan waktu itu. Di samping dari waktunya, malam lailatul qadar juga merupakan sebuah malam yang penuh dengan kemuliaan.


Dimana malam itu adalah malam yang penuh dengan keberkahan, seperti yang tertulis dalam surat Ad-Dukhan ayat 3-4, ‘Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam yang diberkahi. Dan sesungguhnya Kam-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah’.


Malam lailatul qadar juga merupakan malam yang baik, lebih baik dari 1000 bulan. Menurut beberapa ulama, yang dimaksud dari 1000 bulan ini adalah sholat dan amalan pada lailatul qadr lebih baik daripada sholat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar di dalamnya. Dalam penafsiran itu, 1000 bulan berarti sama dengan 83 tahun 4 bulan. Sebagaimana juga yang sudah tertulis dalam surat Al-Qadr ayat 3, ‘Malam qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan’.


Dan yang terakhir, malam lailatul qadar adalah malam keselamatan yang tidak bisa diganggu setan. Dalam surat Al-Qadr ayat 5, ‘malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar’. Dimana itu bermakna malam lailatul qadar penuh keselamatan, dimana setan tidak bisa berbuat apa-apa di malam tersebut, baik berbuat jelek maupun mengganggu yang lain.


Jadi, diharapkan pondok pesantren lailatul qadar ini juga nantinya akan menjadi pondok yang penuh dengan keberkahan dan keselamatan seperti namanya”


Begitu jawaban yang di dapat oleh Stella dari Azam. Sangat jelas dan tidak mungkin menimbulkan kebingungan bagu Stella.


“Hari ini kak Maryam dan Zidan juga akan kembali ke pondok” Ucap Azam.


Sudah menjadi kebiasaan untuk keluarga Azam, jika sudah mendekati bulan ramadhan begini, mereka pasti akan menyambut ramadhan bersama-sama.


Ya, kurang lebih beberapa hari lagi seluruh umat Islam akan memasuki bulan suci ramadhan. Dimana pada ramadhan tahun itu adalah ramadhan pertama untuk Stella. Selain dari dirinya yang tidak pernah melakukannya sejak kecil, itu juga ramadhan pertamanya dengan suami dan juga buah hati yang masih ada di dalam perutnya.


Mobil Azam memasuki pekarangan pondok pesantren. Seperti biasa, dia langsung menuju ke kediaman abi dan umi.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” Ucap Azam dan Stella, memasuki ruang tamu disana.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab umi Fatimah, berjalan sedikit cepat menyapa seseorang yang tengah datang berkunjung.


“Loh, kalian sudah datang?” Ucap umi Fatimah, sedikit berlari kecil karena saking kangennya dengan putra kedua dan juga menantunya.

__ADS_1


Umi Fatimah terlihat menjewer telinga Azam, “Dasar anak nakal, siapa yang mengajarimu tidak pulang beberapa bulan ha? Apa kau tidak berpikir bahwa abi dan umimu merasa rindu?” omel umi Fatimah.


Azam pun hanya tertawa ringan, selain dari suka dengan uminya yang terlihat menggemaskan ketika marah, juga karena jeweran yang diberikan umi Fatimah sama sekali tidak terasa apa-apa untuk Azam.


“Duduk dulu” Ucap umi Fatimah, mempersilahkan Azam dan Stella duduk di ruang tamu.


“Abi dimana, umi?” Tanya Azam.


“Ada di dalam, sedang istirahat” Ucap umi Fatimah dengan tenang.


Azam pun hanya mengangguk, tidak menemui ayahnya karena takut mengganggu.


Azam dan Stella tiba memang sudah sore hari jadi, tidak heran jika suasana kota yang sedikit ke pinggiran itu begitu sejuk dirasa. Kemungkinan Maryam dan Zaidan akan tiba malam hari, mengingat mereka berangkat dari luar kota.


“Mas, aku jadi ingin jalan-jalan” Ucap Stella pada sang suami ketika sudah selesai menunaikan ibadah sholat ashar bersama.


Mereka akhirnya jalan-jalan di sekitar pondok, dimana Stella saat itu memang belum pernah sama sekali keliling di pondok tersebut, hanya sekedar singgah di tempat abi dan umi.


Tenang, satu kata yang mungkin bisa diungkapkan oleh Stella ketika melewati bangunan-bangunan disana. Ini letaknya ada di pinggiran kota, dimana suasananya pasti jauh dari hiruk pikuk ramainya aktivitas kota.


Ah iya, tentang Erlangga yang katanya ingin mencari guru ngaji untuk sang ibu, dia malah mendapatkan guru sekaligus menantu untuk ibunya. Stella tersenyum simpul saat mengingat hal itu.


“Ada apa sayang?” Tanya Azam ketika melihat sang istri tiba-tiba tersenyum, sedangkan di antara mereka tidak ada percakapan apapun.


“Allah SWT selalu punya caranya sendiri untuk mempertemukan jodoh ya, mas? Aku bersyukur sekali dipertemukan denganmu” Ucap Stella.


Azam saat itu hanya tersenyum sembari menggandeng tangan sang istri.


Di belakang pondok, Stella disajikan keindahan alam yang asri. Pepohonan dan tumbuhan yang rindang begitu menyenangkan hati Stella.


“Masyaallah tabarakallah” Gumam Stella.


“Rabbana maa khalaqta hadzaa baa subkhaa naka faqinaa ‘adzaa bannaar” Gumam Azam.

__ADS_1


Stella yang mendengar hal itu tentu saja langsung menoleh pada Azam, menuntut penjelasan karena dirinya sama sekali belum pernah mendengar doa itu dilantunkan.


“Itu adalah doa ketika kita melihat keindahan alam, sayang, ‘Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha suci Engkau dan lindungilah kami dari adzab api neraka’. Itu ada di surat Ali Imran ayat 191”


Stella pun mengangguk. Satu hal lagi yang membuat Stella begitu kagum dengan sosok Azam, yaitu bagaimana cara lelaki itu menuntunnya pelan-pelan dan mengajarinya dengan sabar tanpa merasa dirinya lah yang paling benar.


“Sayang sekali jika pepohonan ini harus tandas karena orang-orang yang serakah dengan dunia, kadang membangunnya dengan hal-hal tidak berguna” Ucap Stella, matanya sama sekali tidak lepas dari pemandangan alam yang tersaji di hadapannya.


“Itu semua tergantung dari orang-orang itu sendiri, sayang. Ada yang bertanggung jawab dengan lingkungan, ada pula yang acuh dengan hal itu. Ini hanya perihal kesadaran diri masing-masing.


Allah SWT telah mempercayai kita untuk menjaga lingkungan, dimana ada suatu saat malaikat malah meragukan kita. Itu juga telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 30, ‘Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : ‘Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi’. Lalu para malaikat berkata : ‘Mengapa engkau hendak menjadikan khalifah di bumi? Itu adalah orang-orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’, setelah itu Tuhan berfirman : ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’'


Apa kau tau? Meskipun aku sudah bekerja di kota tapi, dulu aku selalu pulang kesini. Bukan karena aku tidak bisa membeli rumah atau sekedar menyewa sebagai tempatku beristirahat tapi, disinilah ketenangan yang aku dapatkan. Suasana yang tidak ramai, ketenangan dan juga kesejukan selalu ada disini, jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang semakin gila” Ucap Azam, menceritakan bagaimana kehidupannya sebelum menikah.


“Apa kau menyesal sudah pindah ke kota setelah menikah?” Tanya Stella, pikirannya jadi melambung tinggi akan hal itu.


“Tidak, itu karena ada kau bersamaku” Jawab Azam.


Banyak santri yang melihat mereka berdua disana, ada yang menggeram iri, ada pula yang menatap dengan kagum. Berita yang beredar beberapa bulan lalu, luluh lantah saat melihat perubahan dari istri Azam itu.


“Oh iya mas, aku mau bertanya perihal puasa ketika hamil. Bagaimana hukumnya?” Tanya Stella.


Saat ini mereka sudah duduk di antara luasnya rumput hijau disana, memandang gunung yang menjulang di hadapan mereka.


“Hukum puasa bagi ibu hamil ya? Ibu hamil diperbolehkan untuk tidak berpuasa jika khawatir atas dirinya sendiri maupun khawatir terhadap anak yang ia kandung. Nah, untuk ibu hamil yang tidak berpuasa di bulan ramadhan dengan alasan itu, maka wajib baginya untuk meng-qadha atau mengganti hari-hari selama dirinya tidak berpuasa.


Ada satu kondisi lagi, dimana ibu hamil wajib meng-qadha puasa dan wajib membayar fidyah adalah ketika dia hanya khawatir dengan kondisi kandungannya. Hal itu dijelaskan dalam Hasyiyah al-Qulyubi, ‘Perempuan hamil dan menyusui ketika tidak berpuasa karena khawatir pada dirinya sendiri atau khawatir dengan dirinya dan janin mereka maka, wajib meng-qadha puasanya saja tanpa perlu membayar fidyah, seperti halnya orang-orang yang sakit.


Sedangkan jika hanya khawatir dengan janinnya saja, maka wajib meng-qadha puasa sekaligus membayar fidyah menurut qaul al-Adzar’.


Dimana fidayah-nya ibu hamil adalah 1,5kg di setiap takar. Jadi, jika misalnya saja kau tidak berpuasa selama 30 hari maka, 1,5kg dikali dengan 30 takar. Fidyah ini boleh dibayarkan kepada 30 orang fakir miskin yang berbeda atau boleh diberikan kepada beberapa orang saja, misalnya untuk 2 orang fakir miskin, dimana masing-masing mendapat 15 takar. Sudah mengerti nona Wijaya?” Ucap Azam, mengakhiri kalimatnya dengan menggoda Stella.


Saat itu juga wajah Stella jadi merah menahan malu, “Kau senang sekali menggodaku” gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2