Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Hari ke Dua di Madinah


__ADS_3

Bersama dengan rombongan, Stella dan Azam berangkat menuju makam Baqi.


Seperti yang dikatakan Azam, makam Baqi adalah salah satu destinasi yang berada di Madinah dan selalu dikunjungi oleh jamaah umroh dari berbagai macam negara. Disanalah makam keluarga dab sahabat Rasulullah SAW disemayamkan.


Mereka sudah berada di sisi timur masjid Nabawi dan tidak jauh dari sana ada sebuah pagar tinggi berwarna hijau.


“Itu adalah pagar makam Baqi, sayang” Bisik Azam pada Stella.


Sebelum masuk ke dalamnya, mereka sudah disuguhi oleh sebuah poster besar dimana disana berisi tata cara ziarah yang ditentukan oleh pemerintah Arab Saudi. Saat memasuki pemakaman tersebut, Stella merasakan perbedaan antara makam-makam disana dan juga makam-makam yang biasa ia lihat di negaranya.


Wanita itu hanya melihat hamparan pasir dan batu hitam yang diletakkan di atas dan dibawah makam, tidak ada penanda atau nama di atas batu-batu hitam itu. Jika di Indonesia, mungkin itu adalah batu nisan. Tapi, pada masa dahulu kala kan memang belum ada batu nisan. Sepertinya, tempat itu hanya dibenahi sekitarnya tanpa merusak ke-alamian yang ada sejak zaman Rasulullah SAW dulu.


“Dulu, katanya ada sahabat Rasulullah SAW yang bernama As’ad bin Zurarah, beliau merupakan salah satu golongan anshar, kaum yang menerima hijrah dari Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, beliau adalah orang pertama yang dikuburkan disana.


Ada pula sahabat nabi yang lain yang dikuburkan disana, salah satunya Utsman bin Mazh’un, Rasulullah SAW memerintahkan para penebang pohon untuk menebang pohon-pohon tertentu demi menguburkan Utsman bin Mahz’un, Beliau memerintahkan merek untuk menguburkan sahabatnya dan menaruh dua batu di atas kuburannya” Azam menjelaskan pada istrinya perihal itu. Padahal sudah ada pemandunya tapi, Stella seolah bingung. Jadi, Azam menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh istrinya itu.


“Apa orang-orang yang meninggal di Madinah akan dikuburkan disini?” Tanya Stella.


“Ya. Lebih dari 10.000 sahabat Rasulullah SAW yang dimakamkan disini. Katanya, mereka yang dikuburkan disini akan dimuliakan oleh Allah SWT. Itulah sebabnya orang-orang tidak takut atau khawatir jika mereka meninggal di Madinah” Jawab Azam.


Stella menganggukkan kepalanya, mengerti.


Melakukan ziarah seperti pada umunya, sampai memasuki waktu dzuhur dan mereka menuju masjid Nabawi untuk melakukan sholat dzuhur berjamaah.


Stella begitu menikmati sensasi yang ia rasakan disana, meskipun cuacanya sedang panas tapi, Stella merasa teduh. Kemegahan dan juga kemewahan yang disajikan membuat siapapun betah berada disana.


Stella ingat penjelasan Azam, “Masjid Nabawi itu arsitekturnya sangat canggih karena ia dibuat dengan teknologi yang semakin maju. Tidak hanya di dalamnya, bahkan sampai pada halamannya, semuanya disusun dengan baik dengan teknologi”


Masjid Nabawi adalah bangunan yang memiliki banyak kubah, “Ada 27 kubah sayang”, begitu yang diingat Stella ketika menjelaskan perihal masjid Nabawi padanya tempo hari.


Ada payung-payug yang sengaja dipasang agar jamaah dapat terlindungi dari paparan cuaca panas maupun hujan. Katanya, payung-payung itu dapat terbuka secara otomatis dan Stella menunggu hal itu.


Di dalam masjid nabawi pun ada banyak titik-titik bersejarah untuk seluruh umat muslim, salah satunya ada makam nabi Muhammad SAW.


Di dalam masjid nabawi juga ada dua mihrab, ceruk setengah lingkaran, terletak di depan masjid untuk menentukan arah kiblat. ada mihrab tahajjud dan mihrab fatimah. Indah, sangat indah menurut Stella. Berulangkali dia mengatakan, “Masyaallah tabarakallah” di dalam hatinya.


Ada keunikan lain yang didapati Stella disana, dimana ada ada satu kubah yang terbuka di atas masjid, mempertontonkan indahnya langit siang itu.

__ADS_1


Mereka melakukan ibadah sholat dzuhur, ashar, maghrib bahkan sampai maghrib menyapa pun mereka sholat berjamaah disana.


Lalu melanjutkan perjalanan ziarah ke makam Rasulullah SAW dan sholat di Raudhah dalam masjid nabawi.


Malam itu, selain berdoa untuk orang tuanya, Stella pun berdoa agar dosa-dosanya serta dirinya dan keluarga suami selalu diberi kesehatan dan keselamatan dunia akhirat.


Dalam diam, Stella menangisi masa lalunya. Entah kenapa, itu seolah menjadi kecacatan dalam hidupnya sekarang.


...***...


“Sudah sayang, jangan menangis lagi ya” Ucap Azam, menenangkan istrinya.


Mereka sudah perjalanan kembali ke hotel.


Tidak ada yang bisa Azam lakukan, selain dari karena memang suasananya sedang ramai, pun Azam tidak biasa mengatasi suasana hati wanita yang kadang suka berubah-ubah.


Seperti Stella ini, tadi tersenyum senang, setelah sholat di rudhah dia menangis sesenggukan tidak henti-henti.


“Sayang, dengarkan aku. Orang-orang melihat kita sejak tadi, nangisnya nanti lagi ya di dalam kamar” Bisik Azam pada istrinya.


Saat itu juga Stella tiba-tiba melirik suaminya dengan tajam, “Kalau tidak mau menemaniku ya sudah pergi saja, jauh-jauh dari aku” ucap Stella dengan nadanya yang terdengar kesal.


“Mas, istrinya lagi hamil ya?” Tegur seseorang yang tidak jauh dari mereka.


Azam dan Stella sontak menoleh, “Tidak kok mbak” jawab Stella.


Bagaimana mungkin dia hamil sedangkan dia baru selesai haid beberapa waktu lalu?


“Oh, maaf mbak. Saya kira mbaknya sedang hamil, soalnya mood-nya cepat sekali berubahnya. Lebih baik coba testpack lagi, siapa tau hasilnya positif” Ucap mbak-mbak itu.


Stella dan Azam tentu saja langsung saling pandang, bergelut dengan pemikiran masing-masing.


“Baru tadi bu Sri mendoakan aku, apa secepat itu doanya terkabul?” Gumam Stella, merenungi percakapannya tadi dengan wanita paruh baya itu.


Mengingat bu Sri, Stella menoleh kesana kemari, mencari letak wanita yang sempat ia tolong tadi.


“Fokus dengan jalannya, sayang. Jangan menoleh kesana kemari begini, nanti kalau jatuh bagaimana?” Ucap Azam, mengingatkan istrinya.

__ADS_1


“Ya mas Azam yang menangkap. Kalau tidak ditangkap ya aku terjatuh dan terjerembab ke bawah” Sahut Stella enteng.


Azam pun hanya tersenyum dan merangkul istrinya gemas.


“Baiklah nona Wijaya, biar aku yang merangkulmu begini agar kau tidak terjatuh” Ucap Azam.


Stella malu dengan sebutan nona wijaya yang disebutkan oleh Azam tadi.


“Jangan menggodaku,mas” Sahut Stella.


Saat tiba di lift, Azam baru teringat ucapan wanita tadi, “Ke kamar dulu ya, sayang. Aku mau ke supermarket sebentar” Ucap Azam.


“Mau ngapain?” Tanya Stella, kali ini dengan nada manja.


“Beli testpack” Bisik Azam yang sanggup membuat Stella terbungkam.


“Mas percaya dengan wanita tadi?” Tanya Stella.


“Apa salahnya mencoba, sayang? Siapa tau benar-benar positif, bukankah itu baik?” Jawab Azam.


Stella berpikir sejenak, menatap suaminya yang sedang menaik turunkan alisnya, “Ya sudah, hati-hati” ucapnya memberikan izin kepada sang suami.


Azam pun segera menekan tombol turun untuk membawanya kembali ke lantai dasar setelah memastikan Stella selamat sampai di kamar.


Tidak lama, hanya membeli testpack, lalu lelaki itu kembali ke kamarnya.


“Syaang, coba dicek” Ucap Azam sembari memberikan alat tes kehamilan itu pada istrinya.


Dengan ragu, Stella membawa benda itu ke kamar mandi.


Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya hasil yang di tunggu-tunggu keluar.


“Bagaimana sayang?” Tanya Azam, menghampiri Stella degan sedikit tergesa-gesa.


Stella menunjukkannya pada Azam sambil tersenyum.


“Garis dua, positif maas” Jawab Stella.

__ADS_1


Segera setelah itu, Azam memeluk istrinya dan menghujani Stella dengan kecupan di seluruh wajahnya, dimulai dari bibir, pipi kanan dan kiri, selanjutnya di kening dengan durasi sedikit lama.


“Terimakasih, Stella” Ucap Azam.


__ADS_2