Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Madinah I'm Coming


__ADS_3

Azam dan Stella sedang berkemas, seperti yang dikatakan Azam tempo hari, mereka akan berangkat umroh besok. Stella sudah sibuk packing untuk check out dan menyiapkan segala sesuatu yang mereka perlukan selama dua minggu berada di kota suci itu. Ya, malam ini mereka sudah check in hotel di pusat kota agar tidak terlambat datang besok.


“Aku masih tidak percaya bahwa ini nyata adanya” Gumam Stella sembari memasukkan beberapa baju ke dalam koper.


“Besok sudah berangkat, daripada memikirkan hal-hal yang begitu, lebih baik istirahat sayang” Sahut Azam.


Lelaki itu baru selesai mandi, malam-malam begini memangnya siapa yang mandi jika bukan Azam dan Stella?


“Iya, mas” Jawab Stella, dia menutup resleting kopernya lalu beranjak ke ranjang menyusul suaminya.


“Sudah selesai kan?” Tanya Azam.


Stella mengangguk lalu Azam segera memeluk istrinya dan mengecup pelan kening Stella, “Selamat malam” ucapnya.


Tanpa menjawab, Stella hanya semakin mengeratkan pelukannya.


Hingga pagi menjelang, Stella dan Azam menunaikan ibadah subuh bersama lalu bersiap. Stella juga masih sempat membuatkan sarapan untuk Azam meskipun itu hanya sereal dan satu botol susu.


“Sudah siap ya, sayang? Yakin tidak ada yang ketinggalan?” Tanya Azam, memastikan bahwa ketika mereka berangkat, sama sekali tidak ada satu pun barang yang tertinggal.


“Insyaallah sudah mas” Jawab Stella.


Mereka akhirnya langsung berangkat menuju bandara, menggunakan seragam yang disediakan oleh panitia. Azam sengaja memilih perjalanan bersama, dia jelas ingin berbaur dengan orang-orang, itu terasa lebih menyenangkan daripada harus melakukan perjalanan pribadi, seperti yang biasa dilakukan keluarganya.


Tepat pukul 06.00, mereka sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta, menuju titik kumpul yang sebelumnya sudah diberitahu panitia. Tidak banyak drama, karena memang Azam sudah memperhitungkan semuanya dengan baik.


Rencananya mereka akan pergi selama 12 hari. Itu pun sebenarnya Azam ingin sekali menambah waktu disana tapi, apa boleh buat? Pekerjaannya bisa menumpuk jika terus ditinggal, “Jika pekerjaanku menumpuk maka, aku harus lembur. Jika aku lembur maka, waktu bersamamu akan kurang dan jika itu terjadi, aku rasa aku tidak akan sanggup” begitu kata Azam ketika menjelaskan jadwal mereka selama 12 hari kepada Stella.

__ADS_1


Di bandara, Stella bertemu banyak orang-orang baru dan berasal dari berbagai kata. Ada yang berangkat seorang diri, ada pula yang berangkat bersama pasangannya, bahkan ada yang berangkat lengkap dengan keluarga mereka. Itu begitu menyenangkan untuk dilihat bagi Stella.


“Seandainya papa dan mama masih ada, pasti aku akan mengajak mereka kesana. Sayangnya, ketika mereka pergi aku masih gadis pendosa yang jauh dengan Tuhan” Gumam Stella pada dirinya sendiri.


Tidak terasa, matanya sudah mengembun kala mengingat kedua orang tuanya. Dimana Stella belum sempat membahagiakan mereka.


“Sayang, papa dan mamamu sudah tenang di alam mereka. Nanti disana, doakan saja mereka agar ditempatkan di sisi terbaik Allah SWT ya? Jangan bersedih hm” Ucap Azam menenangkan istrinya.


Stella pun mengangguk sembari mengusap air matanya yang sempat luruh.


“Mas, menjamak sholat itu bagaimana?” Tanya Stella.


Wanita itu bingung karena sebelumnya tidak pernah melakukan sholat yang dijamak seperti yang sekarang akan dilakukan mereka.


“Sholat jamak itu artinya mengumpulkan dua sholat fardhu yang dilakukan dalam satu waktu. Ini merupakan salah satu keringanan yang diberikan oleh Allah SWT, sayang.


Pertama, ketika perjalanan jauh. Menurut beberapa ulama, dengan jarak minimal 81km. Kedua, bukan dalam perjalanan menuju kemaksiatan. Misalnya, sedang ingin mencuri tapi, sebelum mencuri dia sholat dulu dengan menjamak sholat tersebut, kan jelas tidak pantas. Dan yang ketiga ketika dalam keadaan sakit.


Begini ya niatnya nanti, ‘ushollii fardlu dzuhri arba’arakaatin mustaqbilal qablati majmu’an bilashri jam’a taqdhiimin lillaahita’alaa’, karena kita mengerjakannya di waktu dzhuur jadi, masuk ke dalam kategori jamak takdim”


Pukul 12.00, setelah melakukan breefing dan sholat dzuhur berjamaah, mereka akhirnya berangkat menuju Jeddah.


Selama perjalanan, Stella terus berdzikir menggunakan tasbih digital yang selalu ia gunakan di setiap waktu. Jadi, setiap ada kesempatan, dia akan mulai berdzikir, menyebut nama Allah dalam sepinya.


Tiba-tiba dia teringat dengan percakapannya bersama Maryam dulu.


“Mas?” Panggil Stella.

__ADS_1


Stella menatap suaminya yang juga sedang menatapnya, “Ada apa?” tanya Azam.


“Kak Maryam pernah bercerita padaku, apa ini pesawat milikmu? Kado dari rekanmu?” Tanya Stella.


Azam hanya tersenyum, “Terlepas dari ini milikku atau bukan, yang terpenting kita sampai di tujuan dengan selamat, okey?” Ucap Azam. Tidak mau menjelaskan dengan detail pertanyaan dari Stella.


“Aku kan cuma ingin tau, mas” Ucap Stella.


Azam menghela napasnya pelan, “Iya. Sudah ya, segitu saja taunya. Jangan bertanya lebih dari ini” ucapnya.


Stella pun mengangguk dengan senyumnya. Dia melihat seisi pesawat, memang seperti pesawat pada umunya tapi, yang membuat Stella kagum adalah suaminya lah sang pemilik dari pesawat yang ia tumpangi kini.


Hingga tidak terasa, kurang lebih pukul 18.00 WSA, Stella, Azam dan jamaah yang lainnya sudah tiba di Jeddah dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Madinah menggunakan bus yang sudah bekerja sama dengan pihak agensi yang di daftar oleh Azam.


Jarak antara Jeddah ke Madinah sekitar 450 menter, dimana itu bisa mencapai 5 jam perjalanan menggunakan bus. Jalannya bebas hambatan, mulus dan rata, tidak ada hambatan sama sekali. Disana mereka juga langsung diberi nasi kotak untuk makan malam.


Menurut Stella, bus yang saat itu membawanya terasa begitu lenggang dan nyaman. Di tengah perjalanan, mereka mampir sebentar ke masjid dan mengisi bahan bakar, juga memberikan kesempatan kepada orang-orang jika sekedar ingin ke kamar mandi.


Bahkan setelah sampai di hotel pada tengah malam pun, Stella masih bertanya-tanya pada suaminya, “Mas, ini serius kita sudah di Madinah?” pertanyaan itu berulang-ulang dikatakan Stella dengan matanya yang berbinar senang.


“Iya sayang. Kita sholat isya dulu ya. Besok perjalanan kita akan sedikit padat jadi, persiapkan dirimu dengan baik, harus istirahat dan makan yang cukup. Kau masih kenyang? Atau sudah lapar lagi? Aku bisa memesankan makanan jika kau mau” Ucap Azam.


Stella pun menggeleng, “Tidak mas. Aku masih kenyang. Tadi itu sudah cukup, besok saja lagi ketika sarapan” Jawab Stella.


Mereka akhirnya melakukan sholat isya berjamaah di kamar masing-masing. Karena hari sudah sangat larut disana, Stella hari itu dibebaskan dari hafalan Al-Qur’annya.


Memang mereka baru tiba sekitar pukul 00.00, belum lagi tadi harus check in hotel dulu. Itu saja sudah menguras waktu sebenarnya. Jadi, Azam lebih mementingkan kesehatan istrinya dan juga dirinya. Selama 12 hari ke depan, mereka akan sibuk di tanah suci itu, bukan hanya untuk beribadah tetapi juga mengenang peninggalan-peninggalan zaman Rasulullah SAW.

__ADS_1


__ADS_2