Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Puncak Kesabaran Stella


__ADS_3

“Kau sedang berdusta tentang diriku, Viona? Bahkan dalam surat An-Nahl ayat 105 juga sudah dijelaskan, ‘Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan itu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah SWT dan mereka itulah orang-orang pendusta’. Bukankah kau sedang melakukannya?” Ucap Stella lagi.


“Untuk apa aku berbohong? Kau sendiri yang mempercayaiku tentang apa yang ada di rumah ini, bukankah itu berarti kau juga mempercayakan dirimu sekalipun dengan suamimu padaku?” Ucap Viona.


Wanita itu ternyata salah paham dengan apa yang diucapkan Stella tempo hari. Ketika itu, Viona sedang membersihkan rumah dan beberapa kali bertanya kepada Stella, “Apa aku boleh memegang ini?” - “apa aku boleh membersihkan ini?”


Pertanyaan seperti itu terus berulang, sehingga Stella menjawab, “Aku percayakan semua yang ada disini untukmu”


Dimana itu berarti, Stella mempercayai Viona perihal kebersihan rumah ini padanya.


“Kau terlihat salah paham dengan ucapanku dan lagi kau banyak berdusta sejak kemarin. Apa yang kau inginkan sebenarnya?” Sahut Stella.


Viona menatap Stella dengan berani, seolah mengeluarkan dirinya yang asli setelah tadi bersembunyi di balik topeng yang ia gunakan.


“Bukankah dunia ini tidak adil, Stella?” Viona mendekat ke arah wanita yang notabennya adalah atasannya itu.


“Jangan mendekati istriku” Ucap Azam, menghalangi Stella untuk berada di belakang tubuh tegapnya.


“Lihat? Ketika menjadi pel*cur, kau mendapat klien-klien besar dimana itu juga pasti akan berpengaruh pada uang yang kau dapatkan. Lalu, setelah tidak lagi menjadi wanita penghibur, kau menikah dan memiliki suami yang begini sempurnanya, kau bahkan menjadi nona Wijaya yang terhormat setelah menjadi pelac*r kelas rendahan. Bukankah nasibmu selalu baik?” Ucap Viona dengan mata yang menyala-nyala dengan amarah.


“Ya, aku memang tidak sebaik dirimu, Stella. Tapi, bukankah aku dan Stella tidak ada bedanya, Azam?” Tanya Viona pada Azam, wanita itu mendekat pada lelaki yang bukan mahramnya.


“Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu” Sahut Azam saat Viona ingin menggapai lengannya.


Cih


Stella jijik sekali melihatnya, wanita yang sedang mengandung itu akhirnya menukar lagi tempatnya dengan Azam, dimana sekarang dirinya lah yang berada di hadapan Azam.


“Apanya yang tidak ada bedanya?” Ucap Stella.

__ADS_1


Viona tersenyum sedikit, “Aku dan kau sama-sama menjadi pelac*r dulu dan sekarang aku pun mencoba untuk menjadi sebaik dirimu. Bukankah tidak masalah jika misal aku juga menginginkan suamimu untukku?”


“Ah, rupanya Viona kita yang cantik ini ingin menjadi seorang pelakor. Tapi, maafkan aku Viona, rupanya suamiku tidak tertarik untuk melakukan poligami apalagi sampai mengganti statusku sebagai nona Wijaya di rumah ini” Jawab Stella dengan tenang.


Justru ketenangan itu yang membuat Viona jadi aik pitam, seolah tidak ada ketakutan sedikit pun di wajah Stella. Niat hati ingin membakar hati Stella hingga bertengkar dengan suami, rupanya strateginya salah.


“Dosa besar jika kau mencoba untuk merusak rumah tangga sseorang. Bahkan Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang menipu dan merusak hubungan seorang hamba dengan tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka, ia bukanlah bagian dari kami’, itu jelas tertulis dalam hadist riwayat Abu Khurairah.


Kau bahkan sepertinya sedang proses mengompor-ngompori aku dan juga suamiku agar keluarga kami tidak harmonis. Ah, jahat sekali” Ucap Stella.


Viona sudah siap melayangkan tamparannya pada Stella tapi, jangan lupa jika Stella adalah wanita yang tidak kalah kuat dari Viona. Ya, wanita itu dengan cepat menangkap tangan Viona.


“Jangan lupa jika aku tidak pernah kalah darimu” Gumam Stella.


Wellcome, ini adalah Stella di masa lalu. Rasanya Stella kembali menjadi dirinya yang tidak lemah. Bukankah memang seharusnya begitu? Menghadapi seorang pelakor harus dengan berani, karena ketika kita menjadi lemah maka, itu hanya akan menjadi kesempatan bagi pelakor itu sendiri.


“Benar kata mas Azam, ada baiknya kau segera keluar dari rumah ini. Aku akan mengembalikanmu ke tempat asalmu, tentu dengan pengawasan sehingga kau tidak akan bisa kabur-kaburan” Ucap Stella dingin lalu menghempaskan tangan Viona cepat.


“Dari Ibnu Masud, Rasulullah SAW bersabda, ‘berkata benar jadikanlah kebiasaan bagimu, karena benar menurut kebaikan dan mengantarkan ke surga. Seseorang yang selalu berkata benar pasti ditentukan siddiq di sisi Allah SWT dan berhati-hatilah jika kau adalah seorang pendusta, karena dusta menimbulkan kejahatan serta akibatnya akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Seorang pendusta, akhirnya akan ditentukan sebagai pendusta di sisi Allah SWT’


Allah SWT juga berfirman pada surat Az-Zumar ayat 60, ‘Dan pada hari kiamat kau akan melihat orang-orang yang berbuat dusta kepada Allah SWT, mukanya menjadi hitam. Bukankah di dalam neraka jahannam itu adalah tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?’”


Stella menghembuskan napasnya kasar, masih tidak percaya bahwa seseorang yang dengan lantang ia sebut sebagai teman baiknya, hari ini ia panggil sebagai seorang pelakor karena telah mencoba merusak rumah tangganya.


“Apa kau sedang mengguruiku?” Tanya Viona, bahkan hatinya sama sekali tidak tergetar meskipun melihat Stella seperti hanya mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Jika ditanya tentang Azam? Lelaki itu hanya menjadi penonton, dia tau istrinya bisa mengatasi Viona dengan baik. Stella bukanlah tandingan yang seimbang untuk Viona.


“Dari sebuah hadist Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda ‘…Maka bertakwalah kepada Allah SWT dan tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram’.

__ADS_1


Resapi baik-baik kalimatku tadi, tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalan-Nya. Itu adalah pesan yang bisa aku sampaikan untukmu. Sekarang, kemasi barang-barangmu dan pergilah dari rumah ini. Tidak perlu khawatir dengan biaya rumah sakit ibumu, aku sudah menanggungnya sampai selesai” Ucap Stella lalu pergi diikuti oleh Azam, meninggalkan Viona seorang diri.


Viona pun hanya terdiam membeku disana. Apa yang dikatakan Stella tadi? Seluruh biaya pengobatan ibunya sudah ditanggung oleh Stella?


Hatinya runtuh begitu saja, entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Dia langsung pergi menuju kamarnya dan segera pergi dari rumah itu.


Viona berjalan seorang diri di trotoar, menangis dalam limbungnya langkah yang ia tapaki. Setiap perkataan Stella terus terngiang-ngiang di pikirannya.


Sedangkan di sisi lain, setelah memasuki kamar dan menutup pintu, Stella langsung merosot, menangis sesenngukan karena sudah melawan hatinya yang terasa begitu sakit.


“Sayang, tenangkan dirimu” Ucap Azam, membawa istrinya berdiri dan duduk di ranjang mereka.


“Tarik napas dan keluarkan perlahan. Ingat, ada seseorang lain dalam dirimu yang juga harus kau jaga kesehatannya” Ucap Azam, dia memeluk Stella bahkan juga mengecup beberapa kali kening wanitanya.


“Mas, kenapa dia jahat sekali?” Tanya Stella dengan suaranya yang parau.


“Dia hanya tidak terima dengan takdir yang ia miliki, mungkin seperti kurang bersyukur dengan apa yang ia terima” Jawab Azam.


Sebenarnya Azam sama sekali tidak ingin membahas Viona, menurutnya itu tidaklah penting. Stella sudah tidak ada kurangnya berbuat baik pada wanita itu tapi, dasarnya Viona saja yang memang tidak mau bersyukur mendapatkan teman sebaik Stella.


Azam sendiri juga sudah menjadi saksi, bagaimana Stella terus meminta tolong padanya untuk melihat bagaimana kondisi ibu dari Viona. Sampai akhirnya, Stella memutuskan untuk menanggung seluruh biaya pengobatan wanita paruh baya itu karena merasa iba dengan nasib yang diterima oleh teman baiknya.


Alih-alih membalas dengan kebaikan juga, rupanya Viona lupa siapa yan telah membantunya dari masa-masa buruknya.


“Jangan terlalu larut dalam kesedihan, itu tidak baik. Aku akan sangat merasa bersalah jika istriku menumpahkan air mata kesedihannya karena aku yang lalai dalam menjagamu” Ucap Azam, dia mengelus punggung Stella pelan, menyalurkan perasaan tenangnya untuk sang istri.


“Maafkan aku, mas. Seharusnya aku mendengarkan ucapanmu sejak awal” Sahut Stella, wanita itu akhirnya masuk ke dalam pelukan Azam, larut dalam rasa bersalahnya sendiri.


Dalam pikirannya selalu terlintas, ‘seandainya dulu aku mendengarkan mas Azam’ – ‘seandainya dulu aku tidak membawa Viona kemari’ – ‘seandainya aku tidak memberi banyak ruang untuk Viona’. Pikirannya dipenuhi dengan ‘seandainya’, ‘seandainya’ dan ‘seandainya’.

__ADS_1


“Tidak usah menyalahkan dirimu sendiri, ini adalah ujian dalam rumah tangga kita” Ucap Azam sambil terus memeluk istrinya.


__ADS_2