
“Bagaimana kabar kalian disana?” Tanya kak Maryam.
Saat ini Maryam juga Erlangga sedang melakukan panggilan video dengan umi Fatimah dan keluarga sekalian.
“Alhamdulillah, baik semua kak. Kak Maryam sendiri, sehat kan disana?” Jawab Stella.
Kedekatan kakak dan adik iparan ini memang tidak perlu diragukan, bukan?
“Alhamdulillah, baik. Bagaimana kehamilanmu? Sehat?” Tanya kak Maryam lagi.
“Sehat kak, alhamdulillah tidak rewel dedeknya” Jawab Stella lagi.
“Kau bisa minta apapun ke Azam jika nyidam sesuatu. Habiskan saja uang Azam sebisamu” Ucap Maryam, menggoda adiknya.
Seketika mereka semua tertawa, “Tidak perlu menunggu nyidam, aku pasti siap menghabiskan uangku untuk menyenangkan keluargaku. Apa kakak lupa siapa CEO Wijaya Group?” Jawab Azam, bercanda.
“Hahaha, tentu saja aku ingat” Jawab Maryam.
Keluarga itu terasa begitu hangat, meskipun terpisah oleh jarak, tidak mengurangi kasih sayang mereka satu sama lain.
“Umi, Maryam kemungkinan akan tiba di pondok besok” Ucap Maryam dari seberang sana.
“Umi tunggu ya, kira-kira datang jam berapa hm? ” Tanya umi Fatimah pada putri sulungnya.
“Mungkin sekitar siang hari, umi” Jawab Maryam sambil tersenyum senang.
__ADS_1
Umi mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti dengan jawaban putrinya.
"Kalian hanya berdua? " Tanya umi Fatimah lagi.
“Tidak umi, Erlangga juga memboyong keluarga. Erlangga juga belum pernah mempertemukan mereka pada umi, apa tidak merepotkan umi?” Jawab Erlangga sekaligus bertanya perihal keberatan atau tidaknya umi Fatimah dengan kehadiran keluarganya.
Umi Fatimah terlihat tersenyum sejenak, “Tentu saja tidak masalah, nak. Umi malah senang, rumah jadi terasa ramai” Ucapnya.
“Baiklah, terimakasih umi” Sahut Erlangga.
“Kalau begitu, Maryam pamit dulu ya, umi. Maryam dan mas Erlangga mau menemui tamu-tamu dulu” Pamit Maryam pada sang ibunda.
“Iya. Jaga Maryam baik-baik ya nak Erlangga” Ucap umi Fatimah, memberikan pesan kepada suami dari Maryam.
“Iya umi, insyaAllah Erlangga akan menjaga Maryam dengan penuh kasih sayang” Jawab Erlangga sopan.
Maryam tersenyum dengan kekhawatiran sang umi padanya, “Umi tidak perlu terlalu khawatir ya. Alhamdulillah Maryam bahagia dengan suami Maryam disini” Sahutnya.
“Umi percaya denganmu” Jawab umi Maryam, menunjukkan senyum terbaiknya. Sedikit kerinduan memang terbesit dipikirannya. Apalagi ketika Maryam dan juga Azam meninggalkan pondok. Belum lagi kepergian abi Daud yang membuat umi Fatimah merasa begitu kesepian.
Zaidan memang sering pulang ke pondok tapi, tidak jarang lelaki itu akan pergi ke luar kota, mengingat Zaidan juga merupakan direktur rumah sakit juga memiliki tanggung jawab dengan beberapa pasien yang harus dikontrol sesuai jadwal.
“Maryam tutup dulu ya, umi. Assalamu’alaikum” Pamit Maryam, akhirnya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab umi Fatimah dan yang lainnya bersamaan.
__ADS_1
Huh
Terdengar helaan napas berat umi Fatimah ketika layar ponsel di hadapannya menghilangkan wajah putri sulungnya.
“Umi, kak Maryam, Azam juga Zaidan tidak akan meninggalkan umi sendirian. Apapun yang terjadi, kami akan selalu ada bersama umi, meskipun memang beberapa dari kami kadang memiliki kesibukan, Azam pastikan kami akan sering berkunjung” Ucap Azam.
Lelaki itu tau bahwa uminya sedang tidak baik-baik saja. Dia bahkan bisa merasakan kesedihan sang umi hanya dari helaan napas yang dihembuskan. Seolah beban berat sedang coba ia keluarkan dari napasnya.
“Umi percaya dengan anak-anak umi. Kalian sudah dewasa, juga sudah memiliki rumah tangga dan kesibukan masing-masing. Umi tidak memiliki hak untuk mengatur kehidupan kalian, umi hanya memiliki hak dalam memberi kalian nasehat, ketika kalian sudah menikah, kalian sudah bukan lagi tanggung jawab abi dan umi, kalian memiliki kebebasan penuh untuk memilih” Ucap umi Fatimah sambil tersenyum.
Stella saat itu langsung memeluk umi Fatimah, “Umi ikut kami saja ya ke kota? Sekalian menemani Stella jika mas Azam sedang bekerja, Stella selalu merasa kesepian jika mas Azam tidak ada di rumah” Ucapnya.
Entahlah, itu sesuatu yang benar atau tidak. Pasalnya, Stella tidak membicarakannya dulu dengan sang suami sebelumnya.
Saat itu juga, Stella melihat Azam, meminta persetujuan dari sang suami. Sedangkan Azam hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum, menandakan dia setuju dengan sesuatu yang disampaikan oleh istrinya.
“Benar kata kak Stella, umi. Jangan mengkhawatirkan apapun, biarkan pondok ini diurus oleh kak Maryam juga kak Erlangga seperti perjanjian yang memang sudah tertera sebelum abi meninggal” Sahut Zaidan, menyetujui saran dari kakak iparnya.
Umi Fatimah terdiam, melihat anak-anaknya yang sepertinya baru kemarin ia gendong dan ia ajak bermain bersama. Sekarang, mereka sudah dewasa bahkan sudah bisa mengambil keputusan bersama.
“Nak, apa umi tidak akan merepotkan kalian?” Ucap umi Fatimah pada Stella dan Azam.
“Tentu saja tidak, Stella akan senang jika umi bisa menemani Stella di rumah. Stella juga bisa banyak belajar dari umi, entah itu belajar perihal agama, maupun yang lainnya” Sahut Stella sambil terus memeluk umi Fatimah.
“Terimakasih ya, nak” Ucap umi Fatimah.
__ADS_1
Senang sekali Azam juga Zaidan melihat kedua wanita itu berpeluk hangat. Bagaimana tidak senang, pernikahan Azam dan Stella saja dilakukan secara mendadak tapi, logat hasilnya? Pernikahan mereka berjalan dengan baik bahkan bisa samai di titik yang seperti ini.