Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Wali untuk Maryam


__ADS_3

Esok hari, Erlangga dan Maryam akan melangsungkan akad nikah di pondok pesantren, seperti yang dilakukan Azam dan Stella dulu. Tidak mewah dan hanya di hadiri oleh orang-orang tedekat dan juga dengan dekorasi serta pakaian seadanya.


“Pak Erlangga, apa anda yakin ingin meninggalkan semua bisnis bar anda?” Tanya Azam sekali lagi, memastikan bahwa ucapan yang disampaikan Erlangga kemarin bukanlah isapan jempol belaka.


“Apa kau tidak percaya dengan calon kakak iparmu ha?” Sahut Erlangga, “aku benar-benar akan meninggalkan hal-hal buruk itu, Azam. Wanita seperti Maryam tidaklah pantas bersanding denga seorang pendosa sepertiku tapi, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuknya” lanjutnya.


"Jika suatu hari nanti abi memintamu datang untuk mengurus pondok pesantren bersama dengan Kak Maryam, bagaimana?" tanya Azam.


"Aku akan datang dan mengurus pondok ini bersama dengan Maryam seperti yang diminta kyai Daud" Jawab Erlangga mantap.


Azam pun akhirnya hanya mengangguk.


Di tempat lain, Stella sedang bersama dengan umi dan calon pengantin wanita, Maryam.


Maryam dipoles sedikit oleh Stella. Ya, Stella yang saat itu bertugas memakaikan makeup untuk kakak iparnya itu. Berbekal ilmu kecantikan yang ia pelajari dulu, hasilnya tentu tidak akan buruk, bukankah dia dulu adalah seorang model? Hal yang cukup biasa baginya mengenakan alat-alat makeup.


“Kau harus mengajariku berdandan setelah ini, Stella” Ucap Maryam.


Dia mengagumi hasil karya Stella pada wajahnya.


“Tenang saja, kak. Aku pasti akan mengajarimu untuk bersolek di depan suami nanti. Kita bicarakan saja secara rahasia, okey” Goda Stella dengan satu matanya berkedip genit di depan cermin.


Hal itu tentu saja membuat umi Fatimah terkekeh geli, apalagi ketika digoda begitu wajah Maryam langsung memerah menahan malu.


“Nak, nanti ketika sudah ikut bersama dengan suamimu di luar kota. Umi minta untuk awasi adikmu juga ya, umi sangat mengkhawatirkannya. Dia anak bungsu umi yang masih meniti karir, pergaulan di luar sana pun begitu mengerikan. Umi hanya takut jika dia lupa dengan nilai-nilai agama ketika berada jauh dari abi dan umi” Ucap umi Fatimah pada Maryam.


Terlihat jelas gurat wajah kekhawatiran tercetak jelas dari wajahnya yang sudah menunjukkan tanda-tanda penuaan.


“Umi tenang saja ya, percaya dengan anak-anak umi. Pasti kami akan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang diajarkan oleh abi dan umi sejak kecil. Kami tidak mungkin melakukan hal-hal di luar batas” Jawab Maryam, menenangkan ibunya.


“Maryam dan Stella, berbahagialah dengan keluarga yang kalian bangun. Entah itu Erlangga atau pun Azam, lelaki itu ada dua hal yang harus di layani dengan baik. Satu perut dan yang kedua di bawah perut. Jika salah satunya tidak kalian layani dengan baik, tidak menutup kemungkinan lelaki akan meminta pelayanan lebih baik di luar sana.


Mau selelah apapun kalian, sebisa mungkin jangan pernah meninggalkan tanggung jawab kalian sebagai istri. Entah itu lelah karena mengerjakan pekerjaan rumah atau dengan kegiatan lain, jika suami pulang sambut mereka dengan baik, berdandanlah dengan rapi dan wangi agar mereka betah di rumah.


Sediakan makanan yang terbaik yang kalian bisa agar suami pun betah makan di rumah. Dan yang terakhir, layani mereka dalam urusan ranjang dengan baik pula, agar suasana hatinya tetap baik dan tidak memiliki pikiran meninggalkan kalian sebagai tempat mereka pulang”


Itu adalah pesan-pesan yang disampaikan oleh umi Fatimah kepada putri dan juga menantu perempuannya. Sangat terlihat ketulusan tercipta dari wajah wanita paruh baya itu.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


“Assalamu’alaikum umi, kak Maryam, mbak Stella” Suara seseorang di luar sana terdengar tidak asing di telinga mereka.


Dengan cepat mbak Deden, seorang pengurus pondok pesantren yang turut berada disana langsung membukakan pintu.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, mbak Khalisa” Jawabnya.


Khalisa pun masuk setelahdiberi izin oleh mbak Deden. Wanita itu langsung mencium tangan umi Fatimah sebagi sambutan kepada yang lebih tua.


“Kak Maryam jahat, kenapa menikahnya mendadak sekali hm? Tidak menunggu Khalisa dulu?” Ucap Khalisa.


Wanita itu juga menatap Stella dengan baik, tidak seperti awal pertemuan mereka dulu, “Mbak Stella juga bagaimana? Sudah isi belum? Aku menunggu ponakan darimu” sapanya sembari menaik turunkan alisnya jahil.


“Lebih baik kau saja segera menyusul dan buat ponakan yang kau inginkan itu sendiri” Sahut Stella.


Saat itu juga Khalisa langsung terdiam, wajahnya tidak bisa berbohong jika dia sedang malu. “Apakah ini yang dinamakan boomerang? Senjata makan tuan?” sahut Khalisa.


Mereka bercanda sejenak hingga akhirnya akad nikah akan dimulai. Di dalam ruangan itu, Maryam jantungnya sudah berdegup kencang tidak karuan. Meskipun bukan pernikahan yang pertama kali tapi, rasa gugupnya masih tetap sama.


“Umi, umi” Saat itu terlihat seseorang yang biasa bersama abi Daud, Soleh tiba-tiba masuk ke dalam ruang pengantin wanita dengan wajah yang luar biasa panik.


“Ada apa, Soleh? Kenapa masuk begitu saja tanpa permisi?” Tanya umi Fatimah.


“Maafkan saya umi tapi, kyai Daud tiba-tiba pingsan, dia sedang berada di kamarnya sekarang”


Deg


Jantung Maryam dan umi Fatimah rasanya berhenti berdetak begitu saja. Apa yang lebih menyakitkan dari seseorang yang kita sayangi tiba-tiba saja jatuh sakit?


Saat itu juga mereka bertiga bergegas menuju kamar abi Daud. Dengan rasa cemas dan kekhawatiran yang luar biasa.


“Ada apa, Zaidan? Kenapa abimu?” Tanya umi Fatimah setibanya di kamar miliknya itu,


Abi Daud terlihat terbaring lemah di atas ranjang, nafasnya pun terlihat tidak begitu beraturan.


“Sepertinya abi kelelahan dan banyak pikiran, umi. Mungkin karena tenaganya digunakan begitu banyak tapi, tidak memperhatikan pola makan dan istirahatnya dengan baik, akhirnya abi drop begini” Jelas Azam.

__ADS_1


Sebagai seorang calon dokter, tentu saja Azam memahami betul apa yang sedang abi-nya alami sekarang.


Saat itu, abi Daud terlihat membuka matanya perlahan. Dia melihat seisi ruangan sudah dipenuhi dengan anak dan menantunya. Erlangga dilarang datang karena memang membatasi lelaki itu bertemu dengan Maryam.


“Kalian sedang apa disini?” Tanya abi Daud.


“Tentu saja menunggu abi siuman” Jawab umi Fatimah.


Wanita itu seperti ingin menangis melihat suaminya terbaring seperti itu. Sejak dulu, meskipun sakit tapi, abi Daud tidak pernah sampai tumbang begini. Biasanya jika memang merasa sudah lelah, lelaki paruh baya itu akan beristirahat lalu kembali menjalankan aktivitasnya setelah rasa lelahnya hilang.


“Kalian sudah mendengar ucapan Zaidan tadi, kan? Aku tidak apa-apa, haknya kelelahan. Lanjutkan acaranya, aku akan menjadi saksi” Ucap abi Daud, lelaki itu melihat ke arah Azam, “Azam, gantikan abi menjadi walinya, nak” Ucap abi Daud pada Azam.


Azam pun mengangguk, dia tidak memiliki pilihan lain. Apalagi abinya sedang tidak enak badan begini.


“Apa boleh?” Gumam Stella, bermonolog.


Akhirnya abi Daud dibawa menggunakan kursi roda menuju tempat akad. Disana sudah menunggu para saksi dan juga beberapa tamu undangan.


Di perjalanan tadi, Azam menggandeng lengan istrinya. “Boleh, sayang. Selain wali hakim, ada yang namanya wali nasab, dimana itu adalah ikatan darah dari si wanita. Misalnya kakek, ayah, saudara lelaki se-ayah se-ibu, saudara lelaki se-ayah, anak lelaki se-ayah se-ibu juga anak lelaki se-ayah. Intinya aku bisa menjadi wali nasab untuk kak Maryam, terlebih kondisi abi tidak memungkinkan” bisiknya pada sang istri.


Stela terdiam, ternyata tadi suaminya mendengarkan gumamannya.


“Kau mendengarnya tadi?” Tanya Stella.


Azam mengangguk lalu menyusul yang lain berjalan di dekat abinya.


Setelah sampai di ruang akad, Erlangga terlihat menghembuskan napasnya lega. Mungkin karena takut atau gerogi dengan kejadia yang tiba-tiba menimpa di hari pernikahannya ini.


“Sudah siap pak Erlangga?” Tanya Azam yang kini duduk di depan Erlangga.


“Insyaallah aku siap” Jawabnya.


Dengan mantap Azam menjawabat tangan calon kakak iparnya itu dengan mantap, “Saya nikahkan dan kawinkan engkau Erlangga Samuel binti Doni Samuel dengan saudara saya, Maryam Wijaya binti Daud Wijaya dengan mas kawin,….”


“Saya terima nikah dan kawinnya Maryam Wijaya binti Daud Wijaya dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai”


Erlangga berhasil mengucapkan ijab qabul itu dalam sekali tarikan napas.


“Sah?”

__ADS_1


“Sah” Jawab orang-orang bersamaan.


Setelah berdoa, Maryam diizinkan untuk memasuki ruangan akad dituntun oleh Stella dan juga umi Fatimah, terlihat matanya sedikit bengkak karena menangis perihal abinya, juga menangis terharu dengan status barunya sebagai istri dari seseorang.


__ADS_2