
Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, Maryam dan Zaidan tiba di pondok saat malam hari mulai menyapa.
Mereka makan malam bersama, Stella dan umi yang memasak tadi. Sedangkan, abi Daud malam itu terlihat sangat lelah, entah karena banyak pikiran atau apa. tapi, itu cukup membuat Stella khawatir sebenarnya.
“Abi, apa abi sakit?” Tanya Maryam, saat mereka semua berkumpul di ruang keluarga bersama.
“Tidak,… uhuk – uhuk” Abi Daud menghentikan ucapannya karena batuk yang tiba-tiba melanda kerongkongannya.
“Abi hanya kelelahan, tidak ada hal yang berarti” Lanjut abi Daud.
“Apa tidak ada perubahan sejak terakhir kali Zaidan kesini, abi?” Tanya Zaidan.
Zaidan sudah diwisuda kurang lebih dua bulan yang lalu, sekarang lelaki muda itu sedang fokus di rumah sakit milik keluarga Stella. Memang kesibukannya tidak bisa membuat dirinya bolak-balik pulang, apalagi jauh di luar kota sana ia tinggal.
“Abi sudah merasa lebih baik, jangan khawatirkan abi. Memang sudah berumur begini jadi, bukan hal yang tidak wajar jika abi mulai sakit-sakitan” Ucap abi Daud, mencoba menenangkan putra dan putrinya.
“Oh iya, abi ingin bertanya kepada kalian semua. Siapa yang akan meneruskan pondok kita jika kalian sudah memiliki kesibukan masing-masing begini?” Tanya abi Daud.
Wajahnya yang pucat itu terpancar kesedihan, mungkin karena tidak ada satupun dari putra putrinya yang tinggal bersama mereka disana.
Mereka semua saling pandang satu sama lain.
“Abi maunya siapa yang akan tetap tinggal?” Tanya Azam pada abinya.
“Jika kau bertanya begitu, tentu saja abi mau kalian semua tetap tinggal. Orang tua mana yang sanggup jauh dengan anak-anaknya hm? Hanya saja aku tidak bisa malarang kalian untuk pergi ketika kalian sudah memiliki keluarga masing-masing.
Ada batasan-batasan orang tua kepada anaknya yang sudah menikah. Aku dan umi kalian ini, tidak boleh melibatkan diri terlalu jauh dalam rumah tangga anak.
Seperti yang Rasulullah SAW katakan, ‘Hendaknya engkau sibuk dengan privasimu dan jangan terlalu sibuk dengan urusan orang lain’. Dalam hadist tersebut, itu tidak hanya berlaku untuk umum tetapi, juga spesifik termasuk dalam urusan rumah tangga anak-anak kami” Ucap abi Daud.
Uhuk
Uhuk
__ADS_1
Lelaki itu beberapa kali batuk-batuk ditengah kalimatnya. Tidak jarang, beliau akan berhenti sejenak untuk menenangkan diri.
“Pasca menikah, saat itu juga kalian sudah memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri, bukan lagi dibawah tanggungan orang tua. Pun bagi para lelaki, sudah menjadi tanggung jawabnya memberikan kenyaman terbaik untuk istrinya.
Ada banyak poin juga jika kalian tidak serumah dengan kami, seperti suami dapat memimpin keluarganya dengan sempurna, karena suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, ‘Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi para wanita’, Qur’an surat An-Nisa ayat 34.
Yang kedua, kalian bisa mendidik anak-anak kalian dengan lebih sempurna, juga masalah yang kalian hadapi dalam rumah tangga dapat terjaga dan diselesaikan bersama. Maka, abi jelas tidak bisa melarang kalian untuk itu”
Semuanya terdiam mendengar penuturan abi Daud, hingga Erlangga membuka suara, “Jika Azam ataupun Zaidan ingin fokus dengan karir masing-masing, insyallah Erlangga siap mengurus pondok pesantren ini, abi.
Tapi, mungkin Erlangga butuh banyak bimbingan dari abi Daud, mengingat bagaimana minimnya pengetahuan saya dalam ilmu agama” ucapnya.
Saat itu, abi Daud tersenyum simpul dengan jawaban yang disampaikan oleh menantu laki-lakinya itu.
“Tidak masalah, asalkan kau mau belajar, itu tidak akan menjadi hal yang berarti apa-apa. Apa adik-adikmu setuju dengan hal ini? Mengingat pondok pesantren ini juga merupakan tempat mereka tumbuh sejak kecil. Apa mereka ikhlas? Apa mereka tidak keberatan? Apalagi setelah abi mengumumkan ini untukmu maka, seluruh tanggung jawabnya ada padamu” Abi Daud mencecar Erlangga dengan berbagai pertanyaan, jelas untuk melihat respon kedua anaknya yang lain.
“Azam tidak masalah, abi. Insyallah pak Erlangga akan amanah dengan tanggung jawabnya” Ucap Azam.
“Zaidan pun setuju, abi. Zaidan akan fokus dengan rumah sakit saja setelah ini, insyallah nanti Zaidan akan memberikan fasilitas kesehatan yang lebih baik disini, doakan saja karir Zaidan dapat berkipra dengan baik, agar abi dan umi tidak sia-sia menyekolahkan Zaidan sampai di tahap ini” Ucap Zaidan.
Abi akhirnya manggut-manggut, “Abi akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan juga kakak-kakakmu” gumamnya.
Abi Daud menarik napas lalu membuangnya perlahan, “Bagaimana dengan bisnismu di luar kota? Bagaimana kau membagi waktu dengan pekerjaan yang bercabang dan beda jalur ini?” tanyanya.
Erlangga dengan mantan menjawab, “Tidak banyak hal yang bisa saya kerjakan di luar kota, mengingat saya sudah meninggalkan bisnis saya lebih banyak dari apa yang saya kerjakan. Saya siap memindahkan pusat perusahaan di kota ini dan membagi fokus dengan pondok pesantren” Ucap Erlangga.
“Bagaimana jika pekerjaanmu membuat dirimu lupa dengan anak dan istrimu?” Tanya abi Daud lagi.
“Bahkan jika abi meminta Erlangga untuk meninggalkan perusahaan demi pondok pesantren ini dan juga fokus dengan Maryam maka, Erlangga akan menyetujuinya” Ucap Erlangga.
Hal itu tentu saja membuat Azam dan yang lain langsung menoleh terkejut.
“Apa kau serius, pak Erlangga?” Tanya Azam.
__ADS_1
Erlangga menoleh pada Azam dengan matanya yang memicing, “Apa aku terlihat seperti bapak-bapak? Panggil aku ‘kak’, seperti kau memanggil istriku” ucapnya. Rupanya lelaki itu tidak terima ketika adik iparnya selalu memanggilnya dengan ‘pak Erlangga’ di setiap waktu. Tapi, itu justru mencairkan suasana yang cukup tegang malam itu, seluruh orang tertawa atas suara yang dilayangkan Erlangga sebagai tanda protesnya.
“Ah iya, maafkan aku” Jawab Azam sambil terkekeh pelan.
“Aku bisa memberikan perusahaan itu pada adikku. Aku rasa, aku bisa belajar banyak disini, di pondok pesantren ini. Urusan pekerjaan dan lain-lain, aku bisa memulai lagi sesuai dengan syariat-syariat yang tertera dalam Islam. Jika aku harus merombak apa yang sudah ada, itu akan semakin sulit aku rasa” Ucap Erlangga.
Seluruh orang jelas menjadi terkesan dengan jawaban yang disampaikan Erlangga.
“Kenapa?” Tanya Zaidan. Singkat, padat dan tidak jelas. Apanya yang jelas jika hanya dengan pertanyaan itu? Apanya yang kenapa? Bukankah itu yang sedang kita pikirkan bersama?
“Sudah tabiat manusia jika kita selalu merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Dunia memang menggoda untuk siapa saja yang berada di dalamnya.
Dari Zaid bin Tsabit radiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda, ‘barang siapa yang menajdian dunia sebagai tujuan utamanya maka, Allah SWT akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan atau tidak pernah merasa cukup di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan duniawi melebihi dari apa yang sudah Allah SWT tetapkan padanya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya maka, Allah SWT akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan dan selalu merasa cukup dalam hatinya, dan duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah dan hina atau tidak bernilai di hadapannya.’.
Dulu, aku adalah seorang pendosa yang selalu mengejar kekayaan dunia, bahkan aku selalu merasa kurang kurang dan kurang padahal, kesuksesan yang aku miliki jelas sudah tidak ternilai harganya. Alih-alih merasa bersyukur, aku malah banyak membuka bisnis yang tidak sepatutnya seorang muslim kerjakan.
Sudah cukup, mengenal kalian menjadi bagian dari keluargaku cukup membuatku sadar dengan apa yang selama ini aku lakukan. Mengejar dunia tidak akan membuatku merasa puas. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mungkin lewat perantara kalian atau bagaimana, aku yakin bisa berubah menjadi seorang muslim yang taat jika jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang marak akan syarat duniawi”
Begitu jawaban dari Erlangga. Dengan tegas, dia membuka suara, mengungkapkan isi hatinya juga pendapatnya pada keluarga istrinya disana.
Malam itu menjadi saksi, bagaimana musyawarah dalam keluarga juga penting dilakukan dalam rumah tangga.
“Musyawarah dalam pandangan Islam adalah dianjurkan, sebagaimana Allah SWT telah mengingatkan kita dalam firmannya, ‘maka berkat rahmat Allah SWT lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakklah-lah kepada Allah SWT karena sesungguhnya Allah SWT mencintai orang-orang yang berawakal’. Itu adalah yang tertulis dalam surat Ali Imran ayat 159 perihal musyawarah” Gumam abi Daud, itu adalah kalimat yang keluar setelah keputusan bahwa Erlangga lah yang akan menjadi penerus pondok pesantren Lailatul Qadar setelah abi Daud nantinya.
“Lalu bagaimana dengan peran musyawarah dalam rumah tangga, abi?” Tanya Stella.
Abi Daud langsung menatap Azam, selaku suami Stella untuk menjawab.
“Musyawarah dalam rumah tangga itu juga dianjurkan dalam Islam, sayang. Islam tidak tidak mendukung pemaksaan. Musyawarah bertujuan agar kedua belah pihak antara suami dan istri tidak kecewa dan merasa puas dengan keputusan dalam masalah yang terjadi. Karena di dalam rumah tangga tidak boleh baik suami maupun istri melakukan pemaksaan tanpa adanya konsultasi.
Hal ini juga mencontoh Rasulullah SAW, sebab nabi mendapatkan perintah langsung dari Allah SWT untuk melakukan musyawarah dan menyampaikannya kepada umat-umat nabi Muhammad SAW. ‘Dan bagi mereka yang memenuhi seruan Tuhan dan menegakkan sholat, sedang urusan mereka diputuskan dengan jalan musyawarah,…’, itu yang tertulis dalam surat Asy-Syura ayat 38”
Azam menjelaskan kepada istrinya dihadapan orang tua dan juga saudara-saudaranya, menunjukkan bagaimana Azam mampu menjadi suami teladan yang bisa mendidik istrinya ke jalan Allah SWT.
__ADS_1