Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Menu sarapan


__ADS_3

Zain terjerembab di tanah, karena aku berdiri dari ujung bangku yang lain. Aku sendiri tidak jatuh sebelum Zain duduk di ujung satunya karena tubuhku yang ringan. Namun, itu tidak berlaku bagi pria yang memiliki tinggi 178 cm, dengan proporsi tubuh yang ideal.


"Maaf," ucapku sembari menghampiri Zain yang masih terduduk di tanah yang basah, karena kehujanan semalam.


"Baru dua hari menikah denganmu, aku selalu mendapat kesialan," tukas Zain.


"Hush, tidak ada yang namanya sial. Nasib tidak baik yang menimpamu adalah ujian, yang akan berbuah pahala jika kamu ikhlas dan sabar. Jika kamu percaya bernasib sial itu sama dengan syirik, dalam islam disebut at thatayyur."


"Iyah, Bu Ustadzah. Bantu aku berdiri," ucap Zain lalu meraih tanganku agar membantunya berdiri.


Karena postur tubuh Zain yang lebih besar dariku, membuat kami kehilangan keseimbangan. Pada akhirnya Zain jatuh untuk kedua kalinya.


Kukedipkan mataku beberapa kali saat aku dan Zain saling bertatap selama beberapa detik. Eksistensi kornea matanya begitu membius, aku tidak merasa sakit sama sekali meski tubuhku ikut terjatuh saat tertarik tangannya.


Aku juga bisa menikmati wajah Zain yang nampak begitu tampan, meski sedang membuang napas dengan kesal. Dasar serbuk berlian.


"Kamu berat, tau!"


"Hah?"


Aku bergegas menyingkir dari atas tubuh Zain, saat kusadari aku terjatuh menindih tubuhnya. Ini bukan ujian, tapi hikmah dari kesabaran. Sering-sering aja Allah kasih momen kaya gini.


"Menyesal aku minta bantuanmu." Zain bangkit dengan sendirinya, tanpa peduli denganku yang masih duduk di atas tanah.


"Kamu tidak membantuku?" tanyaku pada Zain yang sedang sibuk mengibaskan tangannya pada baju yang terkena tanah.


"Bangun sendiri," ujarnya lalu sedikit melirikku sebelum kembali sibuk dengan aktivitasnya.


Jika dalam waktu dua hari terakhir yang Zain rasakan adalah ketidakberuntungan. Lain denganku yang dua hari ini merasa menjadi wanita yang paling beruntung. Sudah kuputuskan, aku akan memperjuangkan rumah tanggaku bersama Zain.


Masa bodoh dengan kesepakatan yang telah dibuat, aku akan membuat Zain mengakui cintanya lebih dulu padaku. Aku siap menunggu momen itu datang menghampiriku.


Kutarik ujung baju yang dikenakan Zain untuk mendapatkan perhatiannya. Setelah mata indah itu menatapku, ku'ulurkan tangan agar Zain menyambutnya. Sebaik itulah suamiku, dia membantu berdiri meski sebelumnya menyuruhku untuk bangkit sendiri.

__ADS_1


"Sakit kah?" Kulirik Zain yang sedang memijit pinggangnya.


"Sakit lah. Kejatuhan beras sekarung!"


Astaghfirullah ... mulutnya benar-benar. Untung sayang.


"Sini aku pijit."


"Ngga usah cari kesempatan." Zain langsung menepis tanganku sebelum tangan ini mendarat mulus di pinggangnya. Aksinya itu membuatku terkekeh kecil, jadi gemes, pingin nyubit jantungnya.


"Aku baik loh, mau meringankan beban suami," ucapku sambil mengedipkan sebelah mata. Aku berharap Zain sedikit tersenyum, eh malah makin sawan melihat tingkahku. Sabar-sabar.


"Kalo mau meringankan bebanku, jaga jarak dariku. Dekat denganmu hanya membuatku semakin si_"


"Stttt." Kututup mulut Zain dengan jari telunjukku. "Ucapan adalah do'a. Berucaplah yang baik-baik!"


Zain meraih tanganku untuk menjauhkan dari bibirnya. Saat tanganku masih menggantung di udara, aku dan Zain sama-sama menyaksikan ada tanah yang menempel dijari yang kugunakan untuk menutup mulut Zain.


"Maaf," ucapku setelah Zain pergi mendahuluiku. Kupandangi punggung tegap yang menjauhiku disela aktifitasku membersikan jari dengan ujung baju.


Kami melanjutkan perjalanan kerumah, yang akan menjadi saksi sejarah tumbuhnya cinta, di hati pasangan yang telah halal. Till jannah with you, insyaallah, aamiin.


"Ngapain?" tanya Zain yang selalu memperhatikan apa yang dilakukan istri cantiknya ini saat mengusap telapak tangan ke wajah.


"Berdo'a," jawabku seraya memberi senyum yang manis, Zain kembali fokus menatap jalanan setelah mendengar jawabanku.


Mobil akhirnya berbelok pada sebuah rumah yang begitu gelap, di antara rumah lain yang begitu gemerlap. Rumah dengan gaya minimalis, yang dicat dengan nuansa nude. Menggambarkan pemilik rumah dengan hati hangat dan elegant.


"Zain? Apa kamu yang memilih warna catnya?"


Zain menghela napas perlahan mendengar pertanyaanku, sedetik kemudian mengangguk. Aku suka rumahnya, beserta yang punya rumah. Fix.


Zain meraba saklar lampu dan menyalakannya, rumah ini terlihat jauh lebih besar setelah lampu meneranginya. Rumah dua lantai dengan empat kamar yang akan ditinggali hanya olehku dan Zain.

__ADS_1


Aku butuh beberapa anak untuk membuat suasana rumah ini menjadi ramai. Setidaknya ada satu anak yang menangis di ruang tengah, satu anak menjerit meminta ayahnya mengusir kecoa di lantai atas, dan dua anak lainya yang menggangguku memasak di dapur dengan berlarian. Impian yang sederhana.


"Kamarmu di atas sebelah kiri, sebelah kanan adalah kamarku. Ingat! Jangan berani menginjakan kaki di kamarku." Zain memporak porandakan lamunanku.


Ah ... aku lupa, dalam surat perjanjian sudah dijelaskan sejelas-jelasnya, kami akan menempati kamar yang berbeda. Itulah alasan Zain mempersiapkan rumah ini, alih-alih tinggal bersama kedua orangtuanya yang hanya memiliki anak semata wayang. Bye anak-anak, lain kali aku akan mencari cara untuk mendapatkan kalian.


Setelah merapikan barang bawaan, aku bergegas menuju dapur membuat makan malam. Waktu yang begitu larut tidak memungkinkan untuk pesan makanan siap antar, meski badan terasa sangat lelah setelah lama berkendara. Qodarulloh kami mampir ke minimarket sebelumnya.


Aku memanggil Zain di kamarnya Setelah selesai menyiapkan mie instan. Zain menghabiskan satu mangkuk mie buatanku dengan lahap, mungkin ia lapar, atau mungkin buatan tangan istri yang membuat mie instan serasa spaghetti. Wallahu a'lam bishawab.


Matahari di ufuk timur warnai bumi dengan rona kemerahan, menebarkan kehangatan, menggoreskan semangat di setiap langkahku di hari pertama tinggal satu atap bersama kekasih halal.


"Semalam tante Aira menelpon." Zain membuka suara setelah menghabiskan satu potong roti bakar sarapannya.


Aku yang sedang menyesap teh camomille langsung menatap Zain yang masih mengunyah makanannya dalam mulut.


"Kenapa tante Aira tidak menelepon padaku?"


"Hp-mu tidak bisa dihubungi. Jadi tantemu panik dan langsung meneleponku," ujar Zain tanpa mengalihkan pandangan dari roti bakar selanjutnya.


"Aku lupa," kataku sambil menepuk kening. "Hp-ku kehabisan daya kemarin, nanti akan kuhubungi tante Aira." Aku bergegas meninggalkan Zain yang masih sibuk dengan sarapannya.


Kutujukan langkahku mengambil handphone di kamar, lalu menekan nomor yang menghubungkanku dengan tante Aira. Setelah saling menanyakan kabar dan bercerita tentang menu sarapan, tante memintaku mencari Zain karna ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya.


Aku mencari Zain yang sebelumnya sedang sarapan di meja makan, tapi tak kutemukan. Pada akhirnya aku menuju ke lantai atas dimana kamar Zain berada.


"Astaghfirullah .... " Aku berjingkat kaget lalu menutup mataku setelah memasuki kamar Zain tanpa mengetuk pintu. Ternyata Zain baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Apa!"


"Tante Aira menelpon, dia ingin menanyakan roti sobek, eh." Langsung ku'oper handphone di tanganku pada Zain, lalu pergi keluar kamarnya dengan berlari.


Astaga ... Itu perut kaya roti bakar, eh roti sobek, eh khilaf, khilaf.

__ADS_1


__ADS_2