Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui


__ADS_3

Jodoh itu seperti Alif Lam Mim, ayat pertama surat Al-Baqarah. Yang artinya hanya Tuhan yang tahu.


"Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri. Sepertinya berpisah adalah satu-satunya jalan. Kamu tidak bisa menerimaku dan aku tidak bisa terus begini. Kamu bisa menyalahkanku atas semua yang terjadi, aku tidak akan mengalami kerugian apapun saat disalahkan, sedangkan kamu adalah seorang CEO yang akan mengalami banyak kerugian, jika media tau alasan sebenarnya kita berpisah. Banyak kepala keluarga yang menggantungkan harapan di bawah naungan kepemimpinanmu." Aku mencoba tegar seperti batu karang yang setiap saat dihempas ombak.


"Beri aku sedikit waktu, aku akan memikirkannya lagi," pintanya setelah meremas rambut hingga berantakkan.


"Satu jam! Aku tidak bisa memberimu waktu lebih dari itu."


"Kamu pikir mau beli cilok!" teriaknya setelah sebelumnya bisa berbicara dengan lembut.


"Semakin lama waktu yang kamu gunakan untuk berfikir, hatiku juga akan semakin lelah. Tentukan sekarang saja, seperti saat setelah akad, saat kamu tidak ragu mengatakan kata keramat!"


"Aku tidak berpikir waktu itu. Aku hanya merasa menyesal, membawamu masuk dalam kehidupanku yang rumit. Sepertinya sekarang aku akan semakin menyesal. Maaf."


Setelah kutahan, bulir bening kembali mengalir. Zain membuatku goyah, apa Zain berharap aku terus bertahan dengan luka ini. Jika benar ia menyesal, harusnya dia yang menyingkirkan egonya, bukan membuatku ragu setelah aku memutuskan berhenti berjuang.


Zain memperhatikanku setelah mendengarku terisak, mencondongkan tubuhnya dan melepas tanganku yang melingkar pada tiang, lalu membenamkan kepala ini pada dada bidangnya. Menyebalkan.


"Apa kamu bodoh? Menerima pernikahan dengan pria yang tidak kamu kenal. Kamu bisa menolakku jika tak menginginkan yang aku tawarkan. Tidak perlu membuatmu terlihat seperti wanita yang buruk di mataku," bisiknya lirih disela tangannya yang mengelus puncak rambut yang tertutup hijab.


"Kalau mau jahat, jahat saja sekalian. Jangan membuatku bingung dengan sikapmu!" Berbagai pertanyaan berkecamuk di benakku, haruskah bertahan atau menyerah saja?


"Setiap kali melihatmu menangis hatiku juga terasa sakit. Aku merasa lebih baik, setelah meminjamkan bahuku untukmu."


Kali ini aku tidak ragu lagi mengeraskan volume tangisanku, Zain benar-benar menjatuhkanku dengan kejam, setelah melambungkanku hingga ke awan.


"Kenapa jantungmu berdebar begitu cepat?" tanyaku setelah mengangkat kepala dari dada Zain, tempatku mendengarkan ritme jantungnya.


"Karena aku masih hidup." Zain menjawab dengan mengendikan bahu.


Sebelumnya pun, jantungnya bedetak cepat ketika mengkhawatirkanku saat kecelakaan. Bahkan kini Zain begitu gugup saat mata kami saling bertemu.


"Apa kamu menyukaiku?" cecarku sebelum Zain mengalihkan tatapannya.


"Ya."


DEG...

__ADS_1


Jantungku terasa berhenti berdetak beberapa detik mendengarkan pengakuannya, hingga membuatku cegukan karena terlalu terkejut.


"Aku menyukai ucapanmu sebelumnya, yang memikirkan para kepala keluarga di perusahaanku. Ternyata kamu sedewasa itu."


Ya Allah, sabar!


Aku menepuk dadaku berulang kali, seraya menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Asem.


Suara pintu diketuk beberapa kali membuat aku dan Zain kembali saling bertatap dengan pikiran masing-masing. Tak berapa lama dering handphone pun terdengar.


"Suara handponeku," gumamku saat aku mengingat handponeku yang direbut oleh Zain sebelumnya. "Mana handponeku?" tanyaku.


"Aku letakan di lantai sebelum kita jatuh tadi," ingatnya, kemudian aku dan Zain bergegas mencari handpone sebelum alunan nada deringnya berhenti.


"Mama?!" Aku dan Zain mengucapkan bersamaan setelah melihat layar benda pipih yang telah berada di tangan Zain.


"Assalamualaikum, Mah," sapa Zain setelah mendekatkan handpone di telinganya. Aku pun ikut mendekatkan telingaku pada handphone yang di pegang Zain, berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Waallaikumussalam. Cepat buka pintunya mama ada di depan!"


"Iya mah," jawab Zain sebelum mengakhiri sambungan telepon.


Aku hendak berlari membuka pintu untuk mama, namun Zain mencekal tanganku, sehingga aku menghentikan langkah.


"Jangan katakan apapun tentang pertengkaran kita. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, kalau kamu berjanji tidak akan mengadu ke mama," ucapnya memohon. Matanya terlihat sayu, sehingga aku tak tega menolak keinginannya.


"Janji?!" sahutku seraya menunjukan jari kelingking pada Zain. Ia pun mengangguk dan melakukan hal yang sama, kami saling menautkan jari kelingking dan diperkuat dengan stempel ibu jari.


"Jangan ingkar janji!" ujarku mengingatkan Zain, sebelum memegang handle pintu.


"Cerewet," balasnya kemudian melanjutkan aktivitasnya membuka pintu.


Setelah mama dan papa masuk ke dalam rumah, Zain mencium punggung tangan mereka bergantian, diikuti olehku kemudian.


"Kenapa malam-malam ke sini, Mah?" tanya Zain yang membuat mama mengernyitkan alisnya pada sang putra.


"Pertanyaan macam apa itu?! Mama gak boleh main ke rumah anak mama sendiri?!" seru mama lalu melangkah ke ruang tengah dan Zain mengikuti di belakang.

__ADS_1


"Bukan gitu Mah, maksud Zain. Ini kan sudah malam kenapa gak besok siang aja. Mama tau dari mana alamat rumah Zain?"


Mama hanya melengos mendengar pertanyaan putranya, tentu saja ia marah pada Zain yang menyembunyikan alamat rumahnya pada mama. Jawaban untuk pertanyaan Zain adalah aku yang memberinya, aku kira aneh jika orang tua tidak tahu di mana rumah putra dan menantunya berada.


"Sepertinya melihat matahari terbit dari balkon akan sangat indah! Kita tidur di kamar atas saja ya, Pah?" usul mama saat menatap anak tangga menuju dua kamar di lantai atas.


Kedatangan mama dan papa yang begitu tiba-tiba saja membuat aku dan Zain begitu terkejut, tapi kini telah dikejutkan hal lain dengan mama yang akan menginap.


"Kalian juga menempati kamar atas, kan? Kamar kalian yang mana?" tanya mama setelah menengok ke arahku dan Zain, yang ada di belakang mereka.


"Kanan" "Kiri" Aku dan Zain mengucap lalu menunjuk dengan tidak sinkron, yang membuat mama mengerutkan keningnya.


"Kiri" "Kanan" ucap kami melakukan ketidak sinkronan kedua kalinya.


"Jadi benar kalian tidur di kamar terpisah?"


Tuduhan itu sontak membuat kepanikan tersendiri, setelah ketidak sinkronan kami sebelumnya. Saat ku lirik Zain dengan ekor mataku, ketegangan juga menyelimuti wajahnya.


"Hm, maksud kami, kami sering berpindah kamar, Mah, sayang kalo kamar kosong tidak dimanfaatkan?" kilahku yang membuat mama percaya dan akhirnya menganggukan kepala.


"Jadi, kalian malam ini tidur di kamar yang mana?"


"Kanan!" seru kami kali ini dengan berbarengan dan kompak. Acungan ibu jari pun saling kami hadiahkan saat mama kembali menatap ke lantai atas, tak lupa dengan senyuman bangga dan lega.


"Cepat pindahkan semua barangku ke kamarmu. Aku akan mengalihkan perhatian mama," bisiku di telinga Zain.


Aku dan Zain bergegas mengambil tugas masing-masing, aku mengarahkan mama dan papa duduk di sofa sambil membawakan teh dan camilan. Sedangkan Zain naik ke lantai atas untuk memindahkan semua barangku ke kamarnya.


Tiga puluh menit berlalu, Zain menuruni tangga sambil mengacungkan ibu jari juga kedipan salah satu mata, yang artinya misi berhasil. Aku pun berhasil menjalani misiku mengulur waktu dengan bertanya tentang Zain pada mama dan papa, artinya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.


"Mama gak jadi tidur di kamar atas," ucapnya setelah menapaki beberapa anak tangga sambil memegangi lututnya.


"Zain, siapkan kamar bawah saja!" perintah mama lalu kembali turun ke lantai bawah.


"Terus, status kamar kiri di lantai atas yang membuatku sibuk, bagaimana?!" gerutu Zain lirih di telingaku.


BODO AMAT.

__ADS_1


__ADS_2