
Zain membawaku mundur hingga beberapa langkah. Sedangkan Tasya menenangkan suaminya yang begitu murka dengan kelakuanku. Di sisi lain, bu Endang menggelengkan kepalanya. Entah situasi macam apa ini, yang membuat Zain terkekeh meskipun hanya aku yang mendengar.
"Kita pulang, De!"
Aku bergeming mendengar ajakan Zain. Hatiku masih dongkol mengingat saat ia membiarkan Tasya dalam pelukannya cukup lama.
"Sabar, Mas. Sebaiknya kalian selesaikan dulu masalah dalam rumah tangga kalian, sebelum menuruti ego untuk memukul orang. Utamakan istrimu yang terlihat begitu shock karena kejadian ini." Bu Endang menepuk bahu lebar pria yang tengah berkacak pinggang dengan tatapan tajam mengarah padaku dan Zain.
"Tasya, kami pulang dulu." Pamit bu Endang, kemudian menghampiriku. "Ayo pulang!" Ajaknya padaku.
Segera kugamit lengan besarnya, berjalan beriringan meninggalkan rumah dengan type yang sama seperti lainnya. Kulirik Zain yang berjalan di sampingku dengan senyum terus merekah, begitu senangnya dipeluk sang mantan.
"Aku berharap, setelah ini kalian tidak bertengkar." Bu Endang menghentikan langkah saat di depan rumahku.
"Siap!" Zain menjawab dengan lantang, lima jarinya berbaris rapi di pelipis.
"Kalian bisa lanjutkan adegan 18+ kalian, yang di teras depan!" teriak bu Endang setelah mengambil beberapa langkah menjauhiku.
"Aish ... memalukan." Segera kuputar tubuhku hendak kembali ke dalam rumah, namun kepalaku menabrak dada bidang Zain yang tengah berdiri persis di belakangku.
Mulutku seperti beku hanya untuk menyingkirkannya dari jalanku. Aku bergeser ke sebelah kanan, Zain ikut bergeser ke arah kanan, begitupun saat aku ke arah kiri, Zain tetap mengikuti.
"Minggir! Atau aku patahkan tulang rusukmu!" ancamku dengan menunjukan tangan terkepal.
"Jangan, De. Aku tidak mau kamu kesakitan."
Satu alisku terangkat merespon ucapan pria yang terus senyum-senyum di depanku.
"Kamu itu tulang rusukku. Aku tidak tega jika kamu sampai terluka."
Kali ini, rayuannya tak akan mempan. Kudorong dada bidang yang menghalangi jalanku hingga terhuyung ke belakang.
"De, kamu kok gitu, sih. Baru beberapa menit aku merasa seperti tuan putri yang dilindungi pangeran. Sekarang malah kamu yang mendorongku? Gimana kalau aku jatuh dan terluka. Aku tahu kamu tidak akan membiarkanku seperti itu!"
__ADS_1
Zain terus mengoceh mengikuti langkahku, tapi aku tidak membalas satu patah kata pun. Beberapa kali Zain memanggil namaku, tetap tak kujawab panggilan itu. Hingga Zain mendahului langkahku tepat setelah aku berada di depan pintu kamar.
"De?" sapanya lembut, disekanya air mata yang mengalir dari tempatnya. Seperti sebuah kebiasaan, Zain segera menenggelamkan kepalaku dalam dekapannya.
"Kenapa, De?" usap tangannya pada punggungku. "Aku minta maaf, jika telah menyakitimu. Jika boleh tahu, apa kesalahanku kali ini? Mungkin aku bisa menghindari kesalahan yang serupa di lain hari." Kudorong tubuhnya untuk membuat jarak.
"Gak usah sok peduli padaku, Mas? Senangkan, dipeluk Tasya! Sebaiknya kamu kembali ke rumah itu dan menenangkan Tasya. Aku baik-baik saja, kok, kalau Mas Zain mau balikan sama Tasya, aku ikhlas!"
Kali ini Zain tidak mengikuti langkahku yang berjalan dari sisi kirinya. Aku menghela napas, terasa lebih luas dada ini setelah mengutarakan bebanku.
"Istriku cemburu?" bisiknya di telingaku.
Sebelumnya aku tak mendengar pergerakannya, kukira Zain masih berdiri di tempatnya. Namun, tiba-tiba tangannya telah bergelayut di perutku dari arah belakang. Sekuat apa pun aku mencoba melepaskan diri, aku merasa semakin terkungkung olehnya.
"Tidak ada istilah cemburu dalam kamusku!"
"Kalo gitu, aku yang terlalu percaya diri jika perasaanku tak bertepuk sebelah tangan." Perlahan pelukan terasa merenggang.
"Mungkin aku memang tak pantas bersama siapa pun," keluhnya tanpa mengangkat kepala. Aku ingin mendekat tapi egoku masih terluka.
"Sebetulnya, nama siapa yang Allah sandingkan dengan namaku di lauful madfuz, benarkah bukan namamu?"
Air mata yang sebelumnya telah mereda kembali hadir, ketika Zain membahas tentang nama di lauful madfuz. Aku yang meyakinkan hal itu pada Zain, tapi aku sendiri yang ...
"Ya Allah, jika Rayya Khairunisa bukan orang yang engkau takdirkan bersamaku, bolehkah aku memaksa-Mu untuk merubah nama yang masih misteri itu dengan nama Rayya Khairunisa saja?" Tangannya menengadah ke arah langit, begitu pula dengan wajah yang terlihat polos itu.
"Jika bukan Rayya Khairunisa, aku tidak mau. Harus Raya Khairunisa. Gadis yang menjaga auratnya hanya untuk suaminya, gadis tangguh yang lebih mementingkan perasaan suaminya daripada egonya sendiri. Karena hanya Rayya Khairunisa yang mencintaiku dengan melihat mataku bukan dari uangku."
"Mungkin, jika dua orang yang memaksa, Allah akan berubah pikiran." Doa yang ia panjatkan membuatku tersentuh.
Langkah kecil ini segera tertuju padanya yang telah menyambutku dengan senyuman. Aku segera menunduk saat mata kami saling beradu, Zain selalu bisa membuatku merasa malu-malu kambing, eh, kucing.
"Siapa yang satunya?"
__ADS_1
"Aku."
Tanganku segera diraihnya, menuntun untuk duduk di pangkuannya. Kepalanya ia benamkan pada perutku, membuatku mudah untuk merapikan rambutnya dengan jari-jari tanganku.
"Bukankah kamu wanita yang tadi marah-marah dan mau mengikhlaskan suaminya untuk wanita lain?" Zain menengadahkan wajahnya menatapku.
"Kapan? Aku lupa!"
"Jangan katakan hal seperti itu lagi. Semarah apa pun kamu, cemburu bagaimana pun. Tolong pertahankan aku. Aku bukan tipe orang yang mudah menyukai orang lain. Hanya saat bersamamu aku tahu artinya rumah yang membuatku rindu untuk pulang."
"Setelah dipeluk Tasya. Mas Zain, tak pernah berhenti tersenyum. Sedangkan seharian ini selalu marah-marahnya sama aku."
"Ooh, disitu letak masalahnya? Coba deh ingat lagi, mulai kapan aku tersenyum? Saat aku menahan tanganmu apa aku sudah mulai tersenyum?"
"Tidak." Aku menggeleng. "Saat aku menggigit tangan suami wanita itu." Aku ingat saat itulah Zain tertawa meski dalam keadaan kritis.
"Wanita itu, bukannya dia punya nama?"
"Mas!" Aku menaikan suaraku di depannya, sedetik kemudian meminta maaf. "Kenapa terus tertawa?"
"Aku merasa seperti seorang putri yang tengah dilindungi sang pangeran." Aku dan Zain tertawa bersama, entah mengapa, hal tersebut memang terasa lucu.
"Apa aku terlihat bod*h saat itu?"
"Jangan pernah mengatakan hal buruk pada wanita yang kucintai, jika tidak mau mendapatkan hukuman!"
Otakku seketika traveling ketika Zain mengatakan hukuman. Jadi kuputuskan aku yang akan memberinya hukuman lebih dulu karena telah membuatku mengakui cemburu, setidaknya untuk saat ini.
Zain melebarkan mata saat aku memberinya hukuman, tangannya semakin erat memelukku. Hukuman kuhentikan saat aroma parfum menusuk hidungku. Aku turun dari pangkuan, segera berjongkok di depannya dan meletakan kedua tanganku pada dadanya.
"De, mau ngapain?"
Satu-persatu kancing baju Zain kulepaskan yang membuatnya terperangah. Ketika mata kami saling bertemu, Zain hanya tersenyum pasrah dengan apa yang tengah kulakukan. Setelah semua kancing terlepas segera kulepas baju itu dari tubuhnya. Kulemparkan ke sembarang arah.
__ADS_1