
"Kenapa berkemas, Dek. Kamu mau kemana?"
Mas Zain yang baru memasuki kamar, langsung bertanya ketika melihatku memasukkan beberapa baju ke dalam tas.
Dari suaranya, mas Zain terdengar begitu panik.
Namun, keputusanku sudah bulat. Aku ingin menenangkan diri di kampung halaman. Juga karena rindu dengan dua adik kecilku.
"Aku ingin pulang, Mas!"
"Pulang?!" Tangannya diletakkan di atas tanganku, sehingga kegiatanku terhenti.
"Rumahmu di sini, Dek. Mau pulang ke mana?"
"Ke rumah tante Aira!" Singkat kujawab.
"Dek---" suaranya tertahan.
Aku hanya bisa menghirup udara sebanyak mungkin.
Tubuhku ditariknya sehingga berhadapan langsung dengan mas Zain yang lebih dulu duduk di tepi ranjang. Tangannya melingkari pinggulku, dengan kepala yang ia tempelkan di perutku.
"Dek, kamu mau ninggalin, aku? Aku bisa jelaskan semuanya. Tolong jangan pergi!"
"Memang apa yang perlu dijelaskan, Mas. Dari awal aku sudah menebak seperti itu. Hanya saja, aku merasa kecewa ketika tahu tebakanku benar. Seharusnya aku tidak mendengar saja, tentang semua itu."
Ucapanku membuat mas Zain berani menampakkan wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca padaku.
Hatiku semakin terasa perih melihat lelakiku dengan ekspresi seperti itu. Sayangnya, egoku mengalahkan naluriku. Aku benar-benar ingin merenungkan semuanya sendiri.
"Maafkan aku, Dek. Aku mau melakukan apa pun yang kamu inginkan untuk menebus kesalahanku. Tapi, tolong, jangan tinggalkan aku. Hidupku sudah sangat bergantung padamu. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu, Dek."
Kuseka lembut bulir bening yang menerobos di sudut matanya dengan jari yang bergetar.
Ini juga sulit untukku, Mas. Sakit, melihatmu merengek padaku. Juga sakit, ketika tahu alasanmu memilihku.
Di hati kecilku masih belum yakin jika kamu benar-benar sudah berdamai dengan masa lalumu. Meskipun perlakuanmu selama ini begitu baik dan seperti tengah menjaga perasaanku.
Kamu hanya ingin terlihat bahagia di depan mantan kekasihmu. Kalimat itu yang terus berputar-putar di benakku. Apa kedekatan kita selama ini palsu. Benar-benar akting seperti yang kamu inginkan dulu.
"Itu salahmu, Mas." Kutarik tanganku dari wajahnya.
"Kenapa menggantungkan hidup pada manusia yang tidak sempurna, ketika ada yang maha sempurna yang tak pernah mengecewakanmu."
Percayalah kata-kata itu juga berlaku untukku sendiri.
"Dek, aku tidak bercanda. Tolong jangan tinggalkan aku, kumohon!"
__ADS_1
Ya Allah, ratapannya benar-benar mengoyak hatiku. Sakit, melihat orang yang paling kusayangi memohon seperti itu.
"Aku juga tidak bercanda, Mas. Memang, apa yang salah dari ucapanku?"
"Kenapa kamu mau pergi, Dek?"
"Memang salah, jika wanita yang telah menikah merindukan kampung halamannya?"
Wajah yang semula sendu, kini beralih menjadi berbinar. Senyum tipis ia hadirkan sebagai pemanis wajah yang kembali bersemu merah.
"Kamu bikin aku khawatir. Kenapa tidak ngomong dari awal kalau kamu merindukan kampung halamanmu?"
"Mas Zain, yang datang-datang langsung seperti itu!" Aku mengerucutkan bibir sambil mencoba melepaskan tangannya yang ternyata hanya sia-sia.
"Itu karena aku terlalu khawatir kamu akan meninggalkanku."
"Bukan karena Mas Zain, merasa bersalah padaku?"
"Itu juga."
"Aku tidak bisa berkemas, jika Mas Zain masih terus memelukku seperti ini."
"Biar aku saja yang mengemas, berapa hari kita akan di rumah tante Aira?"
"Mas. Bukan kita. Hanya aku."
"Mas Zain kan harus jagain mama. Juga harus jadi pemimpin yang baik, yang bisa memisahkan antara profesionalitas dan urusan pribadi. Aku hanya pergi sebentar aja, kok."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun kalau aku tidak bisa ikut!" ucapnya masih dengan raut wajah yang sama seperti sebelumnya.
Aku hanya bisa pasrah dipeluknya semakin erat sambil diam-diam menarik napas dalam.
"Mungkin aku akan menjadi istri yang durhaka karena meninggalkan rumah tanpa ijin dari suami."
"Jangan ngomong gitu, Dek. Aku cuma bercanda. Aku kasih izin, kok. Aku hanya ingin memelukmu lebih lama saja."
"Makasih, Mas." Kusibak rambutnya yang menutupi dahi. Setelahnya, kecupan kuhadiahkan di sana.
Terimakasih, karena telah mengajariku tentang cinta dan rasa sakitnya.
Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk meyakinkan diri untuk pulang. Tapi, aku berjanji, jika keinginan itu hadir kembali, kamu adalah satu-satunya rumah tempatku kembali.
*****
Pagi buta, tante Aira dan suaminya sudah menyiapkan segala hal untuk kepulangan kami. Zain mengantar hingga ke stasiun, karena alat transportasi yang kami pilih adalah kereta api.
Kami semua berangkat sebelum tenggat waktu yang ditentukan. Selama itu pula, mas Zain tidak pernah melepaskan pelukannya dariku.
__ADS_1
"Mas, tante Aira dan om Rahman sudah menunggu di gerbong. Sampai kapan mau seperti ini?"
"Masih ada waktu sepuluh menit lagi, Dek. Aku masih ingin melepaskan rindu dengan istriku."
Setiap kali kuperingatkan, jawaban seperti itu yang selalu ia perdengarkan. Bahkan dari tiga puluh menit yang lalu. Seolah ia tak peduli sudah berapa pasang mata yang menatap dengan tanda tanya, saat melewati kami.
"Hatiku berasa sesak, De. Seperti kita akan berpisah dalam waktu yang lama!"
Mendengar ucapannya, mata ini memanas seketika. Jarak pandang menjadi terbatas karena tertutupi buliran bening yang menggenang di pelupuk mata.
"Perasaan, Mas, aja kali."
"Mungkin karena ini pertama kalinya kita akan terpisah jarak, cukup lama," ucapnya mungkin tengah membesarkan hatinya sendiri.
"Gak usah pergi aja lah, Dek! Sepertinya aku tidak bisa jauh dari kamu, meski satu jam aja!"
Kali ini, aku memaksakan diri menertawakan ucapannya. Yang berujung kecupan di pipiku.
"Mas. Kalau Mas Zain kerja itu, waktunya hampir delapan jam, loh, sehari. Itu sudah bukti kalau ucapan Mas Zain terlalu lebay."
"Aku pasti kesepian di rumah."
Ah, rumah itu lagi. Rumah yang menghadirkan kenangan dari awal aku mengejar cinta suamiku, menahan perih karena sikap dinginnya, mencoba berbesar hati karena masa lalunya. Setelah semua terlewati hingga sedekat ini, kenapa hadir keraguan di hatiku.
Hanya karena lima kalimat terkutuk 'ingin terlihat bahagia di depan mantan'.
"Dek."
Kurasakan tubuhku digoncang hingga kembali membawa kesadaranku.
"Kamu melamun?"
"Hah."
Entah sejak kapan mas Zain berada di hadapanku.
"Waktunya tinggal lima menit lagi, kamu mau ikut tante Aira apa pulang lagi bersamaku?"
"Mas, selama aku belum pulang, tinggalah di rumah mama. Salam juga buat mama dan papa. Maaf, aku malah pergi saat mama sakit!"
Aku sengaja mengubah pembicaraan. Di detik-detik terakhir ini aku tidak ingin goyah dengan keputusanku. Toh aku hanya ingin menenangkan hatiku sejenak.
"Gak papa, Dek. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mama, kamu cukup bersenang-senang saja dengan adik-adikmu dan segera kembali."
Aku mengangguk kemudian memeluknya sebelum memasuki gerbong kereta.
Lambaian dan senyumnya tak pernah pudar mengiringi perjalan kereta yang semakin meninggalkannya di belakang.
__ADS_1