
"Diammu sudah menjawab pertanyaanku. Itu benar."
Apapun yang ada di pikiran Zain saat ini aku tidak tahu, yang jelas matanya kosong menatap tunas pohon. Entah cerita macam apa yang mereka lalui hingga Zain menjadikanku sebagai pelariannya.
"Kita berpisah saja. Aku akan mengembalikan semua uangmu." Aku pun terluka, sepertinya tidak ada harapan untuk berlayar mengarungi bahtera rumah tangga dengan pria yang membuatku jatuh cinta saat pandangan pertama.
"Keputusan berpisah, ada di tanganku. Aku tidak mau!"
Aku pikir Zain hanya melamun, ternyata dia mendengarkan ucapanku.
"Apa di matamu aku seperti pohon pisang?" Suaraku sedikit parau menahan sesak di dada.
"Bila berbuah hanya sekali?" Zain menyempatkan diri menoleh ke arahku yang duduk jauh darinya. Zain tidak tau kalo leluconnya garing.
"Hanya punya jantung, tak punya hati dan perasaan," ucapku. "Pohon pisang lebih cocok untukmu yang tak punya hati. Kejam!"
Zain kembali menghela napas, untuk kali ini aku yakin, helaan napasnya karena telah menyadari dia tak punya hati.
"Kenapa harus aku? Kenapa memilihku di antara jutaan wanita cantik di Indonesia?" Bulir bening dari sudut mata mulai mengalir dan segera kuseka dengan punggung tangan sebelum dilihat Zain.
"Karna ka_"
"Jangan jawab karena aku finalisnya. Itu jawabanku dulu, cari jawaban lain yang lebih kreatif!"
"Karena kamu finalisnya, mama yang jadi juri," ucapannya kali ini sepertinya serius. Kalo sudah begini aku harus minta pertanggung jawaban siapa tentang luka hatiku.
"Aku akan bilang ke mama. Kita harus berpisah." Segera kurogoh saku baju yang kukenakan, mengambil handphone di dalamnya dan ....
"Jangan telepon mama. Kita bisa bicarakan berdua," pintanya, kemudian mengambil handphone di tanganku.
Aku tidak tahu Zain menghampiriku sebelumnya, kini dengan santainya duduk di sebelahku. Aku segera menggeser posisi dudukku namun Zain terus mengikuti hingga berulang kali dan tubuhku berakhir mentok di tembok.
"Apaan sih?" Aku sewot pada Zain, namun ia masih dengan ekspresi sebelumnya. Ekspresi yang tidak bisa diartikan.
"Mari bicarakan perjanjian. Akan kuberi berapapun yang kamu inginkan."
__ADS_1
"Astaghfirullah, Zain!" Aku mengepalkan kedua tanganku di depan wajah Zain sambil mengeratkan gigi atas dan bawahku, geram sekali dengan pria yang kini membuatku terpojok di tepi tembok.
"Aku tidak mau uang, aku mau yang lain!" ujarku penuh emosi. Setelah melihat Zain mengangguk menyanggupi permintaanku, segera kuletakan kedua tanganku di sisi kanan dan kiri kepala Zain kemudian ....
"Aw, Rayya lepaskan!"
Zain menjerit setelah kutarik kedua sisi rambut di kepalanya, hingga meninggalkan bukti beberapa helai rambut yang tercabut di kedua tanganku.
"Lain kali aku akan melakukan hal yang sama, jika kamu mau membuat kesepakatan lain denganku!"
"Kekanakan!" Zain mendengus kesal, tangannya tak henti mengusap sisi kepala yang baru kujambak.
"Kamu pikir kamu sudah dewasa? Mempermainkan perasaan orang lain menurutmu sikap yang dewasa! Hanya karena kamu bisa menghasilkan banyak uang, lalu kamu kira kamu sudah dewasa! Minggir! Anak-anak ini benci dengan orang dewasa sepertimu!"
Zain tidak memberiku ruang gerak, akhirnya aku mendorong dada Zain dengan dua tanganku. Tubuhnya pun terjengkang ke belakang. Sialnya, Zain memegangi kedua lenganku hingga aku pun ikut terjatuh menindih Zain.
Dalam jarak yang hanya tersisa beberapa senti, membuat jantungku memahami situasi darurat tersebut. Dia tau kapan waktunya untuk berdebar, bahkan dalam momen yang kurang tepat. Ish.
"Bisa menyingkir? Kamu sangat berat!" ucapnya setelah menatap ke arah lain, namun tangannya masih mencengkeram erat pergelangan tanganku.
Tuduhanku berhasil membuat Zain menatap padaku, dengan kode mata dariku Zain segera melepaskan tangannya sehingga aku bisa bangkit dari atas tubuhnya.
"Kamu tuh, yang playing victim!" Zain tidak terima dan balik menuduhku.
"Kamu yang terus memegang tanganku!" Aku tak mau mengalah.
Aku dan Zain kembali terdiam setelah kejadian itu, kudengar Zain beberapa kali menghela napas. Hingga akhirnya aku kembali memulai percakapan.
"Seharusnya tidak perlu menikahiku jika kamu tidak suka dengan perjodohan ini." Aku menarik napas sebelum melanjutkan ucapanku, "Sebaiknya kita harus segera akhiri semuanya sebelum kita semakin terluka. Aku tidak mau memaksa jika kamu tidak menginginkannya. Aku yang akan mengatakan ke mama Renata kalo aku yang menginginkan perpisahan kita. Biar kamu gak disalahin," ucapku sendu sambil mengeratkan pelukanku pada tiang rumah.
"Kita tidak akan berpisah. Orang tuaku tak mungkin membiarkan itu terjadi. Mereka sangat menyukaimu." Suara Zain terdengar dari belakangku.
Kedua orang tuanya tidak tau apa yang dilakukan putranya pada menantu pilihannya ini. Jika tau mungkin mereka mau melepaskanku dari pernikahan yang terasa seperti belenggu.
"Apa papa juga sangat menyukaiku?"
__ADS_1
"Ya."
"Seharusnya papa saja yang menikah denganku jika beliau begitu menyukaiku. Kenapa aku harus menikahi putranya si pohon pisang."
"Astaga, Rayya! Bisa gak sih, serius dikit?"
Aku menoleh ke arahnya yang tengah menatapku, "Kamu bisa gak, serius sama aku?"
Aku selalu menikmati perubahan wajah Zain setiap kali aku menanyakan suatu hal padanya, seperti saat ini, Zain begitu gugup hanya dengan pertanyaan tersebut.
"Gak, bisa!" jawabnya setelah menundukkan pandangan. Zain paham kemana arah pembicaraanku, seharusnya Zain juga paham kemana arah hatiku, teganya si pohon pisang membiarkanku hanyut sendirian.
"Karena wanita itu? Jika kamu sangat menyukainya, aku bisa membantu agar kalian bersama. Tapi kamu harus janji, kamu harus menceraikanku sebelum itu."
Aku terlihat tegar, tapi percayalah, ada yang hancur berkeping-keping meskipun tak pernah terlihat. Jika perasaanku tak terbalas, setidaknya ada perasaan lain yang berbahagia dengan keputusanku.
"Kami tidak akan pernah bersama, dia telah menjadi milik pria lain. Aku pun tak ingin bersama wanita yang meninggalkanku demi harta," suara Zain terdengar pilu, mungkin luka itu begitu dalam, tapi tak seharusnya ia lampiaskan padaku. Aku tak tau apa pun.
"Bukankah kamu juga sama? Menilai orang lain dengan uang!" Sekilas kulihat Zain melirikku dengan ekor matanya.
"Menilai ketulusanku dengan uang." Kembali bulir bening meluncur dari sudut mata, aku belum pernah menemukan diriku yang cengeng sebelum bertemu Zain.
"Kenyataannya begitu!" tukasnya saat memeriksa wajahku.
"Apa kamu ingin aku mengasihanimu, dengan drama air matamu?"
"Hm. Aku pun kasihan pada diriku sendiri. Aku hanya memimpikan kebahagian kecil bersama suami yang telah berjanji di hadapan Allah untuk menerimaku apa adanya. Akan tetapi, badai menerjang sebelum aku siap berdiri dengan kakiku sendiri di atas kapal. Tentu saja aku karam."
"Jangan bicara hal yang tidak mencerminkan dirimu. Tidak cocok."
Aku menengadah menatap bintang di langit, mengahalau air mata yang siap meluncur lebih deras. Benar kata Zain, ini tidak mencerminkan diriku, aku bukan wanita yang lemah. Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kesanggupannya. Allah memilihku untuk ujian ini, karena aku bisa, aku sanggup melaluinya.
"Bagaimana masa depanku selanjutnya? Aku juga korban di sini. Jika tak berniat baik padaku lebih baik kita berpisah, aku tidak bisa seperti baju!"
"Baju?" Sepertinya Zain bertanya dengan sangat serius.
__ADS_1
"Hanya diam saja, meski selalu digantung."