
"Bunga krisan melambangkan kejujuran."
Di toko bunga, aku belajar makna bunga dari Tasya. Ijin dari Zain aku dapatkan dengan sedikit merajuk. Sebelumnya Zain kekeh yang akan mengantarku, dia khawatir jika aku bertemu dengan Lisa dan kembali disangka Tasya. Akan tetapi, karena aku meyakinkan bahwa aku dan Tasya bisa saling melindungi, akhirnya Zain pun mengijinkan.
"Bunga ini cantik sekali, pilihan warnanya juga beragam." Aku bersemangat mendekati bunga cantik dengan berbagai warna.
"Ini bunga anyelir," ucap Tasya sembari menghirup aroma bunga berwarna merah. "Setiap warna memiliki makna yang berbeda. Putih melambangkan sweet and lonely. Merah bermakna, aku tidak akan pernah melupakanmu dan anyelir dengan dua warna ini, aku tidak dapat bersamamu."
Aku mengangguk mendengar penjelasannya, Tasya begitu lihai mengenali bunga dan maknanya. Bergeser dari bunga anyelir aku menuju rumpun bunga yang sudah aku kenali. Bunga mawar. Ada banyak warna juga pada kelopaknya.
"Bukankah ini bunga yang melambangkan negri kincir angin?" Aku antusias bertanya saat melihat bunga tulip. Tasya tersenyum melihatku yang begitu girang mengenali bunga di depanku.
"Tulip memiliki makna cinta yang tak tertahankan."
Aku kembali mengangguk.
"Ini bunga apa?" Aku bertanya kepada floris yang sedari tadi mengikuti. Tasya tengah melihat bunga lain yang berseberangan denganku.
"Ini bunga aster, kak. Melambangkan cinta, kebijaksanaan dan kepercayaan. Banyak yang menginginkan bunga ini untuk diberikan pada psangannya karena memiliki makna, jagalah dirimu untukku." Sang floris menjelaskan dengan detail, membuatku tertarik untuk memberikannya pada Zain.
"Kak. Aku mau bunga ini dijadikan bouket."
Sang floris mengangguk dan mengambil beberapa tangkai bunga aster dari tempatnya.
"Bisa disisipkan beberapa bunga lavender?"
"Iya, Kak. Bisa. Tunggu sebentar ya, Kak. Biar saya rangkai dulu!"
"Oke!" jawabku penuh semangat dengan imajinasi saat memberikan bunga itu pada sang suami.
*****
"Untuk Zain?"
"Iya." Kujawab dengan menganggukan kepala pertanyaan Tasya. Kami tengah berjalan menuju pangkalan jalan besar. Pasalnya, toko bunga tempat kami membeli bunga tadi tidak ada rute taksi.
Beberapa kali aku menoleh ke arah belakangku karena merasa ada seseorang yang berada di belakang kami. Akan tetapi, saat menoleh ke belakang, tidak ada siapa pun. Entah karena memang tidak ada siapa pun, atau karena gerakan orang itu yang cepat untuk sembunyi.
Dengan rasa penasaranku, aku mengambil handphone. Ikon kamera kutekan. Betapa terkejutnya aku ketika ada seseorang dibelakang kami tengah mengikuti yang ikut dalam satu frame di handpone-ku.
__ADS_1
"Kak. Apa kamu pandai berlari?" Aku bertanya setelah menyimpan handpone kedalam tas yang melingkari bahuku.
"Kenapa?" Tasya bertanya dengan sangat polos.
"Setelah hitungan ketiga, kita lomba lari ya, Kak. Biar cepet sampai di jalan besar," bohongku agar Tasya tak cemas dengan apa yang kuketahui.
"Aku sudah lama tidak berlari, aku tak tahu apakah aku masih sanggup apa tidak."
"Kak, kita bikin taruhan," ucapku yang masih berjalan agar tak dicurigai seseorang di belakang kami. "Siapa pun yang kalah. Harus menyiapkan makan malam, tanpa di bantu."
"Oke, tantangan diterima!" Tasya penuh semangat.
Aku mengeratkan bouket bunga pada dadaku. Bersiap berlari dan berharap bunga-bunga ini tetap aman hingga ke tangan Zain. Tiga, dua, satu ... Tasya mulai berlari. Aku memang mengambil star lebih lambat untuk memastikan Tasya aman berada dalam jangkauanku.
Orang yang kukira sedang mengikuti kami, ternyata juga ikut berlari. Ini bukan hanya sebuah dugaan saja, dia benar-benar menargetkan kami. Setelah beberapa saat Tasya terlihat kelelahan, ia melambatkan ritme berlarinya.
"Jangan berhenti Kak. Seseorang mengejar kita!"
Kini aku tidak peduli orang tersebut mendengarkan teriakanku. Yang terpenting saat ini, kami harus berlari setidaknya menuju keramaian. Kuraih tangan Tasya dan membawanya berlari bersamaku.
Saat melewati sebuah bangunan tua, seseorang menarik paksa tanganku. Bouket yang kubawa terjatuh begitu saja. Merasa hal bahaya menimpaku, segera kulepaskan tangan Tasya agar bisa menyelamatkan diri. Aku hendak berteriak untuk memperingatkan Tasya agar tak berhenti berlari, sayangnya, tangan itu membekap mulutku dengan kuat.
"Rayya ini aku!" Suara familiar menghentikan aksiku meronta dari dekapan orang tersebut. Perlahan tangannya mengendor memberi kesempatan untukku bernapas.
"Mas Zain, aku takut," rintihku saat tangannya membalas pelukanku.
"Aku sudah di sini, kamu tak perlu takut lagi. Aku akan melindungi istriku!
"Bagaimana dengan kak Tasya?"
"Biarkan saja, kita bisa memancing orang itu agar melewati tempat ini."
Setelah melepaskan pelukan, Zain menengok ke kanan dan ke kiri. Kemudian mendekati sebatang kayu yang tergelatak dan mengambilnya. Ia berjongkok di tepi bangunan, jari telunjuknya ia tempelkan pada bibirnya sendiri, sebagai perintah agar aku tak bersuara.
BRAK....
Perkiraan Zain sangat akurat. Saat pria yang mengejar kami melewati gedung tua, Zain menghadang dengan memukulkan kayu di tangannya tepat pada tulang kering sang pria. Ia tersungkur dengan memegangi kaki.
Tak berselang lama, pria yang tersungkur itu bangkit dan berlari menjauhi Zain yang masih menggenggam kayu.
__ADS_1
"Kenapa tidak dikejar, Mas?" tanyaku pada Zain yang hanya berdiam diri saat pria tersebut melarikan diri.
"Biarkan saja, De. Aku bisa saja mematahkan kakinya, tapi, kamu tentu tidak mau berurusan dengan polisi kan?"
Aku menganggukan kepala sebelum membenamkannya pada dada bidang Zain yang tengah merengkuhku.
"Yang penting kamu selamat," gumamnya di sela menciumi keningku dengan lembut.
"Bagaimana Mas Zain tahu, aku dalam bahaya?" Kutanyakan hal yang sudah membuatku penasaran sejak tadi.
"Perasaanku tak enak, setelah kamu meminta ijin keluar rumah."
"Lalu, Mas Zain tahu dari mana aku di tempat ini? Aku tidak memberi tahu Mas Zain aku hendak ke toko bunga mana!" Aku menuntaskan semua keingintahuanku.
"Semalam aku memasang aplikasi pelacak di handpone-mu, agar sewaktu-waktu bisa tahu keberadaanmu. Aku mengkhawatirkan keadanmu setelah istri Ferdi salah mengira kamu sebagai Tasya."
Aku menyesal melihat kekhawatiran di wajah Zain. Seharusnya aku menuruti perkataan suamiku yang melarangku keluar rumah.
"Maaf, ya, Mas. Aku belum bisa menjadi istri yang patuh." Aku bergumam lirih, benar-benar menyesal telah membuat Zain khawatir.
"Itu bunga untukku?"
Akhirnya aku melepas pelukanku dan beralih pada bunga yang tergeletak di jalan.
"Terimakasih." Zain berucap seraya senyum mengembang di wajahnya.
"Terimakasih karena telah menjaga dirimu untukku."
Aku tersipu malu karena Zain tahu makna bunga yang kini ada di tangannya. Bukankah aku yang harus berterimakasih karena Zain telah datang menyelamatkan dan menjagaku?
"Mas, sudah hancur," ratapku melihat bunga yang beberapa kelopaknya rontok.
"Kita bisa bawa pulang yang masih utuh."
"Mas, aku lupa dengan Tasya! Dia lari kemana?!" pekikku setelah melupakannya cukup lama.
"Mungkin dia sudah berada di keramaian atau mencari perlindungan. Kita bisa cari sama-sama setelah ini," ucapnya yang masih memunguti bunga.
"Mas!"
__ADS_1
"Ya."
"Terimakasih telah menjadi malaikat tanpa sayap bagiku."