
Ternyata hal itu bukanlah ancaman Caca atau Tasya semata. Tanpa aba-aba, ia langsung menyayat nadinya sendiri.
Aku yang sudah lama menahan pusing semenjak melihat darah di dahi wanita tersebut, tak sanggup lagi mempertahankan kesadaranku ketika melihat darah segar mengalir dari tangannya.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Namun, saat aku membuka mata hanya ada tante Aira dan om Rahman di sisiku.
"Kamu sudah siuman sayang?" Wajah tante Aira dipenuhi senyuman saat melihatku membuka mata, begitu juga om Rahman.
Mataku berkeliling memindai ruangan yang nampak asing bagiku. Entah dimana ini, dan entah dimana pria yang seharusnya ada di sisiku.
"Di mana, mas Zain?" Kutanyakan pada tante Aira.
Tak ada jawaban dari wanita itu, hanya senyum yang terus terukir manis dari wajahnya. Tante Aira membantuku duduk bersandar pada kepala ranjang. Memberikan segelas minuman hangat yang kemudian kutolak karena aku ingin jawaban di mana suamiku.
"Tante tidak akan memberitahu apa pun sebelum kamu benar-benar pulih, Sayang."
"Maaf, Tan. Jika aku hanya beban untukmu. Aku akan mencari mas Zain sendiri." Aku mulai bergerak untuk menuruni ranjang. Namun, om Rahman siaga menahan pergerakanku.
"Jangan salah paham, Rayya. Kamu bukanlah beban sama sekali bagi kami. Kami menyayangimu seperti anak sendiri. Tolong maafkan ucapan tantemu sebelumnya. Ia hanya tidak percaya dengan ucapan mbak Wanda."
Kutatap om Rahman saat ia bicara, lalu tante Aira kemudian. Ia tengah menunduk menyembunyikan kesedihannya.
"Tante, di mana mas Zain?" Sentuhan lembut dari tanganku pada punggung tangannya membuat tante Aira mendongak. Matanya mengkristal, sungguh aku menyesal harus berbuat agois seperti itu.
"Aku baik-baik saja, Tan. Aku hanya merasa seperti tidur saja, Tante tahu tentang itu. Di mana mas Zain, kenapa dia tidak ada di sini. Memang apa yang terjadi?"
"Mama, akan menceritakan semuanya." Dokter Wanda tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Ia tidak sendiri, bang Adam juga membersamainya.
"Maaf, Sayang. Mama minta bantuan Zain untuk menenangkan Caca," ucap Dokter Wanda sambil mengelus puncak hijab berwarna moca yang kukenakan.
"Memang apa yang terjadi pada wanita itu, kenapa harus mas Zain?" Sederet pertanyaan terlontar begitu saja dari mulutku.
Dokter Wanda terlihat menghela napas sesaat sebelum duduk di sampingku dan menarik kepalaku agar bersandar di bahunya. Sebenarnya ini canggung bagiku.
"Sepertimu yang memiliki trauma karena melihat darah, Tasya juga mengalami trauma setelah ibunya meninggal. Kesedihan yang berlarut membuat Tasya mengeluarkan sisi lain dirinya tanpa ia sadari. Caca adalah kepribadian yang Tasya ciptakan untuk menyembunyikan kesedihannya."
"Tasya berkepribadian ganda?!" jeritku menjauhkan kepala ini dari bahu Dokter Wanda. Kutatap satu per satu wajah tante Aira, om Rahman juga bang Adam. Tidak ada yang terkejut sepertiku.
__ADS_1
"Kami juga baru tahu beberapa saat yang lalu." Bang Adam seperti meyakinkan. Begitupun anggukan tante Aira dan om Rahman.
"Di mana, mas Zain?"
"Apa kamu hanya mengkhawatirkan, Zain?" Bang Adam menyela. Memang siapa lagi yang harus kukhawatirkan selain suamiku.
"Zain baik-baik saja, dia akan menemuimu setelah memastikan Caca tertidur. Mama sudah memberikan obat penenang untuk Caca," ucapan Dokter Wanda sama sekali tak menjawab pertanyaanku.
"Kenapa harus mas Zain, kenapa tidak Bang Adam saja yang menunggu si Caca tidur?"
Ucapanku membuat bang Adam membesarkan matanya. Cubitan di kakiku juga dihadiahkannya yang memang duduk di bawah sana.
"Kendalikan dirimu. Semua orang di sini tahu Zain itu suamimu. Tak perlu menampakkan cemburu yang berlebihan dengan menumbalkan orang lain. Caca juga bisa menghabisiku, dia hanya tunduk pada ucapan pawangnya."
Aku menautkan dua alisku mendengar ucapan bang Adam. Memang apa salahnya menemani Caca sebelum tidur, kenapa harus mas Zain yang sudah bersetatus suamiku.
"Kenapa harus mas Zain?"
"Caca masih dengan ancaman akan membawa Tasya menghilang bersamanya. Kami butuh Zain untuk memastikan Caca mengalah seperti dulu dan memberikan kendali tubuhnya kepada Tasya. Karena hanya Zain yang bisa melakukan itu, Sayang."
"Itu hanya dalam film, Dok, ehm, Tan ...." Aku bingung menyematkan nama panggilan untuk wanita di sampingku.
"Aku ingin menemui mas Zain, M-ma. di mana mas Zain?"
"Aku antar. Tapi janji, jika Caca belum tidur, kamu hanya boleh menatap Zain dari kejauhan."
"Apa-apaan ini, Bang. Kenapa mengatur seorang istri yang akan menemui suaminya sendiri?" Aku masih menggerutu meski tatapan semua orang tertuju padaku. Apa semuanya hanya peduli pada Tasya, dan tidak memikirkan perasaanku sebagai istrinya mas Zain.
"Demi kebaikanmu," ucap bang Adam lagi.
Aku segera menuruni ranjang dan mengekori langkah bang Adam di belakangnya. Meninggalkan tante Aira dan Dokter Wanda yang sepertinya sudah baikan sebelum aku siuman.
Begitu melangkahkan kaki keluar kamar. Pemandangan menakjubkan segera menyapa. Vas dan guci besar yang sebelumnya menghiasi rumah ini tak ada satu pun. Kemana semua benda-benda yang terlihat mahal itu.
"Kemana vas-vas bunga yang sebelumnya berjajar di sini?" Aku menunjuk area kosong yang sebelumnya dipenuhi vas bunga.
"Habis. Dibanting si Caca!" jawab bang Adam tanpa menoleh padaku.
__ADS_1
"Abang lihat sendiri?"
"Iya. Kebetulan waktu aku pulang, si Caca tengah tantrum . Tak ada yang bisa menghentikan Caca, bahkan om kamu sekalipun yang bertubuh besar."
"Ooh." Hanya itu yang keluar dari mulutku. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Tapi Caca menyayat nadinya sebelum aku pingsan."
"Karena itulah semua orang ingin membantu mengobati luka di tangan Caca. Tapi dia tidak mau di dekati siapa pun dan membanting semua barang yang ada di dekatnya."
Bang Adam tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menggulung lengan baju yang dikenakannya hingga ke siku.
"Lihat ini." Bang Adam menunjukkan bekas cakaran di kedua tangannya yang terlihat masih baru.
"Ini karena aku mencoba menenangkan kakakmu."
"Karena sebelumnya aku memanggilnya kaka, bukan berarti aku menerimanya sebagai kakakku." Kulipat kedua tanganku di depan dada.
"Memang darah lebih kental dari air. Kamu sama keras kepalanya dengan Tasya," ucap bang Adam sambil berlalu.
Harusnya bang Adam mendengarkan penjelasanku mengapa aku tidak mau mengakuinya kakakku. Bukan malah berasumsi sendiri jika aku keras kepala.
Aku hanya tidak ingin diminta mengalah untuk kakakku nanti. Seperti kebanyakan orang di luaran sana yang meminta adiknya mengalah demi sang kakak. Apalagi tentang urusan mas Zain. Never.
"Lalu siapa yang menghentikan, Caca?" tanyaku lagi saat menapaki anak tangga yang ketiga.
"Suamimu."
"Mas Zain? Mas Zain lebih mementingkan Caca daripada istrinya yang tengah pingsan?" Aku mendahului langkah bang Adam yang seketika menghentikan langkahnya karena tertahan oleh tanganku.
"Zain terus memelukmu sebelum kami memintanya menangani Caca."
Kususul bang Adam dengan langkah melompat bak anak katak setelah mematung karena ucapan bang Adam tentang mas Zain yang terus memelukku.
"Suamimu ada di kamar ini." Bang Adam sudah bersandar di dinding dekat pintu sebuah kamar.
Memang harus banget ya, mereka berduaan dalam kamar?
__ADS_1
Tak butuh persetujuan lagi, kenop pintu kuputar dan sedikit mendorong daun pintu untuk mengintip apa yang tengah mereka lakukan berdua dalam kamar.
"Mas Zain?!"