Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Bukan Mimpi


__ADS_3

"Kamu bisa jatuh, jika terus mundur."


Aku yang sadar akan posisiku telah sampai di tepi menghentikan kegiatanku. Tidak dengan Zain, ia justru semakin mendekat.


"STOP!" Perintahku, tapi Zain tak menghiraukan. Ia malah semakin mendekat, aku memejamkan mata saat tangannya terulur menarik selimut yang kukenakan.


"Kamu pikir, cuma kamu yang butuh selimut?"


Mata kubuka dengan perlahan. Sekarang aku bisa bernapas dengan normal, sebelumnya paru-paru ini seakan lupa caranya menyimpan oksigen. Setelah mengambil selimut itu dariku, Zain menjauh, tapi tidak kembali pada tempatnya di sisi kanan, melainkan membaringkan diri tepat di tengah ranjang.


Aku berdiam diri melihatnya yang tengah kesusahan mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya dengan satu tangan. Pada akhirnya, aku tak tega. Aku mendekat dan membantunya.


"Kita bisa tidur di bawah selimut yang sama."


Sejak pagi hari, ucapan Zain selalu berhasil membuatku membeku. Matanya mengarahkanku agar tidur di sisinya.


"Aku tidak akan melakukan hal yang aneh. Membuka baju sendiri saja susah, tidak mungkin aku akan membuka bajumu," gumamnya, senyuman pun seperti tak pernah meninggalkan wajah itu.


Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada setelah mendengar ucapannya. Zain sepertinya benar-benar gegar otak. Kini tangannya terulur meraih ujung bajuku, menariknya seperti anak kecil.


Aku yang risih akan hal tersebut, menggunakan tanganku untuk menepis tangannya. Namun tangan ini berhasil di genggam, tanpa ragu Zain menarik ke arahnya. Aku jatuh tepat di atas dada, yang membuatnya meringis menahan berat badanku. Menyadari hal itu, aku segera beranjak, namun dengan sigap tanganku kembali di raihnya.


"Aku hanya ingin dekat denganmu. Tidurlah di sampingku. Aku akan menjamin keselamatanmu malam ini."


Aku merasakan benteng tinggi yang telah kubangun beberapa hari ini mulai runtuh bersama detak jantung yang berpacu seolah tengah lari maraton. Jantungku benar-benar tak aman jika Zain terus bersikap seperti ini.


Mata kami saling bertemu saat kuputuskan untuk menunduk. Manik coklat itu seakan mengandung mantra yang membuat tubuhku mengikuti keinginannya.


"Sepertinya, guna-gunamu berhasil."


Baru saja aku membaringkan kepalaku di sampingnya dengan ragu. Zain menambah keraguan lain di benakku.


"Maksudnya?"


"Aku sendiri tidak tahu apa yang tengah kualami, aku selalu ingin berada di dekatmu. Awalnya aku marah saat kamu terus berusaha mendekatiku, tapi setelah beberapa hari ini kamu menjauhiku, aku merasa semakin marah."

__ADS_1


Zain memiringkan tubuhnya menghadapku, ditatap demikian membuatku menjadi salah tingkah hingga mata ini kutujukan pada langit-langit kamar.


"Kamu benar-benar memakai guna-guna padaku!"


"Aku tidak melakukan yang kamu tuduhkan, Mas!" Aku kembali menatapnya untuk menyangkal tuduhan, tapi berakhir dengan jantung yang semakin tak terkendali saat melihat tatapannya.


Aku berusaha menetralisir gugup dengan berpaling, namun tangannya menahan wajahku bahkan menariknya dengan lembut agar kembali bertatap dengannya.


"Kamu selalu tidur dengan hijab?"


"Aku ...." Suaraku tercekat, ketika tangan Zain kurasakan tengah membenahi anak rambut yang mengintip di balik hijab.


Setelah memutuskan untuk berhijab semenjak SMA, aku belum pernah menampakan rambutku di depan pria mana pun. Bahkan di depan Zain-- suamiku. Rasanya begitu canggung, mengingat Zain belum bisa menerimaku sebagai istrinya. Mungkin hatinya masih dipenuhi oleh kenangan masa lalu.


"Di rumah ini, masih ada kamar kosong lainnya kan?" tanyaku setelah menjauhkan tangannya dari wajahku.


"Aku gak 'kan ijinin kamu pergi dari sini." Zain seolah tahu aku akan menghindarinya. Kini tangan kirinya ia lingkarkan di atas perutku hingga ke pinggang.


"Biarkan aku tidur seperti ini," ucapnya lagi setelah mendekatkan wajahnya di antara ceruk leherku.


"Aku tidak pernah berakting. Aku melakukannya karena aku mau. Sebagai suamimu, bukankah aku berhak untuk hal seperti ini?"


Aku menarik napas dalam mengambil udara sebanyak yang aku bisa agar memenuhi seluruh paru-paru. Apa maksud ucapan Zain barusan? Jika ia tengah membahas 'hak' paket yang menyertainya adalah kewa ... aish. Jauh-jauh otak kotor!


"Kenapa tidak kamu suruh jantungmu agar tenang, bagaimana aku bisa tidur jika jantungmu begitu ribut?"


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, jantungku ribut karena dia yang mau seperti itu."


"Ternyata kamu seorang pendendam!" Sebuah tawa kecil ia perdengarkan.


"Aku bahkan masih merindukanmu, disaat memelukmu. Aku benar-benar sudah kena guna-guna." Zain semakin mempererat pelukan, membuatku semakin sulit untuk bernapas.


"Aku tidak melakukan apa pun padamu, Mas. Sedikit pun aku tidak pernah berpikir seperti itu."


"Sejak melihatmu untuk pertama kalinya, kamu sudah memenuhi pikiranku. Aku tidak bisa fokus bekerja, senyummu selalu hadir di mataku, dan aku sangat terganggu oleh itu. Apa aku akan percaya jika aku tidak kamu guna-guna?"

__ADS_1


Gelenyar aneh yang menjalar di setiap aliran darahku bercampur dengan bimbang yang mengaduk-aduk perasaanku seketika. Zain tengah mengakui perasaannya atau ....


"Mengapa tak melanjutkan keinginan Mas Zain, untuk menghentikan pernikahan ini, jika Mas Zain begitu membenciku."


"Aku tidak pernah mengatakan aku membencimu. Aku hanya merasa terganggu karenamu. Awalnya, aku memang ingin membuatmu membenciku, agar kamu sendiri yang merasa lelah dan mengakhiri pernikahan ini. Tapi setiap kali melihatmu menangis, aku merasa ingin melindungimu."


"Aku kira, Mas Zain, tengah mengakui perasaan padaku, ternyata cuma mengasihaniku?"


Kini Zain mengangkat kepalanya lebih tinggi beberapa senti dari wajahku. Ia menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.


"Apa aku seperti tengah mengutarakan perasanku?"


Aku mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya. Namun, Zain nampak tengah berpikir. Mungkin sebentar lagi ia akan menyesali ucapannya.


"Mau mencoba menjalani pernikahan ini, seperti orang lain pada umumnya?"


Hampir saja jantung ini melompat dari tempatnya karena begitu terkejut.


"Itu pertanyaan apa pernyataan?" tanyaku mengharapkan penjelasan.


"Keduanya," jawabnya singkat. Aku segara mencubit pinggangnya untuk memastikan aku belum tidur dan sedang bermimpi. Dari jeritan yang keluar dari mulut Zain, aku bisa memastikan aku masih terjaga.


"Kenapa mencubitku? Itu bisa membahayakan kita berdua." Kata-katanya berhasil membuatku mengernyitkan dahi.


"Aku hanya memastikan kalau ini bukan mimpi."


"Apa kamu sudah yakin kalo ini bukan mimpi?"


Tiba-tiba aku merasakan gelagat aneh setelah pertanyaan itu, jangan bilang Zain hanya mengerjaiku.


"Aku punya cara lain untuk memastikan ini lebih indah dari mimpi," bisiknya, meski udara yang dihembuskan dari mulutnya tak langsung mengenai telingaku. Namun hal tersebut telah berhasil membangunkan semua bulu halus di sekitar tengkuk.


Setelah Zain mengangkat wajahnya kembali, aku tak segera menjawab pernyataannya. Mata kami hanya sibuk saling menatap. Disapunya bibirku dengan ibu jarinya untuk menghapus jejak bibirnya.


"Apa aku bisa meminta hakku sebagai suami malam ini? Kamu harus bertanggung jawab karena membangunkan sisi lelakiku," gumamnya begitu lirih, membuatku menelan saliva seketika.

__ADS_1


__ADS_2