
"Mas!"
Aku mengikutinya ke luar kamar. Karena langkahnya yang begitu cepat, aku harus sedikit berlari menyongsongnya yang berjalan ke teras depan. Sesampainya di tempat itu aku bersimpuh di bawah Zain yang tengah duduk di bangku teras dengan memegangi kening.
"Sakit, ya?" Kusapu bibir bawahnya menggunakan ibu jari. Zain sama sekali tak terlihat marah, tapi kenapa tiba-tiba pergi begitu saja.
Aktivitas tangan ini kembali dihentikan. Kelima jarinya ditautkan dengan jariku, dikecupnya beberapa kali punggung tanganku olehnya.
"Kenapa, Mas?" tanyaku lembut, berharap kelakuanku tadi bukan alasan Zain yang tiba-tiba keluar kamar setelah aku sedikit mendorongnya.
"Kamu tidak akan tahu bagaimana perasaan laki-laki yang tengah menahan hasrat." bisiknya di telingaku, yang segera di respon oleh semua bulu halus di sekitar tengkuk. Mungkin pipiku juga telah merona, karena aku merasakan ada hawa panas di sana.
"Kalo gitu, aku akan jaga jarak dengan Mas Zain."
"Itu sama sekali bukan solusi. Aku tidak akan mengijinkanmu jauh dariku."
Bucin membuatku lupa dengan ucapan sebelumnya. Sudah tak ada istilah suami istri tidak melakukan ciuman di tempat terbuka. Sekarang, kapan pun suamiku menginginkannya adalah perintah bagiku.
TRAKZ....
Suara kaca pecah di barengi dengan teriakan terdengar, tepat setelah Zain hendak menikmati permainan bibirnya. Aku dan Zain saling tatap dengan heran. Setelahnya terdengar suara bising kenalpot motor melaju menjauhi area tempat kami tinggal.
"Kak Tasya!" Aku bergumam, saat menyadari suara sebelumnya berasal dari rumah sebelah.
"Bolehkah aku menghampirinya?"
"Aku akan ikut denganmu," ucapnya dengan mengangguk.
Tak butuh waktu lama, aku dan Zain telah berada di teras rumah kak Tasya. Bu Endang pun terlihat tengah berlari dengan tergopoh menghampiri kami. Ternyata suara tersebut terdengar sampai ke rumah bu Endang.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Tasya?" Bu Endang begitu prihatin. Matanya menyisir pada kaca yang berserakan. Mungkin sebuah benda menghantam kaca jendela tersebut dengan keras hingga suaranya terdengar beberapa meter dari lokasi.
"Kami belum tahu. Kak Tasya tidak menjawab panggilan kami," jawabku yang tengah mencoba membuka pintu namun terkunci dari dalam.
Memahami kesulitanku, bu Endang memerintahkan agar aku dan Zain menyingkir dari depan pintu. Ia sendiri berjalan menjauhi pintu tersebut, kemudian menghadapnya kembali. Setelah beberapa kali bu Endang menghirup napas dan membuangnya, ia kembali mendekati pintu dengan sedikit berlari. Alhasil, hanya satu kali tendangan pintu itu terbuka. The real strong women.
Tanpa menunggu perintah siapapun, aku segera memasuki rumah Tasya setelah pintu terbuka. Tasya tengah duduk dengan memeluk kedua lututnya di lantai samping sofa. Rambutnya yang tergerai panjang menutupi sebagian wajahnya yang ia sembunyikan di sela lutut.
"Semua akan baik-baik saja, Kak," ucapku setelah merengkuh tubuh yang meringkuk dengan bergetar. Tak ada respon dari Tasya.
Bu Endang yang berada di belakangku segera mengambil kertas lusuh di samping Tasya, sebuah batu besar juga ada disebelah kertas tersebut. Mungkin batu itu yang digunakan untuk memasukan kertas melalui kaca. Kalimat 'pelakor' tertulis sangat besar dengan warna merah menyala berbau anyir darah.
Segelas air berada di tangan bu Endang setelah beberapa saat ia masuk ke dalam rumah. Dengan tubuh besarnya, ia memaksakan untuk berjongkok menyejajarkan tinggi kami bertiga. Dengan lembut tangannya mengelus puncak rambut Tasya yang meresponnya dengan mendongakkan kepala.
"Minum dulu!"
"Mas!" Aku terkejut ketika Zain yang sedari tadi berdiri di depan pintu akhirnya mendekati kami secara perlahan.
"Zain?!"
Aku menoleh segera setelah Tasya melafazdkan nama suamiku. Wajah yang sebelumnya datar kini menampakkan kesedihan. Matanya mulai berkaca-kaca. Tak butuh waktu hingga lima detik, kini Tasya telah berdiri dan menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan ... suamiku.
"Rayya!" Seperti memahami situasinya, bu Endang segera mendekapku yang tengah terguncang melihat suamiku di peluk oleh mantannya.
"Sabar, Nak. Itu hanya tindakan impulsif, karena kejadian yang tengah menimpa Tasya. Tak perlu dimasukkan dalam hati."
"Harusnya dimasukkan ke mana, Bu?"
"Sebaiknya dimasukan ke jantung, ginjal, usus, paru-paru atau lambung. Asal tidak ke hati."
__ADS_1
Aku mengangguk merespon ucapan bu Endang. Namun, sepertinya Zain tak berinisiatif melepaskan pelukan itu darinya dalam waktu dekat ini. Lama-lama mataku tak kuat melihat adegan tersebut. Kualihkan pandangan menuju serpihan kaca yang kurasa saat ini bentuknya sama dengan hatiku.
"Aku akan pulang, Bu."
Bu Endang menjauhkan tubuh gempalnya dariku. Membuatku lebih leluasa untuk berdiri. Aku memang hendak pergi dari rumah ini, namun, langkahku terhenti saat Zain meraih tanganku ketika aku melewatinya.
Mungkin aku sudah menjadi bod*h, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Kini aku justru lebih dekat dengan keduanya yang tengah berpelukan seperti Teletubbies. Aku benci dengan Zain, dengan Tasya dan ... diriku sendiri. Yang kulakukan hanya membuang muka saat Zain terus menatapku, tapi tak melepas pelukan dari wanita lain di depan istrinya.
"APA-APAAN INI!" teriak seorang pria jangkung ketika sampai di depan pintu. Matanya membola melihat istrinya dalam pelukan pria lain. Kemarahan nampak begitu jelas dari rahangnya yang tegas. Aku tahu apa yang dirasakan pria dengan jas hitam tersebut.
Kulihat Tasya tersentak karena suara itu, dengan sendirinya ia mengurai pelukan dari Zain dan mundur beberapa langkah. Berbeda dengan suaminya, ia malah mendekat ke arah Zain. Satu tangan besarnya mencengkeram baju yang dikenakan suamiku, yang lainnya telah siap dengan kepalan tangan di samping kepala.
Sebelum bogem mentah itu melukai wajah suamiku, aku lebih dulu menggunakan tubuhku sebagai perisai. Tiga, dua, satu, aku menghitung mundur dengan mata terpejam. Saat aku membuka mata, kepalan tangan itu telah terbungkus kedua tangan lentik istrinya.
"Aku bisa menjelaskan semuanya, Mas." Tasya terlihat memohon pada sang pria. Tatapan itu menjadi begitu lembut menyapu wajah istrinya. Namun, cengkeramnya pada baju suamiku tak berubah.
Aku memahami Zain tak bisa berbuat apa-apa dengan situasi ini. Satu tangannya masih mengenakan gips, dan satu tangan lainnya ia lingkarkan pada perutku ketika aku mencoba melindunginya. Tak ingin Zain terintimidasi lebih lama, segera kulakukan ide yang tiba-tiba melintas. Tak kusiakan momen saat sang pria tengah lengah, memandangi wajah istrinya.
"Bismillah."
"Aaaa ...." Teriakannya terdengar menyayat. Seiring terlepasnya tangan itu dari baju yang di cengkeramnya. Matanya tertuju pada ukiran gigi yang terpahat secara simetris pada lengan tersebut. Sang istri tak hentinya meniup dan mengusap lengan itu bergantian.
"Apa kamu seekor kucing, kenapa menggigitku?!"
Mulutnya hanya mengeluarkan satu binatang peliharaan, tapi aku tahu, matanya mengeluarkan banyak binatang peliharaan lainnya.
bersambung dulu ya ....
__ADS_1