
"ini!"
Baru saja memasuki kamar, Zain telah menodongku dengan handpone di tangannya. Detective oppa calling, tertera pada layar handphone. Pantas saja wajah Zain begitu murung.
Pada akhirnya aku meneceritakan dengan jujur siapa yang aku simpan dengan nama itu di handpone-ku.
"Jangan ikut campur masalah orang lain, De!" Nasehatnya setelah kami duduk di tepi ranjang bersisian.
Memang sebelumnya aku berhenti mencari tahu apa pun tentang mereka, tapi saat wanita bernama Lisa mengancam Tasya, hatiku merasa ikut nyesek. Aku tidak bisa membayangkan jika berada di posisi Tasya. Karena itu aku kembali meminta Detective oppa untuk mencari tahu kisah mereka bertiga.
"Masalah seperti itu adalah privasi. Kamu bisa kena pelanggaran privasi, De!" ucapnya sembari menarikku agar bersandar di bahunya.
"Maaf, Mas. Tapi ...."
"Apa?"
"Mas Zain sebenanrnya pengusaha apa pengacara? Hapal bener masalah pelanggaran."
Zain tersenyum sambil mengelus pipi ini dengan tangan yang masih dibalut gips.
"Tidak ada salahnya mempelajari segala hal."
"Mas, tadi kok, bisa mengangkat aku ke atas meja?" Kini arah pertanyaan kubelokkan begitu jauh, tangan dengan gips itu kuketuk-ketuk dengan jari.
"Sudah sembuh, De. Kan cuma terkilir aja." Zain menggerakkan tangannya yang terlihat normal.
Tiba-tiba dering handphone kembali diperdengarkan benda tersebut. Detective oppa calling, kembali menghiasai layar. Zain terlihat menghembuskan napas kasar.
"Biar aku yang bicara!" Zain mengambil benda pipih yang tergelatak di sampingku. Sebelum Zain sempat berbicara, sambungan tersebut terputus disusul beberapa pesan masuk.
Setelah membaca pesan itu, aku dan Zain hanya bisa saling tatap. Selama ini teror yang dialami Tasya didalangi istri pertama Ferdi. Bahkan sebetulnya Tasya sudah berulang kali mendapat ancaman pembunuhan dari wanita tersebut, hanya saja Ferdi memang selalu menyembunyikan Tasya dari istri pertamanya.
Sebesar itu Tasya mencintai suami yang menikahinya atas dasar jaminan hutang. Sehingga ia mampu mempertahankan rumah tangganya hingga sejauh ini. Dalam hati aku merasa kagum juga geregetan.
"Gak usah dipikirkan, De. Lebih baik kita tidur, sudah malam."
Aku menuruti ucapannya, tapi setelah lama berbaring, mata ini tak bisa terpejam. Pikiranku masih dipenuhi informasi tadi.
"Mas, apa kamu tidak khawatir?" Aku memiringkan tubuhku menghadap Zain.
"Itu bukan urusan kita, De!" ucapnya yang masih duduk dengan buku ditangannya. Padahal ia yang mengajakku tidur tapi malah sibuk dengan bukunya.
"Tapi ini menyangkut nyawa, Mas. Aku takut terjadi sesuatu pada kak Tasya!"
"Memangnya apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita masih bisa melindunginya, Mas!"
__ADS_1
"Kenapa aku harus repot melindungi wanita yang bukan siapa-siapa?" Matanya beralih menatapku. "Aku kan sudah bilang untuk diabaikan saja, gimana jika akhirnya kamu ikut terseret dalam masalah mereka. Tadi saja kamu jadi sasaran wanita itu. Aku tidak mau kamu terluka, De!"
Ucapan Zain memang ada benarnya. Sudah cukup kesalah pahaman tentangku dari masalah mereka. Semoga si Lisa sudah bisa membedakan mana Tasya mana Rayya.
"Mas, mau sampai kapan memandangi buku dan istri dianggurin gitu aja!"
Telapak tangan ini kugunakan menutupi buku agar Zain menghentikan aktifitas membacanya.
"Ngomongnya mancing-mancing, nih!"
Pada akhirnya aku berhasil membuat Zain melepaskan bukunya. Ia berbaring di sebelahku dan membiarkan lengan kokohnya menjadi bantal.
"Mas, makasih, ya?"
"Untuk?"
"Semuanya."
Terimakasih untuk menjaga perasaanku karena hanya memikirkan keselamatanku dan mengabaikan wanita lain yang bisa membuatku sakit hati. Padahal ancaman kehilangan nyawa adalah hal yang serius.
Kuletakkan tanganku melingkari perutnya, sebuah kecupan di pipi juga kuhadiahkan.
"Tidur, De. Sebelum ada yang kebangun."
Zain mengganti posisi tidurnya menghadap padaku, membiarkanku tidur dalam pelukannya setelah kecupan di keningku.
*****
Aku yang tengah membantu Zain mengeringkan rambutnya setelah mandi menyempatkan untuk mengangguk.
"Jangan dipaksakan ya, Mas. Kalau masih terasa sakit."
"Hanya bolpoin yang aku pegang, De. Gak usah khawatir berlebihan gitu." Zain memutar tubuhnya, sehingga saling berhadapan denganku.
"Oke," jawabku seraya mencubit pipi chubby suami.
"Tapi Mas Zain belum bisa bawa mobil sendiri." Aku kembali mengingatkan.
"Pesan taksi online, De."
"Kenapa lagi? Mau bikin aku terlambat berangkat kerja seperti sebelumnya?" Zain bertanya setelah aku berdiam diri beberapa saat.
Aku menggeleng. Segera kuambil dasi dan memasangnya di kerah leher Zain.
"Apa sih, De? Kalo ada sesuatu itu diomongin. Kalau tiba-tiba ngambek gini aku gak ngerti salahku di mana!"
"Gak ngambek!" Jawabku singkat.
__ADS_1
"Kelihatan dari wajahmu, De. Apa yang bikin kamu marah?"
Aku ragu mengatakannya, sepertinya aku belum siap jika harus menahan rindu dengan jarak waktu tujuh jam. Kenapa para istri bisa melepas suami mereka hingga berhari, berbulan bahkan ada yang hingga bertahun-tahun jauh dari suaminya. Apa mereka tak rindu?
"Boleh aku ikut?" pintaku sedikit merengek. Zain tersenyum kemudian merengkuh tubuhku dalam pelukannya.
"Ada Tasya di rumah. Kita sedang diamanahi untuk menjaganya, hingga suaminya kembali. Jika kamu ikut, apa kamu mau, Tasya juga pergi bersama kita?"
Aku menggeleng dengan cepat.
*****
"Rayya!"
"Ya, Kak!"
Saat aku tengah menyirami bunga di taman belakang Tasya menghampiri.
"Sepertinya aku harus kembali ke rumahku."
"Tapi, Kak. Suamimu yang meminta agar kamu tinggal bersama kami dulu. Demi keselamatanmu." Kuraih tangannya yang begitu dingin.
"Aku khawatir, keberadaanku di sini akan membahayakanmu juga. Seperti kejadian semalam."
"Jangan khawatir, Kak. Kita berdua bisa saling melindungi jika wanita itu datang lagi." Aku mencoba memberikan semangat agar beban pikirannya sedikit berkurang.
"Kak, sebaiknya bunga apa yang harus aku tanam agar taman ini tak terlihat kosong." Aku mengalihkan pembicaraan pada taman. Tasya suka merawat bunga, hal itu pasti bisa mengalihkan sedikit kekhawatirannya.
"Kamu suka bunga apa?" tanyanya dengan mata memindai taman yang hanya ada beberapa pohon bunga. Ideku berhasil.
"Aku tidak tahu macam-macam bunga, Kak. Aku hanya tahu bunga mawar, melati, anggrek dan bunga bank aja Kak, yang lainnya bagiku sama. Sama-sama bunga."
Pada akhirnya sudut bibir Tasya menerbitkan sedikit senyuman. Kemudian ia turun ke taman untuk menata kembali bunga yang aku tanam secara acak.
"Wah, Kaka ternyata sangat berbakat mendekorasi taman." pujiku yang merasa puas dengan hasil tangan Tasya. Zain pasti akan semakin betah nongkrong di sini sambil menatap bunga yang tertata rapih.
"Apa Kaka sekolah untuk mendekorasi?" tanyaku antusias.
"Tidak. Aku hanya mengikuti naluriku saja," ucapnya merendah, padahal hasil tangannya benar-benar luar biasa.
"Ibuku sangat menyukai bunga, aku selalu disisinya setiap kali merawat bunga-bunga kesayangan beliau. Kadang juga pergi untuk membeli bunga atau sekedar melihat keindahannya saja." Tasya bercerita tentang bunga dan ibunya dengan wajah sendu.
"Hingga akhir hayatnya beliau masih merawat taman bunga di depan rumah kami. Bunga favorit kami sama, lavender. Bunga lavender melambangkan pengabdian, kesucian, dan cinta. Seperti ibuku yang begitu setia pada ayah. Aku juga ingin mengikuti jejak beliau untuk setia kepada satu laki-laki."
Pikiranku mendadak overtingking saat mendengar bunga favorit Tasya dan Zain sama-sama lavender.
__ADS_1