Pelarian Jiwa Raga

Pelarian Jiwa Raga
Demo


__ADS_3

Belum lama Gheya memikirkan kesepakatan tadi, tiba-tiba saja muncul Bilim. Paling anehnya, semua sangat lengkap. Ponsel Realme itu kini jatuh, ke genggaman tangan Gheya.


"Alhamdulillah, ponselku ditemukan. Yakinlah sesuatu yang memang menjadi milikku, meski sudah hilang pasti akan kembali." Gheya berdecak kagum.


Bilim ikut senang. "Kau tidak akan bertanya 'kan, bagaimana cara aku bisa cepat mendapatkannya?"


"Tentu saja aku ingin tahu, memang bagaimana caranya secepat ini." jawab Gheya.


"Aku menjebak anak itu, hingga masuk dalam lubang tong sampah." ujar Bilim.


"Apa itu tidak keterlaluan! Bagaimana bila dia mengadu pada kedua orangtuanya." jawab Gheya.


Ternyata benar saja ucapan Gheya, malam harinya kosan Bilim didatangi warga komplek. Kali ini dia akan terkena semburan ibu-ibu.


"Hei anak kos, kau apakan anakku." ujar perempuan paruh baya, yang terlihat geram.


"Memangnya aku bisa melakukan apa, selain mengambil barang milik temanku." jawab Bilim santai.

__ADS_1


"Jadi, kau menuduh anakku mencuri?" Mulai berkacak pinggang.


"Ibu yang terhormat, yang aku bicarakan adalah fakta." jawab Bilim.


"Bu, aku tidak mengambil apapun." ujar anak kecil laki-laki itu.


"Dik, kamu masih kecil pintar sekali berbohong." jawab Bilim.


Ibu dari anak tersebut segera menyahut. "Apanya yang bohong, anakku ini tidak pernah merugikan orang lain. Kami juga tergolong keluarga cukup mampu, untuk apa mengambil barang temanmu itu."


"Kalau soal itu, aku mana tahu. Lebih baik, Ibu tanyakan pada anak Ibu sendiri." jawab Bilim.


"Aku lebih percaya ucapan anakku, daripada keterangan dari kamu." ujar perempuan paruh baya tersebut.


Gheya akhirnya keluar juga dari kosannya. "Mengapa menyudutkan dia, sedangkan aku sendiri saksinya. Di sini aku yang menjadi korban, karena anak kecil itu merampas ponselku. Kalau Ibu tidak percaya, bertanyalah sambil menatap kedua bola matanya. Bicara pelan-pelan, dari hati ke hati."


Anak kecil itu tidak mau menoleh ibunya, apa lagi saat ditatap lekat-lekat. Dia takut ketahuan berbohong, lalu dimarahi habis-habisan.

__ADS_1


”Awas saja kau Kakak berjilbab, aku pasti akan membalas perbuatan kau. Bahkan, lebih sengsara daripada ini.” batinnya dendam.


Perempuan paruh baya itu menyeret anak laki-lakinya, dengan wajah garang. Dia merasa, bila anak tersebut sedang membohonginya.


"Gheya, terima kasih iya." ujar Bilim.


"Iya, bukan masalah. Lagipula, itu ponselku juga." jawab Gheya.


"Kau tetap tidak ingkar janji 'kan, harus datang ke wisuda?" tanya Bilim.


"Iya, selagi tidak ada kendala pasti diusahakan." jawab Gheya.


Gheya kembali ke kosannya, setelah berbicara dengan Bilim. Dia tidak ingin lama-lama, berada di emperan kosan Bilim. Apa lagi hal tersebut dapat menimbulkan fitnah. Perempuan memang rawan sekali, karena mudah disalahpahami jika tidak berhati-hati.


Bulan purnama muncul, mengecup sang awan menggulung. Tampaknya dia sedang rindu, hingga menempel pada puncak langit. Malam itu Gheya duduk di dapur, karena bosan di dalam kamar. Dia memandang sinar terang, di sudut loteng kosan tersebut.


”Rembulan, kau mengingatkan aku pada kenangan bersama Ayah dan Adik.” batin Gheya.

__ADS_1


Biarlah rindu berkelana, asal jiwa dan raga dapat berlari sejenak. Menghindari sedih, keluh kesah, tak berharga, dan kecewa mendalam.


__ADS_2