
Bilim meminta maaf, karena dia membuat Gheya bersedih. Rasa tidak enak, telah membuatnya salah tingkah. Bingung harus bersikap seperti apa pada Gheya.
"Ayo, kita pergi ke kantin." ajak Bilim.
"Baiklah." jawab Gheya, yang menurut saja. Mau menolak pun tidak bisa, dia telah membuat kesepakatan untuk membantu.
Asitha dan Kha'an tiba-tiba juga ke kantin kampus. Bilim sengaja menyendok nasi, dan menyuruh Gheya buka mulut. Gheya menolak, namun Bilim memaksa dengan menarik jilbab.
"Please, bantu aku Gheya." Bilim berbisik lirih.
"Iya, iya, ingat ini demi balas Budi." Gheya menerima suapan sambil ngedumel. "Ini untuk terakhir kalinya, aku tidak akan mau membantu lagi."
"Eh jangan, dia belum mau balik sama aku." Melirik Asitha yang ada di meja pojokan, sambil berbisik lirih ke arah Gheya.
"Ini namanya klik ganda, sepakat sekali tersiksa berkali-kali." jawab Gheya spontan.
"Ternyata disuapi aku, membuatmu merasa tersiksa." ujar Bilim.
Gheya membuka tutup botol dengan kesusahan. "Dunia memang sempit, termasuk pikiran manusia."
Kha'an melihat Bilim yang membantu membuka tutup botol. Kha'an merasa cemburu, lalu meraih tisu. Dia mengusap mulut Asitha, yang dipenuhi bekas saos. Memang suka berantakan, kalau makan juga kotor. Kha'an malah mengoles sampai ke pipi dan mata Asitha.
__ADS_1
"Aduh Kha'an, kamu tidak berniat sekali." Asitha merasa kepanasan mukanya.
"Aku minta maaf." jawab Kha'an.
Beranjak dari duduk. "Iya tidak mengapa, aku ke toilet dulu." Segera meninggalkan, setelah berpamitan.
"Dadah!" Melambaikan tangan dengan posisi rendah di udara.
Kha'an berjalan mendekat ke arah meja Gheya, lalu duduk dengan santainya. Sekarang menebar senyum, sengaja ingin mengganggu.
"Apa aku boleh bergabung?" tanya Kha'an.
"Tidak boleh, ini sangat menggangu." jawab Bilim.
"Kamu temannya Rendo, orang yang pernah bully Gheya. Sebagai sahabat, aku tidak suka kamu berada didekatnya." jawab Bilim.
Kha'an manggut-manggut. "Oh, cuma sahabat. Tapi, kok berlagak seperti kekasih."
"Bukan kekasih, namun calon suami." jawaban tanpa kesepakatan itu, membuat kedua bola mata Gheya melotot dadakan.
Bilim mengajak Gheya pergi dari sana, dia malas melihat Kha'an. Lama-lama gerah, karena dekat dengan Asitha terus. Setiap kali dia ke belakang sekolah, pasti melihat mereka kemana-mana berdua.
__ADS_1
"Mereka itu iya, benar-benar zombie. Seperti mayat hidup yang menghantui hari-hariku." ujar Bilim.
"Mengapa kamu pikirkan, lebih baik sibuk dengan kuliah. Menjalani hari-hari dengan teman yang banyak, aku rasa itu sudah menyenangkan. Tidak semua orang bisa sepertimu, diterima dalam organisasi dengan baik." jelas Gheya.
"Kamu sedang curhat tentang masa lalu?" Bilim mengusap rambutnya yang berdiri, sambil tersenyum ke arah Gheya.
"Tidak juga si, hanya ingin memberikan motivasi untukmu." jawab Gheya.
Saat sampai di kosan, Gheya melihat Darmawan berdiri di depan pintu. Gheya tersenyum ke arahnya, karena sempat kenal sebelumnya.
"Gheya, sebenarnya ada yang ingin Paman bicarakan." ujar Darmawan.
"Boleh Paman, mari duduk di kursi." Menunjuk tempat duduk di emperan.
Mereka duduk secara bersamaan, lalu Darmawan memikirkan kalimat yang ingin dikatakannya. Dia menarik nafas terlebih dulu, lalu menghembuskan dengan perlahan.
"Gheya, aku ingin meminta bantuan kamu." ujar Darmawan.
"Mau minta bantuan apa, kalau bisa akan aku usahakan." jawab Gheya.
"Cuma membantu Paman kerja di toko." ujar Darmawan.
__ADS_1
"Boleh Paman." Gheya bersedia membantu.