
Kha'an singgah ke toko furniture, untuk membeli cobek pesanan mamaknya. Gheya melihatnya biasa saja, meski di dalam hati masih ada sisa rasa. Tidak berusaha menepis perasaan, tapi dibiarkan saja.
"Mau beli apa?" tanya Gheya.
Kha'an melihat-lihat semuanya, menyapu sekilas pandangannya. "Aku mau beli cobek, katanya barang terbaru masuk."
"Iya ada, mau ukuran berapa?" tanyanya.
"30 centimeter." jawab Kha'an.
Gheya mengambilnya, lalu memberikan pada Kha'an. Uang diberikan oleh Kha'an, sebagai tanda bukti pembayaran.
"Mengapa tidak membalas pesanku?" Kha'an heran sendiri.
"Apa maksudmu? Aku jarang membalas pesan kecuali via WhatsApp." jawab Gheya.
"Kalau memang jarang, setidaknya berikan aku nomor ponselmu." Kha'an malu sendiri, saat mengucapkannya.
"Maaf, tidak bisa." jawab Gheya.
Gheya mengacuhkan Kha'an beralih ke pembeli yang lain. Terus saja melakukan pekerjaan, hingga matahari beranjak. Sekarang sudah menunjukkan waktu pulang, karena hari sudah sore.
__ADS_1
Gheya singgah ke kedai mie ayam sebentar, lalu melihat Aina dan Darmawan bergandengan tangan. Saat mengetahui Gheya melihat, Aina langsung menghempaskan tangannya.
"Gheya, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." jelas Aina.
"Tenang saja Bibi, aku tidak hobi ikut campur urusan siapapun." jawab Gheya.
"Kalau tidak hobi, dijelaskan lebih baik. Nanti akan menimbulkan kesalahpahaman." Melihat dengan malu-malu.
"Bi, aku tahu kalian mungkin ada masalah. Saat aku tidak melihat, kalian tampak mulai memperbaiki hubungan. Aku tidak ingin mengganggu, selesaikan saja urusan kalian." jelas Gheya.
Tiba-tiba masuk Asitha ke dalam kedai, membeli semangkuk mie ayam. Beberapa menit kemudian, pesanannya sudah siap. Asitha meraih sendok, lalu memakan mie dengan perlahan.
"Copet! Tolong aku!" Asitha berteriak.
Gheya segera berlari mengejar pencopet bersamaan dengan Asitha. Gheya memilih melewati jalan pintas, agar bisa menghadangnya.
"Aku harus bisa menangkap si licik ini. Tidak mau susah, tapi mau punya uang."
Gheya menjulurkan kakinya, hingga kaki pencopet tersandung. Gheya mengambil dompet yang terjatuh, lalu pria muda itu melakukan penyerangan.
"Aduh!" Gheya meringis saat tangannya tergores pisau.
__ADS_1
Pencopet itu segera kabur saat melihat Asitha, yang datang bersama warga. Asitha khawatir dengan kondisi Gheya, karena tangannya terkena bagian pergelangan tangan. Gheya memberikan dompetnya pada Asitha, lalu segera memapah tubuh Gheya.
"Terima kasih iya, karena kamu telah membantuku." ucap Asitha.
"Iya, sama-sama." jawab Gheya.
"Padahal kita tidak saling kenal, hanya bertemu di kampus beberapa kali." ujar Asitha.
"Menolong sesama tidak mesti kenal dulu." jawab Gheya dengan tulus.
Mereka sudah sampai ke rumah sakit, untuk memeriksa kondisi Gheya. Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan. Tidak tahu ada angin apa, hingga membawa Kha'an ke rumah sakit.
"Gheya, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Kha'an khawatir.
"Hmmm... aku baik-baik saja." jawab Gheya, sesuai kenyataan.
"Bagaimana bisa baik-baik saja, sedangkan pencopet itu melukaimu. Beruntung tidak mengenai denyut nadi, kalau tidak kamu sudah mati." Kha'an malah merasa kesal.
"Kamu ini bicara apa, datang-datang sudah mengoceh. Kenapa tidak sekalian menjadi penjual es krim keliling." canda Gheya.
Asitha terdiam, melihat keakraban mereka. Memang Gheya lebih awal mengenal Kha'an, daripada dirinya.
__ADS_1