
Keesokan paginya, Gheya bersiap-siap. Dia keluar dari kosan, lalu melihat Bilim.
"Gheya, kamu mau kemana?" tanya Bilim.
"Mau kerja." jawab Gheya.
Plok!
Plok!
Langsung bertepuk tangan, sambil tersenyum. "Kamu hebat sekali, sudah dapat kerja tanpa melamar."
"Ini namanya rezeki, untuk manusia malang." jawab Gheya, dengan candaan.
Gheya sudah sampai ke toko furniture, lalu memasang iklan di sosial medianya. Terus melempar postingan berisi perabot yang terbuat dari kayu.
"Gheya, hari ini akan masuk persediaan baru. Tidak hanya kursi-kursi makan, sekarang ada cobek dari kayu. Nanti kamu susun, letakkan di sana." Darmawan memberikan titah dengan ramah.
"Heheh... iya tenang saja Paman." jawab Gheya.
"Gheya, kamu tawari Bibi Aina untuk datang ke toko iya. Bilang saja, kamu yang mengajak makan siang." ujar Darmawan.
__ADS_1
"Oh, jadi ini tujuan awal Paman menyuruhku kerja di sini."
"Kamu jangan merasa dimanfaatkan, Paman tidak bermaksud begitu."
Gheya mengangkat kedua telapak tangannya di udara. "Tidak Paman, aku seharusnya berterima kasih. Aku merasa sangat terbantu, dengan adanya pekerjaan baru."
”Hitung-hitung tidak merepotkan ponakan Paman lagi.” Gheya bergumam dalam batin.
Gheya melihat pembeli yang datang, melepaskan helem. Seorang perempuan paruh baya tersenyum, lalu Gheya membalas dengan senyuman juga.
"Mau beli apa Kak?" tanya Gheya.
Gheya menggerakkan tangannya sejajar dengan paha. "Silakan, ada di belakang."
Perempuan itu berjalan, lalu ada pembeli lain. Mereka berbondong-bondong, meminta pelayanan cepat dari Gheya. Para kurir toko bersiap-siap untuk mengantar pesanan pembeli.
Asitha memberikan bekal yang dibawa untuk Kha'an. Rendo tersenyum, sambil menutup mulutnya ikut malu. Proses pendekatan mereka lama sekali, sampai membuat hatinya ikut gerah.
"Sudah, sudah, sebaiknya kalian jadian. Sudah susah payah, saling melemparkan perhatian." ujar Rendo.
"Apanya yang jadian, kami cuma teman." jawab Kha'an.
__ADS_1
"Kok teman? Sejauh ini, kamu tidak memiliki rasa padaku?" Asitha sudah menduga terlalu jauh.
"Jika kamu menganggap aku menyukaimu, itu sebenarnya hanya ekspektasi." jawab Kha'an.
Tiba-tiba Bilim lewat di tengah-tengah mereka, sampai bekal terjatuh ke lantai. Semua makanan tertumpah, hanya tersisa beberapa butir dalam wadah.
"Kamu terlalu sopan iya." ujar Rendo.
Bilim tersenyum. "Sudah terlatih, makanya bergerak lemah lembut." Menundukkan kepala, sambil tersenyum menyebalkan.
Rendo mencengkeram kerah bajunya. "Kenapa kamu mencari masalah terus dengan Kha'an? Gheya yang menyuruh kamu melakukan ini iya?"
"Calon istriku itu perempuan baik, jangan memasukkan dia ke dalam hal iseng yang aku lakukan. Bukankah ada tukang bully tidak punya hati, yang sudah menghancurkan kebahagiaannya." sindir Bilim.
"Gheya penyebab Kha'an akan pindah sekolah. Hal wajar bila kami menyudutkannya, bahkan dia digosipi sebagai mantan." ujar Rendo.
"Itu bukan salahnya, tapi kesalahan kalian. Kalau kamu dan teman-teman berbelas kasih sedikit saja, tidak menertawakan dia yang menangis didekat laboratorium. Menciptakan hal rumit dalam hidup orang lain, namun kabur tanpa dosa. Kamu pikir semua orang percaya, tikus got pun mungkin memilih tutup telinga."
"Saudara, kamu tampak dekat dengannya. Bisa-bisanya tahu masa sekolah SMK dulu. Namun, tidak menyuruhku memuji kamu hebat 'kan?" Rendo mendelik ke arah Bilim.
"Ah santai saja, aku bukan manusia haus pujian. Namun satu hal yang harus kalian tahu, selama trauma seseorang masih ada. Sementara luka masih bersemayam di hatinya, dosa jariyah mengalir pada yang melakukan." Bilim malah ceramah soal agama.
__ADS_1