
Bilim melihat ke arah Gheya, terbesit pikirannya untuk mengajaknya pergi.
"Kau tidak ingin ikut ke kampus? Lihat-lihat suasana di sana." tawar Bilim.
"Tidak, untuk apa ke sana." jawab Gheya.
"Siapa tahu, dengan berjalan ke sana kau berminat kuliah." ujar Bilim.
Gheya nyengir. "Sudah tuir, waktunya untuk membuat ayam suwir."
"Tenang saja, menikah pun tetap bisa kuliah." ucap Bilim.
"Menikah sambil menempuh pendidikan sungguh melelahkan, aku tak akan sanggup. Biar kau saja yang menjalani, semoga sukses!" jawab Gheya, dengan jujur.
"Iya paham, akan sulit membagi waktu. Mengurus anak juga perlu istirahat. Aku pergi dulu!" ujar Bilim.
"Iya, hati-hati di jalan." jawab Gheya.
Bilim segera pergi meninggalkan kedai gorengan tersebut. Tak berselang lama, ibu Asti sudah datang.
"Bagaimana Gheya, ramai yang beli?" tanyanya.
"Iya Bu, lumayan heheh." jawab Gheya.
"Kalau lapar ambil saja gorengannya, gratis kok." Asti tersenyum ke arah Gheya.
__ADS_1
"Iya Bu, terima kasih." jawab Gheya.
Bilim menghampiri Aryo dan Theyo, sambil meletakkan plastik gorengan pada meja bundar. Kedua temannya itu dengan cepat menyambar, sambil meraba-raba makanan hangat tersebut.
"Eh, kau beli gorengan di mana iya?" tanya Aryo.
"Di tempat perempuan kemarin malam." jawab Bilim.
"Acie... pendekatan semakin bergeser. Sengaja berlangganan untuk modal dusta iya." ledek Theyo.
"Mana mungkin, kalian tahu sendiri 'kan kalau aku masih cinta sama mantanku." jawab Bilim.
"Mantanmu sudah ada orang baru tuh." ujar Aryo.
"Terus bagaimana dengan perempuan itu?" tanya Aryo.
"Tidak bagaimana-bagaimana, kami juga hanya teman." jawab Bilim.
Pukul 16.00. Gheya melangkahkan kakinya, pulang menuju kosan. Dia melihat Bilim, yang sedang duduk di teras.
"Gheya, kau baru pulang?" tanya Bilim.
"Iya, baru saja." jawab Gheya.
Gheya masuk ke dalam kosan, lalu menutup pintu depannya. Gheya segera membuka kunci pintu kamar, lalu masuk ke dalam ruangan pribadinya.
__ADS_1
"Di sini udaranya panas sekali, aku benar-benar tidak tahan. Aku harus segera mandi, supaya tubuhku segar" monolog Gheya.
Gheya masuk ke kamar mandi, sambil membawa handuk. Lalu beberapa menit kemudian sudah keluar, usai membersihkan diri sendiri. Gheya segera melaksanakan salat Ashar, karena tadi belum melakukannya.
"Ponsel jangan lupa disetrika, Baju jangan lupa dicas, kucing jangan lupa dicuci, makanan jangan lupa dilipat, motor jangan lupa dikupas, nasi jangan lupa disikat."
Gheya mengirimkan pesan, dengan topik komedi. Dia tersenyum sendiri melihat balasan dari adiknya. Sesekali ingin membuat suasana lebih cair, tidak membeku terus menerus. Tidak dapat diubah, bahwa hatinya tetap sedih.
Gheya tidak bahagia berada di sana, karena sangat merasa kesepian. Namun, keadaan yang menuntut dirinya untuk melakukan hal itu. Sesulit apapun, Gheya terpaksa harus melaluinya.
"Kak, sudah makan?"
Sebuah pesan masuk dari adiknya, dan dengan cepat Gheya membalas. Dia tidak ingin, orangtuanya merasa cemas.
"Belum, makan sehari sekali saja."
"Makanlah, nanti sakit perut."
"Penghematan!"
"Daripada nanti Kakak sakit, lebih baik beli makanan."
"Hidup merantau harus pintar atur uang."
Mereka mengakhiri percakapan, ketika adiknya mau mengerjakan tugas sekolah. Gheya melaksanakan salat wajib, sebelum akhirnya tertidur pulas. Mimpi buruk terkadang masih sering hadir, dalam suasana tidur pulasnya. Sebuah kejadian di sekolah, yang membuatnya traumatis.
__ADS_1