Pelarian Jiwa Raga

Pelarian Jiwa Raga
Rusuh


__ADS_3

Awan-awan bergeser, menutup sang mentari dari persinggahannya. Gheya baru saja selesai mandi, dan memilih duduk di dalam kosannya. Beberapa jam lalu, kakinya terasa pegal. Bagaimana tidak, berjalan kaki menuju lorong yang sangat jauh.


"Andaikan aku tidak malu, aku ingin merengek di depan kedua orangtuaku. Tapi, umurku bukanlah belasan tahun lagi. Semangat Gheya! Kau pasti bisa melalui ini semua." monolognya.


Awalnya suasana kosan masih sepi, namun mendadak dikejutkan oleh suara gitar. Gheya penasaran, dengan apa yang terjadi di luar. Apakah Bilim mengundang pengamen, untuk menciptakan kerusuhan kecil.


Gheya keluar dari kosannya, setelah mengenakan jilbabnya. Dia melihat boneka-boneka badut, yang sangat lucu. Awalnya biasa saja, namun tersenyum juga. Boneka itu berjoget-joget, dan Bilim memetik gitar.


"Eh Gheya, akhirnya kau keluar juga dari sangkar." ujar Bilim.


"Jadi, kau mengundang para badut hanya untuk membuatku keluar? Lalu membuat serangkaian kerusuhan kecil, hanya untuk mengusik waktu istirahatku." Gheya merasa heran.


"Gheya, aku lihat kau tampak bersedih. Diperlukan sedikit hiburan, untuk membuatmu merasa lega." ungkap Bilim.


"Kau tahu apa tentang isi hatiku. Bahkan duri kecil yang menancap pada kukuku, tidak akan aku beritahu padamu." jawab Gheya.

__ADS_1


Gheya segera berbalik arah, menutup pintu kosan tersebut. Bilim menghentikan petikan senar gitarnya, tidak semangat seperti awal tadi.


"Eh Bilim, jangan bersedih gitulah." ujar Aryo.


"Siapa yang sedih, aku dan dia juga baru kenal." jawab Bilim.


"Bukankah kau penasaran terhadapnya, itu artinya tertarik." ucap Aryo.


"Benar tuh, pepet saja terus." timpal Theyo.


Gheya mengunci pintu kamar kosannya, dan mulai mengetik naskah novel lagi. Kali ini dia meneteskan air mata, tidak tahu apa sebabnya. Kenangan pahit akan mirisnya nasib keluarga, telah membuat dia menjadi sang pemurung.


”Apa di dunia ini, tidak ada satupun tempat tinggal yang bisa membuatku nyaman. Termasuk kosan ini, tetap membuatku merasa cemas. Seolah-olah akan ada pertengkaran lagi.” batin Gheya.


Tanpa terasa hari sudah pagi, gadis itu ternyata tertidur sambil menangis. Tidak disadari sama sekali, bahwa air minum habis. Terlalu sibuk kerja dan sedih, membuatnya lupa kebutuhan pokok. Gheya mengelap sepatunya, dan memasang kaos kaki.

__ADS_1


Beberapa menit yang lalu, dia baru saja selesai mandi. Gheya kembali bekerja seperti semula, lalu singgah ke toko sebentar. Gheya membeli roti, lalu melihat anak kecil menangis. Tampaknya anak itu sedang kelaparan, karena tangannya memegangi perut.


Dia duduk di pinggir jalan, setelah dari tadi berjalan terseok-seok. Tangannya menengadah meminta uang. Gheya segera menghampirinya, sambil memberikan sebungkus roti.


"Ini untuk kamu." ujar Gheya.


"Terima kasih Kak, semoga Allah mempermudah urusanmu." jawabnya.


Gheya tersenyum ke arahnya. "Doa yang sama, untuk yang mendoakan."


Anak kecil itu membuka bungkus roti, lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Sedangkan Gheya melanjutkan perjalanannya, pergi ke kedai gorengan. Di sana bosnya terlihat kewalahan, pagi-pagi sudah banyak yang pesan.


"Gheya, kau adon tepungnya lagi iya." ujarnya.


"Iya Bu." jawab Gheya.

__ADS_1


Gheya melakukan pekerjaannya seperti biasa, sambil mengembangkan senyuman. Intinya dia harus bersemangat, untuk melupakan semua hal buruk di pikirannya. Fokus, fokus, fokus, jangan memikirkan seluruh isi dunia. Otak juga perlu istirahat, agar sistem saraf tetap sehat.


__ADS_2