Pelarian Jiwa Raga

Pelarian Jiwa Raga
Pakai Helem Di Pasar


__ADS_3

Kha'an menambahkan Gheya sebagai teman, namun diabaikan oleh orang yang dituju. Gheya melihat pesan spam, namun tidak dibalasnya.


"Mengirim pesan ke orang P, tidak punya sopan santun." gerutu Gheya.


Keesokan harinya Gheya pergi ke toko furniture lagi. Kali ini tidak sendirian, sudah bersama dengan Aina. Gheya senang membantu Darmawan, namun membantu Bilim lumayan lama.


"Dia itu bisa-bisanya, meminta bantuan seperti ini. Kalau Asitha tidak mau balikan sama dia, juga bisa mencari perempuan lain. Ah tidak usah dipikirkan, tidak tahu juga bagaimana perasaannya." Gheya bergumam-gumam.


"Gheya, toko Paman Bilim dulu tidak sebesar ini." ujar Aina.


"Berarti ada kemajuan." jawab Gheya.


"Tapi, ada apa kamu mengajakku ke sini?" Aina merasa penasaran.


"Hanya sekadar mengajak makan siang." Gheya tersenyum, menyembunyikan kesepakatan dengan Darmawan.


Aina menyentuh lemari kayu. "Aku rasa tidak hanya itu, namun ada hal lain."


"Bibi, aku tidak punya maksud jahat padamu."


Aryo dan Theyo melihat Asitha mendekat ke arah Kha'an. Mereka sengaja menguping pembicaraan, merasa penasaran apa yang akan terjadi.

__ADS_1


"Kha'an, aku sudah menyukaimu sejak awal. Apa tidak keterlaluan, bila mencampakkan aku begitu saja?" tanya Asitha.


"Aku tidak memberi kamu harapan sama sekali."


"Tidak memberikan harapan? Lalu, kamu jalan selama ini denganku untuk apa?" Asitha merasa disuapi harapan, lalu dipaksa memuntahkannya dalam sekejap.


"Asitha, aku minta maaf. Ternyata, perasaanku padamu bukan suka sungguhan." Kha'an lumayan merasa bersalah.


"Kamu brengsek Kha'an!" Asitha segera meninggalkannya.


"Maaf Asitha, sekali lagi maaf." jawabannya terdengar, dengan seorang perempuan yang muncul.


Iken tiba-tiba muncul, lalu tersenyum ke arah Kha'an. "Sudahlah, kamu tidak perlu bersedih."


"Jangan menjadi acuh karena status mantan, kita masih bisa berteman baik." Iken tersenyum.


"Bukan seperti yang kamu pikirkan, aku hanya ingin sendiri." jawab Bilim.


Bilim pergi ke pasar menggunakan helem, Gheya menjadi tertawa karena tingkah konyolnya. Asitha dan temannya pergi bersama, lalu melihat Bilim yang asyik bercanda.


"Bilim, sudahlah tidak enak dilihat orang." ujar Gheya.

__ADS_1


"Aku masih merasa seru, seperti ini juga menghiburmu." jawab Bilim.


Buru-buru melepaskan helem saat melihat Asitha, lalu merapikan rambut. "Eh Asitha, kamu belanja juga."


"Iya, membeli sayuran untuk dimasak." jawabnya lirih.


"Jangan lupa untuk selalu tersenyum, suaramu terlihat suara orang yang baru menangis." Bilim tersenyum, menduga tepat sasaran.


"Tidak, aku pergi dulu." Asitha berpamitan, segera melangkahkan kakinya.


Iken melihat Kha'an yang singgah untuk membeli makanan. Dia sengaja berjalan menyenggol lengan Kha'an, dan air minum terjatuh ke bajunya.


"Aduh, aku tidak sengaja. Maaf iya!" Iken melihat ke arah Kha'an.


"Iya tidak apa-apa." Melihat orang yang sangat familiar.


"Eh, ternyata kamu Kha'an. Oh iya, sebagai ganti rugi aku akan traktir kamu." Niken memberikan penawaran.


"Tidak perlu, aku membawa uang kok." Kha'an menjawab dengan acuh.


"Aku tahu, kamu ke sini tidak datang dengan tangan hampa. Namun, pecel lele kacang ini terlalu enak. Sayang, bila kamu makan sendirian di kosan." Iken berusaha membujuknya.

__ADS_1


"Aku sudah terbiasa." Masih menolak halus.


Iken menggerakkan telapak tangannya di udara. "Tenang, aku tidak ada maksud lain. Kita hanya makan saja, lalu setelahnya pulang ke rumah masing-masing."


__ADS_2