
Saat pergi bekerja, Gheya dikejutkan dengan anak kecil yang menghadangnya. Tidak lupa pula, hendak memukulkan bambu padanya. Tiba-tiba sebuah tangan menangkisnya, dia adalah Bilim.
"Lepaskan, biarkan aku memukulnya." ujar anak kecil tersebut.
"Apa kau tidak punya hati sama sekali, sehingga harus menyusahkan dua kali. Dia hanyalah seorang perantau, sedangkan kau tinggal dekat orangtua." jawab Bilim.
"Aku ingin balas dendam, karena dia telah mempermalukan aku di depan temanku. Dia juga yang membuatku dimarahi, oleh ibuku." ucapnya lagi.
"Kau benar-benar bocah yang tidak tahu malu. Sudah salah, malah ada pikiran untuk balas dendam. Harusnya, berpikir untuk minta maaf." Bilim menasehatinya.
Anak tersebut menendang kaki Bilim, dan berhasil lepas dari cengkeramannya. Sekarang dia mengangkat bambu, untuk memukul tubuh Bilim.
Brak!
Tangan Bilim terkena bambu sampai memar, dan Gheya segera mengajak Bilim pergi. Banyak anak-anak kecil yang mengejar mereka. Namun Gheya terus berlari bersama Bilim.
"Gheya, sebaiknya pulang nanti jangan lewat jalan sana." ujar Bilim.
"Aku tidak terbiasa lewat jalur lain, aku pasti akan bingung." jawab Gheya.
__ADS_1
"Lorong itu sangat rawan, karena lebih sering sepi." ucap Bilim.
"Baiklah, akan aku usahakan untuk mencari jalan pintas." jawab Gheya.
"Sekarang, aku mau menyinggahi angkutan umum. Kau kembali saja ke tempat kerja." ujar Bilim.
"Iya, aku mengerti. Eh tunggu, lukamu belum diobati." jawab Gheya.
"Tidak perlu, aku buru-buru banget." ucap Bilim.
"Oh gitu, baiklah." jawab Gheya.
Bilim masuk ke dalam angkutan umum, sedangkan Gheya pergi ke kedai gorengan. Ibu Asti tersenyum, lalu melihat wajah Gheya.
"Tidak ada Bu." jawab Gheya, yang berusaha menutupinya.
Gheya melayani pembeli yang datang ke kedainya. Pagi itu Gheya dibopong rezeki, dengan banyaknya sejumlah orang yang singgah. Gheya bersyukur bisa ada aktivitas, untuk menghilangkan rasa jenuh di dalam hidupnya.
”Semangat Gheya! Jadikan hidup lebih bermakna. Setelah ini pasti hidupmu akan berwarna, ada masa depan cerah menanti.” batinnya.
__ADS_1
Lagi dan lagi terus berdatangan manusia, layaknya semut yang mengerumuni gula. Mereka mencari celah, untuk menyantap gorengan yang masih hangat. Gheya dengan setia tetap meladeni, mulai dari mengambil saus dan kecap.
Theyo dan Aryo menghampiri Bilim, saat pria itu baru datang. Mulai membuka pembicaraan, yang menurut mereka penting. Topik hangat yang pantas disuapkan pada Bilim, yang masih gagal move on dari mantan katanya.
"Kenapa kalian berdua terlihat buru-buru?" tanya Bilim, sedikit curiga.
"Gawat, mantan kamu sekarang sedang dekat sama Kha'an." jawab Theyo.
"Kha'an mantannya si Iken itu?" tanya Bilim.
"Iya, lalu siapa lagi." jawab Theyo.
"Wah tidak bisa dibiarkan, aku ingin melihatnya sekarang." Bilim segera berlari, dan mengintip dari balik celah dedaunan.
Aryo menepuk pundak Bilim. "Benar 'kan yang aku ucapkan, harusnya kau percaya itu."
"Sudah nasibku mungkin, jadi terima saja ditinggalkan Asitha." Bilim tertunduk lesu.
"Bro, aku sarankan jangan terlalu mengekang perempuan. Jika kau sudah berhasil mendapatkannya, berilah dia sedikit kebebasan." Theyo memberikan saran.
__ADS_1
"Aku hanya tidak suka, bila dia kumpul dengan teman prianya. Kau ingat 'kan, saat itu aku sampai nyamperin dia tengah malam." Bilim mengungkit masa lalu.
"Oh iya, tongkrongan yang ada air terjun itu 'kan." jawab Aryo, yang mulai mengingat semuanya.