
Kha'an mengantar Gheya pulang ke kosan, lalu Bilim mengintip dari balik tirai gorden. Dia merasa saingan cintanya sudah tidak ada, artinya kerjasama dengan Gheya sudah berhasil.
"Yes, Asitha hanya akan menjadi milikku seorang. Hihihi..." Tertawa sendiri, sudah seperti orang gila.
"Terima kasih iya Gheya, karena memperbolehkan aku mengantarmu." ujar Kha'an.
"Tidak ada pilihan lain, karena hanya kamu yang menawarkan. Namun ucapan terima kasih, harusnya diucapkan denganku."
Kha'an tersenyum. "Tenang, aku sedang tidak menyindir kamu. Aku hanya mengatakan, apa yang ingin aku sampaikan."
"Oh gitu." Gheya menoleh ke arah jendela tempat tinggal Bilim, lalu melihat orang yang tengah fokus mengintip tersebut.
"Aku pulang dulu." Padahal Kha'an berharap ditawari masuk, dan diberi minum dulu.
"Baiklah, hati-hati di jalan." jawab Gheya.
"Eumh..." Kha'an berdehem saja.
__ADS_1
Keesokan harinya di kampus, Theyo dan Arya sedang lewat kelas Ekonomi Bisnis. Dia mendengar pembicaraan Julian, yang sedang menjelek-jelekkan Gheya.
"Kha'an, kamu harus ingat satu hal. Konflik yang pernah terjadi di sekolah SMK, bagaimana Gheya mengejar kamu." ujar Rendo.
"Aku ingat, tapi aku tidak ingin membahasnya lagi. Sekarang yang aku ingat, hanya tentangku dan dia. Kami sudah tidak berada di masa lalu, namun di masa sekarang dengan hubungan yang lebih baik." jawab Kha'an.
"Kamu tidak usah dengan dia, masih bisa juga mencari perempuan lain. Dia tidak pandai bergaul, selalu diam saja." ucap Rendo.
"Sudahlah, jangan terus-terusan memusuhinya. Kamu tidak suka, tapi aku suka. Bisa dibilang, kamu harus menganggapnya teman untuk menghargai sebuah pertemanan." jelas Kha'an.
Aryo dan Theyo sibuk menyenggol lengan Bilim, yang asyik memegangi ponsel. Mereka mengadu tentang Julian, yang membicarakan hal tidak baik tentang Gheya.
"Aku kasih pelajaran saja, dengan seperti itu dia akan malu." jawab Bilim.
Bilim sengaja mengajak bertanding balap motor dengan Rendo, karena membela Gheya. Rendo tertawa dengan penuturan Kha'an, yang tampak membela temannya sungguh-sungguh.
"Aku heran, mengapa kamu terlalu tidak tahu malu. Jika membelanya menjadi kebiasaan kamu, mengapa tidak menjadi pacarnya sekalian." ujar Rendo.
__ADS_1
"Terserah dengan penilaian kamu, aku tidak sudi peduli. Aku cuma butuh pernyataan sedia atau tidak." Bilim benar-benar menantangnya.
Rendo tersenyum mengejek, seraya memiringkan bibirnya ke arah kiri. Dia mempersilakan Bilim, untuk memilih motor terlebih dulu. Bilim memeriksa setir motor, memastikannya enak dipakai.
"Nanti jatuh baru tahu rasa!" ujar Fiana bercanda.
"Kalau aku jatuh, orang yang pertama menggendongku adalah Kha'an." jawab Rendo, percaya diri.
"Malas, lebih baik kamu minta bantuan semut saja." Kha'an membenarkan kerah jas berwarna biru, yang dikenakannya.
"Jahat sekali kamu!" celetuk Rendo.
"Siapa suruh kamu menjadikan aku tunggangan." Kha'an tersenyum ke arah Gheya, sampai menampilkan deretan giginya.
Gheya pergi sejenak dari lapangan lomba, berteduh ke tempat yang lebih melindungi dari sinar matahari. Fiana dan Zariy juga ikut ke tempat lain.
"Mengapa tidak mencari tempat lain saja." Zariy sibuk mengibas lehernya yang gerah.
__ADS_1
"Di sini saja, ada juga kok yang jualan es keliling." jawab Fiana.
Penjual sosis bakar lewat, mendorong gerobaknya mendekat ke arah mereka. Fiana menyinggahinya, lalu membeli dagangan yang masih hangat.