Pelarian Jiwa Raga

Pelarian Jiwa Raga
Kha'an Menyuapi Gheya


__ADS_3

Kha'an melihat Bilim yang datang membawa bunga. Dia menghampiri Gheya, sambil memberikan barang yang dibawanya.


"Gheya, aku secara khusus datang untuk menjenguk." ucap Bilim.


"Terima kasih." jawab Gheya.


"Kata ini tidak sepatutnya ada di antara aku dan kamu." Bilim tersenyum, dengan mata berbinar-binar.


Tiba-tiba Kha'an mendekat. "Sudah banyak yang menjaganya, aku rasa kamu khawatir berlebihan."


Bilim melirik ke arah Aistha. "Berlebihan itu, jika mendekati satu orang lari ke yang lain."


"Bukan urusanmu, semua orang punya prinsip."


"Kalian ini kenapa bertengkar? Semua orang bebas untuk berteman." ucap Gheya.


"Maaf Gheya, seharusnya tidak ribut dalam ruangan." Kha'an tulus dalam mengucapkannya.


Kha'an memilih keluar dari ruangan, disusul oleh langkah kaki Asitha. Bilim mengacungkan dua jempol, nyengir ke arah Gheya. Dia berbisik-bisik lirih dari kejauhan, tanpa terdengar jelas kalimat yang diucapkan.


"Aku mau menjadi buntut mereka." Bilim bersuara agak keras.


"Iya sudah, cepat ikuti sana." Gheya mengayunkan tangannya.

__ADS_1


Bilim terburu-buru keluar, sampai tidak sengaja menabrak pintu. Dia menjadi malu dengan Gheya, yang sudah tersipu senyuman. Bilim memegangi jidatnya, berlari keluar kekuatan harimau gila.


"Kha'an boleh aku bertanya." ucap Asitha.


"Silakan." jawabnya.


"Kamu suka sama Gheya?" tanya Asitha penasaran.


"Suka si, tapi tidak sampai di tahap yang kamu pikirkan." jawab Kha'an dengan jelas.


"Memangnya, kamu kira apa yang aku pikirkan?" Asitha merasa lucu.


Kha'an heran. "Loh, bukannya kamu yang menanyakan perihal perasaan? Iya sudah, aku jelaskan lebih dulu. Kami tidak berpacaran, hanya berteman saja." jawabnya datar.


Kha'an segera masuk ke dalam ruangan Gheya dirawat. Kha'an duduk di samping ranjang pasien, sambil melihat wajah Gheya yang cerah.


"Terima kasih." jawab Gheya.


Kha'an mengambil mangkuk bubur, lalu menyuapi Gheya. Awalnya menolak, namun Kha'an memaksa.


"Gheya, pipi kamu memerah. Kamu menyukai aku iya?" tanya Kha'an spontan.


"Hah? Bagaimana bisa kamu punya pemikiran seperti itu." jawab Gheya.

__ADS_1


"Sudahlah, aku tahu kamu malu mengakuinya." ucap Kha'an.


"Diakui atau pun tidak, sekarang itu bukan hal penting." jawabnya.


"Dih, kata kamu tidak penting, kalau menurut aku sangat berguna. Satu kata iya, bisa membuatku merasa berarti." Kha'an terus menyuapi Gheya.


Gheya menerima suapan dari Kha'an, dengan ragu-ragu. "Sudahlah, tidak baik seperti ini." Takut terbawa perasaan lagi.


Kha'an tidak peduli, dia mengusap bibir Gheya. "Ada sisa bubur!"


"Biarlah, tidak perlu kamu ambil." jawab Gheya.


Gheya ingin merampas mangkuk di tangan Kha'an, namun laki-laki itu mengotot saja ingin menyuapinya. Gheya merasa bersalah, karena tadi menerima suapannya.


"Kalau kamu tidak memberikannya, aku tidak mau makan." ujar Gheya.


"Tangan kamu sedang sakit." jawab Kha'an.


"Suruh saja Asitha ke sini." pinta Gheya.


"Baiklah." Kha'an segera membuka pintu ruangan, lalu tidak sengaja melihat Bilim memeluk Asitha.


Kha'an terburu-buru menghampiri Gheya, lalu menyuapi makanan dengan brutal. Gheya sampai tersedak, dan Kha'an mengambilkan air putih.

__ADS_1


"Minum dulu, maafkan aku yang tidak ada etika." Kha'an tanpa aba-aba mengelap pipi Gheya.


"Eh, mengapa kamu sangat lancang." Gheya menepis tangan Kha'an, yang berani mendarat tanpa izin.


__ADS_2